Sepasang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 25 March 2015

Ia mengkhianatiku.. sesuka hatinya mencampakan aku yang semakin menua.
Entahlah.. mungkin ia bosan denganku, atau aku yang terlalu bodoh untuk memilih setia,
Padahal aku tahu bahwa laki-laki memang makhluk paling tak setia sepanjang sejarah.
Lihat saja perdana menteri itali, silvio berlusconi yang entah berapa belas simpanannya, atau orang gedung putih bill clinton yang selingkuh dengan pegawainya hingga mempermalukan amerika di mata dunia.
Lelaki dimanapun sama saja.
Tak ada yang setia!!

Dan kini, 7 tahun sudah aku menemaninya
Aku tak pernah mempermasalahkan saat saku nya kering rupiah,
Tak pernah mengeluh meski harus berjalan berkilo-kilo meter terbakar panas matahari, atau berlari bersamanya menghindari derasnya hujan.
Aku selalu bersamanya
Bahkan di tengah segala pencapaiannya, prestasi tertingginya, ada aku di sampingnya.
Tujuh tahun telah aku lewati bersama!!
7 tahun bukan waktu yang singkat, bukan?
Semua keluarganya mengenal ku..
Bahkan lelaki itu selalu membanggakan diriku di hadapan teman-temannya.
Ia bilang ia aku adalah kesayangannya.
Omong kosong!!

“arrrggghhh” irvan memegang engkel kakinya
“Irvan kamu gak kenapa-napa kan? Please jangan buat aku panik.. Kakimu.. kenapa kaki mu irvan.. Oh tuhan..”
irvan meringis kesakitan memegang kakinya saat menempuh setengah perjalanan menuju puncak gunung gede, jawa barat.
pukul 11 siang saat itu, sunyi, hanya gema suara hewan-hewan saja yang terdengar dari kejauhan. tak ada tanda-tanda kelompok pendaki lain yang akan melewati jalanan menanjak di hutan lebat tersebut.

“aaarrrgghh” lagi-lagi irvan meringis saat mencoba meluruskan kakinya yang terkilir tersandung akar pohon besar. sebenarnya irvan tahu hal yang harus ia lakukan ketika persendiannya terkilir, ia hanya harus mengkompres sendi yang terkilir tesebut dengan handuk berisi es batu, setelah itu dibalut dengan kain agar bengkak tidak melebar dan terakhir mengganjal kakinya dengan benda yang lebih tinggi, tapi irvan tak bisa berbuat apa-apa, darimana ia harus memperoleh batu es? Darimana ia memperoleh kain pembalut luka? Menghubungi tim P3K? ah sangat tak masuk akal.
“Irvan maaf aku tak dapat membantumu banyak, oke aku juga akan ikut istirahat agar tak terlalu menyusahkanmu”
Irvan tersenyum mencoba menguatkan diri

Bingung harus berbuat apa lagi, akhirnya irvan hanya memijit-mijit kakinya yang terkilir, sambil meringis irvan terus beristighfar mengingat dosa apa yang sudah ia lakukan sepanjang hari ini, “aku selalu yakin bahwa segala kejadian buruk yang menimpaku adalah sebuah teguran atas kelalaian yang ku perbuat, yang ku sengaja atau tidak” Irvan kembali tersenyum mengikhlaskan kejadian buruk ini.

30 menit berlalu dalam keheningan, perlahan namun pasti kaki irvan kini sudah dapat diajak berkompromi, irvan pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalannya “terima kasih sayang sudah menemaniku” irvan berguman pelan.
“Bahkan jika gunung meletus, atau badai menerjang sekalipun, aku akan tetap berada di samping mu irvan, aku hanya ingin menjadi yang pertama menyaksikan tangis bahagiamu saat beberapa jam kedepan kita mencapai puncak gungung, aku hanya ingin menjadi sebab kesuksesan mu irvan”

Matahari sudah berpindah hampir ke barat, Pukul 15.00 di sebuah jembatan.
Se-siang ini irvan belum juga bertemu dengan kelompok pendaki lain, Irvan ragu apakah ia harus melewati jembatan mengerikan itu atau tidak? Tak terlalu panjang memang, hanya sekitar 5 meter, tapi dengan kondisi kakinya yang masih nyeri, ditambah belum sedikitpun makanan yang masuk ke dalam perut six pack nya sejak tadi pagi, rasanya terlalu mustahil untuk melanjutkan perjalanan ke puncak.
“Irvan aku yakin kau bisa.. pasti.. berusahalah..”
“baik aku akan berusaha” irvan menarik nafas membulatkan tekad.

Perlahan irvan malangkahkan kaki, Tertatih ia menyusuri jembatan batu dengan pegangan ala kadarnya, hamparan hutan luas terpampang di bawah kakinya, jembatan ini adalah ujung dari aliran sungai air panas, satu meter ke kanan pemandangan aliran air panas berkubik-kubik itu terjun bebas jatuh dari ketinggian 1250 mdpl, jika tak hati-hati melangkah, maka dapat dipastikan seseorang juga akan ikut terjun bersama air panas tersebut dan pulang ke rumah hanya tinggal nama.
“Irvan pegangan yang kuat pada tali-tali itu, fokuslah.. tak usah mengkhawatirkan diriku, aku baik-baik saja sejauh ini, kau kuat maka aku juga kuat irvan”
“krassshhhss” tiba-tiba sebuah suara mengejutkan irvan
“oh tidak.. please god jangan sekarrr…” do’a irvan tergantung di langit, tali body pack (baca: tas ransel) milik irvan lepas, dalam hitungan detik segala perlengkapan bertahan hidup miliknya raib sudah, terjun ke aliran air antah berantah di bawah sana. persediaan makanan, kompas, sleeping bag, pakaian ganti, lenyap begitu saja tanpa menyisakan apapun. Irvan berdiri mematung di atas jembatan batu curam itu, ia tak percaya bahwa keputusannya untuk nanjak tanpa tim ternyata bukan ide bagus. Terlebih, carrer (tas khusus hiking) memang sangat diperlukan, tali yang bervariasi dan design yang pas untuk tubuh ternyata mampu meminimalisir kejadian-kejadian tak terduga seperti ini.

Awalnya irvan memang ingin membawa carrer miliknya, namun karena di pendakian saat ini irvan hanya sendiri, ia pikir ransel ukuran sedang sudah cukup.
“bagaimana aku makan? bagaimana aku pulang” irvan mendesah masygul
“Irvan sebaiknya kau selesaikan dulu perjalananmu, satu meter kedepan sudah tampak dataran aman”
Irvan melanjutkan perjalanan 1 meter terberatnya,
Satu langkah terakhir irvan selesaikan dengan melompat.
Dan lagi, irvan menarik nafas masgul memikirkan akan menjadi apa ia beberapa jam kedepan tanpa makanan dan alas untuk tidur, apakah ia dapat bertahan hidup, atau ia akan menjadi bahan berita utama di koran-koran dengan judul ‘lelaki tanpa identitas tewas kelaparan di atas gunung gede’
“identitas? Hah dompet?” irvan meraba kantung belakang celana gunungnya.
“Kau masih punya harapan irvan.. bersemangatlah..”
Irvan tersenyum lega “harapan itu masih ada”

“Irvan aku tak suka dengan nenek sihir itu.. ia jahat.. kau juga jahat membiarkan aku sendirian disini..”

Irvan membuka matanya perlahan, buram.
Sesosok wanita cantik berkulit putih terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk irvan.
“heeiii kau sudah bangun rupanya” wanita berlesung pipi itu tersenyum manis.
“mengapa aku ada disini?” irvan bertanya bingung, yang irvan ingat, ia istirahat sebentar setelah melewati jembatan, dan terus melanjutkan naik. hingga ke puncak gunung, ia sudah mencapai impiannya untuk menjadi pendaki tunggal, setelah itu.. ia tidak ingat apa-apa, lantas bagaimana tiba-tiba ia berada di atas ranjang empuknya?
“sekelompok pendaki menemukanmu jatuh pingsan di atas puncak gunung tadi pagi” sheva menyuapkan sesendok bubur untuk irvan.
“kau harus bersyukur karena masih memiliki identitas, mereka mengantarkanmu sore tadi” sheva bercerita dengan semangat, sesekali melirik mata irvan yang terlihat sangat cekung.
“jadi, sejak tadi pagi aku pingsan? Astagaaa.. aku pikir aku kuat berpuasa seharian dik” irvan tersenyum kecut lantaran perut, kaki dan sekujur tubuhnya sakit.
“heii dimana sendal gunung kesayangan ku dik?”
“aku sudah menyuruh adikmu menaruhnya di gudang sejak kau tiba di rumah sore tadi nak, sebagai gantinya ayah membelikanmu sepatu gunung, sendalmu itu sudah tua, sudah 7 tahun kau menggunakannya mengeilingi gunung di jawa barat, bukan?” ayah irvan dengan suara bijaksananya melangkah ke dalam kamar irvan. Ia meninju lengan irvan tanda sayang, yang ditinju hanya dapat meringis.
“tapi yah.. aku sayang padanya, setidaknya biarkan ia berada di kamar ini meski aku tak lagi menggunakannya” irvan merengek seperti anak kecil.
“ini masalah kecil irvan, tak usahlah kau besar-besarkan.. sendal gunung kesayanganmu itu perlu istirahat” ayah tersenyum sambil meninggalkan kamar membiarkan irvan beristirahat, begitu pula sheva sang adik.
“baiklah yah, aku pikir memang benar” irvan menarik selimutnya, membiarkan matanya terpejam kembali. “meski kau tak lagi bersamaku, kau tetap akan menjadi sendal gunung terbaik ku, aku akan tetap membanggakan mu besok di hadapan teman-temanku. Dan atas pencapaian yang telah kita lalui, aku hanya ingin mengatakan, aku sayang padamu sendalku”

“Irvan keluarkan aku…”

Cerpen Karangan: Fitria ‘ipit’
Blog: fitria1pit.wordpress.com

Cerpen Sepasang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Dari Rahasia

Oleh:
Pada suatu ruang dan waktu, tinggal seorang gadis berusia 70 tahun dan seorang perjaka. Namanya saya enggak tahu karena saya belum pernah lihat KTPnya. Mereka tinggal dengan ketiga anaknya.

Hakim Gemblung

Oleh:
Pada suatu hari, di sebuah negara demokrasi. Hiduplah seorang hakim yang benar-benar tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan di negara itu. Hakim itu bernama Said yang baru saja dilantik

Tak Terduga

Oleh:
Dahulu kala hiduplah seorang anak yang malang hidup sendiri karena orangtuanya sudah meninggal. Anak itu hidup sendiri dengan gubuk sederhana nya di sebuah desa kecil yang masyarakatnya tak begitu

Hair Dan Ilmunya

Oleh:
Hair~ manusia yang luar biasa. Dia ahli dalam dalam berbagai bidang. Kata-kata, matematika, dan bahkan ilmu pengetahuan. Suatu ketika ia mengajar anak-anak kecil di pinggir jalan, waktu itu ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *