Seseorang Di Atas Loteng (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 21 January 2016

Di suatu sore, terlihat seorang gadis berusia 17 tahun sedang sibuk mengemas barang-barang miliknya. Ia mengatur dan merapikan semua benda yang ingin ia bawa dengan hati-hati agar tidak ada yang tertinggal. Untuk kesekian kalinya pula, ia mengecek kembali barang-barang miliknya. “pakaian, pasta gigi, sapu tangan keberuntungan.. Haaahh.” Belum selesai ia menyebutkan semua barang, gadis itu beranjak dari tempatnya dan menuju ke jendela kecil di kamarnya.

Ia mulai bosan dengan kegiatan yang sedang dilakukannya. Kini ia menyibukkan diri dengan membiarkan matanya memandangi suasana sore di kamarnya. Mata cokelatnya yang indah sibuk mengamati cahaya matahari yang masuk melalui kaca jendela kamar miliknya. Cahaya keoranyean itu semakin lama semakin menipis dan berganti menjadi malam. Selepas memandangi cahaya, ia memutuskan untuk menjatuhkan dirinya ke atas kasur. “Haaahh..” Sambil menghela napas panjang ia memandangi atap besar di kamarnya. Tiba-tiba ia terdiam sambil menatap atap itu. Matanya terbuka lebar dan menerawang ke balik atap besar di kamarnya itu. Dari balik atap besar itu, ia seolah melihat masa lalu.

“Miya pulanggg..”

Dari balik pintu besar terdengar suara imut seorang gadis berusia 12 tahun. Akan tetapi dari dalam rumah, tak terdengar suara lain yang menyambut suaranya. Kemudian gadis berwajah imut itu masuk ke bagian dalam rumah itu menuju kamarnya dengan tergesa-gesa, hingga suara langkahnya menggema ke seisi ruang kosong di rumahnya yang besar itu. Ia membanting pintu kamarnya dengan keras.

BRAAAAKK..

Suara bantingan pintu yang keras itu sempat meramaikan seisi rumah yang kemudian menjadi sunyi kembali. Miya tidak peduli dengan apa yang ia lakukan tadi, toh tidak akan ada orang lain yang akan merasa kaget dan menegurnya. Kemudian, ia baringkan tubuhnya ke atas kasur dengan kedua sepatunya yang masih menempel di kedua kakinya. Ia merasa ini hal yang wajar ia lakukan, karena setiap hari selalu jadi hari yang sepi, sunyi tanpa satu orang pun atau apa pun di rumahnya itu.

Hari-hari Miya memang selalu sepi dan membosankan. Baik di Sekolah maupun di rumah ia selalu sendirian. Ayah ibunya selalu sibuk bekerja, dan bibinya, pembantu satu-satunya lebih senang ke luar bergosip dengan pembantu lainnya yang tinggal di sekitar rumahnya. Keadaannya di sekolah tidak jauh berbeda dengan keadaannya di rumah. Di sekolah Miya tidak memiliki banyak teman, atau bisa dibilang tidak memiliki teman sama sekali. Hal ini terjadi bukan karena Miya merasa minder.

Miya Matsumoto, gadis keturunan Jepang-Indo. Berkulit putih seperti ayahnnya yang berkebangsaan Jepang, dan bermata bulat cokelat serta rambutnya yang hitam bergelombang seperti ibunya yang berkebangsaan Indonesia. Miya termasuk gadis yang cantik di sekolahnya, keadaan finansialnya juga cukup atau bahkan lebih, selain cantik dan kaya ia juga terkenal pintar. Namanya selalu menghiasi papan pengumuman sekolah sebagai murid dengan segudang prestasi. Sayangnya, kepintarannya tidak berhasil dalam pergaulan. Dalam hal ini, Miya yakin dirinya pasti ada di urutan paling akhir. Miya tak pernah berhasil membuka pembicaraan dengan seseorang, atau mengobrol santai, atau bahkan hanya sekedar menyapa dan tersenyum pada orang lain di sekolahnya. Miya tak mengerti kenapa semua hal yang berhubungan dengan pertemanan, bersosialisasi, atau bersahabat tak pernah berhasil di hidupnya. Miya memejamkan matanya sambil memukul-mukul kepalanya.

“Ayo.. berhenti memikirkan hal itu!!!” Ia memerintahkan otaknya untuk menghilangkan pikiran menyebalkan itu. Ia benci jika otaknya mulai memikirkan tentang betapa sengsaranya ia, karena hal tersebut membuatnya terlihat seperti orang yang patut dikasihani. Setelah pikiran menyebalkan itu hilang, Miya kembali memejamkan matanya. Kali ini ia mencoba untuk tidur dan membiarkan rumah beserta dirinya terlelap dalam kesunyian.

Di salah satu sudut di sebuah lorong yang besar dan panjang, terlihat seorang gadis bermata cokelat. Mata gadis itu tak sebulat biasanya, mata gadis itu sedikit tertutup menahan kantuk, wajahnya pun terlihat kesal. Sambil menahan kantuk ia berjalan menyusuri lorong yang besar dan panjang, mengikuti sebuah suara.
“siapa sih yang nyetel radio sekeras ini?”
“huh, ganggu orang lagi tidur aja..”
“lagian, ngapain sih dengerin suara biola sendu keras-keras?”

Gumam gadis itu dalam hati. Ia terus berjalan menyusuri lorong itu untuk menemukan sumber suara yang telah mengganggu tidurnya. Seingatnya tidak ada orang lain selain dirinya di rumah itu. Langkahnya terhenti di sudut lain dari lorong itu. Suara itu terdengar sangat jelas dari tempat ia berdiri sekarang. Tetapi, yang dia lihat hanya sebuah tembok besar dan potret dirinya beserta kedua orangtuanya yang melekat di sebuah figura besar tepat di tengah-tengah tembok tersebut. Kemudian gadis itu mengangkat kepalanya, matanya tertuju ke langit-langit.

“Nggak mungkin.”

Dengan sedikit keraguan, ia mengarahkan tangannya ke balik figura besar mencari sebuah tombol kecil untuk menuju ke sebuah loteng besar di rumahnya itu. Kemudian salah satu dari langit-langit di atas lorong itu mulai terbuka. Sebuah anak tangga ke luar dari balik langit-langit. Gadis itu mulai menaiki anak tangga itu satu demi satu dengan ragu. Kini, suara itu semakin terdengar jelas. Suara debaran jantung gadis itu pun juga semakin terdengar jelas. Tinggal beberapa anak tangga lagi tersisa, gadis itu menghentikan langkahnya. Ia ragu untuk melihat apa yang ada di loteng besar itu. Tiba-tiba suara dari biola itu berhenti. Mendadak seisi ruangan di rumah itu kembali sunyi. Sepertinya, seseorang di atas loteng itu telah mencapai baris akhir dari partitur yang ia mainkan. Gadis itu terdiam sejenak, kemudian tanpa ragu ia naiki sisa dari anak tangga itu. Ia tak mau kehilangan dan ingin melihat sosok pemain biola sendu itu.

“S..sii..”

Mata bulat gadis itu semakin melebar. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kakinya membeku tak bisa digerakkan, bibirnya pun kaku tak bisa bicara. “Siapa? itu kan yang ingin kau tanyakan.”
“Leonard, itu namaku. Kau bisa memangilku Leon. Senang bertemu denganmu nona muda..” Bocah laki-laki yang terlihat seumuran dengan gadis itu memperkenalkan dirinya. Ia membungkuk dengan sopan dan meraih tangan gadis itu, kemudian dikecupnya telapak tangan gadis itu dengan lembut.

“Ahh, dingin.” Gumam gadis itu ketika tangan dan bibir Leon menyentuh tangannya. “Mii..Miya Matsumoto. Kamu bisa panggil aku Miya, tidak perlu menyebut nona.”
Miya memperhatikan anak laki-laki di hadapannya itu dengan penuh curiga. Dahinya mengerut dan sederet tanda tanya melayang di benaknya. “Leon? siapa dia? kayaknya dia seumuran sama aku deh. Tapi, aneh banget gayanya. Dia pikir ini abad berapa? Kenapa dia pake pakaian eropa abad pertengahan, lalu apa-apaan cara bicaranya itu. Sok formal. Mmm, apa jangan-jangan dia itu.. Bangsawan? nggak mungkin, masa di atas sini ada.. Aaahh, apa jangan-jangan dia itu?”

“Jangan melihatku seperti itu dan jangan berpikiran aneh tentang diriku.” Wajah Leon yang ramah seketika berubah menjadi kesal. Perkataan Leon tadi pun seketika membuyarkan lamunan Miya. “Ee.. etoo..” Logat jepang Miya ke luar begitu saja. Miya tak tahu harus berkata apa lagi. Semuanya begitu aneh, tadinya ia hanya mendengar suara biola sendu dan mengikuti suara tersebut sampai ke loteng rumahnya. Tapi sekarang, dia malah bertemu dengan laki-laki aneh berambut perak, bermata biru dan berpakaian eropa abad pertengahan. Kulit laki-laki itu juga sangat putih dan dingin seperti salju.

“Silakan bertanya apa saja jika ada yang ingin kau tanyakan. Aku tidak akan bicara apa pun jika bukan kau yang memulainya duluan..” Senyuman manis Leon kembali tergambar di bibirnya.

Miya menelan ludahnya. Melihat senyuman Leon membuat pipi Miya menjadi bersemu. Tapi, rona merah di pipinya itu cepat berubah menjadi raut khawatir. Miya khawatir dengan perkataan Leon barusan, karena ia tak pernah berhasil membuka pembicaraan dengan seseorang sebelumnya, dan Leon malah memintanya berbicara duluan. Tapi, kali ini Miya memberanikan diri berbicara dengan anak laki-laki di hadapannya itu, karena banyak sekali bahan pembicaraan atau pertanyaan yang ingin dia ajukkan pada anak laki-laki itu. Sejam sudah Miya berbincang dengan anak laki-laki aneh di atas lotengnya. Namun, wajah Miya terlihat sangat kesal, sementara Leon terus tersenyum dan tertawa penuh kemenangan.

“jadi, kamu itu sebenarnya siapa?” tanya Miya dengan nada kesal.
“aku Leon.” jawab Leon santai. “aaarrgghh.. Kamu itu siapa? masuk dari mana? Kenapa bisa ada di sini?” Miya meninggikan nada suaranya. Untuk kesekian kalinya Miya menanyakan pertanyaan itu, dan Leon pun terus menjawab dengan jawaban yang sama. “aku Leon. Aku tinggal di sini, di atas loteng ini.” Leon menjawab pertanyaan Miya dengan santai sambil memainkan ujung rambutnya yang keperakkan. “USO.. KATANYA AKU BOLEH TANYA APA AJA TENTANG KAMU.” Kesabaran Miya telah mencapai batasnya. Gadis itu berkata dengan keras hingga membuat seisi loteng bergema.

“Ssstt.. Suaramu bisa membuat takut tikus-tikus di sini.” jawab Leon santai. “tapi kenapa kamu malah nggak jawab pertanyaan itu dengan serius?” Miya semakin naik pitam.
“hihihi.. Dari mana kamu tahu aku tidak jawab dengan serius. Lagi pula aku hanya mempersilakan kamu bertanya, aku tidak janji akan menjawabnya.” Leon tertawa dengan puas begitu melihat wajah Miya yang merah padam karena menahan marah. Mendengar tawa Leon, Miya langsung memalingkan wajahnya. Ia baru sadar kalau sejak tadi ia sedang dipermainkan oleh Leon. Sambil memalingkan wajahnya Miya bertanya sekali lagi pada anak laki-laki itu. Kali ini, suara Miya terdengar pelan dan parau seperti menahan tangis.

“Kalau kamu nggak mau kasih tahu kamu itu siapa. Lalu.. kamu itu apa?”

Bersambung

Cerpen Karangan: Asiah Musthofawi
Blog: blackrabbit.blogspot.co.id
Asiah Musthofawi, lahir di Bekasi, pada 12 Juni 1994. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Indonesia. Sedari duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sangat gemar membaca komik, dan cerpen (Cerita Pendek) di sebuah majalah anak-anak. Kegemarannya tersebut akhirnya membuatnya tertarik untuk membuat sebuah karya, bukan hanya menjadi seorang konsumen saja.

Cerpen Seseorang Di Atas Loteng (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keynes (Part 1)

Oleh:
Aku pernah berpikir, apakah cinta bisa membunuhku? Bagaimana caranya ia bisa membuatku menutup kedua mata, berjalan tanpa arah dan melepaskan nyawaku untuk berkelana dalam kegelapan? Aku ingin tahu. Satu

Kamar Sebelah

Oleh:
“Tobi, tolong simpan kardus-kardus ini ke kamar sebelahmu.” perintah ibu. “Siapa tahu nanti berguna,” Aku langsung membawa setumpuk lipatan kardus itu ke kamar di sebelahku. Saat itu kami sekeluarga

Sepucuk Surat

Oleh:
“Surat lagi!” seruku Ini kali keduanya aku mendapatkan potongan surat, aku mencari nama pengirim dan sama seperti potongan surat yang pertama tidak ada nama pengirimnya. Aku kepikir kalau pengirim

Kahaani

Oleh:
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagiku, saat aku benar-benar muak dengan semua hal yang terjadi hari ini. Setiap hari keseharianku hanya seperti ini. Malam ini pun mataku enggan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *