Seseorang Di Atas Loteng (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 21 January 2016

“Kalau kamu nggak mau kasih tahu kamu itu siapa. Lalu.. kamu itu apa?”

Melihat Miya yang hampir menangis, Leon sedikit merasa bersalah pada gadis itu. Kemudian ia membungkuk berusaha menatap wajah Miya yang tak mau melihatnya. Sekarang mata mereka saling bertemu, dengan lembut Leon mengusap rambut gadis itu. Sambil tersenyum lembut ia menjawab pertanyaan gadis itu. “Aku ini.. aku.. mmhh..” Leon menggigit bibir bawahnya sedikit, ia nampak ragu untuk menjawab pertanyaan Miya. Namun, kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Miya dan berkata dengan pelan di dekat telinga gadis itu. “Aku adalah seorang pemuda menyedihkan yang datang dari masa lalu hanya untuk menemuimu.”

Mendengar jawaban Leon dan desahan napas Leon yang dingin, membuat wajah Miya bersemu menjadi merah. Miya tak kuat lagi menatap wajah Leon, dengan tergesa-gesa ia langsung berlari ke bawah menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya lagi dengan keras. Kemudian ia menjatuhkan dirinya di atas kasur sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Wajahnya masih terlihat sangat merah. Miya tak mengerti dengan perasaannya saat ini, jantungnya berdebar sangat kencang setiap kali mengingat kata-kata Leon. Ia tak tahu harus merasa senang atau takut pada laki-laki yang tidak jelas dari mana asalnya itu.

Kriiiieeetttt..

Dari arah pintu utama terlihat seorang gadis dengan mata bulat cokelat membuka pintu dengan hati-hati. Gadis itu tidak berperilaku seperti biasanya. Ia tidak lagi membanting pintu atau berteriak sekeras mungkin agar ia mendapatkan respon dari orang di rumahnya. Namun kali ini ia malah berharap tak seorang pun atau bahkan apa pun menyadari kedatangannya. Bahkan ia terlihat ragu dan takut untuk melangkah masuk ke rumahnya sendiri. “Ayo Miya, apa sih yang kamu takutkan?” Gadis bernama Miya itu terlihat bicara pada dirinya sendiri, kemudian dengan tergesa-gesa ia berlari menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia langsung mengunci rapat-rapat pintu kamarnya.

“Haah…” Sambil menghela napas lega ia menjatuhkan dirinya ke atas kasur dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Perasaan Miya hari ini benar-benar kacau. Sejak di sekolah tadi ia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dengan benar. Pikirannya selalu melayang-melayang pada loteng besar di rumahnya. Kemudian ia menghitung jumlah kancing di seragamnya sambil mengulang beberapa kata yang sama, “Pergi ke sana.. Jangan pergi ke sana.. Pergi ke sana.. Jangan pergi ke sana.. Pergi.”

“AAARRGHH.”

Hari ini Miya benar-benar merasa kesal. Sejak orang itu datang, Miya merasa seperti menjadi bukan dirinya. Miya yang biasanya tenang dan cepat mengambil keputusan, sekarang ia malah menghitung kancing dengan gelisah di kamar. “Haah…” Gadis itu mengambil napas panjang untuk menenangkan dirinya. “Hantu itu gak ada, hantu itu gak pernah ada. Aku percaya science, science gak percaya hantu.” Gadis itu terus mengulang kata-kata tersebut di pikirannya sambil sedikit demi sedikit mendekati pintu di kamarnya. Ia menelan ludahnya dan kemudian memutar kunci di pintu tersebut. Miya hanya perlu memutar knop pintu tersebut, namun keraguan untuk menemui orang itu muncul kembali.

“Ayoo.” Gadis itu menyemangati dirinya sendiri. Kemudian, ia membuka pintu kamarnya dan berjalan menyusuri lorong menuju loteng. Kini ia sudah berdiri di tengah-tengah lorong. Cuaca mendung siang itu mendukung suasana rumahnya menjadi semakin terlihat menakutkan. “oh, bagus. Kenapa tadi aku gak di kamar aja.”
“oke, ayo Miya, balik ke kamar selagi masih ada kesempatan untuk kembali.”

Gadis itu menutup matanya sebentar. Kemudian, ia berbalik, berjalan menjauhi loteng. Ia mengambil ancang-ancang untuk berlari. Namun, sebelum ia sempat melangkahkan kakinya, tiba-tiba, suara yang pernah ia dengar sebelumnya terdengar kembali. Kali ini suara itu terdengar lebih jelas dan lebih sendu dari sebelumnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Miya langsung berlari ke arah loteng, ia membatalkan niatnya untuk kembali. Ia berlari meninggalkan rasa takut dan keraguaannya untuk menemui orang itu sekali lagi.

DUK.. DUK.. DUK..DUk..

Suara langkah kaki Miya yang tergesa-gesa menaikki anak tangga, membuat orang itu berhenti memainkan melodi sendunya. Langkah Miya pun terhenti, kini ia melangkah dengan lebih tenang sambil mencari-cari suara biola itu. Miya sadar langkah kakinya telah membuat orang itu menyadari kehadirannya. Sesampainya di loteng, ia hanya mendapati sebuah ruangan gelap yang kosong. Miya tak melihat sesosok orang pun di atas lotengnya. Menyadari hal tersebut, rasa takut Miya kembali muncul. Tubuhnya mulai kaku dan gemetar ketakutan.

GLEEEGAAARR..

Suara petir diikuti kilat yang hebat mengagetkan gadis itu. Ia ingin kembali, namun saking takutnya kakinya membeku dan tidak mau digerakkan. Butiran-butiran keringat kecil mulai membasahi dahinya dan pikiran-pikiran negatif pun mulai terlintas di benaknya. Ia menutup matanya, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam dirinya. “Leoonn.” Gadis itu kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia menutup mulutnya sambil menahan tangis. “kenapa aku manggil namanya? bukannya dia sumber dari semua masalah ini? sumber dari rasa takut yang sekarang aku rasain. Aarrgghhh.. bego, kenapa aku manggil namanya. Kalau dia benar-benar muncul gimana?

Rasa takut gadis itu kini sudah menjalar ke seluruh tubuh. Ia jatuh terduduk karena kakinya tidak mampu menahan berat tubuhnya lagi. Suara isak tangis pun mulai terdengar, sambil menutupi wajahnya dengan tangan ia berharap ada seseorang yang datang dan menyelamatkan dirinya dari ketakutan yang ia rasakan sekarang. Tiba-tiba, dari arah belakang terdengar suara langkah kaki. Mendengar suara langkah tersebut, Miya hanya diam mematung sambil menahan tangis. Kemudian suara langkah kaki itu berhenti tepat di belakang Miya. Miya menyadari ada seseorang di belakangnya, namun ia tidak berani menoleh. Tak lama kemudian, seseorang di belakang Miya tersebut berbisik pelan di telinga Miya dan mengagetkannya.

“Apa?”
“Kyyaa!!”

Suara lembut Leon yang terdengar tiba-tiba dan helaan napas dingin Leon yang terasa di telinga Miya, sontak membuat Miya menjerit keras. Gadis itu berbalik, matanya menatap lekat seseorang yang telah mengagetkannya. Air mata Miya pun tidak bisa terbendung lagi, suara Leon tadi benar-benar seperti sudah membuat jantungnya copot. Leon merasa heran melihat Miya yang sedang menangis. Kemudian Leon memajukan tangannya, ia mengusap kepala gadis itu sambil tersenyum lembut. “tidak apa-apa. Sekarang aku sudah di sini.”

Entah kenapa, ketika mendengar perkataan Leon seketika rasa takut Miya lenyap tak tersisa. Bukannya merasa takut dan heran dengan kemunculannya, tapi Miya malah merasa senang dan merasa aman di dekatnya. “kenapa baru muncul? kenapa kamu ninggalin aku sendirian di tempat gelap ini? Aku sengaja datang lagi begitu mendengar kamu bermain biola, tapi kenapa kamu malah berhenti dan ninggallin aku sendirian. Kamu jahat.”

Miya menangis sejadi-jadinya sambil memarahi Leon. Mendengar apa yang dikatakan gadis itu, Leon hanya diam keheranan. Kemudian, Leon mendekap gadis di hadapannya, sambil tersenyum lembut Leon menenangkan gadis itu. “maaf.. maaf.” Kata-kata Leon benar-benar membuat Miya merasa nyaman. Sekarang Miya tidak peduli, Selama keberadaan Leon bukanlah mimpi dan ia bisa terus bersama Leon. Seaneh apa pun Leon dan dari mana asal atau siapa sebenarnya Leon, hal tersebut tidaklah penting lagi bagi Miya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Asiah Musthofawi
Blog: blackrabbit.blogspot.co.id

Cerpen Seseorang Di Atas Loteng (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Power Boyz

Oleh:
Dan Impian Pun Menjadi Kenyataan Suatu hari, aku pulang dari sekolah menuju taman. Aku di sana merenung dan membayangkan bagaimana bila aku menjadi super hero. Dengan 2 pedang, 1

Albatross (Part 2)

Oleh:
BUM! Sekali lagi suara dentuman terdengar lebih keras diikuti kobaran api yang dengan cepat menyebar. Kali ini bukan Osaen yang menjadi sasaran, tapi pulau tempat kami berlindung. Belum sempat

Penuduhan Pembawa Berkah

Oleh:
Sarah selalu kesepian, setiap hari dia harus membereskan seisi rumahnya, mencuci pakaiannya sendiri. Cape? urusan belakang. Dia anak mandiri di keluarganya, bahkan sangat mandiri. Kakaknya, Ibunya, Ayahnya membenci Sarah.

Mermaid itu Ada? (Part 2)

Oleh:
Kami mulai menyelam. Sepanjang berenang sama sekali tak ada obrolan yang berlangsung. Aku jadi bingung, tapi terlalu malas untuk bertanya. Semkain dalam kami menyelam, semakin jarang kutemukan tanda-tanda kehidupan

Dilemaku Menganut Ilmu Pelet

Oleh:
Sebut saja namaku Irvan, usiaku sekarang 30 tahun, aku tinggal di bilangan Bekasi. Sejak SMA aku memang tertarik dengan dunia supranatural, khususnya dengan ilmu-ilmu yang berbau klenik, dimana waktu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *