Setengah Jam di Pulau Tanpa Nama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 5 August 2019

“Please, Ella. Gue ga tau lagi mau ngajak siapa. Loe tau sendiri, gue udah kerja lama sama bos gue tapi belum juga naik pangkat.” Dinda masih saja merengek-rengek supaya aku menemaninya ke Papua menghadiri pernikahan anak bosnya di Raja Ampat.
“Duh, males banget deh. Itu Papua ga sedekat Bandung tau.” Aku menyantap salad buah sambil tetap memandang televisi. “Lagian dengan loe dateng udah pasti bakalan naik pangkat? Kan ga juga.”
“Tapi gue baru nyadar gue kurang sering muncul di acaranya dia, makanya dia jadi ga begitu kenal sama gue.” Dinda masih saja menatapku dengan gaya manjanya. “Gue mau rayu loe pake apa lagi sih? Es krim? Boneka panda?”
Aku terkekeh sambil tetap menikmati salad buahku pagi itu. “Gue ga tau nih kalau rumah sakit tiba-tiba butuh gue. Gimana dong?”
“Ella, jadwal loe terpampang jelas di kamar loe. Gue ga bakal ngajak loe kalau loe ga ada libur.” Dinda kini mengambil remote televisi dan mengecilkan volumenya.
“Apaan sih.” aku menggerutu lalu menaikkan volume televisi sekali lagi. Aku kemudian menatap Dinda yang masih memasang wajah memohonnya. “Boleh deh, katanya snorkeling di sana bagus ya.”
“Nah itu baru semangat.” Dinda langsung beranjak begitu saja. “Gue mau mandi dulu.”

Pagi ini suara Dinda mengisi apartemen kami dengan nyanyian Yamko Rambe Yamko. Suaranya yang keras membangunkanku dari tidurku.
“Oi masih pagi juga.” Aku keluar dari kamarku lalu meneguk segelas air putih.
“Mandi sana. Biar ga protes mulu kerjanya.” Dinda menarik rambutku gemas. “Raja Ampat, we are coming…”

Aku menyelesaikan mandiku, lalu melihat Dinda menyiapkan sarapan pagi. “Tumben bener. Kayaknya enak nih.”
“Iya, hitung-hitung karena loe jadinya mau nemenin gue ke Raja Ampat.” Kata Dinda sambil menyedokkan nasi ke piring.

Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Aku melihat dari kamera di dekat pintu. Sosok yang sudah tidak asing lagi. “Loe ngapain?”
“Bukain dulu dong, sayang.” sahut sosok klimis dan rapi itu dari kamera.
Aku pun membukakan pintu. Sosok itu adalah Gavin. Orang yang paling menyebalkan, di satu sisi juga aku rindukan kehadirannya.
“Morning, darling.” Gavin mengecup keningku lalu membelai rambutku sebentar.
“Oh, itu Gavin ya? Masuk Vin, udah sarapan belum?” Dinda berteriak dari dapur apartemen.
“Gue udah kok. Tapi mau ngopi aja boleh kan?” Gavin menghempaskan badannya di sofa dekat televisi.

Beberapa menit aku membuatkan kopi untuk Gavin, lalu mengambil tempat di sampingnya. “Kok tumben sih pagi-pagi udah kesini?”
“Kan sayang mau ke luar pulau. Masa ga dianterin?” Gavin meminum kopinya perlahan.
“Tapi kan loe juga mau kerja.” Sahutku sambil menyalakan televisi.
“Pas kok waktunya. Nganterin kalian ke bandara, trus langsung ke tempat kerja.” Kata Gavin sambil terus menatapku. “Gue selalu takut kalau loe jauh dari gue.”
Gavin memang paling bisa membuatku tersentuh.

Sehabis sarapan kami pun langsung pergi ke bandara. Di bandara, Gavin terus memegang tanganku sambil tangan yang satunya menarik koperku.
“Ella jaga diri ya.” Gavin memelukku kuat sekali. “Dinda, nitip Ella ya.” Dinda mengangguk sambil tersenyum.

Beberapa jam penerbangan terasa singkat hingga kami sampai di bandara di pulau cendrawasih ini. Aku menatap Dinda yang masih setengah sadar dari tidurnya.
“Tuh iler bersihin dulu.” Kataku sambil bersiap-siap keluar dari pesawat.
“Dih, ga ada ye.” Dinda bangkit berdiri meregangkan sendi-sendinya. “Wah, udah kerasa nih aroma Raja Ampatnya.”
“Baru di bandara.” Aku berdiri sambil menunggu pintu pesawat dibukakan. “By the way, kenapa sih anak bos loe ribet amat nikahnya sampai ke Papua segala?”
“Dia dan suaminya jenis pasangan yang suka petualangan gitu. You know lah.” Pintu pesawat kemudian dibukakan. Aku dan Dinda menyusuri belalai yang mengarahkan ke pusat bandara.

Kami pun sampai di depan bandara. Langit kota Sorong sangat cerah hari itu. Beberapa turis tampak memasuki taksi bahkan beberapa turis asing terlihat sedang tawar-menawar dengan tukang ojek.
“Mau pesen taksi?” aku mengelap keringatku yang sepertinya mulai menetes. “Habis ini kita ke pelabuhan kan ya?”
“Kita naik minibus. Lebih hemat. Duit gue udah nyaris habis bayarin tiket kita berdua.” Dinda terdengar ketus saat menjelaskan.
“Buset. Nyantai amat loe bilangnya.” Aku menatap Dinda masih tak percaya keputusannya.

“Nah ini dia eskalator kita menuju pelabuhan.” Dinda menunjuk ke arah depan memalingkan wajahku yang masih menahan kesal.
“Minibus apaan. Ini mah angkot.” Ucapku menggerutu sambil menyeret koperku.
“Yuk, ga usah bawel. Perjalanan ke Pelabuhan cuma sepuluh menit kok.” Dinda pun melangkah lebih cepat daripada aku.

Aku dan Dinda duduk di paling belakang. Beruntung koper kami tidak begitu besar, sehingga tidak mempersempit area duduk kami. Beberapa orang memasuki angkot ini. Ada sepasang wisatawan asing dari Spanyol jika ditebak dari bahasanya. Ada tiga orang anak muda yang kelihatannya seperti para mahasiswa yang sedang berlibur.
“Sorry banget ya. Ntar sampe di sana gue traktir snorkeling deh.” Dinda melihatku dengan rasa bersalah di wajahnya.
“Kalau Gavin tahu gue diginiin sama loe. Hmm…” aku kemudian tersenyum geli. Dinda menggaruk kepalanya ikut geli membayangkan wajah Gavin.
Dinda mengutak-atik handphonenya menunggu angkot ini sampai di tujuan. Sementara aku masih sibuk meladeni telepon dari Gavin yang tak henti-hentinya bilang hati-hati di jalan.

“Din, loe bilang sepuluh menit. Ini udah hampir setengah jam tau.” Kataku menggerutu sambil berulang-ulang melihat jam tangan.
“Iya nih. Bos gue bilang cuma sepuluh menit loh kalau dari bandara.” Dinda terlihat gelisah sambil menatap seisi jalanan yang mulai sepi.
“Mbak, kayaknya ada yang ga beres. GPS saya nunjukin kita semakin jauh malah dari pelabuhan.” Kata seorang mahasiswa berbisik di dekatku.
Tiba-tiba angkot berhenti di tepi jalan. Dinda memberanikan diri bertanya. “Pak, kenapa berhenti. Bapaknya ga salah jalan kan?”
Belum sempat menjawab, tiga buah sepeda motor tiba-tiba muncul dari kejauhan dan berhenti di dekat angkot. Jumlahnya ada sekitar lima orang dengan pisau di tangan mereka. Mereka memasuki angkot dan menunjukkan muka ganas.
“Langsung aja. Perhiasan, handphone, dompet.” Perampok-perampok ini pun mengarahkan sebuah tas besar agar kami bisa memasukkan barang yang mereka minta. Dengan ketakutan kami pun buru-buru memasukkan semua barang yang mereka minta.
Dengan cepat dan tangkas, mereka pun meninggalkan kami termasuk si sopir angkot yang jelas-jelas adalah komplotan mereka.

Aku diam berkaca-kaca tidak menyangka akan mengalami ini semua. Dinda tampak seperti akan menangis. “Ella, maafin gue. Cincin tunangan loe juga ya?” Kemudian air matanya mulai tumpah.
“Udah, udah. Gapapa kok. Sekarang kita harus pikirin gimana bisa cari jalan keluar dari tempat ini.” Aku memeluk Dinda yang masih kelihatan shock.

Bersama kedua turis asing dan ketiga mahasiswa tadi, kami pun berjalan menyusuri jalanan sepi ini, berharap ada kendaraan dengan sopir baik hati yang lewat.
“Sabar ya mbak, sekitar lima menit lagi kayaknya kita sampai di daerah penduduk.” Kata seorang mahasiswa, lalu menerangkannya sepintas pada turis Spanyol dalam bahasa Inggris. “Maklum mbak kita udah sering menjelajahi Papua, daerah ini ga begitu asinglah.”
Aku dan Dinda cuma bisa mengangguk.

Lima menit seperti yang diperkirakan, kami sampai di sebuah kantor yang dari tulisan di depannya menunjukkan bahwa ini adalah kantor lurah.
Setelah melaporkan situasi yang kami alami kepada staf yang ada disitu, kamipun diberi makan siang seadanya sambil menunggu bus yang kemungkinan akan menjemput kami disini.
Rombongan kami pun memilih untuk beristirahat di lantai kantor itu. “Din, kalau capek istirahat aja deh.” Kataku ke Dinda.
“Ga bisa tidur gue. Resepsinya entar mulai jam lima, sementara sekarang udah jam dua. Ah, pusing gue.” Dinda menggerutu tak henti. Aku hanya bisa menatap keluar, ke jalanan, tanpa harapan.

Seorang bule tampak berbicara dengan salah satu staf kantor. Dia memakai sebuah kaos berkerah yang bertuliskan nama sebuah kampus ternama di Surabaya. “Gue ada feeling nih orang bisa bantu kita. Bentar ya.” Aku bergerak menuju bule itu.
“Excuse me, may I..”
“Ngomong bahasa Indonesia aja please. Saya sudah bertahun-tahun kok di Indonesia.” Bule itu memotong ucapanku sambil tersenyum lalu mengarahkanku untuk duduk di sampingnya.
Setelah menjelaskan banyak hal tentang apa yang kualami beberapa jam terakhir, bule itu ternyata bisa membantu aku dan Dinda.

“Din, bener gue bilang. Tuh bule mau bantu kita.” Aku pun membereskan semua bawaanku.
“Yakin loe? Jangan keulang lagi loh keapesan kita tadi.” Dinda menatap bule itu dengan saksama.
“Gue ga pernah ga yakin sama orang yang beredukasi tinggi. Dia itu peneliti yang sedang tertarik meneliti Papua. Ahli antropologi tepatnya.” Aku menarik tangan Dinda menuju ke arah bule tadi.

Setelah berpamitan dengan semua orang di kantor itu, aku, Dinda, dan bule bernama Shane itu sampai di sebuah pesisir pantai. Perahu bermesin milik Shane telah menanti kami disana.
“Silakan.” Kata Shane membantu kami mengangkat bawaan kami dan membersihkan beberapa tempat duduk di perahu itu.
“So, kalian ini kakak adik ya?” Kata Shane sambil menyalakan mesin.
“Hmm.. Sepupuan. Emang kita semirip itu ya.” Sahut Dinda hampir tertawa ke arah Shane.
“Ya, aku pikir begitu.” Perahu mulai berjalan menyusuri lautan Papua.

Beberapa menit perahu menepi di sebuah pulau. Aku mulai bingung dan ketika hendak bertanya, Shane menanggapi, “Mesinnya kayak ada masalah. Sorry banget. Sebenarnya bisa bentar, kalian bisa ga nunggu di sini? Aku perlu beberapa peralatan untuk perbaikin. Ini pulaunya aman kok, kalian bisa tunjuk kartu namaku. Kalian percaya saya kan? Saya janji akan jemput kalian ga nyampe setengah jam.”
Aku dan Dinda hanya bisa mengangkat bahu pasrah. Setelah melambai ke arah Shane, kami menyusuri pulau yang sejuk itu. Tampak dari kejauhan sebuah bangunan dengan bendera merah-putih di halamannya. “Wah ada sekolahan. Kayaknya SD nih.” Sahut Dinda.

Sesampainya di sekolah itu, kami menatap beberapa anak-anak yang sedang bermain. Mereka bukan anak-anak Papua. Mereka adalah para warga negara asing yang sepertinya bersekolah di tempat ini. Dinda dan aku tersenyum sambil berpandangan.
Tiba-tiba mereka melihat kami, lalu berlari mendapati kami. “New teacher! New teacher!” Aku tersenyum melihat mereka menarik tangan kami. Dinda kaget dan dengan refleks melepaskan tangannya dari mereka. Aku menatap Dinda sambil geleng-geleng kepala. Dinda memang tidak pernah suka dengan anak kecil. Seorang yang lebih dewasa menatap kami sambil tersenyum di kejauhan. Dinda menghampirinya lalu terlibat dalam pembicaraan yang santai sore hari itu. Seorang public relation seperti Dinda mudah berkomunikasi dengan orang baru. Asal bukan anak kecil.

Anak-anak itu begitu antusias menatapku, apalagi setelah mereka tahu aku adalah seorang dokter. Pengalaman beberapa waktu mengambil spesialis anak membuatku begitu mudah mengakrabkan diri dengan mereka. Aku bahkan sempat membuat cerita bergambar tentang seorang anak kecil yang rajin menjaga kesehatannya.

Tiba-tiba Dinda menghampiriku, “Udah hampir setengah jam. Shane kayaknya udah nunggu.”
“Oh okay.” Aku beranjak berdiri. “So sorry, kids. I think I have to go now.”
“We will miss you so much miss Gabriella.” Aku sedikit tersanjung mereka menyebut nama lengkapku. Padahal tadi aku mengenalkan nama panggilanku saja.
Aku tak henti-henti menatap mereka sambil berjalan menuju tepi pantai. Seorang anak kecil berteriak ke arahku. “You should see the big stone in foreshore. It’s cool.”
Mereka melambaikan tangan mereka sampai aku benar-benar tidak bisa melihat mereka lagi. “Itu anak kecil ngomong apa sih tadi, masa disuruh lihat batu besar di tepi pantai.” Kataku sambil menatap langit sore itu
“Rekomendasi pemandangan bagus kali.” Dinda berjalan lebih cepat, apalagi setelah melihat Shane sedang menanti di tepi pantai.

Aku melihat sebuah batu yang lumayan besar di dekat situ dan menghampirinya. Aku kaget bukan main melihat apa yang ada disitu.
“Din, Dinda. Astaga, lihat!” Dinda menghampiriku disusul Shane dari belakang.
Dinda berteriak kegirangan melihat barang-barang kami yang dirampok ada disitu. “Oh, God. Oh, please!” Semua barang yang dicuri lengkap ada disitu, termasuk cincin tunanganku.
Shane tersenyum, tetapi terlihat biasa saja, seperti sudah biasa dengan kejadian seperti ini. Aku menatap Shane berharap dia menjelaskan sesuatu. “Shane, tell us.”
“Nanti aja deh di perjalanan. Kalian kan ngejar waktu. Entar kelamaan loh, buruan ya.” Shane menatap batu itu lalu menghela nafas sebentar.
Aku pun ikut melihat batu itu dan kaget dengan tulisannya. ‘Rest in Peace, all the students and teachers here.’
Masih bingung, aku dan Dinda tak mengatakan sepatah katapun sampai mesin perahu mulai dinyalakan.

“Kalian tadi bertemu dengan anak sekolahan ya?” Shane memulai pembicaraan.
Aku dan Dinda mengangguk serentak. Shane tersenyum tipis. “Sekolah itu sudah lama ga ada. Kebakaran dan ga pernah diusut penyebabnya. Ages. Tidak pernah ada yang tahu nama pulau itu, beberapa yang bertemu dengan anak-anak tadi bertanya tentang nama pulau itu. Anak-anak itu menyebutkannya. Tetapi sesudah keluar dari pulau itu, orang-orang tidak bisa mengingatnya.”
“Mitos bilang, orang yang mengunjungi tempat itu bisa mendapatkan sesuatu yang berharga. Asal berlaku benar pada mereka.” Kata Shane sambil fokus pada lautan. “Seorang pecandu nark*ba pernah berhenti mencandu, seorang pria dewasa tidak jadi menceraikan istrinya, dan lainnya.”
Dinda memasang wajah penasaran bercampur bingung. “Maksudmu, hal berharga yang kita dapat, kita kembali mendapatkan barang-barang yang telah tercuri ini?”
Shane tertawa. “No, of course no. Itu cuma bonus kayaknya. Ella, want to share something? I think you got it.”
“Gue ga tau ya, bener apa ga. Gue sih masih bingung kenapa dapet perasaan gini.” Entah kenapa aku tiba-tiba menangis. “Gue ketemunya sama anak-anak kecil itu. Tapi kenapa gue jadi ingetnya sama Gavin ya?”
“Gue ga pernah bisa nyatain perasaan gue dengan bener ke Gavin.” Aku tertawa sambil menyucurkan air mata. “Gue selalu cuek. Gavin bisa panggil gue sayang, mengecup keningku, bahkan mengucapkan kata-kata yang manis, tapi gue enggak. Gue bahkan ga pernah nelepon duluan.”
“Simple, but that’s it.” Shane tersenyum ke arahku.
“Gue beneran ga ngerti deh yang kalian omongin. Gue cuma dapet satu, gue ga mesti dateng jauh-jauh ke Raja Ampat hanya untuk menarik perhatian bos gue. Gue naik pangkat karena emang gue layak.” Dinda teriak dengan geram sambil mengarahkan tinjunya ke lantai perahu.
“Nah itu ngerti. Itu juga sesuatu tau.” Kataku sambil menepuk pundak Dinda bersimpati.

Selama perjalanan, aku mencoba beristirahat menyandarkan daguku di koper lalu terlelap. Sementara Dinda, tidak bisa tidur dan menyibukkan diri dengan handphone-nya.
“Ella.. Ini Gavin telepon.” Ella membangunkanku. Aku pura-pura tidak sadar, padahal aku sebenarnya belum siap berbicara dengan Gavin.
Dinda pun mengobrol dengan Gavin. Loudspeakernya dinyalakan oleh Dinda mungkin karena suara mesin perahu, tetapi aku tetap memasang telingaku tajam-tajam.
“Ella lagi tidur. Entar gue bilang kalau loe nelepon.”
“Gue sekarang lagi di pelabuhan Sorong. Gue tadi coba hubungin kalian, ga ada yang angkat. Perasaan gue jadi ga enak, jadi gue minta diaturin bokap trip kesini.”
“Dasar anak orang kaya. Hahaha…”
“Jangan gitu dong, gue berjuang nih demi cinta.”
“Entar deh ceritanya disana. Tapi loe janji jangan bunuh gue ya kalau gue udah cerita.”
“Eh, ada apa sih. Loe berdua gapapa, kan? Hey, hello. Din, Dinda.”
Dinda mematikan telepon, lalu tertawa cekikikan. Shane sesekali melihat ke belakang, lalu melihat ke arahku. “Ella, kamu yakin ga mau ngomong sama Gavin. Saya tahu kamu dengerin percakapannya kok.”
Aku pun menegakkan badanku lalu meraih handphoneku. Dinda bingung menatapku, lalu mengangkat bahunya. “Ya, terserah deh.” Dinda memasang earphone-nya lalu joget-joget sendiri.

“Hello, Din. Kok dimatiin sih? Ella udah bangun?”
“Ini gue Ella.”
“Ella! Loe gapapa kan sayang? Ella please lain kali, let me join your trip. Any trip. Gue ga mau khawatir gini terus karena jauh dari loe. Ella, tell me you are okay. Ella, loe dimana sekarang. Gue di pelabuhan, gue nungguin loe.”
“Gavin, I’m okay. Nothing matter with me, obviously.”
“Ella, maafin gue kalau over-protektif begini.”
“Gavin, I love you.”
Terdengar diam dari seberang sana, hampir semenit dia diam. Aku tahu Gavin pasti sangat tidak menduga hal ini. Aku menunggu dia kembali berbicara.

“Dear, I love you more. Gue tunggu di sini ya. I can’t be patient.”

Cerpen Karangan: Rosa D S
Blog: www.personaltreasure.blogspot.com

Cerpen Setengah Jam di Pulau Tanpa Nama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Duhhh… My Boss!

Oleh:
Aku memandang mukanya sekilas. Sedikitpun nggak ada kesan ramah, beda jauh dengan pak Geri, mantan bosku yang baru resign. Memang sih pak Geri agak pelit, tapi mendingan daripada harus

Siapa Dia?

Oleh:
Sesak nafasku sesaat melihat seseorang sedang menggenggam tangannya dengan erat, berambut ikal panjang, tinggi semampai, cara berjalannya bagaikan macan lapar saja. Hanya berdua di taman dekat rumahku, tempatku dan

Cake A Lemon Syrup Gove

Oleh:
Citra membuka matanya, ia meraba dinding untuk menemukan saklar listrik. Aha! Ini dia, ia berhasil mendapatkannya. Citra segera melihat ke arah jam wekernya. Dan ternyata masih jam 06.00. Lalu

Mas Roy

Oleh:
Siang di Kota Surabaya. Hari itu batas hidup dan mati sudah berjarak lebih tipis ketimbang sehelai kertas. Di tengah-tengah suara desingan dan ledakan, aku, Mas Roy serta ratusan laki-laki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Setengah Jam di Pulau Tanpa Nama”

  1. moderator says:

    Jadi mereka hantu ternyata.. ga nyangka ada unsur mistisnya di cerita romantis seperti ini ^_^ sangat menikmati cerita buatanmu ini Ros…

    ~ dan satu nama pena baru telah menempati ruang di ingatanku, terima kasih ^_^

    ~ Mod N

    • Rosa DS says:

      Trima buat commentnya, sebenarnya saya tidak suka sih buat cerita fantasi/mistis begitu, lebih suka yang riil riil saja. Ini mungkin yg pertama dan trakhir buat cerpen fantasi. Hehe

  2. Dinbel says:

    kerens cerita nya. cuman penulisan nama nya aja agak pabaliut sehingga sulit dimengerti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *