Shadow

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 28 May 2016

Hari ini, tepatnya pukul 8 pagi, bayanganku tiba-tiba bergerak. Keadaan sekitarku asing, penuh tepuk tangan penonton seraya mengelu-elukan namaku. Dan aku sadar sepenuhnya, aku sedang berada di sebuah arena pertandingan, melawan monster di depanku, dan aku tidak tahu apa yang terjadi. Cling. Sesuatu berbunyi. Aku segera bangun dari tidur lelapku dan mencari sumber suara, yang ternyata berada di pergelangan tanganku. Sebuah layar, yang berisi kebutuhan milik bayanganmu. Shadow, yaitu bayangan milik dirimu sendiri, yang dimana di dunia ini dijadikan pertaruhan hidup dan mati berdasarkan level. Pertarungan antar Shadow akan sangat ditunggu-tunggu oleh warga di sekitar sini. Yang mana hadiahnya berupa naik level, cash, senjata, pelindung, tempat tinggal. Bahkan, kau bisa meminta pendamping hidupmu. Di layarku tertera gambar bayanganku, level 25, sebuah powerful sword dan armor dari baja, cash sebanyak 35.000. Setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini, aku mulai mengerti.

Aku terjebak di Lucel World -kata mereka- yang isinya adalah mereka-mereka yang terjebak di dunia ini, sebuah game. Jika ingin ke luar dari sini, maka harus menyelesaikan game sampai level milikmu mencapai level 50. Maka, kau secara otomatis akan ke luar dari dunia ini. Dari beberapa orang yang ku wawancarai, mereka tidak ingin meninggalkan dunia ini. Maka aku akan menjadi yang pertama yang ke luar dari sini. Cling. Layarku berbunyi lagi. Shilen Meminta anda untuk bertarung melawannya. Terima atau tidak? Ku buka profil milik bayangannya. Level, sword, pelindung, cashnya terbilang sudah sangat profesional. Taruhan yang ditawarkannya yakni naik menjadi level 37. Sedikit lagi menuju 50, maka aku akan ke luar dari sini. Klik. Terima. Welcome home, babies.

Pukul 19:00. Tepat diadakannya pertandingan bayanganku, Shadow Assasins dan Eureka -usernya- dengan shadow miliknya, Shilen. Aku mengamati bayangan miliknya di layarku. Mulai dari perlengkapan sampai skillsnya. Aku siap. Aku memasuki arena. Eureka beserta bayangannya telah menunggu di podium yang ada di barat dan timur. Podium itu bertugas sebagai tempat sang owner, yaitu pemilik shadow tersebut mengendalikan shadownya dengan tombol tombol yang tersedia di podium tersebut. Eureka dengan jubah merahnya tersenyum mengejek lalu menjabat tanganku.

“Hei amatir, kau siap?” ucapnya menantang.
“Selalu. Semoga beruntung, bro,”
“Tch. Harusnya aku yang bilang begitu,”
Penonton mulai mengelu-elukan nama Eureka. Sebagian juga ada yang mengelukan namaku, namun tak sebanyak pendukung Eureka. Layar besar yang ada di selatan arena mulai menampilkan gambarku dan Eureka. Serta HP milik masing-masing shadow.

Ready? Aku mengirimkan pesan tersebut kepada Eureka. Eureka memandangiku jijik dari jauh. Yes. Pertandingan Dimulai, antara Shadow Assasins vs Shilen. Aku mulai menggerakkan tombol-tombol yang ada di podium dan memasang pertahanan HP. Berfungsi agar saat shadow milik kita diserang maka HP kita tidak akan berkurang terlalu banyak. Eureka dengan shadownya mulai menyerangku. Aku bertahan. Aku menyerang, Eureka dengan Shilen bertahan. Selalu begitu namun HP milik Eureka tidak berkurang sedikit pun. HP milik Shadow Assasins sudah berkurang banyak. Gawat. Aku memutar otak, mencari senjata yang ada di galeri serta strategi yang ku gunakan. Senjata-senjata yang ada di galeriku tidak sama seperti mereka. Mereka harus membeli senjata tersebut dengan cash yang sangat mahal sedangkan aku tidak perlu. Senjata senjata tersebut sudah ada di galeriku sejak pertama kali aku tiba di sini.

Aku memilih menggunakan snipper jenis PSG1 dan brass knuckle. Ku tekan tombol switch on untuk mengganti senjata yang dibawa bayanganku. Ku arahkan sniperku tepat ke hati Shilen, lalu menembaknya 5 kali. Badannya terpental jauh namun HP hanya berkurang seperempat saja. Aku berlari mengejar tubuh Shilen yang terpental jauh. Shilen langsung berdiri sigap dengan kuda-kudanya. Tanpa aba-aba, aku melewati Shilen dan berhenti tepat di belakangnya. Aku menggerakkan tombol yang mengendalikan brass knuckle, mengeluarkan jarum yang ada di ujung senjata brass knuckle dan menusuk tepat di belakang lehernya. Jarum tersebut terdapat racun yang sangat mematikan, yang baru ku peroleh secara misterius siang tadi. Shilen mati seketika.

HP yang tadinya sangat tangguh kini sudah habis tak bersisa. Aku memberi Eureka senyum kemenangan, dan langsung meninggalkan arena begitu saja. Kemenangan yang ku dapat dari 10 pemain terhebat di Lucel World menggemparkan seluruh penjuru dunia ini. Nama, foto, dan bayanganku terpampang di mana-mana. Stasiun, penginapan, dinding taman, wc, gang gang sempit, dan lainnya memberitakan bahwa aku telah berhasil mengalahkannya. Sejak pertandingan itu, aku menjadi mudah mengalahkan peserta lain.

Level 37.
Level 40.
Level 42.
Level 44.
Level 45.
Level 49.

Ini ada lawan terakhirku, menuju level 50. Lawan di depanku sangat menyeramkan. Dari auranya saja sudah terlihat berbeda. Orang berbadan besar dengan bayangan yang besar juga. Di punggung bayangan miliknya terdapat Jetpack. Baru kali ini aku melihat bayangan dengan sebuah jetpack. Di kakinya terdapat sebuah kantong yang berisi api yunani. Tangan kanannya membawa granat berpeluncur roket, RPG-7. Tubuhnya tidak memakai baju atau armor. Polos. Keringatku bercucuran, gelisah. Ku tarik napas dalam-dalam dan focus kepada pertandingan. Aku menuju podium. Bayanganku maju kelapangan arena menantang bayangan lawan. Aku takut. Aku takut gagal. Strife, lawanku dan Leonhart, bayangan miliknya menatapku rendah. Ready bos? Strife mengirimiku pesan. Yes. Balasku spontan.

Beberapa detik setelah Strife mengirimkan pesan tersebut, ia langsung menyerangku dengan melempar sebuah api yunani dan tepat mengenai perut ku. Dalam sekejap, HP milikku tersisa 10%. Di ambang kematian. Aku memutar otak. Memikirkan celah yang dimiliki bayangan miliknya. Selagi aku berkutat dengan senjata dan bagaimana cara mengalahkannya, bayangan milik Strife tiba-tiba sudah hampir berada di atas tubuh milik bayanganku. Aku bingung, aku bingung, aku bingung. Bagaimana jika aku kalah? Mana mungkin aku mengulang dari level pertama lagi. Tak sudi.

YOU WON! CLOUD AND SHADOW ASSASINS WON THIS GAME! CONGRATS! Begitu pesan yang tertera di layar besar arena ini. Aku… menang? ku lihat bayangan milik Strife terkapar di atas bayangan milikku. Darah berceceran di sekitar area lapangan. Apa yang barusan ku lakukan? Aku melihat layar yang ada di podium milikku. Ternyata aku tanpa sengaja menyentuh jarum yang ku gunakan membunuh Shilen ketika Leonhart tepat berada di atas Shadow Assasins. Akhirnya aku pulang!

Aku kembali ke penginapan, menunggu kembali menuju dunia tempat aku dilahirkan. 5 jam berlalu namun aku tak kembali ke duniaku. Tiba-tiba muncul pesan di layar yang ada di pergelangan tanganku. Kau tidak boleh pulang. Isi pesannya sangat singkat, namun keringatku langsung bercucuran. Level yang yang berada di pojok layar kiriku berubah menjadi angka 1. Sial. Apa yang terjadi? Tiba-tiba ruangan di sekitarku menjadi berwarna putih. Kosong, tak ada apa pun selain aku seorang diri. Perlahan, sebuah hologram muncul tepat di depanku. Hologram berwajah pamanku sendiri.

“Kau tidak boleh pulang.” Ucapnya spontan. Lututku bergetar.
“KENAPA? AKU MAU PULANG. AKU MAU BERTEMU KELUARGAKU!”
“Kau tidak pantas di sana, Cloud. Kembalilah ke dunia yang ku ciptakan.”
Tscth!

Dan aku kembali ke penginapanku. Dunia yang ku ciptakan, katanya? Sialan. Ternyata itu ulahnya. Aku menangkupkan wajahku. Bingung. Ibu, ayah, aku tidak tahu apa yang selanjutnya akan ku lakukan. Yang ku inginkan hanyalah kembali ke dunia di mana aku dilahirkan, dimana aku bertemu kalian ibu, ayah. Aku tersenyum, di atas tempat tidur. Ini kedua kalinya aku tersenyum semenjak aku tiba di dunia ini. Senyum kepiasan.

Cerpen Karangan: Michiruu
Facebook: Nurmaw Reynolds Espinosa
Maaf kalau jelek. Ini cerpen pertamaku.

Cerpen Shadow merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kahaani

Oleh:
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagiku, saat aku benar-benar muak dengan semua hal yang terjadi hari ini. Setiap hari keseharianku hanya seperti ini. Malam ini pun mataku enggan

Avertebrata

Oleh:
Keluarga kami sangat banyak, Porifera adalah yang menjadi ketua keluarga ini. Rumahku berada di sebuah negeri yang mereka sebut Avertebrata. Aku tidak tahu, mengapa aku bisa hidup dan berkembang

Topeng

Oleh:
Pada suatu ketika hidup seorang pria dengan sebuah topeng di tangannya, topeng yang sangat berat buatnya, dengan topeng itu, dia bisa menyembunyikan wajahnya, kemanapun dia pergi dia selalu menggunakan

Mesin Waktu

Oleh:
Pada tahun 2026 dimana dunia sudah mulai dikuasai teknologi canggih, ada 3 sahabat yang bernama jack, nicole dan alex. Mereka baersekolah di sekolah yang sama tepatnya di smp ABC,

Ramuan Keabadian (Part 2)

Oleh:
“Oh! Andre! Ternyata kamu. Dari dulu kamu tidak pernah berubah senang bikin onar!” kataku sambil tertawa mengingat hal kemarin. “Yang pertama aku gak sengaja. Yang kedua dan ketiga mungkin.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *