Sheila: The Last Day (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 2 April 2016

Apa yang dilakukan saat ajal menjemputmu?

Menangis.

Tak ada yang dapat ku lakukan kecuali menangis sepuas-puasanya. Setiap saat. Selama tiga hari belakangan, setidaknya hingga bayang kengerian tentang kematian kering dari benakku. Memang laku yang sia-sia. Namun air mata dan keluh hati tak mampu ku bendung lagi. Aku hidup sebatang kara. Baru menginjak sweet 17, Tuhan. Masih banyak hal yang belum ku alami. Namun aku tak cemas karena almarhum Papa meninggalkan cukup bekal untukku dapat hidup hingga detik ini. Tapi kini semua telah berubah.

“Sheila, Seperti yang sudah saya jelaskan, menurut hasil seluruh tes bila dilihat secara medis, tubuhmu sudah mengalami kerusakan fatal. Dan saya…”
“Berapa lama lagi, Dok?!” aku menyela ucapan Dokter Hermawan yang jelas-jelas aku sudah tahu ke mana arahnya. Perutku terasa mual. “Emm… secara medis kurang lebih enam bulan,” katanya sambil jemarinya membenahi letak kacamata tebalnya.

Kata-kata Dokter Hermawan masih berdendang seperti nyanyian jangkring usai gerimis tengah malam walau usai lima hari enam malam mengunci diri di kamar Hotel. Kepalaku terasa berat. Aku tahu aku seorang yang payah. Saat ini yang bisa ku lakukan hanya meratapi nasib, mengulang kenangan, lalu menangis lagi. Aku tak mampu lagi berpikir positif. Semua telah pupus. Aku akan mati. Itu pasti. “Sampai kapan kamu mau mewek gitu?” aku tersentak. Menoleh ke belakang.

Suara tadi amat lirih, hampir tak terdengar olehku. Namun begitu kentara nada ledek dalam tiap kalimatnya. Aku menoleh ke segala arah tapi tak menemukan siapa-siapa. Kosong. Pintu terkunci. Mungkin tadi cuma halusinasiku saja, pikirku. Baru saja hendak kembali melanjutkan ritual ratapku. Sejenak pandanganku menangkap sesuatu hitam. Seperti sosok manusia. Berdiri. Seorang pemuda. Dengan nyamannya ia menyenderkan punggungnya ke daun pintu. Kedua tangannya dilipat di dada. Berpakaian serba hitam, lengkap dengan jaket kulit melekat sempurna di figurnya yang seolah berteriakan ‘Man of the year’.

“Anda siapa?” Suara parau menyeramkan lepas. Tenggorokanku sampai sakit karenanya.
Bibirnya menyeringai miring. Tatapannya setajam elang. Orang asing dalam kamar hotelku? Jangan-jangan…
“Hei! Siapa kamu!?” kembali aku menanyai cowok mencurigakan di depanku itu. Dia tampak acuh dan mulai melangkah mendekat. Dadaku memacu. Jangan-jangan.. oh tidak! jangan-jangan…

Sebisa mungkin aku meringkuk di pojokan kasur. Mendekap benda sekitar seadanya. Jantungku serasa mau keluar. Tiba-tiba dengan santainya pula ia membuka lemari es lalu mulai memasukkan makanan yang dilihatnya ke dalam mulut. Lapar? Bibirku berdenyut-denyut, “Mm..m-maaf Anda s-siapa?” Aku merasa konyol. Hening. Ia hanya menoleh sejenak lantas melanjutkan acara lahapnya seolah-olah aku hanya sebuah tembok. Sialan aku dicuekin! “Hei Mas, helooo… Apa anda Room boy?”

Bukk!

Akhirnya pertanyaan tadi berhasil menusuk kupingnya hingga kini bola matanya yang sebesar kelereng yang nyaris ke luar menatapku bulat-bulat. “Really…,” ucapnya. Dahi mengernyit, mata menyipit sebelah.
“Emang ada Room boy kayak gue?” Tangannya terangkat, seolah mengisyaratkan kalau dirinya mustahil adalah seorang Room boy. Baiklah. Dia menjengkelkan! Aku mengepalkan kedua tangan di atas bantal yang telah menjadi perisaiku. Gerahamku beradu. Entah kesal terhadap tingkahnya atau kesal karena aku tak bisa membantah pernyataannya.

“Terus… siapa lo!?”
“Lo udah masuk kamar gue tanpa izin. Gue bisa aja laporin lo ke polisi sekarang!”
“Cih, dasar bocah,” celetuknya. Nyaris saja aku naik pitam. Tapi di detik kemudian dia membungkamku dengan…
“Aku pelindungmu.” Sekejap bibirku terhenti di tengah jalan. Aku melongo bundar. Otak tiba-tiba buntu.
“Ma-maksudmu?”
“Gue mutusin muncul. Daripada gendang telinga gue pecah gegara tangisan berdarah lo itu.”
Aku tak yakin, itu ejekan atau sejenis info dengan tipe sarkastik.
“Dan untungnya lagi gue dapat cewek oneng kali ini.” Katanya, lalu kembali cowok tak tahu sopan santun itu mengacak-acak lemari esku.

Jujur aku geram melihatnya karena sekarang ia mulai membuka es krim favoritku. Tapi anehnya tubuhku tak merasa terancam. Bahkan naluriku tenteram, padahal baru saja bertemu dan aku begitu kacau 10 menit yang lalu kini terlupakan. Ini mungkin karena aku lelah atau benar-benar putus asa. Toh, hidupku tinggal menghitung hari, pikirku. Cowok itu kini memandangiku sambil… ah, es krim strawberii… aku miris menyaksikannya sekaligus mulai gelisah, setelah kembali ke alam sadar, jantung kembali berdendang ria.

“…”

“Kamu akan…,” mataku melebar, degup dada memacu, “Meninggal.”
Seperti baru saja dijatuhkan dari Helikopter ketinggian 1000 meter. Aku melayang di kehampaan. Perutku mencelos. Benar kata orang: kadang kebenaran menyakitkan saat diungkapkan. Mataku kembali berair. Bibirku bergetar. Aku tersengguk lirih. Meratap lagi. Mengubur wajah di bantal. Apa mau dikata. Aku memang akan segera mati.

“Oi, mewek lagi lo?” suara cowok itu kini di samping telingaku. “Gue nggak nyangka lo bener-bener cengeng ya,” katanya, mendekat di sampingku. Ku rasa sangat dekat, hangat tubuhnya ku rasakan, beberapa senti kami nyaris bersentuhan. “Hei dengerin, lo memang mau mati. Tapi bukan mati sebenarnya. Maksud gue jiwa lo aja yang pindah dunia.” Aku mendongak, mengerjap-ngerjap. Apa dia bilang?

“Lo bukan manusia biasa. Lo…emm…berbeda. Mungkin spesial,” ia mengedikkan bahu di akhir kalimat, seolah meragukan ucapannya itu. “Lo itu spesial karena em.. dapat melihat yang tak terlihat dan tahu sebelum mengetahui. Lo ditakdirin sebagai penjaga rahasia di balik rahasia. Maka dari itu jiwa lo harus diamankan. Dan gue di sini mau bantu lo. Tentu aja sebagai pelindung sementara selagi lo belum meninggal, karena ya.. eh, jiwa lo harus pergi secara normal dari dunia fana. Lo ngerti kan?” ia nyengir getir.

“Lo sadar kan ucapan lo sama sekali tidak menenangkan gue?” Kedua mataku menyipit, memandang jijik tepat ke wajahnya. Wajahnya tiba-tiba serius. Tampak berpikir sejenak.
“Hehe…lo bener juga. Hehehe….”
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?

“Eits… beneran. Lo harus percaya kalau gue pelindung lo. Gue bakalan ngelindungin lo dari kejaran pemburu sekaligus ngajarin gimana caranya bertahan hid–”
“Tunggu dulu, “potongku, “Pemburu, kata lo?”
“Bakal banyak banget orang-orang yang mau manfaatin and ngincar bakat lo. Itu kenapa gue di sini. Supaya lo nggak ketangkap sebelum ya lo tahu sendiri lah…”
“Lo becanda kan?”

Mata hitamnya mengunci mataku, “Kalau lo ketangkep, terpaksa lo bakal gue bunuh dan jiwa lo mesti dikurung selama-lamanya. Yang artinya lo nggak bisa ke surga maupun neraka.” Suaranya berubah. Begitu lembut, tenang, dan dewasa. Amat berbeda dengan cowok yang semenit lalu telah melahap habis stok lemari esku. Namun kalimatnya seperti petir menggelar. Seperti belati yang menusuk jantung. Seperti palu besar yang dengan sekali hantam mampu meruntuhkan duniaku. Aku seolah tenggelam dalam dasar lautan terdalam tak secerca cahaya sekali pun.

Cowok itu kembali makan seperti tikus kelaparan. Dahiku berkerut tanpa henti melihatnya, namun tak berani membuka bibir. Entah kenapa, dengan segala omong kosongnya tapi aku merasa dia tidak sedang berbohong. “Siapa namamu?” ku putuskan buka obrolan. Dia menoleh. “Sekarang jadi aku, kamu nih,” dia nyengir licik. Aku menyesal telah bertanya. Cowok itu menjelaskan panjang lebar, bahwa beberapa bulan terakhir telah membuntutiku. Ia juga melarangku menyela. Meski sebal aku menahan diri. Namun tetap. Otak ini berkabut dibuatnya. Sangsi. Orang asing ini begitu tahu tentangku. Siapa dia?

“Gue tahu apa yang ada dalam kepala lo.”
“Gue manusia. Setidaknya dulu gue manusia biasa. Sama kayak lo. Takut mati,” ia bicara selagi makanan di mulutnya penuh. “Suatu hari gue ketabrak kereta api. Ya, kereta api. Miris sekali, bukan?”
“Makanya nasib lo itu jauh lebih bagus dari gue. Setidaknya lo udah tahu kapan buat siap-siap. Tapi ya, sepertinya lo lebih suka meratapi daripada menghabiskan waktu untuk hal yang lebih baik.” Ia mendengus sambil menggigit buah apel. Hatiku mencelos. Aku tak mampu merangkai kalimat. Aku telah kalah sebelum berperang.

Bersambung

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: https://mobile.facebook.com/mella.amelia2?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C5065810451

Cerpen Sheila: The Last Day (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehidupan Baru Clara

Oleh: ,
Suatu hari.. Sebuah mobil ditemukan di jurang yang diduga korban kecelakaan. Para polisi yang menemukannya terkejut melihat seorang anak perempuan berumur 10 tahun yang masih hidup. Anak itu dibawa

Reincarnation

Oleh:
“Bangsa Peri itu ialah makhluk hidup yang tinggal di hutan lebat. Mereka adalah makhluk yang memiliki sayap yang indah dan dipenuhi kemilau. Kehidupannya pun hampir mirip dengan kita. Bedanya,

Pengalaman Jordi

Oleh:
Kereta melaju dengan cepat, dia memandang penumpang di depannya, wajah mereka sangat mencurigakan. Seperti ada yang akan mereka lakukan terhadap Jordi dan kakaknya, jordi terus memandangi mereka. Ada tiga

Verdriet

Oleh:
Sejak dua jam yang lalu aku bersantai di halaman belakang rumaku, angin malam berhembus, mendinginkan otakku, memang enak sih bersantai sambil mendengarkan lagunya Shaggy dog – Bersamamu. Beberapa menit

Makhluk Mati dan Benda Hidup

Oleh:
Langit abu berangsur-angur menjadi gelap. Gemuruh guntur sayup-sayup terdengar berbarengan dengan gema adzan isya. Rintik hujan mulai jatuh membasahi atap amben bambu. Nampak kekecewaan timbul pada wajah pengunjung warung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Sheila: The Last Day (Part 1)”

  1. Farizon says:

    Lanjut . . Penasaran :3 ..

  2. Ritta says:

    Lanjutan nya kpn, sayang sekali bikin cerpen tapi setengah setengah. Nanggung padahal bagus ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *