Short Story

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Terjemahan
Lolos moderasi pada: 13 July 2013

Gill menikmati sore itu. Semilir angin sayup-sayup menggodanya, membelai tiap-tiap helai rambut yang coklat. Jemarinya menari-nari di atas tuts komputer jinjing sementara matanya terpaku pada layar kaca. Ilham seakan-akan berlarian menuju kepalanya, menyesak, berebutan. Alih-alih, ia bahkan kebingungan memilah-milah ilham yang menyapanya.

“Apa yang kau pikirkan?” Kelley bertanya namun sebenarnya tidak sungguh-sungguh bertanya. Tepatnya, dia hanya ingin mengisi kekosongan di antara mereka. Mata abu-abu laut miliknya tidak menatap mata Gill secara langsung, perhatiannya terfokus oleh teh yang tengah ia seduh. Bunyi tubrukan antara sendok teh dengan cangkir sedikit banyak mengambil bagian di dalam jeda hening mereka.

Gill berhenti memencet tuts-tuts komputer jinjingnya. Dia menengadah. “Proyekku, tentunya,” jawabnya singkat.

Di luar pagar rumah mereka yang berwarna putih kusam, seorang balita berkuncir dua melintas dengan sepeda roda tiganya. Sesekali, anak tersebut menekan-nekan tombol yang mengeluarkan bunyi ting-ting-ting yang melengking–sejenis dengan bel sepeda atau semacamnya. Setelah anak dengan sepeda warna-warni itu seutuhnya lepas dari pandangan Gill, dia beralih kepada Kelley.

Kelley memiliki mata yang cantik. Sepasang mata abu-abu laut yang menyimpan berbagai macam rahasia di dalamnya. Dia juga memiliki bibir mungil yang seksi, sumber kegairahan bagi Gill. Rambut Kelley pirang panjang dan bergelombang, jenis rambut yang mudah tersapu angin.

“Ceritakan padaku tentang proyekmu,” pinta Kelley sembari mengamit jari-jari miliknya sendiri, bagaikan posisi berdoa.

“Hem…” Gill mencari kata yang tepat untuk memulai, “Vampir yang kubuat telah berevolusi menjadi kanibal.”

Kelley tertawa, menurunkan cangkir tehnya ke meja. “Kau bercanda.”

Alis Gill tertaut, pertanda dia tak setuju dengan sedikit pun akan respon Kelley atas proyeknya. Kelley berkata di sela-sela tawanya, “Ayolah, Gill, Vampir kanibal tuh nggak rill banget. Aku nggak yakin kalau penerbit-penerbit itu mau menerbitkan ceritamu.”

Gill mendengus pertanda tidak setuju. Dia segera menutup komputer jinjingnya dan meneguk habis segelas teh yang telah mendingin. Wajahnya masih terlihat kesal. Sepasang mata hijau milik Gill mulai nanar, menyiratkan kemarahan yang tertahan.

“Tidak usah marah gitu dong, Sayang. Aku cuma bercanda,” goda Kelley dengan nada suara yang lembut. Jemarinya menyentuh lengan Gill namun Gill menepis, ia mengangkut komputer jinjingnya ke dalam rumah. Menjelajah di antara ruang-ruang.

Gill berucap pelan tanpa ada yang tahu, bahkan Kelley pun tidak.

Tepatnya, dia berbisik.

***

Sejak saat itu, aku yakin kalau Gill berubah. Aku tak tahu bagaimana tepatnya Gill dapat berubah menjadi orang yang jauh berbeda dari dirinya. Ayolah, aku tidak begitu yakin kalau dia menjadi aneh hanya gara-gara kejadian hari itu. Maksudku, ketika aku mengejek cerpennya.

Aku yakin dia telah dewasa.

Gill menjadi lebih sering menyendiri, lebih pendiam, lebih sering keluar pagi dan pulang malam. Dia memang masih tetap menulis – karena itu memang pekerjaan tetapnya. Aku tak pernah menyangka kalau menulis cerpen itu mengharuskan mereka untuk keluar rumah setiap hari.

Gill lumayan sukses dengan buku-bukunya. Beberapa kisah yang ia tulis sudah lama diterbitkan. Kebanyakan atau bahkan hampir seluruhnya adalah fantasi. Dua atau tiga tahun setelah dia menerbitkan buku ke-tiganya, dia keluar dari pekerjaannya sebagai wartawan koran. Mungkin karena pemasukan harian kami sudah normal dan mencukupi kehidupan kami.

Selain itu, Gill juga jarang pulang. Bahkan lama. Sangat lama. Sangat lama sehingga terkadang aku tak dapat mendeteksi keberadaannya. Begitu jarang sampai-sampai aku tak tahu kalau dia ada atau pergi meninggalkanku tanpa aku ketahui.

Pernah suatu ketika, mungkin beberapa bulan yang lalu. Aku hampir saja tertidur sendirian di malam itu ketika aku mendengar suara panci dan langkah kaki dari dapur. Aku terhenyak sesaat, mulai menerka-nerka apakah itu Gill. Namun aku tidak begitu yakin kalau kegaduhan itu disebabkan oleh Gill karena aku tak mendengar bunyi pintu terbuka sejak tadi – yang menandakan bahwa Gill belum ada di rumah.

Aku mengendap-ngendap dalam kegelapan, menggenggam pemukul bisbol yang Gill sembunyikan di atas lemari. Berusaha untuk tak bersuara. Tak bernafas, malahan. Dadaku berdenyut-denyut. Aku memutar pemukal bisbol itu, sekan-akan aku akan bersiap-siap memukul bola yang akan melayang ke arahku.

Tanpa suara, aku menyeret kakiku ke arah dapur, menuruni tangga dengan membungkuk, berharap cahaya bulan yang masuk lewat jendela tidak memperjelas bayanganku. Tidak menguak identitasku.

Aku merasa bagaikan tokoh utama film lama Home Alone.

Aku menekan saklar lampu dengan hati-hati, mengangkat pemukul bisbol itu tinggi-tinggi dan menemukan Gill membelalak menembus mataku. Dia kaget, aku juga kaget. Mulutnya berhenti mengunyah biskuit. Tangan kanannya menggenggam biskuit gandum dan tangan kirinya menjinjing tas hitam yang berisi komputer jinjing. Jaket coklat tebalnya belum dilepas, rambutnya semakin acak-acakan dan mata hijau miliknya membulat, sedetik pun tak pernah lepas dari ujung pemukul bisbol yang telah kuangkat tinggi-tinggi.

Di waktu yang lain, aku sering memergoki Gill pergi terlalu pagi. Kadang-kadang tidak membawa komputer jinjingnya sehingga aku lagi-lagi ingin bertanya apa yang ia lakukan dengan tangan kosong seperti itu. Di waktu pagi pula. Aku menduga dia jogging sebentar untuk menyehatkan tubuhnya yang kaku akibat keseringan duduk di depan komputer. Namun sayangnya pernyataan itu segera ditepis oleh petanyaan baru, bagaimana bisa dia jogging dengan jaket tebal dan topi? Ujung-ujungnya, pernyataan itu malah membuahkan sebuah pertanyaan. Yang aku yakin tidak akan pernah terjawab.

Semakin lama, omongan Gill semakin minim. Aku dapat menghitung berapa kata yang ia ucapkan setiap harinya. Syukur-syukur kalau dia dapat melafalkan 30 sampai 40 kata tiap harinya. Sekarang, dia hanya mengucapkan ‘halo’ atau ‘selamat pagi’ kepadaku. Terkadang malah berupa dengusan.

Aku merasa bahwa aku adalah istri yang menyedihkan.

“Gill,” panggilku, dengan suara serak pertanda baru bangun. Aku melirik jam analog yang terdapat di samping lampu meja dan mendapati bahwa saat itu masih jam empat lewat dini hari. Gill memakai jaketnya, seperti biasa. “Kau mau kemana?” aku memberanikan diriku untuk bertanya. Tidak, aku memang harusnya bertanya.

Gill tidak menjawab apa-apa, ia mengenakan syal garis-garis hijaunya. Syal yang dirajut oleh ibuku beberapa tahun yang lalu sebagai hadiah tahunan pernikahan kami. Meskipun aku seorang wanita, aku tak akan pernah bisa melakukan hal-hal manis seperti merajut kaus kaki atau switer untuk lelaki yang dicintai. Bukannya karena tidak ingin, tepatnya karena memang aku tak bisa.

Setelah jeda yang teramat panjang, Gill mengucapkan kalimat, “Mencari referensi,” dengan singkat. Tidak menatapku. Tidak melihat tubuhku atau apa pun yang berada di dekatku. Dia menunduk, memfokuskan dirinya kepada sepatunya yang belum di simpul.

Keadaan masih saja hening ketika dia pergi. Dia keluar dari kamar kami dan menghasilkan sebuah debuman kecil pertanda pintu telah di tutup. Aku menatap jam analog lagi, kurang dari jam setengah lima. Aku mendengus dan membenamkan kepalaku di dalam selimut.

Aku – lagi-lagi ditinggal.

Aku bangun terlalu cepat dari biasanya sehingga kini aku tak tahu akan melakukan apa. Aku memutuskan untuk bangkit dari kasur, mengerutkan dahiku dan menatap cermin. Proyeksi wajahku terpampang jelas pada cermin rias berbentuk oval itu, terpantul dengan sempurna tanpa ada yang tertutup-tutupi. Tak ada yang dapat disembunyikan, segalanya muncul ke permukaan tanpa perlu dicari-cari.

Aku menyisir rambut cokelat tuaku yang kusut sembari terus menatap cermin. Merapihkan helai-helai rambutku yang kusut dan menggimbal. Tanganku meraih botol pendek hijau lima senti yang terdapat pada meja rias, di samping kumpulan lipstik berbagai warna. Aku menggosokkan krim pagi ke pipiku, mengusapkannya merata ke seluruh wajah.

Aku merenggangkan tubuhku. Ototku serasa ditarik-tarik. Suara gemeretak tulang terdengar riuh. Aku mengerang kenikmatan. Otot-ototku yang kaku serasa lebih lemas seolah-olah memberiku tenaga untuk memulai hari ini.

Tunggu dulu, memulai apa?

Ini masih terlalu pagi untuk bersih-bersih, aku terlalu kusut untuk memulai segalanya subuh-subuh. Aku memutuskan untuk menuju ke kamar mandi yang berjarak tiga atau empat meter dari meja rias. Aku menyalakan lampu kamar mandi sehingga ruangan yang tadinya gelap menjadi oranye remang-remang. Dinding bertegelnya berwarna pucat. Aku membasuh tanganku di wastafel dan meraih sikat gigi berwarna biru yang berada satu gelas dengan sikat gigi hitam kepunyaan Gill.

Aku ingat ketika aku dan Gill masih hangat-hangatnya. Masih seminggu atau dua minggu lama pernikahan, mungkin. Saat itu kami tengah berbelanja perabotan rumah tangga, tepat dua hari sebelum kami akan pindah ke rumah yang kami tinggali sekarang. Gill tengah mendorong troli sementara aku berjinjit-jinjit di bagian sabun mandi dan sikat gigi. Kami berdebat kecil. Padahal setelah menikah, kami tidak pernah berdebat sama sekali.

Masalahnya, Gill memasukkan sikat gigi berwarna merah muda dan biru sehingga aku langsung bertanya, “Kau suka pink, Sayang?”

“Untukmu.”

Aku berhenti melihat-lihat sabun mandi yang cocok untuk kami. Menatapnya. “Tapi kan kau tahu kalau aku suka biru, aku mau yang biru.”

Gill keras kepala. “Merah muda itu kan identik dengan wanita dan biru adalah pria,” dia mengerutkan dahinya. Orang-orang yang melewati kami menoleh. Sadar bahwa suara kami mulai meninggi.

Aku tertawa. “Konyol.”

“Ya ampun, Kelley…” Gill memutar kepalanya, “aku tidak masalah dengan warna sikat gigi.”

“Tapi tadi kau mempermasalahkannya.”

“Nah,” Gill berkata dan membuang sikat gigi merah muda itu ke tempatnya semula dan mengambil yang warna hitam secara acak. Dia memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan kami sehingga sikat gigi itu berdentang ketika mengenai besi. “Sekarang tidak ada masalah lagi dengan sikat gigi, kan?”

Dan sampai seterusnya, sikat gigi kami menjadi biru dan hitam.

Aku tertawa bila mengingat kejadian itu.

***

Langit mulai berubah dari hitam menjadi biru kegelap-gelapan ketika aku keluar dari rumah. Udara masih dingin. Aku merapatkan jaket hijau tuaku. Jalanan masih hening karena saat itu kira-kira masih jam lima pagi. Aku melihat seorang lelaki dengan headset di telinganya berlari-lari kecil melewatiku. Tubuhnya tegap dengan baju kaus bergaris-garis hitam pada bagian dada. Ia mengenakan celana pendek sehingga aku bertanya-tanya dalam hati tidakkah dia merasa beku pada cuaca seperti ini.

Aku menghiraukan dan mulai berjalan di pinggir jalan. Menyembunyikan telapak tangan dalam saku jaketku. Aku mengedarkan pandangan. Mengintai aktifitas orang-orang yang aku temui. Mungkin menyapa. Kemudian melewati seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.

Aku berhenti di sebuah toko buah langgananku. Sepasang ibu-ibu dengan karton cokelat penuh buah yang mereka genggam sedang sibuk berbicara akan sesuatu. Aku tak tahu apa yang mereka bahas dan aku tidak bermaksud untuk mencari tahu.

Mr. Saunders, sang pemilik toko, menyapaku dengan senyuman segarnya. Pipinya yang gembul memerah ketika mengucapkan selamat pagi. Mirip dengan tokoh Santa Claus. Aku memperhatikan jajaran buah yang lumayan beraneka ragam. Menarik nafas diantaranya demi membaui aroma buah-buahan yang semerbak baunya. Menggoda.

Aku menunjuk kawanan apel dan anggur hijau. Kemudian memberi isyarat dengan telunjuk kananku. Mr. Saunders mengangguk, dia mengambil karton cokelat dari laci mejanya.

Aku menangkap sesuatu dari sepasang wanita itu bicarakan, “Mungkin pelakunya sama. Tak ada jejak sama sekali, sungguh misterius!” wanita setengah baya yang megucapkan itu bergidik, sama saja dengan wanita berambut pirang yang diajaknya bicara.

Mr. Saunders berkata di sela-sela ia meraih apel hijau, “Aku tak begitu yakin Ma’am, motif pembunuhannya berbeda-beda. Ada yang di bunuh dengan tikaman, cekikan, dan yang terakhir, pembunuhan beberapa minggu yang lalu, Mrs. Swan kehabisan nafas dalam bathub,” Mr. Saunders mengukur apel-apel tersebut di timbangan dan mengambil beberapa akibat kelebihan berat. Dia kemudian melanjutkan, “Aku tak pernah terpikir kalau itu adalah kasus dengan pelaku yang sama.”

Aku menyeletuk di sela-sela obrolan itu, “Mrs. Swan? Bukankah polisi berkata bahwa itu adalah kasus bunuh diri?” aku teringat tentang pemakaman yang aku hadiri beberapa hari yang lalu. Pemakaman Mrs. Swan yang selalu kuyakini bunuh diri karena telah mendengar dari desas-sesus bahwa polisi memutuskan itu adalah kasus bunuh diri.

Mr. Saunders menggeleng, “Polisi mengubah pikirannya. Dia di bunuh. Namun untuk alasannya, mereka belum ingin membicarakannya.”

Aku ber-oh dengan membulatkan bibirku tanpa mengeluarkan suara. Seorang gadis muda berkuncir satu berhenti di sampingku. Matanya melirik buah-buah yang berjejeran. Aku menebak dia habis jogging karena dandanan dan sepatu ketsnya.

Mr. Saunders memindah tangankan dua kantong plastik buah dan aku membayarnya dengan beberapa dolar yang aku sembunyikan dalam kantong celana jeans-ku. Aku meninggalkan mereka dalam perbincangan seru tentang kasus pembunuhan itu tanpa aku, mungkin gadis berkuncir itu yang akan menggantikan diriku.

***

Aku mencuci buah di wastafel dapur. Mengguyur apel-apel dan anggur dengan air keran yang mengalir. Setelah menata buah-buahan yang telah aku beli di sebuah piringan datar aluminium besar, aku memutuskan pergi ke kamar untuk menonton TV.

Acara TV di pagi hari tidak begitu menyenangkan, kalau bukan berita-berita, pasti kartun. Acara news di TV kini marak akibat pembunuhan yang kerap terjadi. Sangat komersial.

Aku mematikan televisi.

Saat sedang mengupas apel, mataku tertuju pada komputer jinjing milik Gill yang ia tinggalkan di dekat lemari. Kenapa Gill mencari referensi dengan tidak membawa komputernya? Apa dia sedang rajin mencatat dengan notes-nya? Tidak. Gill orangnya malas menulis dengan jemarinya. Aku jadi curiga kalau Gill telah berselingkuh dengan wanita lain. Selalu berasalan keluar rumah agar dapat bertemu selingkuhannya.

Tidak, Gill orangnya tidak begitu.

Aku mengambil komputer jinjingnya dan membukanya di atas pahaku. Sembari menyunyah apel, aku menunggu komputer itu menyala. Aku memasukkan password yang telah Gill beritahukan kepadaku dulu dan berharap bahwa Gill tidak menggantinya.

Terbuka.

Komputer itu kini menampilkan jendela dengan latar pemandangan. Sungguh natural. Sejauh ini aku tak dapat memutuskan apa-apa.

Aku menelaah folder-folder dalam memory Gill dan tidak mendapatkan apa-apa selain proyeknya. Tidak ada foto wanita ataupun fotonya dengan seorang wanita. Tidak ada. Tak ada apa-apa selain proyek-proyek yang diketiknya dalam program pengetikan.

Aku membuka proyek terbarunya, menunggu beberapa detik selama proses pembukaan dan mulai membaca judulnya.

///The Unstoppable Murderer.///

Aku terkesima. Gill jarang menulis kisah thriller. Biasanya dia menulis fantasi dan memang seterusnya fantasi. Aku tak pernah terpikir kalau Gill akan menulis suatu kisah thriller. Hebat! Gill berubah.

Aku mengerti kenapa Gill sering keluar rumah untuk mencari referensinya. Dia pasti tengah mencari data dari berbagai kasus pembunuhan yang tengah marak terjadi sehingga dia menjadi sangat sibuk. Jarang pulang. Mengobrol. Bahkan makan di rumah. Semua ini mungkin akan berubah pada waktunya.

Dia tidak berselingkuh, rupanya.

///Ketika wanita itu berbalik, tepat melihat ke dalam mataku, aku bergerak cepat melilit lehernya dengan ikat pinggangku. Dia melotot. Mulutnya menceracau tak berarti. Terbatuk-batuk akibat kehabisan nafas. Kuku-kukunya yang teramat panjang mencengkeram ikat pinggang yang telah aku balut dengan sangat kuat ke lehernya. Dia memperparah keadaan, lehernya berdarah akibat kukunya sendiri.

Kemudian dia terkulai, mencium sol sepatuku.

Mati.///

Aku memindai bacaanku lebih ke bawah lagi. Menatap dengan nanar untaian paragraf yang ditulisnya.

///Wanita itu membuatkanku teh hangat yang tidak aku sentuh. Dia minta izin ke kamar mandi dan tanpa dia tahu aku menguntitnya dari belakang. Aku menendang punggungnya tepat ketika dia berada di depan bathub. Dia berusaha bangkit dan meraihku. Aku menyalakan keran. Setengah kepalanya basah dan ia berusaha bangkit. Aku menekan kepalanya dengan kasar ke dasar bathub yang airnya mulai meninggi. Dia berteriak marah. Mungkin dia memanggil namaku, namun hanya gelembung-gelembung udara yang aku lihat.///

Aku berhenti membacanya, perasaanku mulai bergejolak. Bagian ini bukanlah bagian yang dia tulis terakhir. Ia masih melanjutkan karya ini. Aku melompat ke dua halaman terakhir.

Jam enam tiga puluh tepat adalah petunjukan terakhirku. Sebuah kejadian penutup dari seluruh kebejatan yang aku buat selama ini.

Ada suara derit pintu terbuka dan suara langkah kaki bersepatu. Tubuhku mendingin. Aku tak sebodoh itu, kejadiannya terlalu detil sehingga aku yakin kalau Gill. Ya, Gill yang membunuh mereka semua. Psikopat. Brengsek.

“Kelley? Dimana kau?” dan psikopat brengsek itu mencariku.

“Ada yang ingin aku beritahukan kepadamu,” ucap Gill, seolah-olah sedang menggoda kucing yang bersembunyi di bawah tempat tidur.

Aku tak menduga kalau Gill sudah membuka pintu kamar kami. Aku terhenyak. Tubuhku beku sesaat. Tidak bergerak. Aku takut. Takut.

Takut!

“Kau… sudah membacanya?” Gill terbata-bata, matanya melotot dan berlari ke arahku. Aku membeku. Dia menyerangku.

Takut!

***

Raungan mobil polisi mulai terdengar kejauhan. Tubuhku dipenuhi oleh bercak-bercak darah. Membanjiriku. Mengambil alih setiap inci bagian tubuhku. Kakiku melemas.

“Kel..Kelley…” Gill terbata-bata, nafasnya terputus-putus.

Aku syok. Tanganku menggenggam pisau buah yang berlumuran darah. Suara mobil polisi juga masih mendengung-dengung di telingaku, menusuk, membuatku hampir berada di ambang kewarasan. Sementara Gill berbaring telentang, memegang dadanya seolah-olah dengan begitu ia dapat mencegah pendarahan hebat yang terjadi padanya.

Gill berucap terputus-putus, “Kelley… Aku sudah… bukti… cerpen rill… aku… melakukannya.”

Dengungan mobil polisi semakin keras. Aku membeku. Tak berekspresi. Kosong. Tak melarikan diri ataupun menolong Gill yang sedang sekarat.

Dia sudah menulis semua ini. Dia telah mengendalikanku dengan skenario hebatnya. Dia membuatku membunuhnya dan memanggil polisi untuk menangkapku. Bodoh. Dialah iblis. Setan yang sebenarnya. Dan sekarang apa yang mesti aku lakukan? Aku telah melakukannya dengan sempurna. Detik-detik setelahnya aku mungkin akan di borgol dan di tendang masuk ke dalam mobil polisi.

Hebat, Gill. Hebat.

“Tidak… ini…salah…” ucapan Gill masih terputus-putus. Nafasnya semakin pendek-pendek dan aku sama sekali tidak peduli.

“Kau brengsek, Gill,” aku mengucapkan kalimat itu dengan penuh dendam. Gill membulatkan matanya.

“Kau tidak pernah…” Gill mulai menarik nafas panjang, “mencintaiku kan, Kelley?”

Aku tak menjawab, terdiam, membisu, sementara Gill terus-menerus menunggu jawabanku. Dia masih terus menunggu ketika nafas pendek-pendeknya menjadi jeda yang panjang, panjang sekali sehingga kuyakini bahwa jeda panjang itu akan tetap seperti itu, selamanya.

Kemudian, aku mendengar pintu depan terkoyak akibat sebuah tendangan keras.

Aku dikepung.

***

Tim forensik yang telah sampai di tempat kejadian mulai menelaah ruangan itu. Kawanan lelaki tegap dengan seragam biru abu-abu itu meneliti tiap sudut ruangan itu. Salah satu dari mereka mengintip di bawah tempat tidur, mengambil sampel darah, memperhatikan meja-meja dan segalanya yang ganjil dalam ruangan itu.

Salah satu di antara mereka mulai memberi perhatian kepada komputer yang masih menyala. Dia duduk di tempat tidur. Melihat-lihat detil-detil debu yang melekat di komputer jinjing itu. Setelah tidak menemukan satu pun hal yang aneh, dia mengernyitkan alisnya ketika melihat masih ada program yang menyala. Dia melanjutkan membaca baris paling atas yang terlihat.

///Jam enam tiga puluh tepat adalah petunjukan terakhirku. Sebuah kejadian penutup dari seluruh kebejatan yang aku buat selama ini.

Aku menemui istriku di rumah, mengabarkan sebuah kabar yang gembira. Mungkin dia akan senang. Mungkin dia tidak akan merendahkanku lagi. Atau mungkin dia akan mencaciku sebagai seorang psikopat – yah, siapa yang tahu?

Aku memutar kenop pintu dan menemukannya tidak terkunci. Tanpa membuka sepatuku terlebih dahulu, aku langsung menghambur masuk dan berteriak, “Kelley, di mana kau?”

Kelley membuka pintu kamarnya dan menemuiku. Aku tersenyum lebar kepadanya. “Ada yang ingin aku beritahukan kepadamu.”

Kelley mengernyitkan alisnya melihatku. Aku mendengar suara mobil polisi. Mendengung-dengung di telingaku. Aku menarik nafas sejenak.

“Aku melakukannya, Sayang. Aku melakukannya. Bukalah komputerku dan kau akan terkejut dengan segala-galanya,” aku tersenyum dan bermaksud untuk keluar dari rumah. Menantang suara yang meraung-raung itu dengan berani. Tidak, aku sama sekali tidak takut akan apapun kini. Aku mendatangi mereka dengan wajah yang penuh dengan penuh senyuman. Merasa diriku adalah Tuhan untuk sementara.

Pertunjukan selesai.///

Cerpen Karangan: Hera Wijaya
Seorang penulis yang ingin belajar menulis. Selamat menikmati. Tanda ‘///’ berarti garis miring.

Cerpen Short Story merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Tree Which Song Fruited

Oleh:
Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri yang baru seminggu menikah. Mereka bernama, Callesia dan Rovert. Mereka berdua sebelumnya adalah seorang janda dan duda. Masing-masing memiliki seorang anak perempuan.

Peri Penyelamat Airin

Oleh:
Jam dinding itu menunjukan pukul 21.15 waktu tokyo. Waktu yang sangat pantas untuk tidur dan beristirahat di tempat yang paling nyaman. Namun tidak bagi Airin Kinoshiwa, jam segini digunakannya

Ingin Jadi Apa

Oleh:
“Kalau kamu, Dra?” Semua anak di kelas memandangi Indra, menunggu jawaban darinya. Indra kebingungan, karena ia belum punya jawaban. Ia mulai memandang ke langit-langit. “Waktu besar mau jadi apa?”

Time Future Traveling (Part 2)

Oleh:
“Jawab aku, sebenarnya kamu siapa?” tanyanya lagi. Aku ingin memberikan jawaban kalau saya ini adalah dirinya yang berada di tahun 2031. Saya adalah orang yang sama, namun saya berada

Judul Yang Ditulis

Oleh:
Perkenalkan, namaku X, aku adalah tokoh utama dari novel yang belum selesai. Aku terjebak dalam kata-kata yang dirangkai oleh pengarangku sendiri, seseorang yang sengaja memasukkan aku ke dalam imajinasinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

8 responses to “Short Story”

  1. ifarifah says:

    kereeen :)))

  2. sahara says:

    Cerpennya bguzz..

  3. Rahra Adela Aulia says:

    aku suka ceritanya bagus banget

  4. okta via andriani says:

    Wauu keren bget thue sampe trhrU

  5. Nabila Salsabila says:

    KEREEEEENNN!!! Kebetulan lagi ada tugas buat nyari cerpen dan nemu cerpen ini. keren banget, sampe baca berulang-ulang:^)
    pinjem cerpennya ya buat tugas. thanks:3

  6. Na says:

    Keren deh cerpen yg ada dikategori cerpen terjemahan dan sejauh ini cerpen ini yg menurutku paling keren.

  7. ana says:

    keren banget…

  8. lolohasugiana says:

    Keren keren.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *