Si Kembar dan Naga Emas (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 23 March 2021

Pada suatu masa tersebutlah sebuah pulau yang sangat luas berbentuk bulan sabit terbentang dari utara ke selatan dan dari barat ke timur yang merupakan sebuah negeri yang makmur, daerah yang terbentang dari utara ke selatan tanahnya mengandung emas sedangkan daerah yang terbentang dari barat ke timur sangat subur dan banyak ditumbuhi padi.

Kota kerajaan yang terletak di tengah-tengah pulau bulan sabit itu merupakan kota yang sangat megah di zamannya, negeri tersebut memiliki banyak kota-kota indah, rakyatnya terdidik dan berpengetahuan luas, pertaniannya berkembang dengan pesat, ilmu pengetahuan dan teknologi terbaik di masanya ada di negeri tersebut, sebuah negeri besar yang dipimpin oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana bernama Basa, beliau mempunyai dua orang putra kembar bernama Krakao dan Kratao. Krakao berperawakan tampan dan gagah seperti ayahnya, sedangkan Kratao memiliki cacat bawaan lahir yaitu berjalan pincang serta tidak setampan saudaranya namun memiliki sifat-sifat baik seperti ayahnya, dia sangat welas asih kepada manusia dan makhluk hidup.

Pada saat kedua bocah tersebut berumur dua tahun datanglah keluarga jauh ibunda mereka yang berasal dari negeri jauh, mereka datang dengan sebuah kapal yang besar dengan rombongan yang banyak, bersama mereka datang pula seorang Guru Sepuh. Saat Guru Sepuh melihat kedua bocah tersebut lalu memanggil ibunda mereka dan menyampaikan pesan agar kedua bocah tersebut dipisah karena mereka memiliki sifat yang berbeda dan kelak akan timbul perselisihan bila mereka dibesarkan bersama. Maka ibunda bocah tersebut menyampaikan hal tersebut kepada Raja Basa, kemudian Raja Basa memanggil Guru Sepuh tersebut dan meminta saran yang terbaik untuk masa depan kedua anaknya.

“Biarlah Krakao ikut dengan kami ke negeri jauh, agar kami bisa mendidiknya menjadi manusia yang baik,” saran Guru Sepuh.
Namun sang ibunda merasa berat karena dia sangat menyayangi Krakao sehingga akhirnya dengan berat hati Raja Basa mengusulkan agar Kratao saja yang dibawa oleh Guru Sepuh tersebut.
“Kratao memiliki sifat baik seperti baginda, dia lebih baik bersama ayahnya, namun mereka berdua harus dipisah agar tidak ada perselisihan diantara mereka dikemudian hari,” Guru Sepuh coba menjelaskan kembali pendapatnya.
“Saya tidak tega melihat istri saya bersedih bila berpisah dengan Krakao, kalau memang mereka harus dipisah, walau dengan berat hati biarlah Kratao saja yang dibawa,” pinta Raja Basa dengan wajah sedih.
Akhirnya pada waktu yang sudah ditetapkan berangkatlah rombongan tersebut kembali ke negeri jauh dengan membawa serta Kratao bersama mereka.

Krakao tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan namun memiliki sifat angkuh dan sombong serta mau menang sendiri, dia sering melakukan tindakan semena-mena kepada orang lain dan juga suka melanggar hukum dan aturan kerajaan namun selalu mendapat pengampunan dari raja setelah didesak oleh ibundanya.

Di suatu tempat yang dapat ditempuh dalam satu hari perjalanan dengan kuda dari kota kerajaan terdapat sebuah hutan larangan bagi manusia, hutan tersebut mengelilingi sebuah gunung yang tinggi konon katanya merupakan tempat Naga Emas tinggal. Kesepakatan tersebut sudah lama dibuat antara manusia dengan Naga Emas sehingga tidak ada seorang manusiapun yang berani masuk ke sana.

Krakao sangat suka berburu dan hampir semua hutan di negeri tersebut sudah ia datangi, hingga suatu hari saat Krakao akan berburu bersama rombongan kerajaan mereka melewati hutan larangan tersebut, Krakao yang penasaran kemudian memaksa rombongan masuk kedalamannya. Sesampai di hutan larangan tampak banyak hewan buruan disana, Krakao sangat senang, segeralah Krakao menyiapkan panah kemudian dengan cekatan dia memanah seekor rusa berwarna emas, namun rusa yang terkena panah tersebut terus belari walau sudah terkena panah, dengan penasaran Krakao mengejar rusa tersebut sehingga akhirnya terpisah dengan rombongan.

Dia mengejar rusa tersebut hingga ke puncak gunung, Krakao kehilangan buruannya di puncak gunung tersebut. Namun dia penasaran dan terus mencari hingga akhirnya dia sampai di pinggir kawah gunung tersebut, dia melihat jejak berupa bercak cairan emas menuju ke dalam kawah kemudian dia menyentuh bercak cairan tersebut.
“Rusa emas, bahkan darahnya juga emas, aku harus mendapatkannya!” Tekat Krakao.

Krakao terus mencarinya kemudian dia menemui rusa sekarat tersebut di mulut kawah, segera dia memikulnya dan membawa turun buruannya. Rombongan terheran-heran dan kagum melihat Krakao yang memikul rusa emas tersebut.
“Kita menginap disini! Aku ingin buruan yang lebih besar!” Perintah Krakao.

Keesokan harinya Krakao pergi berburu lagi dan seperti kemarin banyak hewan buruan di hutan tersebut, kali ini seekor banteng emas terlihat olehnya dan segera dia membidiknya. Seperti kejadian kemarin banteng tersebut tidak langsung rubuh, walau terkena panah dia terus berlari kencang sehingga Krakao kehilangan jejak banteng tersebut. Namun dengan keahliannya beburu dia bisa mengendus jejak banteng tersebut dan mengikutinya sampai ke puncak gunung yang ia datangi kemarin dan mendapati banteng sekarat itu di mulut kawah. Karena cukup berat banteng tersebut diseretnya ke tempat rombongan kerajaan.

“Sudah cukup Tuan! Ini hutan larangan, sebaiknya besok kita pulang atau pindah ke hutan lain,” Saran kepala rombongan.
“Tidak! Aku mau buruan yang lebih besar!” Bentak Krakao.

Pagi-pagi sekali Krakao sudah pergi berburu tampa ditemani pengawal, selintas dia melihat seekor gajah emas yang besar dengan gading emas yang panjang. Krakao menyiapkan tombaknya dan melempar dengan kuat kearah gajah tersebut, gajah terluka itu marah dan mengejar Krakao, dengan gesit Krakao berlari kencang namun gajah emas tersebut terus mengejarnya. Krakao memang cerdik dia segera belari menuju gunung dengan harapan gajah terluka itu akan kelelahan saat mendaki, sampai di dekat kawah gajah tersebut masih mengejarnya, Krakao yang terdesak berlari kedalam kawah namun gajah emas tersebut masih mengejar, sesampai di mulut kawah tiba-tiba gajah terluka itu terjerembab dan sekarat. Krakao yang tadinya ketakutan sekarang dengan gagah berdiri di dekat gajah emas yang besar tersebut lalu mengambil gadingnya dan keluar dari kawah menuju rombongannya.

Saat berjalan pulang Krakao berpikir tentang Naga Emas, selama ini dia menganggap Naga Emas hanya cerita khayalan namun kini dia percaya bahwa Naga Emas itu memang ada.
“Kalau ada rusa emas, banteng emas dan gajah emas, pasti Naga Emas itu ada juga,” Pikirannya
“Naga itu pasti ada di sekitar Gunung Batuemas,” sambungnya

Sesampai di perkemahan Krakao disambut bak pahlawan, semua orang memujinya dan mangagumi kehebatannya. Namun kepala rombongan merasa bersalah karena sudah membawa masuk rombongan kerajaan ke dalam hutan larangan.
“Sebaiknya kita keluar dari hutan larangan ini Tuan!” Pinta kepala rombongan.
“Sudah tidak ada lagi makhluk lebih besar dari gajah emas,” sambung kepala rombongan.
“Kalian keluarlah dari hutan ini karena besok aku akan berburu Naga Emas!” Perintah Krakao.
Semua anggota rombongan kaget dan terdiam mereka menjadi ketakutan mendengar keinginan Krakao.
“Tinggalkan untukku perbekalan secukupnya, kalian segeralah keluar!” Perintah Krakao.
Kepala rombongan tidak mampu membujuk Krakao dan akhirnya rombonganpun meninggalkan Krakao sendiri bersama perbekalan dan kuda terbaik.

Sebelum matahari terbit Krakao sudah sampai di Gunung Batuemas, dengan seksama dia perhatikan kawah gunung tersebut, sesekali terdengar suara gemuruh dari dalam kawah tersebut. Dengan mengendap-endap Krakao menuju kedalam kawah dan mendapatkan sebuah lubang yang sangat besar disamping dasar kawah, Krakao terus berjalan memasuki lumbang besar tersebut, semakin lama semakin dalam dia masuk kedalam lubang yang banyak terdapat bongkahan emas yang besar serta dindingnya berkilau keemasan hingga akhirnya dia tersentak melihat makhluk besar bersisik emas yang sedang terlelap.

“Inilah sumber suara gemuruh dari dalam gunung yang tadi kudengar dari luar,” pikirnya.
“Bagaimana cara aku membunuh makhluk sebesar ini,” pikirnya lagi.

Cerpen Karangan: Wildan Seni
Blog: bakauhijau.wordpress.com
Dosen Universitas Abulyatama Aceh Besar

Cerpen Si Kembar dan Naga Emas (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Minum Teh Bersama Tuhan

Oleh:
Pukul 21.09 wib aku meninggalkan kantorku untuk bergegas pulang, langit mendung sekali, hari ini adalah hari rabu 16 desember 2015, mengendarai trail kesayanganku melaju dengan kecepatan standard 60 km/jam

Fireflies Over The Sea

Oleh:
Kutatap pemandangan indah nan unik yang tersaji di depan mataku. Entah apa lagi kombinasi yang lebih sempurna ketimbang matahari terbenam, suara debur ombak, semilir angin sejuk, dan kawanan kunang-kunang

Love Story (Part 1)

Oleh:
Dita tak pernah melanggar aturan. Selalu tepat waktu. Dita adalah gadis rajin dan serius dalam melakukan apa saja. Bahkan kelewat serius sehingga ia dijuluki “Si culun” di kelasnya. Dan

Aku Dan Manusia

Oleh:
Siapa yang tak mengenal aku? “Tak ada!”. Siapa yang tak pernah bermain denganku? “Tak ada!”. Aku diciptakan berdampingan dengan manusia. Kadang aku iri dengan mereka yang terbiasa berjalan tanpa

Aksara Keajaiban

Oleh:
Kantornya belum tutup, namun sengaja tidak dibuka. Sebenarnya tempat itu hanyalah sebuah bangunan kecil, dinding dan pintunya terbuat dari kayu. Dan hanya ada sedikit perabot di dalamnya. Ada duah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *