Si Kembar dan Naga Emas (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 23 March 2021

Krakao bingung mencari cara agar dapat membunuh Naga Emas tersebut tetapi hatinya sudah bulat harus membunuh naga tersebut. Maka terpikirlah olehnya untuk menombak kepala naga tersebut, dengan hati-hati dia mendekati kepala naga yang sedang terkulai lalu begitu sudah berada di atas kepala naga tersebut dia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi lalu manancapkan ke kepala naga tersebut, namun apa mau dikata ternyata kepala naga sangat keras sehingga Krakao terpental sambil memegang tombaknya, naga tersebut kaget dan terjaga namun belum sempat naga tersebut bertindak Krakao dengan cepat melontarkan tombak ke arah mata naga dan langsung berlari keluar dari lubang, sedangkan Naga Emas tersebut meraung kesakitan dengan suara yang menggelegar. Krakao yang ketakutan berlari keluar kawah dan segera memacu kudanya meninggalkan gunung dan hutan larangan.

Sementara raja dan penduduk dari kejauhan mendengar suara bergemuruh dari Gunung Batuemas yang diikuti gempa bumi kecil.
“Ada apa dengan Naga Emas? mengapa dia bergemuruh? Apa ada yang mengganggunya?” Tanya Raja Basa dalam hati.

Keesokan harinya rombongan kerajaan yang pergi bersama Krakao sampai di istana dan menceritakan kejadian selama di hutan larangan. Raja kelihatan sedih dan kecewa dengan tindakan Krakao, beliau pasrah akan keselamatan Krakao.

Sehari setelah rombongan sampai ke istana, Krakao dengan menunggangi kuda sampai juga di istana dengan wajah pucat pasi karena sangat ketakutan dan langsung bersembunyi di kamarnya. Ayah dan ibunya berusaha menghibur hatinya namun Krakao tetap ketakutan.

Saat malam tiba, Raja Basa bermimpi didatangi Naga Emas dan menuntut Krakao diserahkan kepadanya, bila tidak Naga Emas akan menghancurkan kota kerajaan dan kota-kota yang berada di sekeliling Gunung Batuemas, Naga Emas tidak bisa memaafkan kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan Krakao. Raja Basa meminta tempo untuk menyerahkan Krakao agar dapat memberi pengertian kepada istrinya. Naga Emas hanya memberi waktu 40 hari kepada Raja Basa untuk menyerahkan Krakao dan mereka tidak boleh meninggalkan istana, bila mereka melarikan diri maka Naga Emas akan langsung mebinasakan mereka. Mengingat kondisi darurat raja kemudian mengirim utusan ke negeri jauh untuk menjemput putranya yang lain yaitu Kratao.

Raja Basa belum mampu menaklukan hati istrinya agar merelakan Krakao diserahkan kepada Naga Emas padahal tenggat waktu yang diberikan sudah dekat. Sebagian penduduk sudah meninggalkan kota dan desa-desa di sekitar Gunung Batuemas, sebagian mereka ada yang menuju ke utara dan selatan pulau bulan sabit, sementara itu Kratao masih dalam perjalanan pulang.

“Lihat putramu itu, dia tidak mungkin diserahkan dalam kondisi seperti ini,” pinta ibunda Krakao kepada raja sambil menangis. Raja Basa hanya terdiam dan tidak menjawab perkataan istrinya.

Hari ke 40 pun terlewati tidak ada tanda-tanda Raja Basa akan menyerahkan putranya. Suara dengus dan gemuruh di tubuh Naga Emas semakin keras menahan kemarahannya, suara tersebut dapat didengar sampai ke kota kerajaan terkadang diikuti dengan gempa kecil. Kemarahan Naga Emas kian menjadi-jadi karena ia merasa Raja Basa tidak menepati janji dan ingin melindungi Krakao.
“Aku akan hancurkan negerimu Basa!” Teriak Naga Emas.

Dari kota kerajaan Raja Basa melihat kemarahan Naga Emas yang sangat dasyat dan dia menyesal telah melindungi orang yang salah namun semua telah terlambat kemarahan Naga Emas sudah memuncak dan mereka tidak dapat melarikan diri kemanapun karena akan dikejar oleh sang naga.

Sementara itu Krakao menangis di pangkuan ibunya dan menyesali perbuatannya selama ini sedangkan ibundanya juga menyesal telah salah mendidik Krakao.

Tepat tengah malam Naga Emas keluar dari sarangnya dan menyerang kota-kota dan desa-desa di sekitar Gunung Batuemas secara membabibuta, menghancurkan apa yang ada di hadapannya. Bersamaan dengan kemarahan Naga Emas terdengar suara gemuruh menggelegar di sertai meluncurnya api kelangit, asap pekat dan debu hitam dari kota dan desa yang dilaluinya serta diikuti dengan petir dan kilat menyambar-nyambar dilangit serta hujan deras dan badai yang hebat. Dengan marahnya naga itu tidak henti-hentinya memporak-porandakan bangunan, bukit maupun gunung yang menghalanginya. Kota kerajaan bergoncang sangat keras diikuti terjadinya retakan tanah dimana-mana, tiba-tiba tanah amblas dan memuncratkan air dari dalamnya, hanya dalam satu hari dua malam kota kerajaan tersebut perlahan tenggelam kedasar laut. Akibat dari amblasanya kota kerajaan dan daerah disekitar Gunung Batuemas maka terjadilah gelombang laut yang sangat besar yang menghantam ke segala arah.

Negeri yang megah dan makmur tersebut hilang dari permukaan bumi menjadi lautan yang menyebabkan terbaginya pulau bulan sabit tersebut menjadi dua buah pulau yaitu pulau Emas di Utara dan pulau Padi di selatan, ujung selatan pulau Emas dan ujung barat pulau Padi dipisahkan dengan sebuah lautan yang terdapat Gunung Batuemas di tengahnya. Raja Basa, istrinya dan Krakao beserta kota kerajaanya yang megah itu ikut binasa tenggelam ke dasar lautan.

Amukan Naga Emas berlangsung lama menyebabkan seluruh dunia gelap karena awan hitam tebal yang keluar dari hasil kemarahannya menyelimuti dunia.

Pada hari ke tujuh amukan Naga Emas, sampailah Kratao di bekas kota kerajaan namun kota kerajaan sudah tidak ada lagi, sudah hilang ditelan lautan, namun dari kejauhan dia menyaksikan Naga Emas masih mengamuk semakin luas saja wilayah kerusakan yang terjadi.

“Biarkan aku sendiri menghadapi Naga itu, kalian kembalilah ke negeri jauh!” Perintah Kratao kepada awak kapal sambil turun di sisi pantai Gunung Batuemas diikuti oleh seekor gajah putih yang dibawanya dari negeri jauh.

Setelah kapal menjauh dari Gunung Batuemas kemudian Kratao dan gajah putih naik ke puncak gunung dan masuk kedalam perut Gunung Batuemas, mereka menyiapkan perangkap untuk naga di dalamnya. Setelah dua hari bekerja akhirnya perangkap tersebut selesai juga, kemudian ia berdiri di atas Gunung Batuemas lalu berteriak-teriak dan membuat suara gaduh untuk memancing Naga Emas kembali.

Naga yang sedang menghancurkan dan membalikan daratan menjadi lautan kaget melihat orang yang menusuk matanya masih hidup. Dengan marahnya dia berenang menuju Gunung Batuemas untuk membinasakan musuhnya tersebut. Saat Naga Emas mendekat dengan cepat Kratao masuk ke dalam perut Gunung Batuemas lalu bersembunyi di satu sisi bersama gajah putih. Naga yang marah itu terus masuk kedalam perut gunung mencari musuhnya, setelah merasa Naga Emas sudah cukup jauh masuk kedalam lubang jebakan maka Kratao dibantu gajah putih kemudian menutup lubang besar itu dengan bongkahan emas berbentuk batu-batu besar yang ada di Gunung Batuemas sampai berlapis-lapis sehingga naga besar tersebut terjepit di dasar lubang. Naga tersebut berusaha bergerak sehingga terjadilah gempa di sekitar gunung yang menyebabkan batu-batu di atasnya semakin menjepitnya.

Setelah merasa sang naga sudah benar-benar terperangkap maka pergilah Kratao dari gunung tersebut meninggalkan gajah putih untuk berjaga-jaga, kemudian ia menyeberang kearah selatan ke pulau padi untuk menemui rakyatnya bersama-sama membangun kembali kota-kota dan desa-desa yang hancur. Setelah itu dengan kapal Kratao kembali ke Gunung Batuemas menjemput gajah putih kemudian menyeberang bersamanya ke utara ke pulau Emas guna membantu rakyatnya yang selamat untuk membangun kehidupan baru setelah bencana besar itu. Kratao lalu mengingatkan rakyatnya akan kemarahan Naga Emas.

“Bila kalian mendengar Gunung Batuemas itu bergemuruh itu tandanya Naga Emas sedang terjaga, waspadalah! berjagalah kalian! bila ia mengerakan badannya maka tanah dan beberapa batu besar di lereng Gunung Batuemas akan berjatuhan ke laut mengakibatkan terjadinya gelombang tinggi yang akan menghantam desa-desa dan kota kita,” Kratao mengingatkan rakyatnya.

“Bila ia mengingat kejahatan yang dilakukan oleh saudaraku Krakao maka naga itu akan marah besar dan berusaha membakar batu yang menjepitnya kemudian Gunung Batuemas itu akan meletus mengeluarkan api dan asap tebal maka mengungsilah kalian ketempat yang tinggi dan terlindungi, masuklah kedalam gua-gua yang ada di gunung-gunung, karena selain akan mengirim gelombang laut yang besar, naga itu juga akan mengirim kemarahannya berupa awan panas yang akan menghanguskan apa saja yang dilewatinya,” tambah Kratao.

Demikianlah Kratao dan rakyatnya hidup dengan kewaspadaan karena sewaktu-waktu Naga Emas bisa saja mengamuk, namun semuanya akan baik-baik saja selama kita selalu waspada.

Cerpen Karangan: Wildan Seni
Blog: bakauhijau.wordpress.com
Dosen Universitas Abulyatama Aceh Besar

Cerpen Si Kembar dan Naga Emas (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Obrolan Di Bukit Utara

Oleh:
Cuaca sejuk di sebuah bukit yang menghijau. Bukit hijau yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Daun-daun pohon pinus melambai ditiup angin yang berhembus lembut di pagi ini. Seperti juga di

Menaklukkan Naga (Part 4)

Oleh:
Madfire si naga merah tiba di ibukota. Sesaat ia terlihat terbang berputar-putar di atas istana, seolah mengamati. Lalu si naga terbang lebih rendah. Geramannya menggema memekakan telinga siapa saja

My Guardian Fairy

Oleh:
Laila adalah gadis biasa berumur 17 tahun yang tinggal bersama dengan paman dan bibinya, kedua orangtuanya telah meninggal. Saat Laila masih berumur 7 tahun, dia dan keluarganya mengalami kecelakaan

Requiem Karma

Oleh:
Perlahan cahaya lazuardi menghilang dari rangkaian senja petang ini, lampu-lampu mulai menyala di setiap sudut kota; di tepi jalan, tempat-tempat ibadah dan gedung-gedung tinggi pun tak mau kalah memberikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *