Si Pengecut

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perjuangan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 15 January 2019

Malam ini adalah malam yang menentukan segalanya.
Sesuatu akan berakhir malam ini, entah itu aku, kami, atau pun mereka.
Ini adalah saat-saat terakhir untuk kita semua, kematian adalah takdir yang terpampang jelas di hadapan kami.

Aku berdiri di bawah gempuran bola api di Liendholm, ngarai kehijauan yang kini menjadi ladang pembantaian. Saat ini, tengah terjadi sebuah perang penentuan. Pasukan Saxon yang terkenal akan kebarbaran dan kekejaman mereka yang tak kenal ampun, berusaha merebut wilayah yang kami cintai ini dari kerajaan Lothrix, dimana aku mengabdi menjadi seorang prajurit biasa.
Tetapi, sepertinya mengabdi bukan kata yang tepat.

Saat ini, pertempuran sudah berlangsung larut-larut sampai malam pun tiba. Kedua kubu tidak memberikan serangan telak sama sekali. Kami kira, semangat tempur dan moral musuh sudah terkuras karena jelas mereka hanyalah kaum barbar yang berjumlah sedikit, bukan pasukan terlatih seperti kami. Rupanya itu hanyalah siasat semata. Kaum Saxon yang berpakaian serba hitam itu mengeluarkan senjata pamungkas mereka; puluhan pelontar bola api yang disembunyikan di balik pepohonan lebat di belakang mereka dan mulai menghujani kami.
Aku hanya berdoa supaya kelak kami bisa pulang kembali ke barak-barak kami yang nyaman seperti biasanya.

“Selagi panah-panah dan bola-bola mereka berjatuhan dari langit, tetaplah bertahan dan jangan tinggalkan posisi kalian!” Seorang sersan berseru di atas kudanya di sampingku, Frederick namanya. Kumisnya yang tebal menjadi ciri khasnya. Tak lama kemudian, dia langsung menerjang maju ke arah hiruk pikuk di depan sambil mengacungkan tombak. Sesaat kemudian, dia menghilang begitu saja ditelan kehebohan.

Gagah berani memang, rela mati demi kerajaan yang dicintainya. Beda denganku, aku hanyalah seorang pemuda kurus yang penakut. Setelah kabur dari rumahku yang jauhnya ribuan kilometer dari tempat ini dan datang melamar sebagai prajurit rendahan, aku kira aku akan menghabiskan hidupku dengan bersenang-senang dan bersenda gurau sepanjang hari. Rupanya tidak. Ketika dihadapkan dengan situasi sebenarnya, mental, hati, dan jiwamu, pasti akan menciut.

Sepanjang pagi, siang, dan sore, aku tidak membunuh seorangpun dari pihak lawan. Aku hanya berlarian kesana kemari, tidak peduli dengan beratnya baju zirah yang membebani tubuhku atau keringat yang membanjir di kulitku. Aku benar-benar tidak siap. Aku hanyalah seorang pecundang. Ketika teriakan bergemuruh kaum Saxon yang khas dan derakan mesin-mesin kayu terdengar dari kejauhan, disitulah aku tahu kalau kami semua akan tamat.

Kami yang sebelumnya mengibarkan panji-panji bendera kebanggaan kami yang bergambarkan matahari kuning yang menyala-nyala sambil bersorak-sorak girang, mendadak kocar-kacir dan bubar begitu saja. Musuh kami berada di atas daun sekarang.

Sebuah helm terlontar begitu saja dan menggelinding di kakiku. Di dalamnya ada sepotong kepala terpenggal yang dengan kumis yang sangat kukenal. Mulutnya yang menganga mengeluarkan darah.

Lututku melemas, tubuhku merosot dan sekiranya aku tidak menopangnya dengan pedang karatanku, aku pasti jatuh dan pingsan.

Aku tidak yakin apakah harus menyebutnya keberuntungan atau kesialan, ketika aku melihat temanku, Nolan, sedang berlindung di dalam sebuah parit yang aman di belakangku sambil melambaikan tangan untuk memanggilku. Gundukan tanah tinggi bekas ledakan cukup menyembunyikan posisinya. Dia menggigil di situ sambil mendekap pedangnya yang bernoda lumpur alih-alih darah.

“Aku akan menunggu di sini.” bisiknya ketika aku ikut duduk di sampingnya. Orang ini pasti gila. Kabur dari regunya demi menyelamatkan dirinya sendiri. Yah, tetapi apa bedanya dengan diriku sendiri? Kami berdua sama, sama-sama pecundang. Dan entah aku harus lega atau ketakutan memikirkan ketika akhirnya ada juga orang selain diriku yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan melarikan diri.

Aku pun meringkuk seperti bayi dan mulai menangis. Aku bisa mendengar suara teriakan-teriakan rekan-rekanku di luar sana. Tenggelam dalam darah dan rasa sakit, hancur lebur oleh senjata-senjata musuh. Benar-benar kematian yang sia-sia.

Suara langkah kaki yang tersaruk-saruk perlahan mendekatiku dan Nolan. Sosok yang berdarah-darah dan kain jubah zirahnya compang-camping itu memandang kami dengan tatapan dingin di balik helm berbulu merahnya yang menutupi seluruh wajahnya. Sial, kami ketahuan.
Hukuman bagi pengkhianat dan pengecut adalah digantung. Kata-kata yang sering dihembuskan di para petinggi kerajaan itu tiba-tiba menggaung di kepalaku. Dan aku pikir inilah saatnya. Aku akan menjemput kematianku bukan di tangan musuh dengan rasa bangga, tetapi di tangan seorang kesatria dari kerajaanku sendiri yang sedang marah.

Tetapi, alih-alih menebas leherku dengan pedang di tangan kanannya atau menghantamku dengan tameng di tangan kirinya, dia justru melemparkan kedua benda itu ke tanah, dan tanpa ba-bi-bu dia ikut duduk di sampingku.

Kesatria itu membuka helmnya perlahan-lahan. Tampaklah sebuah wajah tampan dengan rambut pirang yang gondrong. Aku kenal siapa pemilik rambut pirang gondrong itu. Varner. Salah satu kesatria terbaik kerajaanku. Varner mengeluarkan sebuah pipa yang biasa digunakan untuk merokok dari sakunya, lalu mengambil sejumput tembakau dari saku yang lain. Dia merobek secarik kain jubahnya, lalu menyulutnya di bola api yang masih menyala-nyala di dekat kami dan membakar tembakaunya. Tak lama kemudian, asap kecil pun membumbung dari mulutnya.

Varner tersenyum kepadaku dan Nolan yang sedari tadi memandangnya dengan gugup.

“Ah, kalian pasti ketakutan, ya? Masih hijau dan tidak siap, lari dari peletonnya sendiri, lalu bersembunyi di sini. Ya, ampun… Kalian benar-benar pengecut.” Dia tertawa. “Tapi, kalian mirip dengan diriku yang dulu. Sama seperti kalian, aku juga tidak siap tapi tanpa peduli ikut maju langsung ke dalam pertempuran. Ujung-ujungnya dulu aku juga ngumpet seperti kalian juga.”
“Yah, tapi, yang jelas kalian lebih berani dan lebih hebat daripada kolega-kolegaku yang di belakang sana itu.”
“Maksud Anda, Sir?” tanyaku dengan gugup. Dia menjawabku dengan menunjuk ke depan, ke arah perbukitan tempat pasukan dari Kerajaan Lothrix datang. Tampaklah di situ ada beberapa petinggi pasukan. Beberapa sersan, kesatria, jenderal, malah asyik berdiskusi sendiri dengan aman dan nyaman di atas kuda mereka.

“Menurut yang kudengar tadi sebelum aku sampai di sini, mereka sedang membicarakan dengan cemas kapan datangnya bala bantuan. Mereka sedang menunggu janji seorang penyihir legenda bernama Wolfram yang katanya akan membawa seekor naga besar ke sini untuk membantu kita.”
“Benar-benar omong kosong. Aku tidak pernah percaya dengan hal-hal mustahil semacam makhluk-makhluk mistis dan sihir aneh semacam itu. Apa yang patut kita percayai haruslah kekuatan kita sendiri -manusia- betul?”
Aku dan Nolan hanya mengangguk-angguk cepat.

“Nah, prajurit-prajurit kebanggaanku, tunggu apa lagi? Keputusan berada di tangan kalian. Jika kalian ingin mati sia-sia di sini sambil memegang janji bohong seorang penyihir, maka tetaplah meringkuk di sini seperti anak kecil. Jika kalian ingin maju dan mati dengan bangga, ambillah pedang dan tameng kebanggaanku ini dan gunakanlah sebaik mungkin.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Varner terbatuk-batuk keras sampai-sampai pipa jatuh dari mulutnya. Darah mengalir dari sela-sela gigi dan bibirnya, dan dia cepat-cepat mengusapnya dengan punggung tangan.

Ternyata dia sekarat.

Apa yang harus kulakukan?
Sepertinya menjalankan perintah terakhir dari seorang kesatria yang akan mati terdengar gagah.
Tapi aku masih saja ketakutan.
Aku benar-benar seorang pengecut.
Apakah aku tega menolak permintaan Varner dan membiarkannya mati sia-sia?
Selagi pikiranku berkecamuk dengan gila, aku mendengar suara dentingan besi diangkat dari tanah.

Itu Nolan. Ekspresi wajahnya kembali menguat. Dia berdiri dengan tegap. Di kedua tangannya sudah ada pedang dan tameng Varner dan dia menimbang-nimbang keduanya. Dia menoleh ke arahku dan melempar pedang Varner yang langsung kutangkap dengan sigap.

“Aku lihat pedangmu sudah berkarat banyak. Kau lebih pantas memakainya.” katanya dengan suara yang tegas.
Di bawahku, kudengar Varner tertawa lagi. “Astaga, kerajaan kita benar-benar payah. Pantas saja kau tidak mau bertarung, nak! Kau cuma diberikan pedang karatan yang pasti sisa terakhir di gudang. Yah, semoga pedangku bisa membantumu.”

Varner mulai bersenandung sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya. Perlahan-lahan, kedua tangannya terkulai selagi nyawanya merembes dari tubuhnya. “Rise and conquer. Fight for honor. Allies and brothers, our fallen fathers, all died for honor.”

Mendadak diriku tersentak. Nyanyian yang sederhana namun sarat makna itu tiba-tiba membakar semangatku. Rise and conquer artinya bangkit dan taklukan. Fight for honor artinya bertarunglah demi kehormatan. Allies and brothers, our fallen fathers, all died for honor artinya para sekutu dan saudara, para pendahulu kita yang gugur, semuanya mati demi kehormatan. Tapi, semua itu hanya akan terjadi jika aku memenangkan pertempuran ini, atau semuanya akan sia-sia saja.

Kugenggam pedang pemberian Varner erat-erat. Pedang itu memiliki gagang berwarna merah gelap dengan hiasan berbentuk singa di ujungngnya. Bilahnya yang keemasan dan bernoda darah berkilau disinari cahaya bulan.

Aku melihat Nolan sudah berlari ke depan sambil meraung-raung, tanpa peduli akan ancaman bola-bola api yang terus menghujani tanpa henti.

“Bersiaplah! Pedang berlumpurku ini akan menancap di lehermu!” teriaknya dengan bangga ke arah musuh.

Inilah saatnya. Aku akan ikut maju. Akan kupercayai senjata ini sebagaimana Varner memercayaiku. Bait-bait Ikrar yang kuucapkan ketika pertama kali menjadi prajurit menggema kembali di telingaku, menambah keberanianku.

We are Legion, forged in fire
Bathed in blood, encased in iron
Hilt in hand, unsheathe and wield
Flay your prey with sharpened steel

Kita adalah legiun, ditempa dalam api
Bermandikan darah, terbungkus dalam zirah
Genggam erat gagang pedang di tanganmu, hunus dan ayunkan
Kibaskan besi tajam itu kepada musuhmu dengan berani

Sebuah hawa panas menghembus di atas kepalaku.
Seekor naga raksasa meliuk-liuk di atas angin, menyemburkan api tanpa ampun dari mulutnya.
Seorang kakek tua berpakaian serba putih duduk di lehernya sambil memegang tongkat yang berpendar putih.
Tapi aku tidak peduli dengan itu semua.
Aku hanya berpegang teguh pada kekuatanku sendiri.
Akan kupegang janji Varner, selagi aku masih menarikan tarian kematian dengan pedang di tanganku.

Cerpen Karangan: Rifky Zena
Facebook: facebook.com/rifky.zena.7
Seorang penulis amatir dan penggemar budaya internet.
Follow my wattpad: @Piers-Kenway

Cerpen Si Pengecut merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Sahabat Dunia Lain

Oleh:
Hai namaku Cynthia Chika, biasanya saya dipanggil Tia, saya bersekolah di SMP Dharma Bakti, saya sangat senang menulis Diary dan Mengkhayal tentunya, dan TOMBOY This is Story pagi yang

Imprecnable (Part 2)

Oleh:
“Katakan apa yang kau ketahui tentangku?” tanya Asrah. “Sebaiknya kau yang menceritakan semuanya padaku,” “Kau tahu kalau aku bukan manusia?” tanya Asrah lagi. “Dua tahun yang lalu di malam

Dream Wanderer

Oleh:
Seorang pria tersentak dan tersadar, “apa yang barusan terjadi?” perasaan bingung menghantui pikirannya. Satu yang dia tahu, seseorang berusaha menyadarkannya dari sesuatu, ya sesuatu dari masa lampau. Pria itu

Wanita Kertas

Oleh:
Sebuah catatan kecil seorang wanita yang memiliki sifat seperti kertas, lembut dan penuh lekukan. sebuah cerita seorang wanita yang hidup sendiri tanpa ada 1 cinta pun yang ia punya

Perjalanan Silatku

Oleh:
Burung berkicau matahari memamerkan keindahannya, aku bergegas menuju ke sekolah. Istirahat pun tiba kakak kelas osis sosialisasi di kelas kelas tentang memilih ekstrakulikuler apa yang diminati tidak ketinggalan kelasku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *