Sialnya Bocah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 10 June 2014

“Alamak… susah betul lah cari cerita yang berbobot ni… ei, ada sesiapa yang mau membantu saya tak?” tanya seorang anak Malaysia di hutan belantara Kalimantan. Suasana hening tak menentu, bocah itu tersesat karena lorong waktu yang dibuatnya.
Dia bingung, hatinya gersang, jiwanya kecewa dan risih sekali tak dapat ide. 2 hari ia tinggal di hutan belantara yang penuh dengan kesunyian itu. Kalau makan, dia cari alternatif untuk makan laksana orang jaman dulu. Suatu ketika ia sangat haus dan terasa mau mati.
“Alamak… macam mana ni, dah lah haus pulak… Hei, sesiapapun tolong saya lah!” bocah itu kembali berteriak.

Dia lari, dia cari sungai di dekat hutan. Ditemukannyalah air, walaupun air itu keruh tetap saja ia bernafsu untuk meminumnya sampai dahaganya puas. “Lah… macam tu lah, tapi air nih tak sedap betullah…”. Dia merasa meminum benda aneh. Dia memuntahkan air itu, keluarlah mutiara. Mutiara itu beratnya sekitar 1 kg.

“Hei apa pula ni?” tanya bocah itu kebingungan. Dia mengira akan mengalami nasib yang sama seperti cerita “Aladin dan lampu ajaib” sehingga dia mengelus-elus mutiara itu. Walhasil bukan jin yang keluar, malah wanita yang cantik menjelma.

“Kamu siapa?” tanya wanita itu kepada bocah.
“Mak saya sering call saya bocah, jadi panggil je bocah” jawab bocah gugup.
“Kenapa kamu bangunkan aku?” tanya wanita itu dengan lemah lembut.
“Eh, awak teganggu lah ye? maafkanlah saya” ujar bocah santai.
“Tapi, berhubung aku udah keluar, dan aku malas di dalam mutiara, aku mau ngasih kamu 2 pertanyaan?!” bilang wanita itu.
“Eh tunggu sekejap, awak nih bernama siapa?” tanya bocah.
“Saya Putri Yang Bertukar” celetuk wanita itu.
“Macam pernah kenal je name tu, tapi… boleh saya panggil putri saja?” tanya bocah.
“Boleh” jawab Putri.

“Eh cakap-cakap, kenapa 2 pertanyaan yang awak bagi, bukannya permintaan?” tanya bocah kebingungan.
“Oh iya, maaf deh salah. maksudnya 2 permintaan gitu. Udah cepat jangan berlama-lama, jangan ngabisin durasi!” ujar Putri mulai jengkel.
“Durasi? Film kah, pakai durasi pulak!. Baiklah, jika Putri berkenan, saya nak cerpen berbahasa Indonesia yang berquality jua akan laku di pasaran nantinya. Soalnya saya nak jadi penjual buku” bilang bocah.
“Adakah orang mau beli di tempat sepi kayak gini” tanya Putri keheranan.
“E, nantilah dulu saya belum habis bicara lagi, nah pertanyaan kedua saya ialah saya ingin 2 permintaan” bilang bocah dengan senyum-senyum.
“Kamu kira aku goblok apa?, bisa bercabang-cabang nanti keinginan kamu, ujung-ujungnya juga rakus dan mau menang sendiri. Sudah, coba permintaan yang lain… kalau gak aku pergi nih” bilang Putri sambil marah.
“Baeklah, bagi saya duit 1 milliyar” pinta bocah.
“Baik, sudah dua ya, aku kan kabulkan” kata Putri dengan nada pengharapan.

Seketika, 76 lusin buku dan uang 1 miliar datang di muka bocah. Bocah terkagum dan mengucapkan “Terima kasih banyaklah Putri, Putri ni memang baik hati sangat, dah lah cantik, ramah, sopan. Wah, nak tak jadi istri aku?”.
“Jangan macam-macam ya, entar ditarik lagi lho buku dan duitnya… Mau tak?” balas Putri.
“Eh tak nak lah, bia lah tak mau jadi istri saya tak apa lah. Tapi saya ni mau ke kota Putri, saya tiba di hutan ni kerana mesin waktu saya rusak Putri. Putri tau tak ini tempat apa namanya?” kata bocah.
“Ini di Kalimantan, lagian ngapain sih sampai-sampai kesasar kesini?” tanya Putri.
“Program mesin waktu saya rosak Putri. Putri tolonglah ye, bantu saya… sekali ini saja” bilang bocah.
“Baiklah, untungnya aku kasihan sama kamu. Oke deh, aku bantuin. Tutup mata 5 detik ya” kata Putri.

Ternyata setelah 5 detik berlalu, tidak ada perubahan apa-apa yang terjadi di sekitar bocah.
Bocah: Eh, tak ada apa-apaun!
Putri: Mesin waktu kamu dimana?
Bocah: Yang jelas, tak disini
Putri: Pergilah, dan lihat mesin waktumu sekarang
Bocah: Terima kasih banyak Putri. Apa sekiranya yang pantas aku balas atas jasa-jasa putri?
Putri: Berikan nyawamu?
Bocah: APA…? Putri ni dah gila kah?
Putri: Kalau tak mau, akan aku ambil kembali semua yang telah aku berikan!
Bocah: Tak…

Bocah lari pontang panting. Dia menghampiri mesin waktunya. Tapi sayang, sebelum kabur dengan mesin waktunya, bocah sudah mati duluan.

Putri: Hi hi hi hi hi… Sia-sia saja usahamu bocah… bocah, Ha ha ha ha

Cerpen Karangan: Rio Oktonas

Cerpen Sialnya Bocah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


MyCerpen 4: Hantu Sepatu Baru

Oleh:
Hanya duduk sendiri dan tenggelam dalam buku Sastra, yang membuatku semakin ngantuk. Malam minggu yang cukup membosankan, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Karena malam ini Aku tidak datang mengapeli Devi

Petualangan di Pantai Mutiara

Oleh:
Hari minggu yang cerah, aku dan sekeluarga berencana berlibur di pantai hari ini. Kami sekeluarga menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke pantai. Tak lupa aku membawa peralatan mandi, seperti

Kau Tak Pernah Berjalan Sendiri

Oleh:
Entah ini adalah kali keberapa Kayla ingin mengakhir hidupnya, namun selalu gagal, entah ketahuan atau tiba tiba ia diganggu oleh kawanan kawanan hantu yang sering mengganggunya, ya, Kayla merupakan

Sahabatku Malaikat

Oleh:
“Sausan!” teriakku pada Sausan. ia menoleh. Kuhampiri dia “Hari ini cerah, kicauan burung pagi yang merdu membuatku senang..” Kata Sausan. “Iya kau benar Sausan” Kataku. Hai, Aku Sherina Aliskha.

Melawan Lucifer

Oleh:
Sering kita melihat ilustrasi makhluk Tuhan yang dikisahkan membangkang terhadap perintah-Nya, yaitu bertanduk, bertubuh merah, bertaring atau apapun itu yang menyeramkan. Dia telah menunjukkan wujud aslinya. Semua orang bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *