Sisa Rahasia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 20 July 2016

“Supri, aku sudah tidak sabar mendengar ceritamu. Tapi sepertinya aku akan telat.” Suara cemas itu kudengar di seberang sana. Masih kugenggam ponsel mini yang menempel di telinga kananku. “Ya udah, santai aja. Aku tunggu.” Jawabku singkat. Lalu terdengar kecemasannya hilang, “Hati-hati.” tambahku. Aku menutup flap ponselku lalu kumasukkan kembali ke dalam tas. Kembali kurebahkan tubuhku di kursi panjang taman Hutsland. Taman ini selalu nyaman untuk ditempati. Sejuk, penuh nostalgia.

Oya, Yang baru saja ditelepon itu Paimo, sahabatku. Dulu, kami punya rumah yang berdekatan. Kami seperti saudara kembar, dan banyak orang bilang, kami sama sama udik.
Tapi kemudian kami berpisah. Paimo dengan ayahnya Pak Dhe Sugut pindah rumah. Ya, semua itu terjadi setelah tragedi kebakaran di rumahnya sepuluh tahun yang lalu. Rumah Paimo habis dilalap si jago merah, dan ibunya.. Budhe Larmi meninggal dunia karena terjebak dalam rumah. Jelas saja aku tak melupakan kejadian itu, aku tahu semuanya. Dan hari ini, aku mengajak Paimo bertemu di tempat biasa kami kumpul waktu dulu, Taman Hutsland.
Aku hanya ingin menceritakan semuanya. Ya, semua rahasia yang sampai sekarang masih aku simpan. Aku tak tahan memendam semuanya sendirian. Biarlah jika nanti Paimo marah besar padaku. Aku terima hal itu.

“Woy Kang!”
“Paimo?” aku terkaget–kaget sambil beringsut menepis tangan Paimo.
“Iyaa.. aduh Pri. Kamu gak ada perubahan. Hehe” aku hanya tertawa, jelas–jelas Paimo lebih udik dariku. Masih setia dengan blangkon kepala pemberian bapakku dulu dan sendal jepit sepuluh ribuan itu.

Sedetik dua detik nostalgia berlalu. “Jadi, berapa hari kamu disini?” Tanyaku padanya yang terlihat ceria.
“Aku, seminggu mungkin. Selasa depan aku harus balik ngurus kesenian di kampung. Oya, katanya ada yang pengen kamu ceritain?” aku mengangguk, tapi gugup ketika Paimo menagih ceritaku. Cerita yang mungkin akan membuatnya murka dan mencakar–cakar wajahku.
“Pri? Kenapa diam?” aku mendengarnya, tapi aku tak berani menatap wajahnya. Lalu aku menggeleng pelan.
“Sebenarnya, aku mau cerita tentang… tragedi kebakaran sepuluh tahun silam, Mo.” Putusku tegas. Benar, aku harus menceritakannya.
“Apa? Kebakaran itu..?” Paimo tegang kebingungan. Wajah gugup sangat nampak menguasai guratan kulitnya. aku bisa melihat jelas tanda tanya di pikiran Paimo.
“Iya, sebenarnya aku ikut terlibat dalam kebakaran itu. Aku mengajak Bagiyo, Mumun dan Lastri untuk membakar rumahmu. Aku yang menjadi dalangnya…” kataku lepas tanpa kendali. Saat itu aku ingat betul perkataan Paimo sepuluh tahun yang lalu, bahwa dia akan mencari pelaku yang menewaskan ibunya. Ia akan membunuhnya, sekalipun pelaku pembakaran rumah itu adalah ayahnya sendiri.
Aku tak berani menatap mata Paimo tapi aku melihat tubuhnya bergeser beberapa inchi menjauhiku. “Supri?!!!” teriaknya, aku mendengar nada kecewa dalam panggilannya. Ada aroma iblis tercium dari tubuhnya seketika.
“Aku minta maaf, Mo. Semua itu karena keegoisanku. Tapi sekarang aku sadar. Aku salah.” Usahaku sia-sia.
“Tidak! Aku tidak memaafkan orang yang membunuh ibuku. Sekalipun itu ayahku sendiri. Apalagi kau pelakunya! Rasakan ini!!”
Entah darimana datangnya pisau itu. Aku merasakan pisau itu tiba–tiba merobek wajahku. Berkali–kali Paimo menancapkan pisau itu ke sekujur tubuhku. Hingga aku lemas tak berdaya. Mati rasa. Hanya dingin, dan gelap. Terakhir kudengar suaranya tertawa memaksa sambil memanggil namaku. “Paimo!! Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Kenapa??”

“Woy Kang! lama ya nunggunya? sampai ketiduran gitu..”
“Paimo?” aku kaget bukan main. Ternyata.. aku ketiduran.
“Iyaa.. aduh Pri. Kamu gak ada perubahan. Hehe” aku hanya tertawa, jelas–jelas Paimo lebih udik dariku. Masih setia dengan blangkon kepala pemberian bapakku dulu dan sendal jepit sepuluh ribuan itu.
“Jadi, berapa hari kamu disini?” Tanyaku padanya yang terlihat ceria.
“Aku, seminggu mungkin. Selasa depan aku harus balik ngurus kesenian di kampung. Oya, katanya ada yang pengen kamu ceritain?” aku mengangguk, tapi gugup ketika Paimo menagih ceritaku. Cerita yang mungkin akan membuatnya murka dan mencakar–cakar wajahku.
“Pri? Kenapa diam?” aku mendengarnya, tapi aku tak berani menatap wajahnya. Lalu aku menggeleng pelan.
“Aku hanya ingin bertemu kamu kok. Tidak ada alasan lain. Kangen tauuu..” kataku kemudian. Roro tersenyum.
Biarlah tetap menjadi rahasia. Aku tahu aku berdosa.

END

Cerpen Karangan: Alfin Rizal
Blog: alfinrizalstory.wordpress.com / alfinrizal.wordpress.com

Cerpen Sisa Rahasia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


RPG

Oleh:
leplay Game yang sedang naik daun itu menarik perhatianku, entah kenapa aku merasa Permainan ini familiar dengan sesuatu, ah, mungkin hanya perasaanku saja, mana mungkin? Ini kan permainan baru.

Sosiofobia (Part 1)

Oleh:
Malam hari, 2 Desember 2012 Seorang gadis memakai jaket hitam menutup kepalanya dengan topi jaket dan memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. Ia berjalan menyusuri jalan menuju ke sebuah

Lava

Oleh:
Tahun 2356, perjalanan waktu sudah merupakan hal biasa, begitu pula dengan perusahaan-perusahaan. Mereka mengembangkan banyak mesin waktu yang canggih. Sandi La Ode adalah seorang gangster asal kota Depok Raya.

Jendela Maya

Oleh:
Langkahku lunglai dari tempat tidurku menuju sumber cahaya, ternyata cahaya itu jendela kamarku. Jendela itu terbuka lebar, di luar terbentang hamparan luas pemukiman penduduk, gedung-gedung tinggi, jalan raya, pepohonan

Pensil Ajaib

Oleh:
Siang hari yang cerah Rara sedang membaca buku di kasurnya, tetapi tiba tiba saja ia mengingat sesuatu. “oh ya kan ada pr bahasa inggris.” katanya sambil beranjak menunju meja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *