SKY

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 14 September 2013

Aku berdiri di sebuah jembatan kayu panjang yang mulai tua. Sendirian aku di tengahnya. Di ujung jembatan ku merasakan seorang laki-laki sedang memandang ke arahku. Aku tak ingin melihatnya. Karena aku tahu, laki-laki itu ingin mengajakku pulang. Aku tak ingin menoleh ke arahnya. Bisa-bisa dia berpikir bahwa aku masih menghormati dia.
Perlahan aku mendengar sebuah langkah kaki. Aku merasakan jembatan ini sedikit bergoyang. Ternyata dia mencoba mendekatiku. Melangkahkan kakinya perlahan-lahan mencoba melawan semua ketakutannya. Baru terdengar dua langkah, ia kemudian berhenti. Rasa takutnya untuk menyeberangi jembatan terlalu besar. Hatinya tak mau melihat kedalaman jurang. Namun, matanya memaksa melihatnya. Ia lalu kembali ke jalan semula. Tak berani menginjakkan kedua kakinya di jembatan lagi.

Sudah ku duga. Dia memang tidak akan melakukannya lagi. Jembatan dan jurang curam adalah musuhnya. Keputusanku untuk kabur ke tempat ini sudah tepat. Dia tak akan memaksaku pulang jika aku berdiri di jembatan ini.

Dia adalah Vino. Tunanganku yang sebenarnya aku tak mencintainya. Aku terpaksa menerima cintanya karena ketika ia menyatakan cinta, hatiku kesal dan sedih melihat kekasihku, Rasya akan menikah dengan perempuan lain. Perempuan pilihan kedua orangtuanya. Kejadian itu sudah sebulan yang lalu. Aku masih saja kesal hati jika mengingat Rasya berjalan di depanku dengan calon istrinya itu. Satu yang aku sangat membencinya adalah dia pernah berjanji padaku di jembatan ini. Dia berkata bahwa ia tak akan meninggalkanku meskipun kedua orang tuanya melarang hubungan kami. Dia akan memperjuangkan cintanya untukku. Tapi semua janji itu hanyalah sebuah omong kosong. Tak ada tindakan yang pasti. Dia tak pernah melakukan apapun untukku. Dia tak pernah berkorban untukku.

Vino adalah sahabatku. Aku mencintainya tak lebih dari seorang sahabat, tapi dia mengira aku mencintainya lebih dari itu. Sulit untuk aku jelaskan padanya tentang perasaanku. Aku tak ingin dia tahu dan merasa terluka karena kebohonganku.
Sampai pada akhirnyaa aku memberanikan diri untuk memberitahu dia tentang perasaanku yang sesungguhnya. Awalnya dia terlihat sedih dan kecewa. Tapi kemudian dia menyadari bahwa cinta tak mungkin memiliki.

Aku lari dari hadapannya setelah aku berbicara tentang perasaanku padanya. Aku pergi ke jembatan ini untuk menenangkan diri. Entah mengapa, tempat ini begitu nyaman untukku. Vino mengejarku ke sini, tapi dia selalu takut dan merasa ngeri dengan tempat ini. Dia takut ketinggian. Jembatan ini terlalu panjang dan terlalu tinggi untuknya.
“Ku mohon, kembalilah Fani… hari sudah sore…”
“Aku tidak mau!”
“Ayolah… aku tidak mungkin mendekatimu untuk memaksamu pulang!”
Hening sejenak. Ku tutup ke dua telingaku dengan tanganku. Aku tak ingin mendengarkan suara Vino yang terus menerus memaksaku pulang.

Jam menunjukkan pukul 17.00. Langit tampak mendung. Dan Vino… kemana Vino? Aku pandangi sekitar. Mobil Kodok warna merah itu sudah hilang di ujung jembatan. Vino sudah pergi dari tempat ini. Aku sesekali mengambil napas, lalu ku keluarkan dari mulutku. Ku tatap ponselku yang ku keluarkan dari saku celana jeans usangku.

Ah! 15 SMS dan 90 panggilan. Semua dari Vino. Isi SMS-nya pun sama. Ia menyuruhku untuk pulang. Ku acuhkan Semua SMS dan Panggilan Vino. Lalu ku pandangi sekitar lagi. Aku merasa jiwaku sudah tertanam di tempat ini. Jembatan panjang Tua. Pohon-pohon besar yang banyak jenisnya. Daun-daunan yang hijau. Bunga-bunga dari tanaman liar yang mulai tumbuh. Aku sangat menyukainya.

Tiba-tiba langit bergemuruh. Awan gelap mulai merapat. Ku tengadahkan kepalaku ke langit. Ku rasakan air suci dari langit menetes jatuh ke bumi. Bau tanah kering yang tersiram air hujan. Ah! Sekali lagi ku katakan, aku sangat menyukainya. Walaupun hujan semakin deras, Aku tetap berdiri di atas jembatan ini. Ku pejamkan mataku. Mencoba meresapi setitik demi setitik air langit jatuh menimpa tubuhku.

Belum sampai lima belas menit, sebuah payung menutupi kepala dan badanku. Ada seseorang yang mendekatiku. Anehnya Aku tak merasakan pijakkan kakinya di jembatan ini.
Lalu ku buka mataku. Dan betapa terkejutnya aku. Seorang Laki-laki tampan sedang berdiri di sampingku. Sambil memegangi sebuah payung yang mekar dan melindungiku dari derasnya hujan. Dan saat dia tersenyum, ada sinar yang berkilat dari dalam mata cokelatnya. Ia berbusana serba putih. Kulitnya pun putih seputih salju. Rambutnya hitam berjambul. Alisnya tebal menyempurnakn wajahnya yang cerah dan terlihat segar.

Aku terpaku melihat pemandangan yang sangat jarang aku saksikkan. Kemudian bibir tipisnya bergerak. Ia mencoba mengatakan sesuatu padaku. Sangat pelan. Mungkin karena derasnya hujan sampai-sampai volume suaranya yang sudah ia keraskan tak terdengar oleh telingaku.
“Kau harus pulang!”
“Apa?”
“KAU HARUS PULANG!!!”
Tiba-tiba petir menyambar sebuah pohon. Suaranya sangat mengejutkanku. Aku memeluk Laki-laki tampan itu tanpa sadar. Ia mencoba melindungiku.
“Ayo kita pergi dari sini. Tempat ini tak baik untuk manusia…” ujarnya. Kemudian Ia membawaku ke ujung jembatan satu lagi. Ia memapahku yang sedang shock mendengar suara petir tadi.
“Duduklah!” suruhnya setelah kami tiba di sebuah gubuk. Tempat itu sangat berbeda dengan suasana jembatan tadi. Namun, keindahannya sama sekali tak berbeda.
“Kita ada dimana?” tanyaku sambil memeluk lutut.
“Kamu berada di tempat yang aman.” Sahutnya sambil menyalakan api di kumpulan jerami dan kayu bakar.
“Kalau boleh tahu, namamu siapa namamu?”
“Apa sebuah nama penting bagimu?” Ia malah balik bertanya.
“Menurutmu?”
Kening Laki-laki itu mengerut. Kemudian bibir tipisnya menyimpul. Ia tersenyum padaku.
“Terserah kau ingin memanggilku apa…” katanya.
Tentu saja aku bingung dengan maksud orang itu. Sekali lagi ia tersenyum manis padaku. Sangat manis. Lagi-lagi sinar dari matanya yang cokelat berkilat.
“Aku bingung…”
“Kenapa?”
“Kau ini sebenarnya siapa?” tanyaku. “Lalu kenapa kamu tiba-tiba muncul di hadapanku?” Lalu Aku mendekatinya. Tubuhku sangat dingin dan butuh kehangatan dari api yang di nyalakan Laki-laki itu.

Dia kemudian berdiri di hadapanku. Lalu mundur tiga langkah dari nyalanya api. Tiba-tiba sepasang sayap besar yang menakjubkan terbuka lebar. Aku terkena angin kecil yang dihasilkan oleh kepakkan sayapnya. Api bergoyang tak tentu arah. Melihat kejadian yang akan membahayakan itu, ia lalu membuka kedua mata indahnya lebar ke arah api unggun itu. Tak ku sangka, sebuah cahaya biru keluar dari matanya itu, dengan cepat cahaya itu mengatur nyala api dan mengembalikannya normal seperti beberapa menit yang lalu. Api itu tak bergoyang lagi. Nyala beraturan.
“Apa kamu… a… apa kamu… malaikat?” tanyaku ragu-ragu.
Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Aku tak tahu apa maksud dia menghampiri dan membawaku ke tempat ini.
“Menurutmu ini lucu?” aku mulai tak sabar. “aku bertanya dan kau hanya membalasnya dengan senyuman!” emosiku mulai terpancing tak keruan.

Aku bangkit dari dudukku dan membalikkan badan. Hujan rupanya sudah sedikit reda. Tanpa berkata apa-apa lagi ku langkahkan kakiku keluar gubuk. Namun, laki-laki aneh itu menahanku dengan kekuatan yang entah apa namanya. Mungkin seperti sihir.
“Kau mau apa?” tanyaku dengan raut wajah yang kesal.
“Tetaplah disini. Hari sudah gelap. Bukankah, kau tak ingin pulang ke rumah.” Sahutnya. Kini ku tak melihat sayap indahnya terbentang.
“Dari mana kau tahu aku tak ingin pulang ke rumah?” aku masih kesal. Meskipun begitu, aku kembali ke dalam gubuk dan duduk kembali d samping laki-laki itu. “Bukankah tadi kau menyuruhku pulang?”
“Kau lupa?” tanyanya. “Kau pernah menyelamatkanku di jembatan tua itu…” lanjutnya. Kini tangan lembutnya menggenggam tanganku yang sediki membeku.
Aku mengerutkan kening. Sama sekali tak bisa memahami perkataannya.
“Waktu itu, kau datang ke jembatan tua sambil menangis. Aku mendekatimu. Tapi tubuhku menabrak tiang jembatan. Aku pun jatuh dan terluka.” Ujarnya. Dia menatapku dengan lembut.
Aku mencoba mengingat-ingat peristiwa yang di ceritakan makhluk tampan di sampingku ini. Tapi aku tak ingat apapun.
“Aku menolongmu? Kapan? Lalu kapan aku menolongmu?” tanyaku.
“Kau ingat ini?” dia lalu menunjukkan sebuah sapu tangan yang pernah aku milikki.
“Lho! Ini kan saputanganku. Kau dapatkan ini dari mana?”
“Kau ingat burung yang pernah jatuh di dekatmu dan kau tolong? Kau ikat luka burung itu dengan sapu tanganmu ini?”
Aku mengangguk.
“Aku adalah burung yang kau tolong itu.”
Aku terbelalak. Tak mampu berkata apapun. Apa benar seekor burung bisa menjadi sesosok laki-laki tampan yang ada di sampingku ini?
“Terimakasih kau telah menolongku.”
Aku masih dalam diamku. Bingung harus berkata apa.
“Aku … aku tak tahu harus berbicara apa…”
“Kau tak usah berkata apapun. Ayo! Kita pergi dari sini. Hujan sudah reda. Akan ku tunjukkan tempat yang paling indah dan nyaman untukmu.”
“Tunggu! Siapa namamu?”
“Panggil saja aku… Sky…”

Aku di ajak laki-laki yang bernama Sky itu ke suatu tempat yang indah. Entah nyata atau tidak, aku dibawanya terbang ke langit. Malam yang indah, setelah hujan sore tadi yang membuat tubuhku membeku. Sampai pada akhirnya kami tiba di sebuah rumah bergaya minimalis. Rumah itu tampak seperti rumah manusia pada umumnya. Tak ada orang di sekitar rumah itu. Sky lalu mengajakku ke dalam rumah besar itu.

Ada banyak tanaman di halaman rumah itu. Meja-meja untuk para tamu berhiaskan bunga mawar yang berwarna-warni.
“Ini rumahmu?” tanyaku sambil terus memperhatikan keadaan sekitar.
“Ya…” jawab Sky singkat.
Sky menunjukkan sebuah kamar untuk ku tempati malam ini. Hujan turun lagi. Petir-pun kembali menyambar sesuatu. Aku terkejut dan tanpa sadar memeluk Sky dengan erat.
“Tenanglah. Disini, kamu aman. Sekarang, lebih baik kamu bersihkan badanmu, aku akan menyiapkan makanan untukmu.”
Aku hanya mengangguk, lantas berlalu dari hadapan Sky.

Aku mengguyur badanku dengan air hangat dari shower. Begitu nyamannya. Segar. Kepalaku yang tadi sedikit pusing hilang seketika setelah kepalaku, ku guyur dengan air hangat itu. Perlahan ku gosok tubuhku dengan spons yang penuh dengan busa sabun. Ku bayangkan jika aku tengah berbahagia. Aku pun menerawang. Seandainya jika Sky itu memang seorang malaikat yang ingin menolong kehidupanku, aku akan sangat bahagia.

Selesai mandi, aku mengenakan pakaian yang disiapkan oleh Sky selagi aku mandi tadi. Entah kebetulan atau tidak, pakaian itu begitu pas di badanku. Aku keluar dari kamar dengan wajah yang tampak segar di mata Sky. Ia lalu menyeret sebuah kursi dan mempersilahkanku duduk.
“Mau aku suapin?” tanyanya menawarkan diri.
“Ah, tak usah. Biar aku sendiri saja.” Tolakku halus tak ingin menyakiti perasaannya.
Sky hanya tersenyum kecil. Dan ia hanya memperhatikanku makan.
“Kau tak makan?”
“Aku sudah kenyang.”
“Tapi kenapa kau melihat aku seperti itu?”
“Kau cantik!”
Tentu saja Sky membuatku malu dan tak bisa berkata apapun.

Selesai makan, kami menuju ruang televisi. Aku diajak Sky menonton sebuah Film romantis dari DVD. Sudah lama juga aku tak menonton Film seperti itu setelah aku mengalami patah hati karena ditinggal Rasya.
“Kau menangis?” tanya Sky di tengah cerita drama tersebut.
Aku mengangguk. Cerita di drama itu membuatku menjadi cengeng.
“Ini!” Sky lalu menyodorkanku sekotak tisyu.
“Terima kasih…” ucapku.
Tak terasa aku dan Sky sudah duduk di ruangan itu selama 2 jam lebih. Walaupun film telah berakhir, aku masih betah berlama-lama duduk dengan Sky. Entah mengapa aku merasa nyaman berada di dekatnya.
Jam menunjukkan pukul 23.15 malam. Aku menguap. Sky menyuruhku untuk tidur, tapi aku tak mau. Aku boleh saja terus menerus menguap di depan Sky, tapi mataku tak ingin aku tidur. Aku masih ingin menatap wajah segar Sky.
“kau punya kekasih?” tanyaku iseng.
Sky menoleh ke arahku, menatapku sebentar lalu menggeleng.
“Oh…” gumamku.
“Dulu aku sempat punya kekasih.” Ujarnya.
“Lalu?”
“Dia pergi dengan kekasihnya yang lain.”
“Sejenismu juga?”
Sky mengangguk.
“Tapi aku bersyukur!” lanjut Sky.
“Bersyukur? Maksudnya?”
“Iya. Itu artinya, dia bukan jodoh yang tepat untukku.”
Aku tersenyum memahami.

Udara malam membuatku membeku lagi. Aku tak memakai jaket ataupun penghangat lainnya. Ku lihat penampilan Sky tetap seperti tadi sore. Ia masih memakai pakaian serba putih. Namun, tak ku lihat sayap indahnya. Dia hanya menggunakannya untuk terbang saja.

Malam beranjak pagi. Tak ku sadari aku dan Sky mengobrol tentang apapun sampai dini hari. Aku tertidur di sampingnya. Begitupun dia.
Pagi telah datang. Ku rasakan kehangatan dari cahaya mentari dari balik jendela kaca besar yang terpampang di dekatku. Perlahan ku buka mataku. Aku bangun dan duduk. Aku terbangun sendirian. Ada selimut tebal yang menutupiku dari semalam rupanya. Lalu, kemana Sky?
“Kau sudah bangun?” tanya Sky yang sedikit mengagetkanku karena tiba-tiba ia muncul di belakangku.
Aku tersenyum malu.
“Kau tampak sangat pulas sekali tidur tadi malam. Makannya, pagi ini aku tak membangunkanmu. Takut kau terganggu.”
“Ayo sarapan!” ajak Sky. Aku bangkit dari dudukku. Mengikuti langkah kaki Sky menuju meja makan yang tak jauh dari sofa tempatku tidur semalam.
“Kau tak ikut sarapan?” tanyaku.
“Tidak. Kau saja!” sahutnya. lagi-lagi dia tak makan bersamaku.
Lagi-lagi dia hanya duduk memandangku yang sedang melahap 2 potong roti. Dia tampak senyum-senyum sendiri. Ah! Begitu menggoda senyumannya.
Pipiku memerah. Salah tingkah.

Sore beranjak. Sky meminta ijin untuk membereskan rumahnya yang sedikit berantakan. Aku tak tega melihatnya membereskan rumah besar itu sendirian. Aku pun ikut membantunya. Aku tak merasa lelah atapun capek. Aku malah senang membantu Sky.

Hujan kembali membasahi tanah lagi. Sky mengajakku ke dalam rumah ketika kami hampir selesai memotong rumput di halaman belakang rumah. Tubuhku sedikit basah. Ia lalu menyuruhku berganti pakaian. Akupun lantas berlari kecil ke dalam kamarku.

Sky menungguku di teras belakang rumah. Hujan cukup deras. Tapi tak ada petir yang menyambar. Hujan sore itu sangat indah. Aku kembali menemui Sky yang sedang duduk menyila di teras.
“Cukup bajunya?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku yang ikut duduk menyila di samping kanannya.
“Cukup!” sahutku sambil membetulkan letak kerah kemeja warna putih itu.
“Aku suka padamu!” ujar Sky tanpa basa-basi. Ia masih tak menoleh ke arahku.
“Apa?” aku terkejut.
“Aku sayang padamu…” ujar Sky lagi. Kali ini ia memandangku dengan penuh kehangatan.
Pipiku lagi-lagi berubah menjadi berwarna merah muda. Bibirku tak bisa bergerak, lidahku kelu. Aku tak bisa berkata apapun.
“Kau mau jadi istriku?”
“Hah?” dadaku tiba-tiba sesak. Aku sangat susah untuk bernafas. Aku hanya bisa diam.
Sky memelukku dengan erat. Dan aku hanya bisa diam.
“Aku mencintaimu sejak kau menolongku waktu itu. Bekas luka di kakiku dulu, bisa sembuh karena air matamu yang suci dan tulus itu.” ujarnya sambil terus memelukku.
“Aku harap kau akan menjadi belahan jiwaku.”
Tiba-tiba hujan bertambah deras. Ku rasakan air dari atas mengguyur badanku. Aku menengadah. Gentengnya bocor. Bersamaan dengan itu, ada sebuah suara yang dengan keras menyuruhku untuk bangun.
“Tifani… Banguuuunnnn!!!! woy!!! Molor aja Lu kayak kebo!!!”
Aku terperanjat dan bangun dari tidurku.
“Sky… Sky… Lho, Kok Lo Vin? Sky mana?”
“Sekai… sekai… mandi sana Lo. Calon suami Lo bentar lagi mau dateng, nyokap Lo udah bangunin Lo dari tadi Lo nggak bangun-bangun! Akhirnya, gue yang turun tangan! Basah kan Lo!”
Aku memperhatikan Vino yang sedang memegang ember cucian yang kosong. Ya! Kosong karena airnya sudah ia tumpahkan ke badanku. Ranjang tempat tidurku menjadi basah. Aku baru ingat jika hari ini aku akan bertemu dengan calon suami yang di pilihkan Ibu untukku.

Di kamar mandi aku sempat melamun. Ternyata Sky itu hanya mimpiku. Dan sebenatar lagi aku akan menikah dengan orang yang aku pun tak tahu siapa pria itu. Aku tak tahu siapa dia. Dan aku pun tak pernah sekalipun bertemu dengannya. Bagaimana jika orangnya itu sudah tua? whoaaa, bakal kabur jika itu benar. Aku tak mau berjodoh dengan orang tua yang seharusnya menjadi Ayahku.

Selesai mandi, aku berpakaian biasa saja. Aku tak mau terlalu heboh. Takut jika calonku adalah bukan yang aku harapkan. Jadi, buat apa aku berdandan habis-habisan untuknya dan keluarganya?
Dengan jantung yang berdegub kencang dan gemetaran, ku langkahkan kakiku ke ruang tamu. Setelah ku suruh Vino untuk menghitung berapa orang yang akan datang, ternyata hanya ada 5 orang termasuk calon suamiku. Vino tak menceritakan bagaimana persisnya si calon suamiku itu. Ia hanya tersenyum dan bilang bahwa aku takkan pernah menyesal jika menerima pria itu menjadi suamiku.

Betapa terkejutnya aku, setelah melihat orang yang berada di hadapanku ternyata…
SKY!!!
“Sky?” alisnya bertaut. “Kau sudah tahu namaku?” tanya laki-laki itu.
“A..aku… nggak! Aku nggak tahu!” sahutku terbata-bata.

Perkenalan keluargapun berlanjut dengan lancarnya. Aku tak menolak jika Sky akan menjadi suamiku. Karena ini memang inginku. Sky ternyata lebih baik dari mimpiku semalam. Ia nyaris tanpa cacat meskipun tak bersayap.

Dan Rasya? Hah! Sudahlah! Dia sudah menjalani hidupnya sendiri dengan menikahi gadis lain. Kemudian, Vino? Haha, dia sudah mundur dan tak ingin lagi menjadi tunanganku. Ia juga sudah mempunyai kekasih lagi. Dan kini mereka sudah menikah setahun sesudah aku menikah degan Sky. Gadis itu adalah teman sekelas kami ketika SMP. Aku hidup bahagia bersama Sky begitupun Vino dan keluarga barunya.

Cerpen Karangan: Hasti F L
Blog: secretdoor28.blogspot.com
Facebook: Hasti Fuji Lestari (hfl)

Cerpen SKY merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjanjian Maut (Part 2)

Oleh:
Cerpen ini lanjutan cerita dari “The Train”, dan “Deja Vu” dan Perjanjian Maut Part 1 “Aku tidak mau!” kataku ketus menolak permohonan Ainara. “Alfi, tolonglah. Hanya kamu harapan negeri

Why Do I Love You

Oleh:
Anas masih berbaring di atas kasurnya. Sambil menikmati musik dengan earphone yang terpasang di telinga. Alunan sebuah lagu berjudul “MY EVERYTHING” yang dipopulerkan oleh salah satu personil Super Junior,

Katakan Dengan Hati (Part 1)

Oleh:
Aahhh… Nyamannya… tempat ini begitu membuatku tenang, serasa ku ingin istirahatkan tubuhku yang lelah ini. Aku rasa aku akan memejamkan mata sebentar saja… “andi… andii…” terngiang suara di kepalaku

Love Story Anak Indigo

Oleh:
Sewaktu aku duduk di kelas 2 suatu SMPN di kota bandung. Aku mengenal seorang cewek bernama Alin, dia itu cantik dan tau apa yang sedang aku rasakan beda dengan

Aku Ingin Menikah

Oleh:
Present.. Entah kapan aku akan merasakannya.. * Apakah karena takdir? Atau hanya suratan nasib hidupku? Berulang kali kutanam benih asmara, namun tak kunjung berbuah. Selama ini aku hanya menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *