Sosiofobia (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 29 March 2016

Malam hari, 2 Desember 2012
Seorang gadis memakai jaket hitam menutup kepalanya dengan topi jaket dan memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. Ia berjalan menyusuri jalan menuju ke sebuah convenience store. Ia mengambil beberapa mie ramen, snack, beberapa minuman kaleng dan bergegas ke kasir.

“500 yen.”
Gadis itu menyerahkan 500 yen.
“Terima kasih, selamat menikmati.” ujar sang Kasir.

Si gadis segera mengambil belanjaannya dan berjalan ke luar. Wajahnya tertutup poni hitam yang sengaja ia panjangkan. Sepanjang jalan merunduk, bibirnya gemetar, sesekali desahan ketakutan terdengar darinya. Apartemen B di Perfektur T, Fukuoka Jepang. SI gadis berlari memencet tombol lift ke lantai 12. Tangannya mulai gemetar. Ting nong. Suara lift memberitahunya kalau ia telah berada di lantai 12. Ia segera berlari menuju kamarnya, 1212. Suara napas tersengal-sengal ke luar dari mulutnya, matanya mulai berair. Si gadis melempar belanjaannya ke arah rak sepatu membuat rak rapi itu menjadi berantakan.

“Sial,” Lirih si Gadis dengan suara bergetar. Ia memegang tangan kanannya dengan tangan kiri yang keduanya sama-sama bergetar. Buk!!! Ia kemudian memukul dinding dengan kepalan tangannya. Ya, sebuah penderitaan dan kemarahan yang belum ia temukan obatnya. Jane, nama si Gadis itu.

Pukul 9 AM, 3 Desember 2012.
“Nnnn.. hoaaahmm,” Jane merenggangkan tangannya ke atas dan mengucek matanya. Jam 9 pagi, waktu bangun bagi Jane walau ia tahu bahwa tak ada yang harus ia kerjakan. “Satu lagi hari menyebalkan,” ucapnya sambil memijat lehernya yang tidak pegal. Jane mencuci mukanya dan mencari belanjaan yang semalam ia lemparkan di depan pintu dan mulai menyajikan “sarapannya”. Kau tahu, itu tak sehat sebenarnya, hanya makan makanan instan setiap hari. Tapi, begitulah kehidupannya. Wajahnya yang cantik dihias dengan lingkaran hitam di bawah matanya.

“Baiklaah, apa yang kita dapat hari ini? Oh! Mie instan! Nyum nyum,” Jane berbicara sendiri dengan wajah yang “bahagia,”
“Eee..ttooo.. hari ini harus ngapain ya?” Ia mengernyitkan dahi.
“Ah! Baru ingat! Gamenya Scnhauder harus selesai.. yosh! No problem,” sambil menyeruput kuah mi terakhir, ia bergumam seakan berbicara dengan orang lain. Usai membereskan kamarnya, ia bergegas ke depan komputrnya.
“Yosh! Shiro, kau baik-baik saja kan hari ini!” Sapa Jan pada komputernya yang ia beri nama Shiro sambil mengusap-usapnya. “Hahaha.. kau harus menemaniku lagi hari ini, oke!” Jane menepuk-nepuk pelan Shiro kemudian menyalakan komputernya.

Sign In
Username: Jus+eas+
Password: ******
Forgot password
Enter!
Welcome! Jus+eas+,
How are you today?
You have 3 messages!

“I’m fine, Shiro! Ehm.. 3 pesan? Schnauder.. Black_Butler.. daan.. eh?” Jane mengernyitkan dahinya.
“Alice? Siapa Alice? Pelangganku perasaan nggak ada yang namanya Alice,” Jane membuka pesan misterius dari Alice.
From: Alice (alice_in_the_wonderland@xxxx.com)
To: Jus+eas+ (justeast121212@xxxx.com)
Subject: Invitation
Congratulation, Ms. Jus+eas+!
“I am Alice and I’d like to invite you to my country! If you are going to come, just say ‘I want to come,’ But, if you’re not, I’ll come to pick you up. Sincerely, Alice.”

“Haa?”

Di tempat lain.
“Kau yakin dia orangnya?” suara berat itu terdengar ragu.
“Ya, Yang Mulia. Jane, 22 tahun, alumni IT dengan predikat cum laude dari Universitas Cambridge. Seorang anak pengusaha kaya, Tuan Hokuto dari XXX Corp. Dia menderita Sosiofobia dan memutuskan tinggal sendiri dan berhenti mengontak rumahnya selama dua tahun terakhir setelah lulus dari Cambridge. Saya positif, tak banyak yang mengenalnya. Ia bekerja sebagai game maker dan game cheater maker di situs game Internasional dengan nama samaran, kami bisa mengurusnya untuk hal ini,” Jawab suara yang lain di belakang pria paruh baya dengan suara berat tersebut.

“Hm.. jadi kau positif tak akan ada yang pernah menyadari jika ia hilang?” Tanya si suara berat itu lagi.
“Positif, yang Mulia,”
“Baiklah, lagi pula, sejauh ini tes menunjukkan bahwa dialah kandidat yang sangat dekat,”

Di apartemen Jane.
“Aneh,” Jane mengabaikan pesan misterius itu dan kembali mengutak-atik komputernya membuat game pesanan Scnhauder. Tik..tik..tik…tak.. suara keyboard memenuhi ruangan. “Haaa! Eh, sudah jam 5 sore?! Kerja memang benar-benar ‘menyenangkan’ Shiro..!” kata Jane sambil merenggangkan tangan dan lehernya yang kaku. “Yosh, istirahat beberapa menit dulu ya ngelihat keadaan,” kata Jane sambil tersenyum pada Shiro dan menuju ke sofa dan menonton berita sambil makan snack yang sudah ia beli.

“Pukul 2 siang tadi, badan meteorology dan geofisika Jepang menyatakan bahwa akan ada gelombang elektromagnetik yang tidak stabil di sekitar Fukuoka. Hal ini kemungkinan disebabkan karena gerhana bulan yang diprediksi akan terjadi pada sore menjelang malam ini juga melibatkan serangkaian kejadian luar biasa pada antariksa dimana Mars yang seharusnya tidak memiliki peranan pada saat terjadinya gerhana.. bla.. bla,”

“Eh? Sebentar malam gerhana? Wah.. bagus, bagus!” mengabaikan berita penting yang lain.
“Baru ingat kalau semalam aku juga beli yakiniku instan! Hehehe,” Jane bergegas ke dapur dan mengabaikan berita yang ia tonton.
“.. Oleh sebab itu, seluruh warga Fukuoka diharapkan untuk mematikan seluruh peralatan elektronik di rumahnya termasuk komputer, televisi, dan lampu. Gelombang kuat elektromagnetik ini diperkirakan akan terjadi 45 menit lagi di daerah Momochi Sawara-ku*,”
(*Sawara-ku, salah satu distrik di Fukuoka dengan luas daerah 95,88 km2 dan jumlah populasi 2.209,42/km2)

40 menit sebelum gelombang elektromagnetik.
“Bintang kelap-kelip.. nanana…” ia menyanyi. Jane masih saja menyiapkan yakinikunya di dapur dan tidak menyadari peristiwa besar yang sebentar lagi akan menyapa kehidupannya. “Tinggal nasi dan voila! Yosh.. laparr,” Jane mulai menghidangkan makanan yang seharusnya jadi makan malamnya. 30 menit sebelum gelombang elektromagnetik. Jane telah selesai membersihkan meja makan. “Ah! Sebaiknya aku mencuci.. sudah seminggu aku tak mencuci!” Jane menepuk jidatnya dan menuju ke kamar mandi tempatnya mencuci. 15 menit sebelum gelombang elektromagnetik Click. Suara penyetelan mesin cuci. “30 menit,”

“Apa lagi yaa..? Hm.. kayaknya tinggal nunggu aja nih,” gumam Jane.
14 menit sebelum gelombang elektromagnetik.
“Yo, Shiro.. istirahat udah selesai, lanjut kerja lagi,” Jane hendak duduk tiba-tiba.
Plok! Jane menepuk kepalanya. “Aku lupa matiin televisinya,” Jane segera beranjak ke arah ruang nonton dan melihat siaran di TV terganggu. Abu-abu.
“Eh? Apa kabelnnya?” mencoba melihat kebelakang TV. “Tersambung kok,” katanya bermasa bodo dan mematikan Tvnya. Sedetik sebelum mati, layar TV memunculkan sebuah logo aneh. Alice. Tapi Jane tak menggubrisya.

11 menit sebelum gelombang elektromagnetik.
“Baiklah, sekarang,” Jane kembali hendak duduk sebelum..
Tiiiit tiiit tiit… suara mesin cuci memanggil Jane.
“Ampuunn.. apa lagi sih,” Jane kembali beranjak mengecek mesin cuci. Sesampai di depan mesin cuci, mesin cucinya tampak normal beroperasi seperti biasa.
“Hmmh,” Jane menghela napas panjang. “Hari yang melelahkan,” desahnya (Oi, oi, kau tak melakukan apa-apa selain di depan komputer dan bergerak sedikit!)

10 menit sebelum gelombang elektromagnetik terjadi. Jane duduk sejenak di sofa ruang tamu, ia tiba-tiba berpikir tentang pesan aneh dari Alice. Seperti sebuah manga, batinnya. “Sudah berapa lama, ya?” pandangannya menatap ke arah langit-langit kamar apartemennya. Ia mulai memikirkan sebuah alasan yang mungkin menjadi penyebab ia membenci lingkungan luar, membenci manusia walau ia juga manusia. Bully. Satu kata itu mungkin adalah alasan besar yang melatarbelakangi ketakutannya. Jane menarik napas dalam. “Ah! Sudah sudah! Memikirkan masa lalu tak akan membuatku menjadi lebih baik,” Jane menggelengkan kepalanya kuat, mencoba melupakan awal masa kelam hidupnya. 3 menit sebelum gelombang elektromagnetik. “Yosh, Shiro!” Jane telah duduk di depan komputer kesayangannya.

[Jane]
Sebuah tulisan namanya muncul pada layar komputer.
“Shiro?”
[Jane][Jane][Jane][Jane][Jane]
Tulisan namanya berulang kali muncul hingga menutup seluruh layar.

“Apaan nih?!!” Jane gelagapan. Ia segera mengetikkan berbagai kode untuk menghentikan pop out namanya. 60 detik sebelum gelombang elektromagnetik. Layar komputer Jane tiba-tiba buram sesekali lalu kembali pada munculan namanya yang menutupi layar, hal itu terjadi berulang-ulang. Tiba-tiba, mesin cucinya berbunyi, televisinya menyala dengan sendirinya dan menunjukkan tampilan buram. 30 detik sebelum gelombang elektromagnetik Lantai kamar apartemen Jane bergoyang.

“Wha.. what’s this? Shiro.. Shiro.. come on!” wajah Jane pucat, ia berpegangan pada dinding di belakang Shiro sambil terus berusaha memperbaiki Shiro. Ia tak akan ke luar kamarnya walau gempa terjadi.
10,
Gempa berhenti.
9,
“Fiuh.. Shiroo.. what’s with you? (kenapa denganmu?),”
7, 6, 5, 4, 3, 2..
“Ah?
1..

Sebuah cahaya putih yang sangat terang keluar dari layar Shiro, memenuhi kamar Jane, menarik Jane masuk ke dalamnya. “Aaaahhggg!!!!” Jane tersedot oleh sebuah cahaya, badannya keram, tubuhnya lesu. Gelap. Jane tak sadarkan diri.

Bersambung

Cerpen Karangan: Cerita Za
Facebook: Cerita Za

Cerpen Sosiofobia (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakura No Utsukushi Machi

Oleh:
Pagi itu sangat cerah sekali. Musim dingin telah berganti semi. Tepat pukul 10 pagi tampaklah seorang gadis kecil berumur sekitar 6 tahun, dan berkucir dua yang duduk sendirian di

Cinta dan Takdir

Oleh:
“Jay, lihat gadis itu!” Jill menunjuk ke arah seorang gadis berambut pendek cantik yang baru saja ditinggal mobilnya. “Aku ingin punya sahabat seperti itu. Dan mungkin ia bisa aku

Saat Terakhir di Stasiun

Oleh:
Ismail Irawan, cowok berusia tujuh belas tahun yang suka nongkrong di stasiun itu, lagi-lagi melihat seorang gadis cantik berbaju putih di seberang rel kereta. Sambil menunggu kereta yang mengantarnya

Talmore

Oleh:
Jauh di tengah hutan Paskah, hiduplah seorang penyihir bersama anak perempuannya. Ia adalah seorang guru sihir CEPRAN School yang sedang menjalani masa cutinya. Ia sengaja memilih berlibur di dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sosiofobia (Part 1)”

  1. sheriyu says:

    heii heii! kapan part 2 nya dibuat?
    saya sudah lmaa penasaran , cerita kamu menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *