Starlight

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 7 May 2016

Kalinya aku pergi tanpa izin mereka. Pergi bersama 3 orang asing, yang dulu ku anggap termasuk orang-orang aneh di sekolah. Kami, menatap satu sama lain. Sejujurnya, masih ada ragu di dalam diri kami. Ku lihat cermin yang ada di hadapanku saat ini, lalu menghela napas. Bagaimana kalau kami tak bisa kembali? Lalu bagaimana kalau salah satu dari kami akan pergi? Tapi apa pun resikonya, kami akan tetap pergi. Pergi ke tempat asing, untuk menghilangkan rasa penasaran di diri kami. Ku pikir, jiwa petualanganku sudah memanggil-manggil. Ku tatap seseorang yang berada di sampingku, dia mengangguk seolah memberi isyarat kalau dia sudah siap. Lalu, kedua temanku yang lainnya, ikut mengangguk. Dan kami pun siap berpetualang.

Satu hari sebelum petualangan dimulai. Aku mendengus kesal saat guruku akan membagikan kelompok Fisika. Bagiku, membuat tugas sendiri itu akan lebih mudah, daripada berkelompok. Karena ada beberapa kemungkinan kalau kami mengerjakan tugas secara berkelompok:

1. Salah satu dari mereka hanya akan melihat saja, tanpa membantu.
2. Salah satu dari mereka hanya asyik berselfie lalu mengepostnya di instagram, dengan caption lagi kerja kelompok. Yah, kemungkinan yang melakukan itu adalah cewek, kecuali aku tentunya, tidak, terima kasih.
3. Salah satu dari mereka hanya menyuruh salah satu temannya mengerjakan tugasnya, lalu membayar.
What? Coba kalian pikir, ketika temanmu sudah mengerjakan tugas kelompokmu sebanyak mungkin, bahkan dia rela tidak tidur siang untuk mengerjakan itu, dia juga merelakan waktu bermainnya untuk mengerjakan tugasmu! Enak sekali hidupmu!

“Rana, Orion, Lyra, hmm.. sama Galaksi,”

Saat namaku disebut, aku berharap kalau teman sekelompokku adalah orang yang bisa diandalkan. Dan saat bu Guru sudah melanjutkan nama kelompokku, aku pun menghela napas. Iya sih, teman-teman sekelompokku adalah orang yang bisa diandalkan. Tapi mengingat mereka adalah tiga orang yang merupakan siswa-siswi yang paling berprestasi di sekolah, membuatku merasa kalau diriku tak lebih seperti orang kecil yang berdiri di tengah-tengah para miliarder dunia. Setelah bu Kikan membacakan nama-nama anggota kelompok kami, kami pun disuruh mendiskusikan tentang kapan kami akan melaksanakan kerja kelompok tersebut, tak lupa pula bu Kikan menyuruh masing-masing kelompok memilih ketuanya.

Kelompokku memilih Galaksi yang jadi ketuanya. Si Galaksi pun cuma bergumam tak jelas. Macam orang bisu. Kelompokku terdiri dari orang-orang yang pintar, tapi aneh. Mereka tak pernah berteman, dan selalu menyendiri. Tak pernah aku melihat mereka pergi ke kantin bersama orang lain, mereka sendiri, macam jomblo! Lyra -salah satu teman sekelompokku, adalah orang yang paling pendiam, lemah, dan cengeng. Disentil dikit nangis. Terus kalau Orion aku gak tahu, gak pernah kenalan soalnya. Tapi kata orang-orang dia baik. Lalu ada juga si Galaksi, wih, itu cowok jangan ditanya deh perilakunya gimana, jahat pokoknya. Omongannya tajam banget, dingin, dan gak suka keributan. Tapi harus aku akui sih dia itu cowok paling terganteng yang pernah ku temui, setelah ayahku tentunya. Kelompokku memilih mengerjakan tugas di rumahku nanti sore. Aku pun mengiyakan.

Sorenya kami sudah berkumpul di rumahku, kami memilih belajar di ruang perpustakaan milik ayah. Ku lihat Lyra senang mendengarnya, sepertinya memang suka dengan yang namanya perpustakaan. Aku sih juga suka perpustakaan, tapi untuk tidur atau menonton drama korea diam-diam, karena takut ketahuan sama bunda gak belajar. Kami memulai mencari materi-materi yang disuruh oleh bu Kikan, aku dan Orion -yang memang tak suka membaca- asyik mencarinya di google, sedangkan Galaksi dan Lyra sedang serius membaca buku yang ada di perpustakaan, sama beberapa buku yang mereka bawa dari rumah.

“Ini disalin aja Ran,” Rion menyuruhku untuk menyalin salah satu materi tentang Hukum Archimedes di salah satu blog yang baru saja kami buka. “Udah aku bilang kan kamu hati-hati! Kamu pikir ini buku punyamu? Kalau ayahnya Rana marah bagaimana?!” Aku dan Orion saling tatap saat mendengar seorang lelaki sedang membentak. Kami segera menghampiri si pemilik suara, dan bertanya kenapa. Lalu dengan wajah marahnya orang itu -Galaksi- memberitahu kalau Lyra sudah membuat buku ayah basah karena tumpahan jus jeruk yang tersenggol oleh tangan Lyra.

“Aku gak sengaja..sumpah,” ucap Lyra di sela isakannya.
Aku menghela napas, lalu mengusap-usap punggung Lyra agar dia tenang, “Nggak apa-apa, Ayahku pasti maklumi,”
“Maaf.. aku cuma mau ngambil itu tadi,” Ucap Lyra lagi, sambil menunjuk sebuah kertas kusam yang ada di dekat jus jeruk yang tumpah itu. Ku ambil kertas itu, lalu membaca perlahan sebuah tulisan yang sudah tak jelas itu karena sepertinya kertas itu adalah kertas yang sudah ada bertahun-tahun lamanya, dan juga kertas itu sudah terkena tumpahan jus. Makin tak jelas lah tulisannya.

“Aku.. ber..cermin.. di.. ba..lik.. tempat.. yang menjulang.. in..i,”

SRETT..

Rak-rak di perpustakaanku berbalik, dan menampakkan sebuah ruangan kecil. Kami berempat terdiam, lalu Orion maju terlebih dahulu, ia masuk ke dalam ruangan kecil itu, dan di belakangnya kami mengikuti. Aku melihat seluruh isi penjuru ruangan itu, tak ada apa-apa. Di ruangan itu hanya ada cermin berukuran cukup besar. Aku menatap cermin itu, lalu menyentuhnya. “Astaga!” Aku tersentak kaget, saat cermin yang ku pegang tadi seolah bisa tembus. Sekali lagi aku menjulurkan tangaku, dan tanganku seperti masuk ke dalam ruangan kosong. Aku mengeluarkan tanganku kembali, dan memanggil Orion, Galaksi, dan Lyra mencoba cermin itu lagi. Dan hasilnya sama seperti yang aku lakukan tadi. Orion langsung menyimpulkan di dalam cermin ini ada ruangan, pasti. Karena penasaran, aku -maksudku kami, memutuskan kalau besok akan mencoba masuk ke dalam cermin itu.

Awal petualangan mereka. Aku menatap apa yang ada di sekitarku, hah? Tempat apa ini? Ku akui tempat ini memang indah, banyak bintang yang bertaburan di langitnya, dan sebuah rumah kecil yang berderet-deret membentuk sebuah persegi. Di tengah-tengah persegi itu ada sebuah lapangan lumayan besar, dan di situlah aku kini berdiri. Tapi tunggu! Di mana Galaksi, Lyra, dan juga Orion? Aku sendiri!

“ORION! LYRA! GALAKSI! KALIAN DI MANA?” Aku berteriak ketakutan.
“Hai anak muda! Kau berisik sekali! Siapa kau? Berani-beraninya berteriak di desa kami?” Ku lihat seorang bapak tua yang sedang memarahiku tadi. Sambil mengisap rok*knya, dia menatapku garang.
“Anu.. Pak.. adu.. maaf, sa-”
“Dia teman saya, Pak. Maaf,” Aku melihat orang yang baru saja berbicara itu. Orion, iya dia Orion.
“Oh, teman kau ternyata bujang. Ku pikir kau tersesat di sini sendirian, ternyata berdua,”
“Berempat Pak, tapi yang dua lagi saya gak tahu di mana,”
Bapak itu mengangguk-angguk paham, “Ya sudah, kau bawalah masuk kawan kau itu. Nanti kalau aku melihat dua temanmu itu akan ku panggil kalian,”

Orion mengangguk dan membawaku masuk. “Yon, ini tempat apa sih?” Tanyaku pada Orion.
“Kata Bapak tadi ini namanya desa Starlight, keren kan? Cocok sih namanya, cahaya bintangnya emang keren pake banget. Desa ini penghuninya lelaki yang udah gak beristri semua, duda kalau bahasa kita. Yang kerennya desa ini ternyata desa terpencil di kepulauan Riau, bayangin aja di kepulauan Riau ada desa kayak gini? Kalau gitu aku bakal ngajak Ayahku untuk berlibur di sini! Tapi sayang, kata Bapak tadi, gak ada yang tahu tentang desa ini, ada yang tahu, tapi cuma sekedar tahu aja, gak pernah ngelihat, makanya kita gak boleh ngasih tahu siapa pun tentang desa ini,”

Wow. Ini kalimat terpanjang yang pernah Orion katakan. Oke, itu nggak penting. Desa ini memang menakjubkan, Desa Starlight! “Lalu gimana kita pulang Orion? Galaksi sama Lyra belum ditemukan,”
Orion menghela napas, “Aku gak tahu. Kata Bapak tadi, kita bisa tinggal disini hanya boleh tinggal di sini sampai subuh, setelah itu kita disuruh pulang. Kalau lewat dari subuh kita belum pulang, kita akan terjebak di desa ini selamanya,”

Aku terdiam sejenak. Pikiranku asyik bertanya-tanya ke mana Galaksi dan Lyra? Padahal mereka pergi bersama kami. Apa mereka tersesat? Nah, ini yang aku takutkan, bagaimana kalau mereka tersesat, dan tak tahu bagaimana pulang. Mereka akan tinggal di sini selamanya? Dan Lyra akan menjadi perempuan pertama yang tinggal di kampung ini? Tidak, tidak, jangan sampai deh.

“Ran.. tadi di belakang rumah Bapak ini, aku ngelihat bangunan kecil, siapa tahu itu bisa jadi petunjuk kita,”
“Ya udah, ayo kita ke sana!”

Kami pun pergi secara diam-diam ke bangunan kecil itu. Setelah tiba di bangunan itu, kami segera masuk, bangunan itu tidak dikunci. Kami menghidupkan senter -yang kami ambil dari rumah bapak tadi- sebagai penerangan. Bangunan kumuh ini sepertinya jarang sekali dipakai, atau tak pernah dipakai. Banyak kecoa dan tikus berkeliaran, untung saja aku bukan gadis yang penakut akan kecoa dan teman-temannya, makanya aku tak berteriak histeris yang akan membuat telinga siapa saja pekak.

“Aku kira kamu takut kecoa,” ucapan Orion memecah keheningan di bangunan ini.
“Yah, setidaknya itu hanya kecoa, toh kecoa tak akan membunuhku, dia tak berbisa seperti ular, dan giginya pun tak tajam seperti buaya,”
“Iya kamu betul. Halo? Apakah ada orang?!” Orion berteriak.
“Galaksi! Lyra! Kalian di mana?”
Tak ada yang menjawab sedikit pun, hanya suar jangkrik, suara cicitan tikus yang sesekali terdengar. Kami mencoba memanggil lagi.

“Orion.. Rana.. kami di sini!” suara teriakan yang cukup jelas terdengar itu, membuat kami saling tatap, lalu berlari menuju pintu sebuah ruangan yang menunjukkan asal suara.
“Lyr! Itu kamu? Lyr? Kamu sama Galaksi kan?” Orion berteriak dari balik pintu, sesekali ia mencoba mendobrak pintu yang terkunci itu.
“Tolong kami,” suara lirihan Lyra pun kembali terdengar.
“Orion pintu ini pake kata sandi,” ucapku.
“Sh-t!” Aku menelan ludahku susah payah, Orion murka. Aku melihatnya mencoba mengotak-atik sandi itu. Tapi yang hanya terdengar suara ‘anda gagal, tuan’.

‘Kau membutuhkan clue?’ suara dari mesin yang tertempel di pintu itu pun kembali berbunyi, setelah 5 kali kami gagal membukanya.
“Ya,” kata Orion.
‘Kau membutuhkan clue?’ suara itu pun kembali terdengar lagi.
What! Padahal Orion udah bilang ‘iya’ tadi.
“Iya setan!”
‘Kau membutuhkan clue?’

Aku pun menggantikan Orion, karena Orion benar-benar sudah putus asa. “Iya saya mau, berikan clue-nya,”
‘ajjskdah skxhnancjhbvlnc EUREKA!’ Hah? Suara apa itu tadi, yang ku dengar hanya kata Eureka, dan yang lainnya hanya seperti kata tak jelas yang membuatku kebingungan.
“Archimedes.. Archimedes,” Orion menggumam pelan. Gumaman yang membuat kami akhirnya bisa membuka pintu sialan itu.

“Terima kasih, kemarin itu.. petualangan yang cukup seru,” ucap seorang lelaki yang ada di sampingku.

Aku hanya tersenyum, sambil memainkan rubik yang kemarin diberikan abangku, dapet hadiah dari lempar gelang di pasar malam, katanya. Dua hari sudah berlalu, dan kami masih belum melupakan sesuatu yang terjadi di Desa Starlight itu, mulai dari menyelamatkan Galaksi dan Lyra, dan kau tahu apa yang terjadi setelah itu? Pak Opak -bapak yang memarahiku waktu itu- menemukan kami di bangunan itu, dengan wajah khawatir dia menyuruh kami membawa Lyra dan Galaksi ke dalam rumahnya. Galaksi pingsan, kata Orion dia phobia gelap, sedangkan Lyra -si cewek cengeng itu- ternyata masih bisa menahan ketakutannya, sehingga dia bisa bertahan di sana. Kata Lyra waktu kami masuk ke dalam cermin itu, dia dan Galaksi tiba-tiba sudah ada di tempat itu. Dan sialnya pintu itu terkunci dari luar.

Selagi menunggu subuh, Pak Opak menceritakan pada kami kalau dulu ayah adalah orang yang pernah tinggal di sini. Ayah kemudian hendak merantau ke sebuah desa kecil yang katanya ada pabrik untuk bekerja di sana. Desa Perawang, itu memang desa tempat kami tinggal. Desa yang sekarang sudah terlalu maju, dan penuh dengan polusi pabrik. Maka menjelang subuh itu, perlahan-lahan rasa penasaran kami pun hilang.

“Aku gak nyangka kalau kamu orang yang pemberani, aku kira kamu,”
“Penakut? Aku bukan orang kayak kamu Galaksi, di kamusku gak ada yang namanya kata takut,” ucapku dengan nada mengejeknya. Galaksi mendengus geli, “Aku phobia gelap itu udah takdir, jangan mengejek,”
“Hahahha,” Aku tertawa.
“Kalian berdua ngapain di sini?”

Kami menoleh, dan ku dapati Orion dan Lyra sedang menatap kami bingung. Apa yang salah? Kami hanya duduk di atas gundukan tanah yang ditanami pohon sawit ini, sambil bercerita. “Kalian berdua gak pacaran kan?” Tanya Lyra pelan.
Aku dan Galaksi saling berpandangan lalu tersenyum, “Enggak,”
Mereka pun percaya, dan ikut duduk bersama kami.

Percayalah, kau tak kan tahu bagaimana rasanya memiliki teman seperti mereka. Teman yang benar-benar teman, walau aku belum mengenal mereka sepenuhnya, tapi aku seperti sudah mengenal mereka bertahun-tahun lamanya. Aku, Dirana Mentari, dan ku harap persahabatan kami tak sesingkat seorang playboy memacari targetnya, dan sesingkat seorang pesan anak alay zaman sekarang. Aku ingin persahabatan kami seperti si Cahaya Bintang yang kadang meredup tapi selalu ada selama-lamanya.

If you ever find yourself stuck in the middle of the sea,
I’ll sail the world to find you
If you ever find yourself lost in the dark and you can’t see,
I’ll be the light to guide you
Find out what we’re made of
When we are called to help our friends in need — Bruno Mars, Count on me

Tamat

Cerpen Karangan: Fenni Rahmi Putri
Blog: z939.wordpress.com

Cerpen Starlight merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lexarion (Part 2)

Oleh:
“Kalau begitu, mari kita bicara dengannya.” Reqsaz bertekad. Reqsaz mengetuk pintu kamar Rallen. Mendengar pintu kamarnya diketuk, Rallen berseru, “Siapa di sana?” “Ini aku, Reqsaz dan Kastev.” Reqsaz membalas

Pilu

Oleh:
Air mata itu menetes lagi di kedua pipimu dan terburu-buru kau menghapusnya. Seakan takut dilihat orang. Padahal tak ada satu pun yang memperhatikanmu. Hanya aku. Kau bergegas lari ke

Melawan Lucifer

Oleh:
Sering kita melihat ilustrasi makhluk Tuhan yang dikisahkan membangkang terhadap perintah-Nya, yaitu bertanduk, bertubuh merah, bertaring atau apapun itu yang menyeramkan. Dia telah menunjukkan wujud aslinya. Semua orang bisa

After Dusk (Part 1)

Oleh:
Lelaki itu berdiri memandang ke ujung senja tempat matahari yang samar tak terlihat lagi. Angin sore menerpa permukaan kulit memberikan perasaan kering yang tak biasa. Perasaan kosong itu begitu

Khayalan Zahra

Oleh:
Semarang, 12 Februari 2012. Gemercik suara air terdengar menetes di sebuah bilik kamar gadis bermata teduh. Ia meraupkan banyu untuk mensucikan diri sebelum mengahadap Ilahi. Dua rakaat pertama jiwanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *