Sullivan Pemburu Drakula

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 4 April 2015

Desanya rapat dengan rumah, dia tinggal pada salah satu rumah yang kecil, sendirian dan hanya berteman lemari buku yang selalu dia bersihkan. Dia melongok lewat jendela, bulan tertutup awan-awan, lalu dia memperhatikan jalan besar depan rumahnya, yang mulai basah karena rintik hujan. Hujan pertama bulan ini, November. Oh ya, aku belum memperkenalkan namanya, maaf. Dia punya nama cukup bagus, setidaknya menurutku, ‘Jonshon Parker’ seperti nama tokoh Spiderman. Dia seorang yatim piatu, sekarang dia bekerja sebagai petugas kebersihan pada sebuah toko buah.

Seminggu lalu, ketika dia sedang melakukan pekerjaannya di toko buah. Lonceng pintu berbunyi dan seseorang masuk, jonshon tidak bisa melepaskan pandangan dari dia. Rambutnya panjang sepinggang, hitam dan lurus, sebagian poni menutupi sebagian mata kanannya, kulitnya putih tapi agak pucat. Dia memandang tajam ke arah jon, tapi jon langsung berpura-pura tidak melihat dia. Jon punya kekurangan saat bertemu perempuan, jon sangat pemalu. Selang beberapa menit, jon berusaha melihat lagi, tapi perempuan itu sudah tidak ada. Dia sudah lenyap, jon menanyakan pada pemilik toko tentang perempuan tadi, pemilik toko bilang dia orang baru yang pindah ke desa ini. Jon menanyakan namanya, tapi pemilik toko tidak menanyakan hal itu.

Dia duduk setelah sebelum itu mengambil buku dari rak bukunya, baru dia membuka bukunya, terdengar sebuah teriakan. Dia bergegas keluar, saat itu gerimis telah berubah jadi hujan yang deras, dia menerawang sebisanya darimana asal suara tadi. Teriakan itu datang lagi, seorang perempuan entah dimana, mata jon memicing saat melihat dari kejauhan sedang berdiri depan pintunya yang terbuka, dia perempuan yang berteriak. Jon berlari sambil bingung untuk sesaat, kenapa bisa orang-orang desa tidak mendengar ada teriakan sekencang itu. Dia melindungi kepalanya dengan kedua tangan karena lupa bawa payung. Rumah itu cukup besar, dan saat jon sudah dekat dan jelas, dia tahu siapa yang berteriak, ‘Perempuan yang dia temui minggu lalu’. Dia tersenyum pada jon “Terima kasih”
“Ada kejadian apa nona?”
“Itu..” dia menunjuk ke meja makan, ada seseorang yang sedang duduk. Perempuan itu lalu menutup wajah dengan tangannya seolah ketakutan. Jon berjalan perlahan, dia menyeka air hujan di wajahnya, dia berjalan perlahan dan memutari pria paruh baya yang terduduk itu. Wajah dia berlumuran darah, untuk sesaat jon tidak mengerti dengan yang terjadi. Lelaki tua itu seperti tertidur sambil duduk, darah yang menempel pada hampir seluruh wajahnya. Jon membuka kemejanya, dia menyeka darah yang ada pada wajah si lelaki tua. “Sebenarnya apa yang terjadi nona” tanya jon.
“Dia, dia” perempuan itu terbata. Lelaki tua itu tiba-tiba mendelik dan mencengkram jon, mulutnya menganga, dua buah taringnya terlihat jelas. Jon mendorongnya sebisa mungkin, lelaki tua itu terlempar hingga terbaring cukup lama.
“Nona, apa kau memberi dia makan”
“Maafkan aku”
“Tidak perlu, ini sudah terlambat” jon memandang lelaki tua yang masih terbaring, untuk ukuran drakula dia sangat lemah. Perempuan tadi menggigit leher jon, “kau, ternyata” jon tidak punya kekuatan lagi, daya hisap perempuan itu sangat kuat, lelaki tua itu lalu bangun dan ikut menghisap darah jon.
“Bagus anakku” katanya

Bekasi gempar dengan berita pembunuhan, terutama desa Lipan, tidak pernah ada kasus seperti ini sebelumnya. Mayat jon ditemukan dekat jalan besar, dengan tubuh sangat pucat, polisi kebingungan apa penyebab kematiannya. Tim forensik telah menemukan dua pasang bekas tusukan pada leher kiri dan kanan, tapi para polisi tidak bisa percaya pada takhayul, dia hanya memperkirakan pembunuh adalah manusia biasa. Dengan jaket kulit hitam dan bot besarnya, dia berjalan ke kerumunan polisi, melewati garis polisi dengan sikap masa bodoh. Dia memegang leher jon, ‘drakula nomaden’, dia langsung bisa menyimpulkan, “ini akan sulit” gumamnya. Warga dan polisi dengan bingung memperhatikan dia, beberapa polisi malahan dengan tegas memperingati dia untuk tidak memegang korban.
Dia lari dari situ dan memulai pencariannya, sudah lama dia memburu drakula nomaden, mereka sangat sulit ditangkap karena selalu berpindah-pindah. Itu adalah tantangan tersendiri bagi pemburu drakula. Dia mengendus, hidungnya bergerak-gerak dan dia langsung tahu dimana mereka tinggal. Pintu dia buka, seperti dugaan dia, mereka sudah tidak ada. Meja dan bangku berserakan, entah apa yang telah terjadi, dia menebak kalau jon sempat berontak karena serangan. Dia masuk ke sebuah kamar dan membuka lemari “Perempuan”, dia juga mencium bau orang tua. Ayah dan anak perempuannya, aku tahu mereka.

Singkat cerita, dan ini terjadi sekitar tiga tahun lalu. Waktu itu ada sebuah peristiwa, seorang perempuan ditangkap polisi karena kedapatan mencuri obat untuk ayahnya. Dia lalu diselamatkan seseorang yang lalu membawa dia dan ayahnya untuk tinggal bersama. Seorang pejabat tinggi, tapi setelah itu si perempuan dan ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Belakangan diketahui kalau pejabat tinggi itu adalah salah satu pemimpin drakula. Dia mengubah Nana dan ayahnya menjadi drakula, agar ayahnya bisa sembuh dari sakitnya dan Nana abadi dengan kecantikannya.

Pria berjaket hitam itu bernama Sullivan, saat itu dia masih remaja, di desanya dia punya seorang guru perempuan baru yang cantik. Sullivan terpesona. Saat itu sang guru mengajak Sullivan untuk main ke rumah, karena sang guru juga suka pada Sullivan. Saat sulli datang berkunjung, sesuatu terjadi, ibu guru yang memang menyukai dia, mengajaknya untuk berubah menjadi drakula. “Kita akan abadi dan bersama” begitu rayunya.
Sullivan menolak, dia bergegas pergi dari rumah perempuan itu. Malam tiba, perempuan itu murka karena penolakan Sullivan, dia membunuh seluruh warga desa termasuk keluarga Sulli, tapi dia tidak membunuh Sulli. Sejak saat itu dia bersumpah akan membunuh semua drakula.

Dia berjalan masuk ke sebuah bar, di daerah kota Jakarta timur yang tidak jauh dari desa Lipan. Baunya semakin jelas, dia membuka pintu bar, beberapa orang memandang dengan tatapan benci. Drakula saat ini punya bau yang tajam dan satu hal lagi, dia kebal dengan sinar matahari, tapi hanya beberapa saja yang punya kemampuan seperti itu. Tetua dan pemimpin agung tidak punya kemampuan kebal matahari, tapi kebanyakan dari mereka bisa mengubah diri menjadi kelelawar.

Dia menyambangi meja bartender, tepat sebelahnya “Sudah lama ya Sulli”
“Ya” dia tersenyum “Semalam pesta menyenangkan hah?”
Nana tersenyum, “Kau akan mati, kalau membunuhku disini”
Sulli memandang mata-mata yang masih mengawasi gerak-geriknya, “mereka semua sepertimu?”
“Tentu saja tidak, akulah pemimpin disini”
“Kasihan mereka, diatur oleh perempuan sepertimu” sulli memandang tajam ke arah jendela besar yang tertutup gorden. Dia melangkah ke meja bundar kosong, mengangkat meja bundar itu seolah piring, dia melemparkannya pada salah satu jendela besar. Dengan panik semua drakula berlarian, dia melemparkan meja lagi, lagi dan lagi. Ruangan itu kini tidak lagi remang dengan cahaya kuning lampu, tapi terang dengan cahaya kuning mentari. Drakula-drakula itu mati terbakar dan sangat sedikit yang bisa melarikan diri menuju meja bartender untuk berlindung dari mentari. Sullivan mengeluarkan Revolver dari sakunya, namun saat menengok ke tempat nana tadi terduduk, dia sudah tidak ada. Dia berlari secepat yang dia bisa, sementara beberapa drakula telah habis terbakar, dia menuju pintu belakang bar, ruangan itu sangat gelap. Dia melangkah dengan agak perlahan, sesuatu menerkam dia tiba-tiba, nana. Sulli segera melemparkannya hingga dia menubruk meja bartender, tapi nana cepat bangkit lagi sehingga dia bisa mengelak dari peluru perak sulli.

Nana berlari keluar bar, sulli bangkit dan bergegas mengejarnya. Entah kemana nana, tapi cara dia untuk berlari keluar adalah cerdik, kerumun orang yang berdatangan melihat bar hancur, membuat nana tidak terlihat. Sulli terus mengendusnya, dia berjalan memutar dari yang seharusnya, dia menyelip lewat kerumunan orang dan dia yakin nana masih berada di kerumunan ini.

Polisi mulai berdatangan, sulli merunduk agar tidak kelihatan, dia tahu mungkin polisi akan curiga kejadian ini ada kaitan dengan sulli. Sulli sering sekali tertangkap polisi karena perbuatan ini, tapi dia selalu bisa meloloskan diri.

Sulli mencengkram tangannya, dia menodongkan revolver tepat di pinggang nana. “Kena kau”, suara dentuman itu pun berbunyi, suara revolver sulli.
“Maafkan aku nana”
“Tidak apa” dia tersenyum, dan nana mulai terbakar, lalu menjadi debu dan terbang terbawa angin. Orang-orang yang melihat seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kebanyakan mengucek-ngucek matanya, sulli hanya tersenyum, “akhirnya” gumam dia. Sulli langsung polisi bawa untuk dipenjara lagi, tapi sekarang dia sudah tenang, mungkin dia akan mendekam dalam penjara cukup lama, sebagai liburan. Dia belum pernah satu hari pun berhenti memikirkan dendam terhadap drakula, tapi sekarang dia sudah agak lega.

Cerpen Karangan: Aldy Verdiana
Facebook: aldy.verdiana[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Sullivan Pemburu Drakula merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Aneh

Oleh:
Jonathan terbangun di pagi hari dan mendapati semua orang di seluruh dunia telah menghilang. Hari itu, jam menunjukan pukul 7.15, alarm berdering memenuhi seisi kamar. Dengan malas Jonathan bangkit

Monster Love (Part 1) Pertemuan

Oleh:
Semua berawal dari sebuah planet kecil bernama Evola yang mendekati kehancuan karena serangan bangsa Lurux yang ingin menguasai planet tersebut, sang raja yang harus berjuang berperang matian-matian melawan musuhnya

Jam Pemutar Waktu

Oleh:
Halo, selamat pagi! Dhanis, Nisa dan Elya ada petualangan yang seru nih. Yuk ikutan ngerasain petualangan Dhanis, Nisa dan Elya ya! Gimana ya, petualangan yang membuat ketiga anak itu

Dreams

Oleh:
Kulihat kristal cair akan mendarat di telapak tanganku. Beberapa detik benda itu tepat membasahi tanganku, hingga seluruh tubuhku. Dalam sekejap, tubuhku telah kering kembali. Aku terhenyak, mengingat sejak kapan

Cincin di Taman

Oleh:
“Kring… kring,…” suara jam weker Dira yang sudah berdering untuk membangunkannya. “Hoaii… aku harus segera bersiap untuk pergi joging bersama Lili” kata Dira dan segera bangun dari tempat tidurnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *