Sumpah Langit Bumi (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 31 March 2016

“Ibu.. Ayolah.. aku sudah besar, aku dapat berburu sendiri, aku bisa menjaga diri. Bahkan akan aku jamin, aku akan pulang dengan selamat!” Ucap seorang putri cantik dari ‘Kerajaan Barwasan’. “Putriku! Sekeras apa pun kau memohon kepadaku, tetap saja kau tak akan menerima izin dariku.” Ucap ibundanya tegas.
“Ibu! Kenapa kau selalu saja memusuhiku? Aku merasa ada sesosok sifat ibu tiri dalam dirimu.” Gurau putri Levitta.

“Wah, wah.. putriku.. kau bisa bisanya ya.. mengejekku.” Gurau ibundanya.
“Maaf ratu, tuan puteri. Salam! Sekarang keadaan genting, kerajaan diserang secara mendadak oleh pasukan kerajaan Fassa. Kita harus pergi, berhubung keadaan prajurit kita yang masih belum sehat, jadi..” Ucap panglima kerajaan terpotong.
“Panglima Tio! Segera siapkan pasukan! Biar aku sendiri yang memimpin peperangan ini!” Ucap putri Levitta berani.
“Tapi tuan putri, kau ini..”

“Tidak putriku, aku tidak akan mengizinkanmu untuk berperang. Itu berbahaya! kau tahu!” Tolak ibundanya.
“Ibunda.. Apa pun akan aku lakukan demi kerajaan kita, demi rakyat kita. Selagi Ayahanda sedang ada pertemuan. Ini merupakan tugasku untuk mewakili Ayahanda dalam perang ini.” Ucap putri Levitta berani. Ibundanya terharu akan keberaniannya. “Putriku.. sebenarnya aku tidak akan pernah mengizinkanmu, tapi.. Berangkatlah putriku. Bela kebajikan!” Ucap ibundanya yang perlahan mulai berani.
“Baiklah! Terma kasih Ibunda. Panglima Tio, ayo!” Ucapnya tegas.

Dengan berbekal seekor kuda perang, sebuah pedang dan busur panah mereka berangkat menuju medan perang. Sesampainya mereka di medan perang. Tuan putri Levitta mengumandangkan. “Para prajurit-prajuritku.. rakyat-rakyatku.. kita tidak perlu takut dengan mereka, karena sesungguhnya kebajikan akan selalu berkuasa! Allahu akbar!” Panglima Tio yang hadir langsung mengerahkan sisa prajurit yang ada untuk menyerang musuh yang beroperasi di perumahan para rakyat untuk melindungi rakyat

SEEERAAANG!

Peperangan mulai berkumandang, tuan putri Levitta menyerang prajurit musuh dengan sangat berani. Dengan diarahkan oleh kudanya tuan putri Levitta sampai pada barisan belakang musuh atau yang buasa dipakai sebagai tempat raja -pangeran berada. Tuan putri Levitta berhenti sejenak untuk menunggu pangeran itu ke luar dari tempat persembunyiannya itu. “Hei kau musuhku keluarlah! Aku dan prajuritku siap menerima tantanganmu!” Perlahan pangeran itu menampakkan kakinya ke luar. Terlihat pedang yang sangat berkilau dan runcing itu berdiri. Pangeran itu telah ke luar, namun tubuhnya membelakangi putri Levitta. Tubuhnya yang sangat kekar mulai menghadap ke arah putri Levitta. Wajah mereka sama sama saling menatap. Lama kelamaan tatapan mereka meluluh. Hingga panglima dari kerajaan musuh dari belakang putri mencoba menancapkan pedangnya kepada tuan putri Levitta dari belakang.

HYAAAA..
ARGGGHHH..

Terdengar suara teriakan panglima musuh yang mati karena ditusuk oleh rajanya sendiri. Putri itu mulai menoleh ke belakang, menyaksikan seseorang mati karena rajanya.
“Kenapa? Kenapa kau membunuhnya? Dia ingin membunuhku. Membunuh putri dari ‘kerajaan barwasan’ Membunuh musuhmu ini.” Ucapnya.
“Kau tahu.. itulah sebabnya..” Ucap pangeran itu penuh wibawa dan langsung mengarahkan pasukannya untuk mundur.
“Pasukanku.. ayo!”
“Hei.. kau menyerah? Kenapa?” Tanya putri cantik itu.
“Itu karena dirimu.. putri..” Ucap pangeran itu dengan lembut dan langsung pergi bersama pasukannya.

Sesampainya tuan putri itu di kerajaannya, seluruh keluarga kerajaan menyambutnya dengan wajah lembab berlinang air mata tanda keharuan.
“Putriku.. Aku senang kau dapat kembali tanpa goresan sedikit pun..” Ucap ibundanya sambil memeluk putrinya. Levitta bukannya senang, tapi wajahnya malah cemberut. Dalam benaknya ia memikirkan pangeran yang gagah itu. “Ibunda, aku lelah. Aku ingin ke kamarku duluya..” Ucapnya. Di dalam kamarnya, Putri Levitta termenung. Ia bersama seorang pelayan pribadinya tengah berbincang-bincang masalah peperangan tadi.

“Tuan putri hebat sekali tadi di saat peperangan. Cepat sekali selesainya.” Ucap pelayannya.
“Rin, sebenarnya aku tidak membunuh siapa pun.” Ucap putri itu dengan lesu.
“Putri apa maksudnya?”
“Pangeran itu.. dia..” Ucap putri itu wajahnya memerah.
“Pangeran itu kenapa tuan putri?”
“Dia.. kau tahu Rin. Dia melindungiku dari serangan panglimanya kepadaku.”
“Putri apa maksud anda dia kan musuh. Setiap musuh tidak mungkin melindungi musuhnya, apa lagi disaat rekannya sedang berusaha membunuh musuhnya itu..”
“Iya Rin.. aku tahu. Tapi ini nyata.. bener ini aslinya. Kalau kejadian itu bisa terulang lagi, aku pengen yang.. mungkin.. yang lebih, Rin. Supaya kau yakin bahwa aku benar-benar, benar…” Ucap putri cantik itu.

“Benar-benar. Wanita yang sangat anggun. Baru pertama ku melihatnya takjub ku dibuatnya.” Ucap pangeran tampan itu sambil mengulas ulang kejadian di medan perang tadi.
“Aku hidup dalam kesempurnaan, beristri banyak. Namun tak ada satu pun yang membuatku bahagia. Kau.. kau kan jadi milikku, sang putri pemberani.” seringai sang pangeran. Ia langsung bergegas menuju ruang panglima, “Panglima Anov! Segera siapkan pasukan dalam jumlah besar untuk menyerang kerajaan yang tadi kita serang!”
“Tapi pangeran baru saja kita menyerangnya lagi pula pasukan kita tidak akan sanggup.” ucap sang panglima.
“Akan ku jamin semua akan baik-baik saja. Aku tunggu kalian di pintu gerbang.” Ucapnya seraya pergi ke tujuannya.

Ada apa ini. Panglima Tio. Putriku Levi. Kerajaan diserang! Peperangan berlangsung. Hingga peperangan berakhir dengan dimenangkan oleh kerajaan Fassa. Pangeran itu berhasil mendekap putri Levitta dengan pisau di ujung lehernya.

“Hei kalian! Lihat ini! Tuan putri cantik kalian ini telah berada di tanganku.”
“Pangeran tolong lepaskan putriku.. hiks, hiks, ku mo-hooon..” Ucap ibundanya menangis.
“Aku mudah saja melepaskan putrimu yang cantik ini. Namun dengan syarat. Dia akan menikah denganku!” Ucapnya. Putri Levitta memberontak dan marah.
“Lepaskan aku.. aku bersumpah atas nama langit dan bumi. Aku tak akan pernah mau menikah denganmu!” Ucapnya meronta. “Jangan kau mengenakan nama dunia ini.”
“Bunuhlah aku! Cepat! Aku lebih baik mati dibanding aku harus menikah denganmu.” Amuk putri.

“HRAAAAA!” Teriak pangeran itu.

Bersambung

Cerpen Karangan: Qiswa Nandhita S
Facebook: Sturep6

Cerpen Sumpah Langit Bumi (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teror Terencana

Oleh:
Di sebuah kota di Amerika Serikat terjadi sebuah teror. Anak-anak nakal di kota itu tiba-tiba menghilang. Salah satu dari anak yang hilang itu adalah Alex. Alex adalah pemimpin dari

Still Heaven At War (Part 3)

Oleh:
Pelantikkan selesai, sekarang aku sudah resmi menjadi CIA. Aku menerima tugas pertama yaitu misi perdamaian di Kabul, afghanistan bersama dengan Marvin. Sungguh aku sangat bahagia menerima tugas ini karena

Mahkota Emas

Oleh:
Kaki tanganku tak bisa digerakan. Aku hanya terdiam beku di atas kursi yang kududuki. Angin terus berhembus, padahal tak ada pintu atau jendela yang terbuka. Bahkan kipas angin pun

5 Bulan Menghilang Aku Sendiri

Oleh:
Ku pandangi sebuah rumah yang tak berpenghuni itu dengan tatapan hampa, seharian aku menunggu. Di depan rumah itu, berharap ada seseorang yang membukakan pintu, terkadang aku tertidur di depan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *