Tajam Ke Bawah Tumpul Ke Atas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 December 2015

Tancapkan tongkat keadilanmu
Kibarkan kotak merahmu
Pertahankan nilai luhur kami
Bawalah masa depan kami
Mampukah kau pimpin negeriku
Di mana hukum keadilanmu
Lihatlah rakyatmu
Tertindas karena ketidakadilanmu
Ku lihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Berlinang air mata
Melihat tingkah lakumu

Terpancar sosok kusut di balik sebuah bilik bambu renta, tapak retak tulang retak, berjalan menghampiri sebuah perapian dengan tulang belakang merunduk ke tanah. Hidup di tengah hutan dengan gubuk bambu dengan tanah sebagai lantai gubuknya dalam kesederhanaan ditemani seorang bocah kecil lusuh bernama “Pengki.” Nek Odahlah panggilan yang disematkan kepada Nenek itu. Setiap hari Nek Odah bekerja mencari kayu bakar di hutan. Dia bekerja bukan semata-mata untuk mencari materi, namun hanya untuk bertahan hidup dirinya dan anaknya yang sebenarnya adalah cucunya.

Rasa sayang yang begitu besar, membuat Nek Odah menganggap cucunya sebagai anaknya sendiri. Di suatu pagi Nek Odah bersama cucunya berencana mencari kayu bakar di hutan. “Nak, ternyata persediaan kayu bakar kita sudah habis, mari kita cari kayu bakar ke hutan nak.” ajak Nek Odah kepada cucunya. “ayo nek, kita cari kayu bakar ke hutan, agar kita bisa makan hari ini.” jawab Pengki dengan semangat.

Senyum lebar langsung terpancar di mulut Nek Odah ketika mendengar jawaban anaknya. Pengki yang selama sepuluh tahun dirawat oleh Neneknya selalu dididik dengan kesederhanaan oleh Neneknya, tak heran jika dia sangat bersemangat ketika diajak mencari kayu bakar oleh Neneknya. Mengingat cacing di perut mereka yang sudah mulai bergejolak mereka bergegas menyiapkan peralatan untuk mencari kayu bakar. Tanpa alas kaki, tanpa tutup kepala, dengan hanya berbekal sebotol air putih dan sebilah golok mereka pun bergegas menuju hutan.

Dua setengah jam perjalanan, akhirnya sampailah mereka ke tengah hutan nan lebat. Terpancar wajah letih di wajah mereka ketika sampai di tempat pencarian kayu. “Nek, biar aku saja yang mencarikan kayu bakarnya, mari saya antarkan ke pohon besar itu.” ujar Pengki sambil mengantar Nek Odah istirahat di bawah pohon besar.

“terima kasih nak, tapi nak, kita butuh makan cepat, dari pagi perut kita hanya diisi angin, biarkan Nenek ikut membantumu.” jawab Nek Odah sambil menolak untuk diantarkan ke pohon besar itu. Dengan berat hati cucunya pun membiarkan Neneknya bekerja. “baiklah nek, kalau itu keinginan Nenek. Mari kita belah kayu besar itu nek..” Ujar Pengki sambil menunjuk ke arah pohon jati besar yang telah tumbang.

Dengan sigap mereka mengeluarkan goloknya dan membelah pohon besar itu. Semakin siang, pohon besar itu pun perlahan habis diambil kayunya dan menyisakan bagian bawahnya saja.
“ayo nek tinggal bagian bawah kita bisa pulang.” ujar Pengki menyemangati Neneknya.
“iya nak, biar Nenek saja yang menyelesaikan bagian ini, istirahatlah dulu nak.” kata Nek Odah.
“baiklah nek.” jawab Pengki.

Lalu dibelah lah pohon besar itu oleh Nek Odah, alangkah sangat terkejutnya Nek Odah ketika melihat pohon besar itu berhasil ia belah, dia melihat satu karung berisi koin emas di dalamnya. “Nak!! ayo ke sini nak, lihat apa yang Nenek temukan..” Teriak Nek Odah sambil memanggil cucunya.
“wah, nek!! Itu emas nek? Kita bisa makan berbulan-bulan dengan semua emas ini nek.” ujar Pengki dengan sangat gembira.
“tapi nak, semua emas ini bukan milik kita.” kata Nek Odah menasihati cucunya.

Tak mereka sadari, ternyata teriakan kegembiraan mereka didengar oleh para pengawal kerajaan yang sedang berjaga di tempat itu. Ternyata karung berisi koin emas itu merupakan hasil rampasan seorang raja kejam di seberang hutan itu, yang sengaja disimpan di dalam batang kayu, Selama ini mereka tidak pernah mencari kayu bakar sampai ke tengah hutan, namun karena tidak menemukan kayu kering di pinggir hutan, mereka pun nekat mencari kayu di tengah hutan yang ternyata telah masuk ke dalam daerah teritorial kerajaan. Alagkah terkejutnya ketika mereka mendengar suara teriakan dari balik semak-semak.

“hai!!! Kalian sedang apa di situ?!” teriak para pengawal kerajaan sambil lari mendekati Nek Odah dan cucunya. Tak pikir panjang kedua pengawal itu menangkap mereka.
“maaf pak, kita tidak tahu apa-apa tentang emas ini, kita hanya pencari kayu bakar.” ujar Nek Odah sambil memohon kepada kedua pengawal kerajaan itu. Tubuh kecil si Pengki pun tidak berguna melawan tubuh kedua pengawal tersebut.
“ahh, diam saja, kalian akan kami bawa ke kerajaan, biar Raja kami saja yang akan mengadili kalian.” kata salah satu pengawal tersebut sembari mengikat dan membawa mereka. Lalu dibawalah mereka ke kerajaan, sesampainya di kerajaan mereka dikurung sembari menunggu untuk diadili oleh sang raja.

“nek, sampai kapan kita dikurung di tempat ini nek? Perutku lapar nek.” rintih si Pengki kepada Neneknya.
“sabar nak, entah sampai kapan kita dikurung di tempat ini.” jawab Nek Odah sambil menenangkan cucunya.
Tak lama kemudian muncullah dua pengawal kerajaan membuka pintu penjara yang mereka tempati. “tuan Raja ingin bertemu kalian..” perintah salah satu pegawal kerajaan dengan wajah garang. Lalu mereka berdua pun ke luar penjara untuk menghadap kepada sang Raja jahat. Mereka duduk tepat di depan singgasana sang Raja sambil menundukkan kepalanya.

“pengawal!! apa kesalahan mereka?” tanya sang raja kepada para pengawalnya.
“mereka telah mengambil harta karun yang kita simpan di tengah hutan, yang mulia.” jawab salah satu pengawalnya.
“apa benar kalian telah mengambil harta karun kami?!” tanya sang raja kepada Nek Odah.
“tidak yang mulia, kami tidak sengaja menemukan harta karun itu ketika kami mencari kayu bakar di hutan.” jawab Nek Odah sambil menangis.

Dengan rasa angkuh, sang raja pun tak mempedulikan air mata yang menetes di pipi Nenek renta itu. “ahh kalian selalu saja berbohong, pengawal bawa Nenek itu ke tempat hukuman, bunuh dia. Dan bawa anak kecil ini masuk, jadikan dia budak di kerajaanku ini..” Mereka berdua pun meronta dan memohon ampun kepada sang raja, tetapi usaha mereka pun sia-sia, hanya rasa pasrah yang ada di dalam hati mereka.

“yang mulia.. tolong ampuni kesalahan kami, kami tidak bersalah, semua ini fitnah yang mulia!” tangis Nenek Odah. Begitu pun Pengki, tubuh kecil Pengki pun tidak berdaya melawan para pengawal kerajaan itu, dia hanya bisa menangis karena akan berpisah dengan Neneknya yang selama sepuluh tahun tinggal bersamanya. Lalu berpisahlah mereka, nyawa sang Nenek pun melayang karena hukuman pancung yang diterimanya. Sedangkan Pengki, menjadi budak kerajaan yang selalu ditindas oleh sang raja jahat.

Di setiap waktu bekerjanya, Pengki selalu teringat akan kebersamaannya dengan Neneknya, kini sang Nenek pun sudah hilang dimakan oleh ketidakadilan hukum. Hukum yang selalu tajam ke bawah tumpul ke atas membuat kehidupan orang-orang bawah menderita. Kini hanya ada suara tertawa jahat sang rajalah yang selalu terdengar di telinganya.

Cerpen Karangan: Arief Budiono Yusuf
Facebook: Arief Budiono Yusuf
Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Cerpen Tajam Ke Bawah Tumpul Ke Atas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Sang Malam

Oleh:
“Boleh aku memandangmu”, itulah yang aku ucapkan kepadanya. Sepasang mata itu tak pernah lepas dari pandanganku. Aku yakin dia mengerti apa yang aku maksudkan. Hanya ada satu garis pembatas

Pilihan

Oleh:
“Kyaaa!!!” teriak Ara di dalam kelas tatkala menemukan seekor kecoak di dalam kolong mejanya. Pagi buta ini mendadak menjadi pagi melek dikarenakan ulah Ara yang teriakannya sampai membangunkan Raja

Petualangan Fantastis

Oleh:
Jakarta, 11 november 2011. Aku rona aku hanyalah anak berkacamata berumur 14 tahun. Tahun ini, keluarga aku memutuskan untuk pergi liburan ke luar kota, tetapi keluarga aku belum memutuskan

Anyelir Pusaka

Oleh:
Waktu itu, di dunia peri, terjadi perang sengit antara penyihir Glawise atau penyihir jahat dari utara melawan Ratu Melia, ratu pemimpin dunia peri. Mereka berdua memperebutkan bunga Anyelir Pusaka.

Peri Cinta Via

Oleh:
“Aku harus mengakhirinya.” Namaku Aldy. Aku memiliki seorang kekasih bernama Via. Dia adalah adik sahabatku, Ari. Karena kami sering bertemu, aku mulai menaruh rasa pada gadis itu. Dia gadis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *