Tak Bernyawa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 4 June 2018

Langit hitam yang sedari tadi tidak sedikitpun memberikan celah bagi sinar matahari untuk melewatinya kini mulai menangis sedih. Aku pun terhipnotis, terseret dalam tragedi yang tidak aku inginkan, namun tiba-tiba terjadi. Aku tertunduk. Aku terdiam. Kubiarkan hujan untuk menghina diriku ini.

“Kenapa!” teriakku.

Merahnya bunga mawar yang mekar dalam kotak tanaman kini memudar, berubah menjadi tanaman mawar dengan kelopak-kelopak putihnya yang baru. Ini bukanlah sesuat yang aku inginkan, namun bukan juga sesuatu yang mengejutkan bagiku. Bisa dibilang, bagiku, ini adalah hal yang biasa. Meski begitu, entah kenapa aku tidak bisa menerima keadaan ini!
Tanah yang semulanya hanya diam membisu sekarang mulai berisik mengganggu, setelah hujan turun membasahi dirinya. Mereka berdua seakan saling bersahut menyoraki apa yang baru saja terjadi. Menyedihkan, semua sungguh menyedihkan! Terutama untuk diriku yang tidak bisa melakukan apa-apa.

“Maafkan… aku…” ucapku pelan.

Semua yang semula terlihat akrab dalam pandangan mataku pun perlahan mulai berubah. Tempat ini; tempat membosankan yang biasa aku gunakan untuk menghabiskan tujuh dari duapuluh empat jam waktu yang aku miliki dalam satu hari ini, enam dari tujuh hari yang ada dalam satu minggu, kini mulai menunjukkan sisi lainnya. Satu sisi yang tidak pernah aku lihat sejak setengah tahun yang lalu–kali pertama aku menginjakkan kakiku di kota ini yaitu, menyedihkan.

“Katakan padaku… sebenarnya… apa yang membuatmu melakukan hal ini?”

Dengan bangunan yang berbentuk menyerupai huruf ‘U,’ arah gedung ini ditujukan sesuai dengan arah matahari terbit, sedangkan bagian belakangnya menghadap tepat ke arah matahari terbenam. Entah apakah hal itu memiliki maksud tertentu, toh aku juga tidak peduli. Jika dilihat dari luar, cat putih kusam dengan beberapa bagian yang sudah terkelupas cenderung memberi kesan ‘menjijikkan’ untuk menyebut ini sebagai; sekolah.

“Dan ke mana perginya uang muka yang kita berikan diawal?” batinku.

Lupakan sejenak tentang betapa menyedihkannya tempat aku tinggal ini, dan kucoba untuk fokus dengan apa yang ada dihadapanku. Sejak tadi aku merasa tersinggung. Aku tidak mengerti mengapa sejak dari tadi dirinya hanya diam dan tidak membalas ucapanku sama sekali. Meskipun aku tidak mengetahui apa yang saat ini dia rasakan, ini bukanlah sesuatu yang pantas untuk mengabaikan orang yang ingin memberikan bantuan. Tidak ingin membuang-buang waktu, aku pun memutuskan–
“… ikutlah pulang bersamaku,” ajakku.

Aku tidak bermaksud menunjukkan empatiku terhadapnya. Semua sudah terjadi, dan sekarang hanya inilah yang bisa aku lakukan, meski aku sendiri merasa tidak yakin dengan hal ini.
“… hu’um… baiklah…” sahutnya.
“…egh,” aku sedikit terkejut.

Aku membalikkan badanku dan berjalan pergi. Namun, belum sempat aku mengambil langkah pertamaku, aku merasakan sesuatu yang menggenggam tanganku.
“Apa yang–”
“Biarkan!” ucapnya dengan sediki menghentak, “biarkan aku seperti ini… sebentar saja…”
“Ya. Terserah,” balasku.
“… terima… kasih…” dia tertunduk, membuatku tidak bisa melihat wajahnya.

Aku tidak begitu paham, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di sini. Kucoba untuk melihat sekeliling. Melihat… dan menemukannya–
“… eh, kamu… jalan kaki?”
“… iya, kenapa?”
“Tidak, aku hanya penasaran. Kenapa kamu tidak melayang?” tanyaku.
“… hm… benar juga, aku juga tidak begitu mengerti,” jawabnya.

Cerpen Karangan: Andika Ahmad B
Facebook: Andika Ahmad B

Cerpen Tak Bernyawa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Danger Zone

Oleh:
Hunter, Howard, dan Fartens sedang berlari di bukit-bukit Terangan, kota Bandung, Indonesia. Mereka merasakan kesenangan yang luar biasa. Tapi Fartens bertanya, “Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang benar-benar menantang?”

Semut yang Sombong

Oleh:
Di sebuah hutan tinggallah seekor semut. Semut itu dijuluki si Mungil karena ia berbeda dengan semut yang lainnya. Karena di usia remajanya ini semut itu belum mengalami perubahan tinggi

Hari Terakhir Di Atlantis

Oleh:
Ia menyebut namanya Litos kependekan dari Merlitos. Satu-satunya korban bencana sekaligus saksi hidup yang berhasil hanyut sampai ke Yunani. Aku mendengar kabar mengenai dirinya dari seorang senior seprofesiku. Sambil

Dunia Susu Dan Permen

Oleh:
Pada suatu hari. Reni dan teman-teman sedang bermain petak umpet, Tyna menjadi kucingnya, dan Dimas, Mujizah, Reni, Angga, Deny mengumpat, “1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,

My Sweet Wolf Boy (Part 1)

Oleh:
Angin dingin menembus tirai jendela yang berkibar-kibar tertiup angin. Samar-samar, aku mulai mengingat apa yang terjadi kemarin. Saat itu, aku tengah mengerjakan gaun pesanan sahabatku yang akan menikah, Angela.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *