Tale about The Only Girl in the World

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 13 February 2019

Dia hanya sendirian.
Benar-benar sendirian.
Dunia itu telah berakhir, dan dialah yang tersisa.
Hanya ada sebuah pondok kayu dengan 1 meja dan kursi, dan sebentang padang rumput luas yang tidak bertepi.

“Mengapa hanya ada aku di dunia ini?”
Hal itulah yang menjadi pertanyaan terbesar di dalam dirinya.

Beberapa waktu yang lalu, dunia digoncang oleh gempa yang sangat hebat. Tanah retak hingga ke dasarnya, air laut tumpah ke daratan, dan seluruh gunung berapi meletus hingga menutupi dunia dengan abu. Bencana itu telah menelan seluruh negara, kota, hingga desa, dan gadis itu berhasil selamat setelah terkurung di dalam es selama beberapa tahun.

Gadis itu terbangun disaat dunia telah beregenerasi. Saat itu, langit kembali membiru, tanah kembali menghasilkan berbagai tumbuhan, dan air laut kembali menyatu menjadi samudera yang amat luas.

Gadis itu berjalan melewati padang rumput tak bertepi hingga bermil-mil jauhnya dari tempat ia terbangun. Dan dia menemukannya, pondok kayu kecil yang nyaman.
Tak ada yang tahu mengapa pondok tersebut ada di sana.

Berhari-hari setelahnya, gadis itu mulai mengumpulkan tanah liat. Dengan hati-hati, dia membentuk boneka seorang anak laki-laki kecil. Berkali-kali, gadis itu mengulang kembali beberapa bagian boneka itu agar menjadi boneka yang sempurna.

Siang dan malam dia terus bekerja, sehingga akhirnya terbentuklah sebuah boneka anak laki-laki dari tanah liat yang tingginya hanya sedada gadis itu.

Dengan puas, gadis itu memeluk bonekanya yang bagaikan patung tanah liat besar.

“Kumohon, jadilah hidup,” bisik gadis itu sungguh-sungguh.

Dan hal itu sungguh terjadi.
Perlahan-lahan, patung itu berubah menjadi seorang anak laki-laki kecil yang menawan. Hal pertama yang dilakukan anak itu adalah memeluk sang gadis yang telah menciptakannya.
Gadis itu begitu gembira.

“Bagaimana harus kupanggil dirimu?” Tanyanya pada suatu hari.
Anak itu hanya menatap sang gadis tanpa mengucapkan apa-apa.

Ya, anak itu tidak dapat bicara. Yang dia lakukan hanyalah mengangguk dan menggeleng. Namun, gadis itu dapat mengerti apapun yang dimaksud oleh anak itu.

“Jadi kau pun tidak tahu?”
Anak itu mengangguk.
“Kalau begitu, akan kupanggil kau Terra, karena kau terbuat dari tanah.”
Anak itu mengangguk lagi, kali ini disertai senyuman manis. Senyum itu berganti menjadi raut wajah penuh pertanyaan ketika ia melihat ke arah jendela.

Padang tak bertepi itu dipenuhi oleh cahaya-cahaya kecil yang indah, berterbangan di antara rumpunan rumput liar.

“Itu adalah cahaya yang muncul dari hati seseorang yang bahagia. Cahaya itu menyimpan berbagai kenangan manis, indah, dan mengharukan dari banyak orang di dunia yang lain.”
Terra memandangi jendela itu tanpa berkedip.

Gadis itu tersenyum. “Mau jalan-jalan keluar besok?”
Dengan girang, Terra mengangguk.

Hari berikutnya, gadis itu mengajak Terra ke padang tak bertepi. Saat itu, bunga-bunga sedang bermekaran. Gadis itu menggandeng tangan Terra, berjalan di tengah-tengah rumpun bunga dan rumput. Cahaya-cahaya kecil itu masih berterbangan di sana. Banyak sekali.

Terra tertarik dengan serumpun bunga putih yang nyaris serupa dengan salju.

Menyadari Terra sedang terpaku akan sesuatu, gadis itu bertanya, “ada apa?”
Dia menunjuk bunga itu.
“Kau ingin tahu apa nama bunga itu?”
Terra mengangguk.

Gadis itu memetik beberapa tangkai bunga itu, lalu menyatukannya dengan beberapa helai rumput. “Ini Baby’s breath. Arti bunga ini adalah cinta yang tulus dan abadi,” jelasnya dengan lembut, lalu memberikan buket bunga itu kepada Terra.

Terra terdiam melihat buket itu. Tanpa mengambilnya, anak itu berlari ke padang bunga, lalu memetik berbagai macam bunga, menyusunnya, dan mengikatnya dengan rumput. Dengan bangga, dia mengulurkan buket buatannya kepada gadis itu, lalu mengambil buket buatan gadis itu.

Gadis itu sedikit terkejut, namun tak lama kemudian dia tersenyum sembari mengelus kepala Terra. “Terima kasih.”

Terra mengamati buket di tangannya, lalu melihat sekitarnya. Padang itu benar-benar seolah tak bertepi. Begitu luas hingga tak ada yang tahu di mana ujungnya. Dan ia ingin pergi dari sana.

Terra menarik terusan putih gadis itu.
“Ada apa?”
Terra menunjuk ke arah matahari yang mulai terbenam.
Gadis itu terdiam sejenak. “Kau ingin pergi?”
Terra menggeleng. Dia menggandeng tangan gadis itu, lalu kembali menunjuk ke arah matahari.

“Kau ingin aku pergi bersamamu?”
Kali ini Terra mengangguk lagi.
Gadis itu tersenyum ragu. “Ke mana? Padang ini seolah tak berujung. Ke manapun mata memandang, hanya ada rumput dan bunga.”
Terra tetap menggandeng tangan gadis itu, malah mulai menariknya pelan.
“Baiklah kalau begitu.”

Terra dan sang gadis berjalan menyusuri padang itu. Entah berapa lama mereka telah berjalan. Mereka dapat bertahan menghadapi musim panas dan musim gugur, namun disaat-saat terakhir musim gugur, gadis itu mulai sering berhenti untuk tidur.

Terra terus berusaha menarik tangan gadis itu. Sebentar lagi musim dingin. Dunia akan dipenuhi oleh pasir putih yang dingin.

“Maaf, aku selalu kelelahan ketika musim dingin,” kata gadis itu.
Terra terdiam menatap gadis itu.
“Aku tahu. Kita harus sampai sebelum musim dingin datang.”
Dengan keteguhan itulah, gadis itu bertahan.

Angin dingin mulai berhembus kencang. Salju mulai turun. Matahari semakin jarang terlihat.
Beberapa hari kemudian, dunia benar-benar dipenuhi oleh salju.

Gadis itu jauh lebih sering terjatuh. Semakin hari, kesadarannya semakin menurun. Seringkali dia terjatuh di antara tumpukan salju yang lembut dan mulai tertidur.

“…bangun lah…!”
Gadis itu membuka matanya, dan melihat anak laki-laki yang diciptakannya sedang berbicara padanya.
“…kumohon, kita harus terus berjalan…” Ujar Terra dengan wajah panik.
“…sia-sia… dia tidak dapat mendengarku…”
“Tidak, aku dapat mendengar suaramu dengan jelas,” ujar gadis itu lembut.
“…bagaimana mungkin…?”
“Mungkin karena kini hatimu sudah cukup tulus untuk mendengarkan suaramu sendiri,” jawab gadis itu lagi. “Hei, kau tahu?”
“…apa…?”
“Aku baru saja bermimpi. Aku pergi ke dunia itu, dan belajar banyak dari sana. Aku memiliki seorang ibu yang lembut, seorang ayah yang menyenangkan, dan kakek-nenek yang sangat menyayangiku. Kau tahu, rupanya aku memang tidak bisa meninggalkan dunia ini.”
“…kenapa begitu…?” Tanya Terra terkejut.

Dengan lemah, gadis itu menyentuh tangan Terra. Separuh badannya telah tertutup salju. “Karena aku adalah perwujudan dari kenangan itu sendiri. Cahaya-cahaya yang kau lihat adalah cahaya kehidupanku. Jika aku meninggalkan dunia ini, aku akan mati. Beda dengan dirimu. Aku membawamu yang seharusnya berada di dunia sana lewat salah satu cahaya itu. Kau seharusnya ada di dunia itu, tempat di mana kau dikelilingi oleh orang-orang yang sayang dan peduli padamu. Maafkan aku, Terra.”

Terra menggenggam tangan gadis itu dengan erat. “…tidak! Aku ingin di sini… bersamamu… tidak peduli bahwa aku sendirian di sini… Aku baik-baik saja… selama kau ada di sisiku…”

“Terra, sudah saatnya kau pulang. Keluargamu menunggumu. Aku akan selalu ada di sini, menunggumu kembali lagi kepadaku, suatu hari nanti.”
“…benarkah?… Aku akan kembali ke sini…?”
“Ya. Sampai saat itu tiba, jagalah cahaya-cahaya itu agar aku selalu hidup.”
Bertepatan dengan itu, sebuah cahaya melayang tepat di depan hidungnya.

Terra menggapai cahaya itu, dan seketika saja pandangannya berubah. Bayangan gadis yang telah nyaris tertimbun salju itu perlahan menghilang, membawanya kembali ke dunianya.

Sementara Terra menghilang, kesadaran gadis itu terus berkurang.

“Sampai bertemu lagi, Papa…”

-fin-

Cerpen Karangan: Chacha
Blog / Facebook: Choco Caramella
Yep, it’s inspired by Clannad, with a little adaptation from me. I’m an otaku ya know :p

Cerpen Tale about The Only Girl in the World merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setelah Kepergianku

Oleh:
Ku tak bisa menggapaimu Tak’kan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Kau hanya mimpi bagiku Tak untuk jadi nyata Dan sgala rasa buatku Harus padam

Still Heaven At War (Part 3)

Oleh:
Pelantikkan selesai, sekarang aku sudah resmi menjadi CIA. Aku menerima tugas pertama yaitu misi perdamaian di Kabul, afghanistan bersama dengan Marvin. Sungguh aku sangat bahagia menerima tugas ini karena

Kekuatan Hiro

Oleh:
Pagi hari ketika alarm berbunyi. Hiro terbangun. Hiro akan mengambil kaca mata di meja di samping tepat tidurnya yang berada tepat di samping kepalanya. Namun anehnya Hiro tak bisa

Magang

Oleh:
Senang rasanya anakku Rizal sudah masuk perkuliahan. Semoga kelak dia menjadi anak yang mampu meneruskan tradisi Kaum Kasmi dan berguna bagi negara. Dulu saya tidak sempat merasakan bangku perkuliahan

Stopwatch

Oleh:
Saat di taman. Anto menemukan sebuah stopwach. Stopwach itu terdiri dari 2 tombol yang kiri berwarna merah sedangkan yang kanan berwarna hijau. Anto menekan tombol kiri, seketika semua berhenti.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Tale about The Only Girl in the World”

  1. Kenyoh says:

    Tulisanmu selalu bagus Chacha. Maaf, aku penasaran.. kenapa cerpennya ga dimasukin aja ke author Charissa E..?

    • moderator says:

      karena ngeceknya serba manual jadinya memang sering kejadian kaya gini, kalo kakak yang moderasinya ga jeli jeli banget merhatiin emailnya sulit rasanya menempatkan cerpen yang beda ID dengan penulis yang sama di halaman penulis yang sama, karena ada yang notif ini jadi kakak coba ubahkan ya ^_^

    • Chacha says:

      Wah, terima kasih banyak ^-^
      Jadi begini, awalnya aku pakai username “Chacha” di saat-saat pertama aku kirim cerpen ke sini, terus hiatus cukup lama. Waktu aku menulis lagi, aku lupa usernameku ini dan akhirnya ganti jadi “Charissa.E” :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *