Talmore

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 1 March 2017

Jauh di tengah hutan Paskah, hiduplah seorang penyihir bersama anak perempuannya. Ia adalah seorang guru sihir CEPRAN School yang sedang menjalani masa cutinya.

Ia sengaja memilih berlibur di dalam hutan Paskah karena hutan ini adalah hutan yang memiliki banyak bahan-bahan ramuan sihir dan lainnya. Selain itu juga, hutan Paskah berbatasan dengan negeri Aluna, sebuah negeri sihir yang makmur dan sejahtera.

Siang itu, ketika matahari terik menyala, Sella, putri semata wayang penyihir itu sedang asyik membuka-buka tumpukan buku-buku sihir milik ayahnya yang ia ambil dari lemari ayahnya. Sementara itu sang ayah sedang pergi mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat ramuan penangkal racun. Di antara tumpukan buku-buku sihir itu, Sella menemukan sebuah buku yang bersampul hati. Ia mengambil buku itu lalu membukanya. Buku itu lebih mirip seperti komik. Di atasnya terdapat judul mantra dan di bawahnya terdapat cara mengayunkan tongkat beserta mantra apa yang harus diucapkan.

Ada banyak sekali mantra yang bermanfaat di dalam buku itu seperti: mantra cahaya, mantra memanggil, mantra berpindah dan mantra menghilang serta mantra sederhana lain yang sering digunakan para penyihir. Di antara kumpulan mantra-mantra itu, Sella menemukan suatu mantra yang menurutnya menarik, mantra penambah tinggi badan.

Selama ini ia selalu diejek teman-temannya karena badannya yang mungil di usianya yang sudah lima belas tahun. Ia sudah sering kali memohon pada ayahnya agar mengajarinya mantra penambah tinggi badan. Tetapi ayahnya selalu melarangnya dengan alasan Sella masih di bawah umur. Memang di dalam hukum sihir tercantum dengan jelas bahwa keturunan penyihir yang berumur di bawah tujuh belas tahun tidak diperbolehkan mempelajari sihir dikarenakan di masa lalu pernah terjadi penyalahgunaan ilmu sihir oleh komunitas penyihir di bawah umur yang mengakibatkan ketidakstabilan dunia sihir. Oleh karena itu, setelah situasi saat itu sudah bisa diatasi, para penyihir sepakat untuk melarang penyihir di bawah umur melakukan sihir.

Tetapi kali ini, ayahnya sedang mencari bahan-bahan untuk ramuan atas perintah kepala sekolah. Sebelum pergi ayahnya sempat berpesan agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang dan ia akan pulang ketika matahari tenggelam. Namun, dasar anak nakal, ia justru membuka-buka buku milik ayahnya tanpa izin dan berencana akan mencoba salah satu dari mantra yang ada dalam buku milik ayahnya itu.

“Tapi aku membutuhkan tongkat. Sedang aku tidak memiliki tongkat.” gumam Sella bingung. Jemarinya mengetuk-ngetuk dahinya dengan tenang. Jelas sekali ia sedang memikirkan suatu cara agar ia mendapat tongkat sihir.

Tak lama berselang, senyumnya merekah indah. Dipandangnya dengan wajah gembira lemari di depannya.

“Kenapa aku bisa lupa? Bukankah ayah mempunyai tongkat cadangan. Dan aku sangat yakin ayah menyimpannya di lemari itu.” Sella berjalan mendekati lemari itu dan langsung membuka lemari itu.

Dugaan Sella ternyata benar. Tongkat cadangan sang ayah berada di dalam lemari itu. Tanpa buang waktu lagi, disambarnya langsung tongkat sihir ayahnya lalu kembali ke meja kerja sang ayah.

Ia memperhatikan panduan mantra di buku itu dengan teliti dan cermat. Di buku itu ditunjukkan bagaimana cara menggerakkan tongkat sihir untuk menguasai mantra tersebut. Beberapa kali Sella mencoba menggerakkan tongkatnya sesuai dengan gambar dalam buku tersebut. Ia membutuhkan waktu beberapa menit untuk menguasainya. Setelah dirasanya gerakan tongkatnya sudah lancar. Ia mulai memperhatikan mantra yang dibaca.

Talmore.

Setelah dirasanya siap, ia meletakan buku itu di atas meja. Kemudian bersiap diri untuk melakukannya. Digerakkannya tongkat itu memutar dari bawah ke atas sebanyak tiga kali kemudian diarahkannya tongkat ayahnya ke arahnya seraya mengucapkan mantra penambah tinggi badan itu.

“TALMORE”

Sinar putih menyala terang seketika. Sella sampai memejamkan matanya. Ia dapat merasakan tubuhnya bergejolak hebat. Bukannya makin tinggi ia malah menyusut hingga seukuran telunjuk orang dewasa. Dengan susah payah, ia berusaha mendorong tongkat ayahnya yang menindih tubuhnya. Untung saja tongkat cadangan ayahnya hanya berukuran enam belas sentimeter dan sangat ringan.

Sella memandangi seluruh ruang kerja ayahnya dengan wajah nelangsa. Ia dikelilingi oleh banyak benda-benda yang berukuran raksasa. Tentu saja bukan benda-benda itu yang membesar. Melainkan dirinya yang mengecil. Ia merasa heran. Bagaimana mungkin mantra penambah tinggi badan justru membuat badannya menyusut seperti kurcaci.

“Apa yang terjadi pada diriku? Kenapa aku justru menjadi kerdil seperti ini?” ucap Sella begitu lirih.

“Sekarang tak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu ayah. Lebih baik aku duduk saja dan bersabar menunggu malam datang.” ucap Sella tak berdaya.

Ia berjalan menuju ke bawah meja kerja ayahnya dan duduk bersandar di salah satu kaki meja kerja sambil melipat kedua tangannya ke depan dadanya sampai beberapa jam ke depan.

Detik demi detik berlalu terasa begitu lama. Menit demi menit Sella lewati dengan sangat jenuh. Lima jam telah berlalu, sang surya pun telah menjadi jingga di ufuk barat. Angin sepoi-sepoi berhembus sejuk di senja yang mulai datang. Sella masih terduduk di tempat yang sama. Bersandar di salah satu kaki meja kerja sang ayah dengan segala rasa cemas yang menderanya. Tak lama berselang, pintu depan seperti terbuka. Setelah itu Sella dapat merasakan seseorang berjalan di ruang tengah.

“Sella, di mana kah kau sayang? Ayah pulang.” suara ayah Sella terdengar begitu keras dari arah dapur. Sang ayah mencari anaknya di seluruh ruangan yang ada di dalam rumahnya sambil memanggil-manggil Sella. Suaranya awalnya santai. Namun, setelah beberapa kali dipanggil nama sang anak tetap saja tak ada jawaban. Siapa yang tak merasa merasa cemas?

Setelah sekian lama, pintu ruang kerja di mana Sella berada dibuka oleh sang ayah. Sontak Sella langsung berdiri dan mendekati ayahnya.

“Ayah… Lihat ke bawah, ayah.” teriak Sella sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah ayahnya yang tampak begitu besar bak raksasa menurut sudut pandang Sella sekarang ini.

Namun rupanya sang ayah tak bisa mendengar teriakan Sella. Sang ayah justru terus berjalan dan berhenti tepat di tempat tongkat cadangan tergeletak. Sang ayah berjongkok. Ia meraih tongkat cadangannya dengan herannya.

“Aku ingat benar aku menyimpan tongkat ini di lemari. Lantas, kenapa sekarang justru tergeletak di bawah.” ucap sang ayah terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Ayah, tengok ke belakang! Aku di sini.” Sella kembali berteriak, terdengar lebih kencang dari sebelumnya. Tetapi sayangnya ayahnya masih tidak bisa mendengar suaranya. Bahkan alih-alih menengok ke belakang, sang ayah justru bangkit dan berjalan lurus menuju ke arah meja kerjanya.

Sang ayah dapat melihat tumpukan buku-buku di atas meja kerjanya. Ia kembali heran dengan keadaan tersebut. Ia ingat benar, sebelumnya buku-buku di atas meja itu sudah disimpannya di rak buku saat pagi hari. Namun, kenapa sekarang buku-buku itu berserakan di atas mejanya. Salah satu dari bukunya bahkan terbuka lebar dan menampakkan sebuah mantra peninggi badan.

“Kenapa buku ini terbuka?” gumam sang ayah terheran-heran seraya meraih buku itu dan mengamati buku itu dengan saksama. Sementara itu, di bawahnya Sella terus memanggil-manggil ayahnya tercinta.

“Ayah, lihatlah ke bawah! Ayah tolong aku. Aku mengecil ayah.” suara Sella makin lama makin terdengar histeris. Bahkan wajah Sella sudah bercucuran airmata.

Entah apakah sang ayah sudah mendengar atau tidak teriakan anaknya. Tetapi ia tiba-tiba saja menegakkan badannya dan nampak tersentak.

“Ini adalah buku rencana inovasi mantra sihir saat aku masih bersekolah. Dan mantra yang tercatat di sini belumlah sempurna. Aku ingat betul mantra yang benar ada dalam buku kumpulan mantra sederhana. Apakah Sella…?” Sang Ayah tertegun seketika. Sebuah pemikiran telah muncul di dalam kepala sang ayah. Sebuah pemikiran yang begitu membuatnya cemas.

“Apakah Sella menggunakan mantra ini?” sang ayah bertanya-tanya.

Sementara itu Sella mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat begitu mendengar perkataan ayahnya. Ia mendekati ayahnya dan meraih jubah hitam ayahnya. Dengan sekuat tenaga Sella menarik-narik jubah sang ayah sambil terus-menerus memanggil ayahnya dengan sekeras mungkin.

Sang ayah masih terpaku pada pemikirannya. Ia menatap kosong lemari tempatnya menyimpan barang-barangnya. Kemudian ia tersadar seketika merasakan seperti ada sesuatu yang menarik-narik jubahnya. Memang tidak begitu kuat. Tetapi ia dapat merasakannya.

Tanpa berpikir dahulu, ditengokkan kepalanya ke bawah di mana ia terkejut melihat apa yang menarik jubahnya. Ia sangat terkejut melihat anak perempuannya yang berusia lima belas tahun menjadi kerdil seukuran telunjuk orang dewasa. Seketika ia terduduk lemas di lantai. Matanya tak terlepas dari anaknya. Ia mengulurkan tangannya di depan sang anak.

Sella mengerti. Ia segera menaiki telapak tangan sang ayah. Setelah itu tubuh Sella pun terangkat. Meski sang ayah mengangkat telapak tangannya dengan hati-hati. Tetapi Sella tetap saja terduduk karena tidak bisa menjaga keseimbangannya.

“Kenapa dengan dirimu, putriku sayang?” tanya sang ayah dengan lemah lembut dan sorot mata penuh kasih sayang.

“Ayah… Ma Maafkan aku ayah. Aku terlalu lancang.” jawab Sella terisak-isak. Jemari sang ayah mengelus-elus rambut Sella penuh sayang.

“Ayah, aku mengambil tongkat ayah dan menggunakannya untuk mencoba mantra peninggi badan dari buku ayah. Aku minta maaf ayah karena aku tidak bertanya dulu pada ayah. Aku menyesal ayah. Aku memang salah ayah. Aku memang bodoh. Sekarang lihatlah aku ayah? Aku jadi kecil seperti ini.”

“Tak usah khawatir sayang. Ayah tahu cara mengembalikanmu seperti semula.” ucap sang ayah menenangkan Sella.

“Tapi, ayah bagaimana jika…”

“Percaya pada ayah. Semuanya akan baik-baik saja.” Sella mengangguk patuh.

Sang ayah kemudian menurunkan kembali telapak tangannya. Ia membiarkan anaknya turun dari telapak tangannya. Sella berdiri sekitar lima belas sentimeter dari kaki ayahnya. Ia menatap penuh harap pada ayahnya. Ia tidak bisa menghilangkan rasa cemas yang melandanya.

Semoga ayah berhasil.’batin Sella berharap.

Tak lama berselang, sang ayah menyambar tongkatnya dari atas meja. Tongkat kesayangannya, yang selalu dibawa ke mana- mana. Tongkatnya terbuat dari kayu holly dan tetes airmata burung phoenix.

“Pejamkan matamu, Sella. Jangan dibuka sebelum ayah izinkan. Mengerti?” Sella mengangguk patuh dan langsung memejamkan matanya. Setelah itu sang ayah langsung saja mengayunkan tongkatnya dengan mengucapkan “Backmor…”

Seketika tubuh Sella bergejolak kuat. Makin lama ia mengembang dan terus mengembang sampai ia dapat merasakan tinggi badannya naik ke ukuran semula. Meski dengan mata tertutup sekalipun, ia dapat merasakan tubuhnya telah kembali ke ukuran semula. Tetapi ia tidak mau lancang lagi. Ia akan menunggu perintah ayahnya saja.

“Buka matamu…” Ucap ayahnya pelan.

Sella langsung saja membuka kedua matanya dengan perlahan. Ia segera berlari ke arah cermin yang terletak di samping lemari. Wajahnya dan tubuhnya yang seukuran penyihir normal terpampang jelas di dalam cermin itu. Sella akhirnya bisa bernapas lega. Ia tersenyum senang dan langsung berbalik memeluk ayahnya yang telah berada di belakangnya.

“Terima kasih, ayah.” seru Sella senang. Sang ayah ikut tersenyum. Tetapi itu hanya sesaat. Detik berikutnya, wajah sang ayah berubah menjadi serius. Senyum Sella pun ikut pudar bersama dengan semakin kencangnya degup jantungnya.

“Sella, kau tahu semua itu tidak benar?” tanya sang ayah tegas. Sella langsung terkesiap dan menjawab dengan terbata-bata.

“I, I ya. A, A, ayah…” Sella tertunduk sedih.

“Kau harus ingat, putriku. Kau tidak bisa sembarangan mempelajari sihir. Kau masih harus menunggu dua tahun lagi. Setelah kau tidak akan dilarang.”

“Iya ayah…”

“Sudahlah, lupakan. Tapi ingat peraturan itu dibuat demi kenyamanan dan keamanan kita sendiri. Jadi jangan siksa dirimu sendiri dengan melanggarnya.”

“Iya ayah. Aku mengerti. Aku berjanji tak akan aku ulangi lagi.” balas Sella tertunduk.

“Ya sudah tidak apa-apa. Ayo kita makan saja, ayah sudah membeli roti panggang dan daging rusa panggang.” ajak sang ayah sambil menggamit tangan kanan sang putri. Sang putri menurut saja. Mereka pun pergi ke ruang makan untuk memuaskan rasa lapar mereka.

Setelah hari itu, Sella tersadar. Peraturan memang dibuat untuk kebaikan semua orang. Ia berjanji tidak akan melanggar peraturan lagi. Toh iya sendiri akan masuk ke sekolah sihir dua tahun ke depan. Jadi yang harus dilakukannya sekarang adalah menunggu dan bersabar.

Selesai

Cerpen Karangan: Latifah
Facebook: Iffah Viyay

Cerpen Talmore merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Adventure Princess Sofia

Oleh:
Pada suatu hari, di kerajaan Crystal Palace hiduplah seorang putri bernama Sofia, ibunya bernama Miranda dan ayah nya bernama Vernando. Sofia adalah putri tunggal, Sofia tinggal di castle bersama

Ghost Hunter

Oleh:
Aku adalah Tania salah satu anggota di Ghost hunter. Ghost hunter adalah salah satu organisasi yang memiliki anggota dengan kekuatan supranatural untuk mengusir mahkluk astral yang menggangu. Suatu hari

Mrs. Aditya

Oleh:
15 April 2017 06.00 WIB Pagi yang cerah, tetapi sedikit menyebalkan. Bagaimana tidak? Lihatlah, pagi-pagi buta seperti ini, ketika aku masih kusut, kucel, dan ditambah rambut mengembang seperti balon,

Topeng

Oleh:
Pada suatu ketika hidup seorang pria dengan sebuah topeng di tangannya, topeng yang sangat berat buatnya, dengan topeng itu, dia bisa menyembunyikan wajahnya, kemanapun dia pergi dia selalu menggunakan

Pangeran Maut (Part 1)

Oleh:
“Kerja bagus Sai!” seru Mega, kakak perempuanku. “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati sekarang” ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya. “Kau benar Meg. Sai seperti penguasa rantai makanan teratas ketika bertarung”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *