Tears Of The Phoenix (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Kerajaan ILALANG yaitu sebuah kerajaan dari negeri timur yang sedang merayakan kelahiran tuan putri mereka yang baru saja terlahir dari sang ratu yang bernama Sisia Rosemary. Kelahiran itu disambut suka cita oleh semua rakyat yang berada di kerajaan itu. Tetapi selang beberapa lama setelah melahirkan tuan Ratu meninggal karena pendarahan. Baginda raja mengumumkan nama putrinya yaitu Cintya Prilly Rosemary kepada seluruh rakyatnya. Seluruh kerajaan mengadakan perayaan untuk kelahiran putri mereka.

Bertahun-tahun sudah berlalu sekarang Cintya Prilly Rosemary sudah menginjak dewasa. Dia tumbuh menjadi sosok putri yang cantik, lembut dan baik. Hingga suatu hari ketika dia sedang berjalan-jalan di sekitar kerajaan dia melihat sesosok nenek yang terduduk di tanah sambil membawa banyak barang. Tubuhnya yang tua dan juga ringkih tak bisa menopang seluruh barang yang ia bawa.

“Nenek mari saya bantu. Nenek tidak apa-apa?” Tanya Prilly kepada sang nenek. Dia membawa barang-barang nenek itu dan membantunya untuk berdiri.
“Nenek tidak apa-apa tuan putri” Jawab nenek itu berdiri dengan bantuan kayu.
“Nenek mau ke mana?” Tanya Prilly lagi
“Nenek tidak tahu, nenek tidak punya tempat tinggal”
“Ya sudah nenek ikut saya” Ajak Prilly lalu membawa sang nenek masuk ke dalam istana. Ia tidak tahu akan hal buruk yang akan terjadi pada keluarganya nanti. Dia hanya berpikir tidak tega untuk membiarkan seorang nenek-nenek tua hidup sendiri.

“Apa maksudmu putriku?” Tegas Baginda Raja dari singga sananya setelah putrinya Prilly menjelaskan jika nenek-nenek itu harus tinggal di istana karena dia tidak mau nenek itu tinggal sendiri dengan keadaannya yang sudah sangat tua.
“Biarkan nenek ini tinggal di sini Ayahanda. Saya sangat tidak tega melihat dia hidup sendiri dengan keadaan yang sudah tua”
“Tidak Prilly, Ayahanda tidak menyetujui permintaan kamu. Kita jangan memasukan orang asing masuk ke dalam istana. Bagaimana jika dia berniat jahat kepada kita”
“Tidak Ayahanda mana mungkin nenek setua ini berniat jahat kepada kita. Dia nenek yang baik, Prilly yakin itu”
“Ayahanda tahu jika kamu orang yang sangat baik Prilly. Kamu menuruni sifat mendiang Ibundamu. Baiklah jika itu maumu Ayahanda menyetujuinya. Tapi dengan syarat nenek itu harus bekerja sebagai pelayan di sini” Tegas baginda raja. Dia tidak bisa sekalipun menolak permintaan putrinya.
“Terima kasih Ayahanda“ Prilly mengalihkan pandangannya kepada nenek tua yang berdiri di sampingnya. “Sekarang nenek bisa tinggal di sini. Nenek tidak perlu berpindah-pindah tempat tinggal”
“Terima kasih tuan putri” Ucap Nenek itu. Prilly tersenyum manis dan mengantarkan nenek itu ke kamarnya.

Setelah Prilly keluar dari kamarnya seketika nenek itu berubah menjadi seorang wanita yang lebih muda dengan jubah hitam yang dipakainya dan juga tongkat sakti di tangannya. “Ternyata sangat mudah membohongi Putri Prilly. Dia putri yang sangat baik tapi sayangnya tidak bisa mengenali seorang penyihir” ucap penyihir hitam itu.
“Sekarang tugasku baru saja dimulai”

Baginda Raja dan juga Putri Prilly sedang duduk di meja makan menunggu makanan disediakan oleh pelayan.
Penyihir hitam itu kini telah berubah kembali menjadi seorang nenek tua. Dia menoleh ke seluruh penjuru dapur memastikan jika tidak ada pelayan di sana. Dia memasukan sebuah bubuk putih yang dia taruh dicangkir minuman Baginda Raja. Dia berjalan mengantarkan minuman itu ke meja Baginda Raja.
Baginda raja meminum minuman yang ditaruh oleh si nenek penyihir. Dan dengan hitungan menit Baginda Raja tersungkur ke lantai membuat Prilly dan semua pelayan terkaget setelahnya.
“Ayahanda” Teriak Prilly khawatir dan segera berlari kearah Ayahandanya.
“Baginda Raja” Ucap seluruh pelayan dan juga pengawal yang berada di sana.

Prilly berdiri. “Apa yang kau lakukan pada Ayahanda nenek” Kata Prilly penuh penekanan. Nenek itu seketika berubah menjadi penyihir hitam.
“Penyihir Hitam” Kejut Prilly setelah melihat sang nenek yang ditolongnya tadi berubah menjadi penyihir hitam
“Hahaa kau memang mudah sekali ditipu Putri Prilly. Kau sama sekali tidak mengenali seorang penyihir yang berubah menjadi seorang nenek tua”
“Pergi kau dari sini. Pengawal usir dia dari sini” Marah Prilly. Seketika penyihir itu menghilang di antara jubah hitamnya.

“Ayahanda bangun!” Ucap Prilly. Air matanya seketika tumpah memenuhi pipi putihnya.
“Maafkan Prilly Ayah. Prilly sudah menyebabkan Ayahanda seperti ini. Prilly terlalu percaya pada nenek tua itu”

Tabib kerajaan telah selesai memeriksa baginda raja. “Maafkan saya Putri Prilly. Racun yang ada di tubuh Baginda Raja saya tidak mengetahui jenisnya. Sepertinya itu racun baru penyihir hitam” jelas tabib itu. Prilly berjalan ke arah ranjang Ayahanda nya.
“Maafkan Prilly Ayah” Prilly menggenggam tangan Ayahandanya dengan sayang.
“Tapi ada satu cara Tuan Putri” Lanjut Tabib itu. Prilly berdiri menghadap tabib itu seksama.
“Apa?”
“Burung Phoenix. Burung legenda yang dipercaya bisa menyembuhkan segala penyakit atau racun. Bahkan racun yang tidak ada obatnya dan tidak bisa disembuhkan oleh obat herbal”
“Di manakah burung itu berada tabib?”
“Di negeri barat. Tepatnya di gunung merapi Dandelion. Burung Phoenix adalah burung api jadi itu sebabnya dia tinggal di gunung merapi”

Penyihir Hitam kembali muncul di kamar Baginda Raja. “Hahahaa” tawanya seketika menyeruak ke seluruh penjuru kamar itu.
“Mau apalagi kau ke sini penyihir hitam?” Prilly berdiri dari duduknya kemudian berjalan beberapa langkah ke arah penyihir itu.
“Saya tahu. Kamu yang harus pergi ke negeri barat untuk mencari burung Phoenix Putri Prilly. Jika kamu dikawal oleh pengawal saya tidak segan-segan untuk membunuh Ayahandamu di hadapanmu sekarang juga” Ancam Penyihir Hitam itu.
“Baiklah saya akan melakukannya. Tapi apa maksudmu untuk melakukan ini kepada Ayahandaku?”
“Saya ingin membalaskan dendam atas kematian Ayah saya yang dibunuh dengan keji oleh Ayahmu”
“Pergi kau dari sini Penyihir Hitam. Atau saya akan memanggil pengawal untuk membunuhmu di sini” Mata Prilly merah. Amarahnya sudah mencapai ke ubun-ubunnya sekarang. Penyihir itu berputar dan langsung menghilang sekejap mata.

“Putri Prilly biar pengawal saja yang mencari burung Phoenix ke negeri barat” Kata penasehat kerajaan mencari solusi
“Tidak usah, jika itu terjadi saya takut Penyihir Hitam datang kembali dan langsung membunuh Ayahanda. Saya akan pergi ke negeri barat”
“Tapi Tuan Putri? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Tuan Putri. Negeri barat itu sangat berbahaya”
“Demi Ayahanda saya rela melakukan apapun”
“Baiklah jika itu sudah jadi keputusan Tuan Putri”
Prilly mengangguk kemudian kembali menatap Ayahandanya yang terbaring lemah di atas ranjangnya. “Ayahanda Prilly pamit untuk pergi ke negeri barat. Do’a Ayahanda akan menjadi pelindung Prilly selama di perjalanan.”

Keesokan harinya Prilly pergi dari istana dan juga kerajaannya untuk pergi ke negeri barat yang bermil-mil jauhnya. Seluruh rakyat kerajaan bersedih akan kepergian Putri Prilly dan juga sakitnya Baginda Raja mereka. Tapi do’a seluruh rakyat akan melindungi jalan Prilly untuk menemukan burung Phoenix.

Sementara di kerajaan awan, Alivendra Mahesa seorang Pangeran dan Putra dari Baginda Raja Erlank Mahesa dan permaisuri Shopia Relanxia sedang berada di ruang utama istana mereka.
“Alivendra Ayah ingin berbicara sesuatu?” Ucap Baginda Raja pada Putranya yang sedang duduk di singgasana Pangerannya.
“Ada apa Ayahanda?” Jawab Alivendra dengan menoleh kearah Ayahnya yang duduk di singgasana tertinggi di kerajaan itu.
“Ayahanda dan Ibundamu telah memutuskan untuk menjodohkanmu dengan Putri dari kerajaan langit yang bernama Raxuel Disanvasita” Jelas Baginda Raja Erlank pada Putranya.
“Apa maksudmu Ayah? Kenapa Ayahanda tidak bicara terlebih dahulu pada Ali?”
“Ini sudah kami fikirkan Alivendra. Ini sudah kami rencanakan dengan Raja dan Ratu kerajaan langit sejak kamu masih kecil”
“Tapi Ali tidak menyukai perjodohan seperti ini Ayah” Tolak Alivendra dengan suara yang agak keras.
“Ayahanda tidak mau tahu. Besok keluarga Kerajaan Langit akan datang ke sini untuk acara pelamaran”
“Tidak Ali tidak mau ayah. Ali menolak perjodohan ini”
“Tidak ada kata penolakan semuanya sudah direncanakan. Kamu harus menerima perjodohan ini Alivendra” Tegas Ayahnya.
“Pokoknya Ali tidak akan menerima perjodohan ini”
“Ali-” Mata Ayahnya melotot. Tersimpan ada kemarahan yang terpancar dari mata bulat Ayahnya itu.
“Alivendra dengarkan apa yang diucapkan oleh Ayahandamu. Ini semua demi kebaikan kamu. Terima perjodohan ini sayang” Ucap Ibunda Shopia dengan lembut.
“Tidak Ibunda Ali tidak menyukai perjodohan seperti ini. Ali menolaknya”
“Jika kamu tidak menerima perjodohan ini. Terpaksa Ayahanda akan melemparmu ke bumi” Ucap Baginda Raja Erlank yang kini amarahnya sudah benar-benar membuncah.
Alivendra berdiri dan berjalan ke arah kamarnya, sebelum berjalan dia berkata “Ali tidak peduli”
“Alivendra-” Teriak Raja Erlank.
Alivendra acuh dia tetap saja berjalan tak menghiraukan teriakan Ayahnya.

Keesokan harinya keluarga dari Kerajaan Langit telah datang ke kerajaan awan. Mereka telah berada di tempat khusus tamu di Istana Awan.
“Kami sangat tersanjung karena telah diundang untuk datang ke sini Baginda Raja Erlank” ucap Raja langit yang bernama Raja Julio.
“Saya dan Permaisuri saya juga ikut tersanjung sekaligus senang dengan kedatangan baginda raja Julio dan keluarga ke Kerajaan saya.”
“Jadi bagaimana dengan perjodohan putri saya dengan Pangeran Alivendra.”
“Tetap berjalan. Perjodohannya akan dilangsungkan di sini”
“Lantas di manakah Pangeran Alivendra?” Tanya Raja Langit yang tak melihat sosok Alivendra di sekitar itu.
“Dia tentu saja ada, Permaisuriku tolong jemput Alivendra ke sini”
“Baik” Kata Ratu Shopia lembut.
Ratu Shopia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar Alivendra.

“Alivendra Putraku.” Ucap Ratu Shopia saat masuk kedalam kamar Putranya. Dia melihat Putranya sedang berdiri di depan jendela besar di sudut kamarnya.
“Alivendra.”
Alivendra terperangah dari lamunannya dan langsung memutar tubuhnya menghadap Ibundanya.
“Ayo kita ke luar, keluarga Kerajaan Langit telah sampai” Kata Ratu Shopia lembut sambil berjalan ke arah putranya dan langsung merangkulnya dari samping.
“Ali sudah bicarakan ini kan Ibunda? Jika Ali tidak ingin perjodohan ini. Ali menolak perjodohan ini”
“Tapi ini sudah jadi keputusan Ayahandamu Ali. Jika dia sudah berkehendak, kamu tahu kan sifat Ayahandamu seperti apa? Dia bahkan tak segan akan melemparmu kebumi. Ibunda tidak ingin itu terjadi padamu, kamu Pangeran sekaligus orang yang akan mewarisi tahta Ayahandamu sebagai seorang Raja nanti.”
“Ali tahu Ibunda itu sudah resiko yang akan Ali tanggung. Ali akan menerima apapun keputusan Ayahanda nanti. Ali telah memikirkannya matang-matang”
“Tapi Ali-”
“Sudahlah Ibunda, Ibunda tenang. Ali sudah memikirkannya, ini sudah menjadi keputusan Ali”
“Baiklah. Tapi setidaknya temui keluarga Kerajaan Langit dan Ayahandamu”
“Baik Ibunda”

Alivendra dan Ratu Shopia berjalan keluar kamar menuju tempat dimana Baginda Raja Erlank dan keluarga Kerajaan Langit berada.
“Bagaimana? Kita langsungkan pelamarannya sekarang?” Tanya Raja Julio setelah semuanya berkumpul.
“Maaf Ayahanda dan keluarga Kerajaan Langit Ali tidak bisa menerima perjodohan ini.”
“Apa maksudmu Alivendra? Sudah Ayahanda bilang kamu harus menerima perjodohan ini. Perjodohan ini sudah kami rencanakan sejak kalian masih kecil”
“Kemarin Ali sudah pernah berbicara pada Ayahanda jika Ali tidak mau perjodohan ini dilangsungkan. Maafkan saya Raja Julio Ratu Alice dan juga Putri Raxuel saya tidak bisa menerima perjodohan ini. Ini sudah jadi keputusan permanen saya”
“Alivendra jika kamu tidak menerima perjodohan ini, sekarang juga ayahanda akan mengusirmu dan melemparmu ke bumi” Marah Raja Erlank dengan mata yang memerah.
“Silahkan Ayahanda, silahkan jika itu sudah jadi keputusan Ayahanda. Ini juga keputusan Ali, Ali yakin dengan keputusan Ali”
“Pengawal” Teriak Raja Erlank. Seketika beberapa para pengawal berlari ke arah Raja Erlank.
“Siap Yang Mulia” Ucap salah satu pengawal sambil menghormat.
“Buang dan lemparkan pangeran Alivendra Mahesa dari istana dan kerajaan ini ke bumi” Titah Raja Erlank. Para pengawal lantas membawa Alivendra ke lubang hitam yang akan membawanya ke arah bumi.
“Jangan Baginda. Ingat dia Putra kita” Ucap Ratu Shopia mencoba menghalangi perbuatan suaminya
“Diam Permaisuriku. Ini sudah jadi keputusanku”
“Ingat Alivendra kamu bisa datang ke sini lagi jika kamu mau menerima perjodohan ini” Tegas Baginda Raja. “Jatuhkan dia” Titahnya. Para pengawal mengangguk lantas menjatuhkan Alivendra ke lubang hitam itu.

Sudah hampir satu minggu Prilly pergi dari kerajaan ILALANG menuju ke negeri barat. Sekarang ia sedang berada di sebuah kota tua yang porak poranda seperti telah dihancurkan oleh bom nuklir yang berkekuatan dahsyat. Ia berjalan menyusuri setiap lekuk kota itu.

‘Krek Krek’
Terdengar ada sebuah suara yang keluar dari belakang tembok tinggi. Prilly menelan salivanya, ia berjalan mendekat ke arah datangnya suara. Matanya terbelalak ketika melihat seekor Cerberus yaitu seekor anjing raksasa berkepala 3 yang sedang asyik mencabik-cabik Gajah dewasa. Prilly membalikan badannya napasnya memburu, keringat dingin keluar dari pelipisnya, ia berjalan secara perlahan supaya tidak menimbulkan suara.

‘Krekek’
Prilly menundukan kepalanya melihat apa yang ia injak. “Haishh” Umpatnya ketika ia tahu yang ia injak itu adalah ranting kayu. Dia menoleh ke belakang, fiuhh untung Cerberus itu tidak terusik.

Deghh.
Jantung Prilly seakan berhenti ketika ia menoleh kembali kedepan ternyata Cerberus itu sudah berdiri di depannya, lidah ke tiga kepala Cerberus itu menjulur mengeluarkan air liur serta darah Gajah tadi yang sangat menjijikan. Prilly menelan salivanya pahit, ia mencoba perlahan berjalan ke belakang. Cerberus itu masih melihatnya dengan tatapan membunuh. Setelah lumayan agak jauh barulah ia berlari sekencang mungkin, sontak Cerberus itu pun mengejarnya. Prilly berlari ke arah hutan mencoba sekencang mungkin berlari untuk meloloskan diri dari binatang aneh yang satu itu.

“Aaaaaa” Teriaknya sekencang mungkin. Dilihatnya Cerberus itu masih mengejarnya, dia menubruk pohon-pohon di sekitarnya supaya tidak kehilangan mangsa.
Prilly tersandung akar pohon yang menjulang ke atas tanah, ia terduduk dengan kaki yang sakit akibat kerasnya ia tersandung. Cerberus itu berada beberapa meter dari tempatnya sekarang.
“Oh tuhan selamatkan saya. Misi saya baru saja dimulai” Umpat Prilly dalam hati.

Cerberus itu berjalan perlahan ke arah Prilly lidahnya masih tetap terjulur seakan mereka telah siap untuk menerkam mangsa.
‘Guk Guk’ mungkin seperti itulah suara Cerberus itu. Prilly menutup matanya tidak berani melihat binatang aneh itu yang semakin mendekat ke arahnya. Mulutnya terbuka sangat lebar seakan ingin melahap mangsanya sekarang juga.

Sleebbb.. Sebuah pedang panjang atau sering disebut dengan samurai menusuk satu kepala Cerberus yang berada paling kanan. Cerberus itu seperti kehilangan keseimbangannya?, dia berjalan ke kiri dan ke kanan tanpa arah.
“Ohh jadi itu kelemahannya” Ucap seorang pria yang kini berdiri di hadapan Prilly yang masih menutup matanya rapat-rapat.

Prilly yang merasa ada yang aneh segera membuka matanya dan melihat ada seorang pria yang dengan gagah berdiri di depannya. Pria itu berlari ke depan melihat jika Cerberus itu juga berlari ke arahnya. Dengan sekejap binatang itu menyerang si pria dengan membabi buta sampai akhirnya pria itu tersungkur jatuh, tapi dengan secepat kilat pria itu kembali berdiri, dia sedikit menghentakkan tangan kanannya dan seketika keluar cahaya panjang semacam kilat dari tangannya. Dia mengarahkan cahaya itu ke kepala Cerberus, satu per satu kepala binatang aneh itu terpenggal sampai akhirnya ke tiga kepalanya terpenggal dengan darah yang besimbah di mana-mana. Badan Cerberus itu juga tumbang, binatang itu mati dengan kepala terpenggal dan lidah yang menjulur.

Napas pria itu terengah, mungkin dia cape karena telah bertarung dengan binatang raksasa di depannya. Dia berjalan ke arah Prilly yang masih memandangnya tanpa berkedip.

“Sini saya bantu” Ucap pria itu setelah berada dihadapan Prilly yang masih terduduk di tanah yang lembab dan kotor.
“Oh iya” Prilly terperangah dan langsung mengulurkan tangannya. “Awwss” Rintihnya setelah ia melihat kakinya yang memar akibat tersandung.
“Kenapa? Tidak bisa berjalan?” Tanya pria itu lembut. Prilly menggelengkan kepala sambil menahan sakit di kakinya. Tanpa aba-aba pria itu langsung menggendong Prilly dari depan. Prilly yang sontak kaget hanya bisa mengalungkan tangannya di leher pria itu. Pria ini seperti Hiro yang telah menyelamatkanny?a dari bahaya, dia sepertinya berhutang nyawa pada pria ini.

“Kenapa kamu berada di tempat seperti ini sendirian?” Tanya pria itu setelah mereka berada di gubuk kecil di samping kota tua itu.
“Saya ingin pergi ke negeri barat” Jawab Prilly singkat
“Kenapa? Negeri barat itu jauh dan berbahaya, kamu gak sepatutnya datang ke sana”
“Saya ingin mencari burung Phoenix untuk menyembuhkan Ayah saya yang diracuni oleh penyihir”
“Setahu saya burung Phoenix itu adalah burung legenda, dia tidak mungkin ada”
“Pasti ada, saya akan melakukan apapun untuk mencari burung itu, bahkan nyawa saya sebagai taruhannya. Saya hanya ingin Ayah saya sembuh” Pria itu memandang ke arah Prilly lalu mengalihkannya lagi pada kaki Prilly yang sedang ia obati dengan beberapa daun obat.
“Kamu kenapa ada di sini?” Balik tanya Prilly
“Tidak apa-apa”
“Kamu sepertinya bukan dari bumi! Kamu berasal dari mana?”
“Kerajaan Awan”
“Kenapa bisa berada di sini?”
“Diusir”
“Kenapa bisa?”
Ali menghembuskan nafas panjang lalu menoleh kearah Prilly yang menatapnya intens. “Saya Alivendra Mahesa, Pangeran Awan! Diusir karena tidak mau dijodohkan oleh Ayahanda saya, lengkap?” Tanya Ali. Prilly hanya menganggukan kepalanya mengerti. “Bagus Jadi tidak perlu bertanya lagi.”
“Saya Cintya Prilly Rosemary”
“Sudah saya obati luka lebam kamu”
“Saya harus segera pergi” Ucap Prilly beranjak dari duduknya. “Awwss” Rintihnya lagi, dia tidak bisa berdiri karena kakinya yang terasa sangat sakit.
“Perlu beberapa hari untuk kaki kamu bisa sembuh. Tidak mungkin kamu pergi dengan kaki kamu yang masih seperti itu. Itu malah meperburuk kondisi kaki kamu nantinya”
“Tapi saya harus sesegera mungkin mencari burung itu”
“Kamu tenang, saya akan membantumu mencari burung itu”
“Benarkah?”
“Iya. Sekarang kamu hanya tinggal istirahat supaya kaki kamu lekas sembuh”
“Baiklah”

Dengan terpaksa Prilly harus diam dulu selama beberapa saat di gubuk itu untuk memulihkan kakinya. Tapi dia juga sedikit senang karena dia mempunyai teman yang akan membantunya untuk mencari burung Phoenix ke negeri barat.

Cerpen Karangan: Ineu Desiana
Facebook: Ineu Desiana

Cerpen Tears Of The Phoenix (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Chip Robot (Part 1)

Oleh:
Malam ini aku berjalan menyusuri sepanjang trotoar, di balik kelamnya ternyata menyimpan banyak pesona, jarang-jarang aku bepergian malam hari, ya aku sedang berjalan pulang ke rumah setelah tadi aku

Akhir dari Kisah Bumi

Oleh:
Ketika malam datang menghampiri Bumi. Gelapnya langit turut menghiasi. Bintang-bintang menari diselingi canda tawa. Kemudian, bulan menghampiri dan berkata, “Wahai para penghias langit! Bagaimana bisa kalian tertawa disaat sahabat

Sebuah Es Krim

Oleh:
“Kau! Kau sudah menghabisinya! Kau akan membayar untuk semua ini!!”, teriakku penuh dendam, armor putih yang kukenakan gugur berjatuhan. Harus kuakui, Jake memang lebih kuat dariku, armornya bahkan tidak

Lester’s Life

Oleh:
Pada zaman dahulu kala, ada sepasang sandal yang ditaruh di depan rumah. Namun saat hujan deras menerjang, salah satu sandal itu terbawa arus air hujan. Mereka terpisah jauh. Terpisah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *