Tears Of The Phoenix (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Beberapa hari lalu Prilly dan Ali sudah melanjutkan perjalanan mereka karena memang kaki Prilly sudah membaik.

“Di sini tidak ada pemukiman yah” Ucap Prilly melirik kesekitarnya.
“Sepertinya tidak. Kenapa? Capek?”
“Iya”
“Nanti di depan ada pemukiman pengembara, semangat! Katanya mau cari burung Phoenix masa segini aja capek”
“Aku semangat. Ya udah ayo jalan” Prilly berjalan agak cepat sehingga meninggalkan Ali di belakangnya. Ali tersenyum melihat perempuan di depannya itu.

Sudah agak lama mereka berjalan sampai akhirnya mereka bertemu dengan pemukiman pengembara yang berada di atas bukit.
“Nih” Ucap Ali sambil memberikan segelas air minum pada Prilly yang sedang duduk di sebuah bangku kayu.
“Makasih” Prilly mengambil gelas itu dan langsung meneguk airnya habis. Prilly menarik napas dan membuangnya kasar.
“Masih capek?” Tanya Ali
Prilly menggeleng. “Tidak”

“Aduhh” Rintih seorang anak kecil yang tepat jatuh di hadapan mereka. Prilly segera beranjak dari duduknya dan menghampiri anak kecil yang berjenis kelamin perempuan itu.
“Kamu nggak papa?” Tanya Prilly pada anak kecil itu.
“Gak papa kok kak”
“Sini kakak bantu berdiri” Prilly membantu anak kecil itu berdiri.
“Kakak cantik deh, baik lagi” Anak kecil itu menoleh ke arah Ali yang sedang melihat mereka. “Kakak Sama kakak itu cocok banget, kalo kalian menikah pasti anak-anaknya lucu-lucu kayak aku”
“Ihh kamu itu yah, itu cuma temen kakak”
“Aku serius kak, kalian serasi. Kakak cantik banget terus kakak itu ganteng, kenapa kalian tidak menikah saja”
“Iih kamu itu yah” Prilly mencolek hidung pesek anak itu. “Nama kamu siapa?”
“Valerie”
“Nama yang cantik seperti orangnya” Puji Prilly yang berhasil membuat pipi anak kecil itu memerah.
“Kakak ikut Vale yuk” ajak anak kecil itu menarik tangan Prilly. “Aku mau dibuatin mahkota bunga kayak punya kakak, aku tahu tempatnya” Anak kecil itu menarik tangan Prilly. “Kakak itu juga ikut Vale yuk” Valerie menarik tangan Prilly ataupun Ali ke sebuah tempat yang banyak dipenuhi bunga-bunga. Tepat seperti ladang bunga yang dipenuhi berbagai jenis bunga dengan berbagai warna.

Sekarang Prilly, Ali, dan Valerie sedang duduk di rerumputan yang dipenuhi bunga-bunga. Prilly sedang merangkai bunga menjadi sebuah mahkota yang sedang ia pakai sekarang.
“Mahkotanya sudah jadi” Ucap Prilly memperlihatkan mahkota bunga yang baru saja selesai ia rangkai.
“Bagus kak” Prilly memakaikan mahkota itu ke kepala Valerie.
“Vale cantik banget. Mirip seperti putri” Puji Prilly. Lagi-lagi pipi Valerie memerah karena pujian Prilly.
“Punya kakak juga udah jadi” Kata Ali memperlihatkan rangkaian mahkota bunga buatannya.
Valerie mengulum bibirnya menahan tawa tapi tak lama tawanya pun pecah seketika. “Hahahaaha itu mahkota gak jadi kak” Ia mengambil mahkota bunga dari tangan Ali. “Masa mahkota seperti ini” Valerie melihat-lihat mahkota bunga buatan Ali yang hancur beda seperti mahkota buatan Prilly.
“Ini itu bagus tahu” Puji Ali pada mahkota bunga buatannya.
”Bagusan mahkota bunga buatan kak Prilly, punya kakak bukan mahkota.”
“Udahlah jangan ganggu kebahagiaan Vale” ucap Prilly.
Mereka saling membuat mahkota dan bersenda gurau di ladang bunga itu.

Keesokan harinya Prilly dan Ali bersiap untuk berangkat melanjutkan perjalanan mereka menuju negeri Barat.
“Kakak jangan pergi” Ucap Valerie. Ia menarik-narik baju Prilly untuk menghalanginya pergi.
“Kakak harus pergi Vale” Prilly menunduk menghadap Valerie yang terlihat menangis. “Jangan nangis dong, Vale kan anak yang cantik. Masa anak cantik nangis” Prilly menyeka air mata Valerie yang meluncur indah dari pipi chubbynya. “Senyum dong” Titah Prilly.
Terlihat sebuah senyuman di pipi Valerie. “Kakak pergi yah” Pamit Prilly pada gadis mungil itu. Valerie mengangguk.
Ali dan Prilly pun pergi meninggalkan perkemahan pengembara untuk melanjutkan perjalanan mereka ke negeri barat.

Prilly dan Ali sedang berada di lembah batu yang menjulang tinggi ke atas langit.
“Ali kau dengar itu?” Ucap Prilly pada Ali yang kini sedang berada di sampingnya.
“Dengar apa?”
“Itu. Suara binatang seperti kuda. Ikuti aku” Prilly segera berjalan ke arah asalnya suara. “Tunggu!” Prilly berhenti di balik batu besar, sesekali dia melihat ke arah binatang yang ternyata Unicorn yang kini sedang diserang oleh Griffin yaitu seekor binatang setengah elang dan setengah Singa.
“Ali lihat Unicorn itu kasihan sekali, dia diserang oleh Griffin” Ucap Prilly. Ali melihat ke balik batu itu yang ternyata memang benar Griffin itu tengah menyerang Unicorn, Dan Unicorn itu terluka di bagian kakinya.
“Ali selamatkan Unicorn itu” ucap Prilly. Dengan segera Ali keluar dari tempat persembunyiannya menuju ke arah Unicorn dan Griffin itu.

“Heii” Ali menghentakkan tangan kanannya dan pedang dengan cahaya kilat itu seketika keluar dari tangannya. Griffin yang tadinya menyerang Unicorn itu kini berbalik menyerangnya, Ali berlari menjauh dari tempat itu menuju tempat yang lumayan aman untuk melakukan pertarungan. Dengan kekuatan kilat yang ia punya Ali dengan gampangnya membunuh Griffin itu. Kedua sayap dan kepala Griffin itu berhasil dipenggalnya sehingga menimbulkan cipratan darah yang mengenai bajunya.

Ali berjalan menuju Prilly yang sedang terduduk di samping Unicorn itu.
“Gimana? Unicorn ini lukanya parah?” Tanya Ali setelah berada di samping Prilly.
“Tidak! Cuma ada luka gigitan di kakinya. Beberapa hari lagi juga pasti Unicorn ini akan sembuh” Prilly menyobek sedikit bajunya untuk membalut luka yang ada di kaki Unicorn itu.
“Terima kasih”
“Kau dengar itu Ali? Unicorn ini berbicara?” Ucap Prilly heran
“Iya aku dengar itu”
“Terima kasih kalian sudah menolongku”
Prilly dan Ali terkaget, memang benar unicorn itu yang berbicara kepada mereka! Kenapa bisa? Kenapa seekor Unicorn bisa berbicara?
“Kalian tidak perlu takut. Saya tidak akan berbuat macam-macam pada kalian. Saya sebenarnya adalah seorang pengembara yang dikutuk oleh penyihir hitam karena telah menemukan tanaman yang bisa membuat orang awet muda dan tidak akan pernah tua. Karena saya tidak mau memberikan tanaman itu maka dari itu penyihir Hitam mengutuk saya menjadi seekor Unicorn. Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan di lembah batu seperti ini?” Jelas dan tanya Unicorn itu yang ternyata adalah seorang manusia yang dikutuk oleh penyihir hitam menjadi seekor Unicorn.
“Kami ingin pergi ke negeri barat menuju gunung merapi Dandelion untuk menemukan burung Phoenix. Saya ingin menyembuhkan Ayahanda saya yang diracuni oleh penyihir hitam” Jelas Prilly masih dengan membalut luka di kaki Unicorn itu.
“Jadi begitu. Dasar penyihir hitam, maunya dia apa sebenarnya!” Ucap Unicorn itu menatap kosong ke arah depan. “Kamu tenang saja saya akan membantu kalian menuju negeri barat untuk mencari burung Phoenix. Saya tahu keberadaan gunung merapi Dandelion. Gunung itu berada di tengah laut barat disebuah pulau kecil yang dihuni berbagai macam binatang aneh”
“Tapi jika kamu membantu kami kaki kamu gimana nanti?” Prilly melihat kearah kepala unicorn itu lalu sedetik kemudian melihat ke arah kaki Unicorn itu yang sedang terluka.
“Kita akan pergi setelah kaki saya sembuh, sementara beberapa hari ini kalian boleh tinggal di tempat tinggalku yang tak jauh dari sini” Unicorn itu berdiri dengan 3 kaki karena memang 1 kakinya sedang terluka. Dia mengepakan sayapnya pelan supaya Ali dan Prilly bisa mengikutinya dari belakang.

Setelah beberapa lama berjalan akhirnya mereka sampai di sarang Unicorn itu yang ternyata adalah sebuah rumah yang berada di dalam pohon besar yang usianya sudah beribu-ribu tahun.
“Tempat tinggal yang bagus untuk seekor Unicorn” Puji Prilly melihat kesekeliling rumah Unicorn itu. Dia dan Ali duduk di sebuah kursi kayu di sana.
“Kalian boleh tinggal di sini selama beberapa hari untuk menunggu kaki saya sembuh seperti sedia kala”
“Unicorn seperti kamu bagaimana bisa tinggal di tempat seperti ini?” Tanya Ali heran
“Dulu saya itu seorang manusia jadi tidak heran jika saya tinggal di tempat seperti ini” Jelas Unicorn itu yang hanya diberi anggukan oleh Ali dan juga Prilly.

Beberapa hari lalu Ali, Prilly dan Unicorn itu sudah melanjutkan perjalanan mereka menuju negeri barat. Sekarang perjalanan mereka terhalang oleh lautan luas di depan sana. Bagaimana bisa mereka menuju pulau Dandelion jika ternyata laut luas menghadang perjalanan mereka. Tapi di dermaga masyarakat setempat ada yang menyewakan kapal untuk mereka arungi kepulau Dandelion nanti.

Sekarang mereka sedang dalam perjalanan mengarungi lautan menuju pulau Dandelion. Tetapi di tengah perjalanan seekor Naga laut raksasa menghadang kapal mereka. Naga itu begitu besar, berkali-kali lipat lebih besar dari perahu yang sedang mereka tumpangi.

“Ya ampun Naga laut. Apa yang harus kita lakukan?” Panik Prilly sesaat setelah dia melihat Naga laut raksasa dihadapan kapal mereka.
“Kamu tenang Prilly” Ucap Ali yang kini berada di sampingnya.
“Tusuk jantungnya. Itu adalah kelemahan Naga laut ini” Ucap Unicorn itu.
“Baiklah biar saya yang urus” Ucap Ali berjalan ke ujung paling depan kapalnya itu.

Naga itu memiliki ribuan mata dan juga puluhan tangan, sangat mustahil jika hanya Ali sendiri yang bisa mengalahkan Naga laut itu. Ali mengeluarkan senjata andalannya yaitu pedang kilat yang sangat panjang. Naga itu menyerang Ali dari segala sisi. Terlihat Ali seperti terbang kearah kepala Naga itu, Ia menusukan pedangnya ke kepala sang Naga, seketika Naga itu tenggelam kedasar laut yang dalam. Ali tersenyum dengan nafas terengah. Ia membalikan badannya ke arah Prilly dan Unicorn itu yang tersenyum kearahnya. Seketika tatapan mata Prilly melotot.
“Allliiiiii..? Di belakangmu” Teriak Prilly yang sontak membuat Ali membalikan badannya.

Naga laut itu kembali terlihat biasa seperti tidak terjadi apa-apa padanya beberapa saat lalu. Ali segera kembali menyerang Naga itu, kali ini Naga itu menyerang Ali secara membabi buta. Ali yang kini sudah terluka di sekujur tubuhnya hanya bisa menahan perih dan sakitnya sekarang. Prilly, napasnya terengah matanya melotot menunjukan amarah yang terlihat sangat menggebu, terlihat dari tatapan matanya. Ia mengepalkan tangannya, membukanya secara perlahan lalu mengangkat kedua tangannya. Air laut seakan sedang menuruti semua pergerakan tangan Prilly sekarang. Air itu menjulang tinggi ke atas langit menutupi sisi kiri dan kanan kapal mereka maupun Naga itu. Prilly menggerak-gerakkan tangannya sehingga air laut itu kini berubah menjadi seperti sebuah pedang samurai yang sangat besar. Air itu menghantam tubuh Naga itu sampai sekarang kepala Naga itu telah terpenggal oleh air yang secara logika air tidak bersifat tajam. Ujung pedang air itu menusuk dada Naga itu tepat di bagian jantungnya. Naga itu seketika jatuh ke dalam air dengan darahnya yang bersimbah di mana-mana. Seakan telah siap untuk menjadi santapan hiu ganas di dasar lautan nanti.

Ali terperangah melihat sosok Prilly yang berbeda 180 derajat dengan Prilly yang Ia kenal belakangan ini. Ia tidak menyangka jika Prilly mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa, jauh dari kekuatan yang Ia punya.
Setelah bisa meredam amarahnya, sosok Prilly kini berubah kembali menjadi Prilly gadis yang lembut dan baik. Dia segera menghampiri Ali yang tertunduk dengan banyak luka yang bersemayam di tubuhnya.
“Sebentar lagi kita sampai di pulau gunung merapi Dandelion. Kita akan mengobati lukamu nanti Ali” Ucap Prilly lembut.
Ali tak bisa berkata-kata Ia hanya mampu menahan sakit di sekujur tubuhnya.

Tak lama mereka telah sampai di pulau itu. Ali terduduk di punggung Unicorn karena memang Ia tak mampu untuk berjalan.
“Kita beristirahat di sini saja” Ucap Prilly menunjuk pohon besar yang rindang. Unicorn itu menurunkan Ali untuk duduk di bawah pohon besar itu, sementara Prilly. Dia berjalan di sekitar mereka mencari daun obat untuk mengobati luka di tubuh Ali.
“Awwsss” Rintih Ali disaat Prilly mengoleskan daun-daunan obat itu di tubuh Ali yang terluka.
“Terima kasih” Ucap Prilly masih mengoleskan daun obat itu di tubuh Ali.
“Buat apa?”
“Terima kasih karena kamu sudah mau membantuku untuk mencari burung Phoenix jauh ke negeri barat. Kamu sampai rela menghadapi binatang-binatang aneh hanya untuk melindungiku. Dan sekarang kamu sampai terluka seperti ini karena aku juga” Papar Prilly.
“Kan aku sudah bilang jika aku akan selalu membantumu untuk mencari dan menemukan burung Phoenix”
Prilly tersenyum ke arah Ali yang ternyata sedang tersenyum pula ke arahnya. Prilly tertunduk seperti malu karena ditatap intens oleh Ali.

Selang beberapa hari sekarang keadaan Ali sudah membaik. Mereka melanjutkan perjalanan menuju gunung merapi Dandelion yang berjarak beberapa kilo meter dari tempat mereka sekarang. Setelah menempuh berjam-jam perjalanan akhirnya mereka telah sampai di gunung merapi Dandelion. Mereka terheran dengan pohon yang terbentuk kata ‘TUMBAL’ di sana.
“Apa arti dari semua ini” Ucap Prilly terheran.
“Aku baru ingat jika ingin burung Phoenix muncul maka harus ada salah satu dari kita yang ditumbalkan”
“Apa? Apa maksudnya?” Tanya Prilly terkaget.
“Maksudnya salah satu dari kita harus ada yang terjun ke dalam gunung merapi jika ingin burung Phoenix terlahir” Jelas Unicorn itu membuat Ali dan Prilly terkaget dibuatnya.
“Kalau begitu biar saya yang terjun ke dalam gunung merapi” Ucap Ali menyerahkan diri.
“Jangan. Kamu sangat dibutuhkan oleh Prilly. Biar saya yang terjun ke gunung merapi ini” Ucap Unicorn itu menghalangi niat Ali.
“Sudah cukup” Ucap Prilly tegas. “Tidak ada satupun di antara kalian yang boleh menjadi tumbal. Di sini kalian telah telah banyak menolongku untuk sampai ke gunung merapi Dandelion. Biar saya yang menyerahkan diri untuk menjadi tumbal di gunung ini. Dan kalian harus berjanji jika kalian akan membawa burung Phoenix ke kerajaan Ilalang untuk diserahkan kepada Ayahanda saya” Ucap Prilly dengan mata yang terfokus pada gunung merapi di depannya. Ia segera berjalan ke atas gunung merapi itu. Sesampainya di sana Prilly merentangkan tangannya bersiap untuk terjun ke dalam gunung merapi Dandelion itu. Ia menerjunkan dirinya. Dan.. Daannn..

Daaaaannnnnn…

Cerpen Karangan: Ineu Desiana
Facebook: Ineu Desiana

Cerpen Tears Of The Phoenix (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aelan

Oleh:
Aura bahagia dan berseri-seri nampak memancar dari wajah seorang gadis kecil. Dengan seragam putih-merah, dia melangkah pasti sambil mengayun-ayunkan tangannya. Dalam hatinya bertaburan kegembiraan sebab baru kali ini dan

Operasi Outlone (Part 3)

Oleh:
“Badan Inteligen Negara membentuk program pelatihan sipil yang bernama ‘Outlone’. Program ini dijalankan oleh para dokter yang ahli di bidangnya dan diawasi oleh tentara dan polisi terpercaya, tujuan program

Still Heaven At War (Part 1)

Oleh:
Kim Natleyn tapi orang sering memanggilku Natleyn. Aku lahir di Jakarta, 05 april 1993. Dilahirkan dalam lingkungan keluarga militer yang berkecukupan, aku dididik untuk hidup disiplin dan penuh tanggung

Dunia Di Bawah Tanda (Part 2)

Oleh:
Mobil terus melaju nanjak dan perlahan mulai berjarak cukup jauh dari patung itu “ya ampun!” kata ardi ngeri “ada apa” sahut dani juga “patung itu hilang!” Dani yang tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *