Telepon dari Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 19 June 2017

Setelah melakukan absen di mesin ‘prik’, aku langsung menuju ruang kerjaku. Di sana, seperti biasa rekan-rekan kerja yang lain sudah lebih dulu berangkat, sudah pada ngumpul. Dan seperti biasa juga, yang menjadi pendongengnya adalah Mas Wanto, orang paling senior di ruang ini. Jam kerja masih 15 menit lagi.

Mas Wanto ini adalah seorang single parent dari anak putrinya, Rinjani, yang baru berusia 8 tahun. Beliau adalah senior yang baik kepada para juniornya. Dia sendiri sudah 10 tahun di sini. Lebih senior 5 tahun dibanding aku. Beliau orang yang ramah dan periang. Kemampuannya mengolah kata menjadi cerita membuatnya mendapat julukan pendongeng atau raja gosip. Beliau yang selalu mencairkan suasana disaat deadline kerja. Menjadi penghibur ketika Bos marah-marah. Ya, kami semua sangat menyukai Beliau. Beliau bertanggungjawab dan suka membantu kawan-kawan kerjanya. Namun, yang cukup membuatku heran, dengan kecakapan Beliau dalam kerja dan lama dia bekerja di perusahaan ini jabatannya hanya sebagai Team Leader saja. Entahlah ada pertimbangan apa oleh pihak manajemen di sini, sehingga tidak menaikan jabatan Mas Wanto yang lebih pas sesuai kerja Beliau. Entahlah, desas-desus hanya ‘kerabat’ saja yang bisa mempunyai ‘pangkat’. Ya begitulah kenyataan yang ada di masyarakat saat ini.

“Assalamualaikum”, Salamku membuat kawan-kawan menoleh ke arahku.
“Waalaikumsalam”, Jawab mereka kompak.
“Waaahh kebetulan ada lu. Sini kumpul”, Mas Wanto menyambutku dengan wajah ramah dan akrabnya.
“Ada apa nih Mas? Ngobrolin moneter Indonesia pa gimana nih? Serius amat saya perhatikan dari depan tadi”
“Udah tau yang lagi rame di internet belum?”, Mas Wanto bertanya balik.
“Apaan Mas? Presiden baru Amerika mengundurkan diri?”, Kelakarku.
“Lebih heboh dari itu, Ji. Ini tentang ‘Telepon dari Tuhan’. Udah denger belum?”
Apa lagi ini? Wah cerita Mas Wanto makin aneh aja. Tapi begitulah Mas Wanto, Beliau selalu memberi judul yang bagus untuk cerita yang akan dibawakannya. Tapi ini kok bawa-bawa Tuhan. Wah walaupun saya tau Mas Wanto bukan sosok yang religius, tapi dia tak pernah mengolok-olok atau membuat lelucon yang membawa-bawa agama.
“Wah ada-ada saja Mas. Gimana memangnya?”, Tanyaku ingin tahu.
“Lanjutin lagi dong, Mas. Temen Mas yang ditelepon sama tuhan?”, Edi menyela. Sepertinya sebelum saya datang mereka sedang bercerita yang masih nanggung.
“Lu ikut dengerin, Ji. Naah pas temen gua nerima panggilan dari +621 itu dia angkat. Suara di seberang telepon hanya angin. Kayak kalo kita lagi teleponan sama orang di depan kipas angin gitu katanya…”

Teeettt!!!
Bel kantor berbunyi. Cerita yang benar-benar masih nanggung itu terputus. Semua mulai bekerja. Mas Wanto juga orang yang disiplin. Beliau tau kapan waktunya bercanda kapan waktunya kerja. Kami semua juga sangat paham sifat dan kedisiplinan Mas Wanto. Karena Beliaulah yang sering mengingatkan kami agar bekerja yang maksimal dan jujur.
Seribu pertanyaan muncul di kepalaku. Telepon dari Tuhan? Siapa yang berani mengaku Tuhan? Aaahh lebih baik nanti jam istirahat aku tanyakan lagi sama Mas Wanto. Pekerjaan kemarin ada yang belum selesai. Mungkin hari ini bisa lembur.

Setelah mandi dan makan malam, aku menyalakan laptopku. Hendak mencari info tentang Tuhan yang menelepon. Kutulis di situs pencarian terbaik saat ini. ‘Telepon dari Tuhan’. Menampilkan banyak hasil. Kubuka tautan paling atas. Bersumber dari sebuah forum ternama di negeri ini. Kubaca dengan teliti. Kuulang-ulang beberapa bagian agar aku dapat mencerna dengan baik tiap kata yang kubaca.

“…Jika kalian juga ingin mendengarkan suara tuhan tersebut. Silahkan agan-agan sekalian telepon ke nomor 01 atau +621 tersebut. Waspadalah!!! Pastikan pulsa kalian cukup untuk berbicara dengan tuhan. Karena tarifnya tidak lagi interlokal atau internasional, melainkan sudah lintas alam. Bersiap-siaplah mental jika tidak ingin membahayakan hidupmu…”

Waahh menyesatkan sekali info di internet ini. Lagian siapa juga yang berani mengaku Tuhan dan menyebarkan isu meresahkan seperti ini.

Menurut cerita Mas Wanto saat jam istirahat tadi temannya yang mendapat telepon itu hanya suara berisik dari angin.
“Halo. Siapa ini??”, Mas Wanto menirukan temannya.
“Aku Tuhanmu”, Beliau menirukan suara Telepon Tuhan itu dengan suara yang diberatkan.
“Joko, aku Tuhanmu”, Mas Wanto menirukan dengan suara berat itu lagi. Setelah mendengar perkataan itu tubuh Joko, teman Mas Wanto itu menjadi kaku dan tak bisa berkata-kata. Tubuhnya dingin. Menggigil. Seperti mendengar suara yang paling menakutkan dalam hidupnya.
Hingga kini, teman Mas Wanto itu sedang dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Katanya ia menjadi pendiam dan kehilangan kewarasannya. Menjadi sangat paranoid. Takut kepada semua orang yang menjenguknya. Kepada keluarganya. Kepada Mas Wanto juga.

“Lalu Mas Wanto dapat cerita itu dari mana?”, Tanyaku sambil menghisap rok*k di ‘ruang merok*k’ siang tadi.
“Gua dapat tau dari Bapak Ibunya. Bapaknya kaget karena Si Joko tiba-tiba teriak-teriak malam-malam di kamarnya. Pas bapaknya nyamperin Si Joko lagi terduduk memeluk lututnya. Ia mengusir bapaknya dan berteriak ‘Minggir. Kamu Tuhan kan? Aku gak punya Tuhan. Pergi dari sini. Tadi kamu sudah meneleponku. Jangan datang juga”. Bapaknya ketakutan. Setelah Joko pingsan disuntik bius oleh dokter di Rumah Sakit, bapaknya mengecek HP Joko. Ada panggilan masuk di riwayat panggilan HPnya, dari nomor +621 dengan waktu durasi panggilan tiga menit pas.”, Mas Wanto melanjutkan hisapan rok*knya.
“Anehnya nomor itu sama sekali gak bisa kita telepon. Selalu saja nomor salah yang terjadi kalo kita coba meneleponnya”, Mas Wanto menambahkan
“Menurut lu gimana?”, Mas Wanto bertanya padaku. Memandangku dengan bibirnya mengapit sebatang sigaret putih.

“…Tidak hanya di Indonesia. Di Amerika, Jerman, Perancis, China, Korea, dan bagian dunia lainnya juga mengalami keresahan yang sama. Telepon dari Tuhan. Hanya saja dengan kode telepon masing-masing negara, seperti +11 untuk nomor tuhan di Amerika, +491 untuk orang Jerman, +611 untuk Australia, +821 untuk Korea, +9661 untuk Arab Saudi, dan begitu juga berbeda untuk nomor telepon tuhan di negara lain. Dengan bahasa dan logat bahasa mereka sendiri…”

Astaghfirullah!!! Tulisan di berita online yang cukup terkenal di Indonesia ini. Menulis dengan cukup lantang kalau nomor yang menelepon itu adalah dari Tuhan.

Memang terkadang ditengah ramainya persaingan dunia perberitaan saat ini, sebuah judul merupakan daya tarik pertama yang paling penting untuk menarik minat pembaca dalam membaca isi beritanya. Bahkan dengan judul yang menipu dengan isi beritanya guna mendapatkan banyak pembaca yang berarti meningkatkan pundi-pundi uang mereka. Dan tentu saja, satu berita dengan satu sumber penulisnya dijadikan menjadi sepuluh sub-judul yang isinya hanya muter-muter di berita itu-itu saja. Atau sebuah berita dengan sebuah judul dibagi menjadi sepuluh part. Yang tiap partnya hanya berisi satu paragraf, lalu kita digiring untuk menuju next halaman. Yang seharusnya satu berita dijadikan satu halaman dibuat menjadi kita harus membuka sepuluh halaman yang artinya kita juga menampilkan iklan internet sebanyak sepuluh kali. Tentu saja uang mereka juga semakin tebal seiring banyaknya frekuensi iklan internet mereka ditayangkan.

Aku terus menggali informasi dari sana. Berselancar dari situs satu ke situs lain. Ada suatu artikel yang menarik dengan judul “Misteri Telepon dari Tuhan. Benarkah?”. Ya, judul yang cukup menarik. Disitu diceritakan seorang warga Jerman yang mendapat telepon tuhan berakhir dengan bunuh diri lompat dari jembatan. Ada juga warga Australia yang mencoba menelepon nomor tuhan lalu keesokan harinya ia ditemukan gantung diri di kamarnya. Beberapa negara lain yang juga warganya menjadi korban telepon misterius itu juga. Kebanyakan berakhir bunuh diri.

“…Kita tidak tau kapan akan mendapat teguran dari Tuhan. Kapan kematian akan datang menjemput. Tentang misteri telepon itu tetaplah menjadi misteri. Pihak cyber police di beberapa negara yang melacak nomor tersebut selalu berakhir nol besar…”

Aku semakin penasaran dan terus mencari informasi tentang ini. Hingga suatu situs berbahasa inggris dengan bendera Australia di bawah halaman situs menuliskan yang sangat membuatku ketakutan. Dimana di situ tertulis tanggal artikel itu ditulis lima bulan yang lalu. Lima bulan? Apakah memang sudah selama itu telepon itu meneror? Apa aku yang benar-benar kudet? Apa kejadian ini baru terjadi di Indonesia baru-baru ini? Sehingga berita ini baru heboh belakangan ini.
Nama korban dan kalimat berita di kebanyakan situs berbahasa Indonesia juga sama. Kebanyakan hanya asal copy paste dari situs yang pertama. Dan keterangannya selalu sama.
“…Kita tidak dapat menghubungi nomor tersebut. Namun, nomor tersebut bisa melakukan panggilan ke nomor kita…”

Aku merebahkan badan di sofa depan TV. Kupencet-pencet tombol di remot. Tak ada acara yang cukup menarik perhatianku. Hingga suatu acara berita di salah satu stasiun TV Swasta menyuguhkan judul berita yang mengagetkanku. “Telepon dari Tuhan”. Lagi-lagi sebuah stasiun TV berani membuat judul berita yang cukup sensitif.
Kuhitung hari. Jum’at. Itu artinya sudah empat hari sejak Mas Wanto pertama memberitahu kami tentang berita ini. Dan sudah empat hari ini aku senantiasa mencari info dan berita tentang hal yang meresahkan ini. Bahkan selama empat hari ini juga perbincangan di kantor selalu bertemakan telepon itu. Bahkan tiap kali telepon ruang berbunyi, kami membuat candaan kalo itu dari tuhan.
Berita di TV sama sekali tidak menambah pengetahuanku tentang misteri ini. Karena beritanya sama dengan yang aku baca di internet. Hingga aku terperanjat kaget. Dan merubah posisiku menjadi duduk. Lalu menajamkan indera pendengaranku. Dua mahasiswa di Yogyakarta ditemukan meninggal di kamar kost mereka dengan luka sayatan benda tajam di leher. Keadaan rumah kost itu terkunci dari dalam. Dan mayat ditemukan sudah membusuk. Menurut pihak penyelidik kepolisian, HP korban tercatat ada ringkasan panggilan masuk dari nomor +621. Dengan lama waktu tiga menit tepat.

Aku datang ke kantor cukup pagi. Setengah tujuh kurang sepuluh aku sudah memasuki gerbang kantor. Dari luar aku sudah melihat banyak teman yang mengobrol serius di ruang depan. Orang-orang dari berbagai ruang. Aku yakin pasti mereka sedang membahas tentang telepon itu. Dan pasti sumber penceritanya Si Pendongeng yang ramah itu.
Aku masuk ke ruang dengan mengucapkan salam. Semua orang melihatku, lalu menjawab salamku. Tatapan mereka membuatku semakin bingung. Tatapan mereka antara iba melihatku dan ketakutan. Antara cemas atau kasihan kepadaku. Atau kasihan kepada mereka sendiri. Ternyata orang yang ramah yang biasa mendongeng itu tak ada di sana. Belum berangkat. Mungkin.

“Mas Puji, Mas Wanto, Mas…”, Omongan Indra terputus, seorang teman, satu ruang denganku menghampiriku.
Aku semakin kebingungan. Semuanya melihat ke arahku. Dengan tatapan yang membuatku makin bloon.
Baru aku mau membuka mulut bertanya.
“Mas Wanto meninggal, Mas”
Deeegg!!!
Jantungku seperti berhenti berdetak. Kepalaku berputar sangat cepat. Aku terhuyung, hampir jatuh kalau saja Indra tak menangkap lenganku. Pikiranku penuh. Mengapa? Mengapa harus Mas Wanto? Pria sebaik itu? Leader Tim yang sangat ramah? Yang menolak dipanggil ‘Pak’ hanya agar kami semua tak merasa canggung ketika bersamanya? Pria yang mengurus anak semata wayangnya sendirian dengan penuh kasih sayang? Pria yang menolak diajak mampir ke cafe sepulang kerja, hanya demi cepat-cepat bertemu anaknya? Mengapa harus Mas Wanto? Mengapa?

“Telepon tuhan itu…”, Aku mendengar samar-samar ada yang mengatakan itu. Semuanya gelap.
Telepon terkutuk itu? Aku yakin itu bukan Tuhan. Aku yakin itu telepon Iblis.

*NB:
Saya membedakan penulisan antara Tuhan (dengan kapital) dan tuhan (tanpa kapital).

Cerpen Karangan: Arief Kurniawan
Facebook: facebook.com/puisi.cintakita18

Cerpen Telepon dari Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Call From The Past

Oleh:
Untuk kesekian kalinya, aku merenggangkan badan dan menguap. Hari ini, pekerjaanku banyak sekali. Gara-gara sekretarisku cuti, aku harus mengerjakan semuanya sendirian. “Miss, sudah larut, lebih baik Miss selesaikan pekerjaan

Alien dan Pribumi

Oleh:
Hujan saat itu adalah Hujan di awal bulan Agustus, tidak mengenal pagi, sore atau malam hari, hujan memang tak bisa diajak bernegoisasi untuk berhenti. Banyak orang yang gembira saat

Pinkbells

Oleh:
“Dia pernah datang dalam mimpiku dan menjanjikan sejuta perhiasan asalkan puisinya dibaca khalayak ramai,” ujar Rugosa Smith ketika sadar setelah jatuh pingsan karena tertimpa plafon gedung itu. Plafon yang

Fly For Winged

Oleh:
“Mama, Mama. Aku ingin terbang seperti itu. Peri cantik!,” ucap Felly kecil yang tengah melihat Peri Riska terbang untuk melawan Raksasa jahat. Yah… Raksasa yang biasa mereka sebut dengan

Crazy Autumn (Part 1)

Oleh:
Musim gugur. Daun-daun ketika itu juga dilihat dengan berbagai macam pandangan. Ia terlihat indah ketika melayang, meliuk, berhembus lembut menggapai tanah. Tak hanya itu, kerap kali beberapa orang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Telepon dari Tuhan”

  1. dinbel says:

    Kerens, ceritanya.

  2. David Aji says:

    Telepon dari tuhan. Masih menjadi misteri.

  3. Mima says:

    Ide ceritanya bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *