Teleportasi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

Sang raja siang mulai menjabat posisinya kembali. Hasilkan peluh bercucuran di kening. Es batu sekalipun pasti akan leleh terkena hasil pemerintahannya. Apalagi si bayu tak ingin bekerja sama dengan para makhluk sosial di bumi ini. ia tak lewat barang sedetikpun di sini.

Si gadis dengan helaian rambut hitamnya, menopang dagunya di sudut kantin. Rambutnya yang biasanya ia urai kini terikat rapi —Bahkan guru seni budaya yang sering menegurnya pun kali ini tak buka mulut sedikitpun, bahkan membuatnya tersenyum. Segelas es jeruk dengan es batu ekstra telah tinggal gelasnya saja. Jika biasanya beberapa orang masih meninggalkan es batunya, tidak dengannya.

Beberapa kali ia masih menyuapkan jajanan coklat murahan di kantin, dengan muka masam. Tak dapat dipungkiri, cuacanya memang dapat membuat mood beberapa orang berubah drastis. Gadis yang biasanya berdiam diri di kelas ini pun dapat mengumpulkan segenap niatnya untuk melangkah menuju kantin, menghabiskan tiga puluh menit untuk memesan dua gelas es jeruk dan beberapa bungkus jajanan coklat.

“Da, udah tinggal lima menit, gak balik kelas nih?” cowok dengan dandanan berantakan. Rambut dicukur membuatkan jalan kutu rambut membentuk huruf S, sesuai dengan inisial namanya, Sena. Dengan gaya jalan yang tak anggun sama sekali, menghampiri si gadis, tersenyum dengan tak elit sama sekali.

“Situ sendiri?” tanggap si gadis dengan nada cuek. Memijit keningnya yang tak pusing, ia bergunam tak jelas. Bola matanya mengikuti tubuh lelaki tadi yang alhasil, kini telah berada di depannya. Si gadis menghela nafas, berdiri dari bangkunya dan berjalan menuju kelasnya.

“Nada! Ntar pulang bareng gimana?!” teriak si pemuda dari bangku sudut kantin dengan suara lantang. Alhasil, bukannya mendapat respon dari si gadis, ia malah mendapat cemoohan kasar dari guru BK yang kebetulan lewat di depannya.

“Jadi, kamu mau bahas apa?” tanya si gadis —Nada— to the point pada cowok tadi —Sena— saat melewati gerbang sekolahan. Iris matanya menatap lurus ke depan, tanpa menunjukkan sedikit ketertarikan pada cowok berandalan di sampingnya ini. sorot matanya yang tajam pun tampaknya sudah jelas menggambarkan bagaimana sifatnya yang dingin.

“Ntar kamu mampir ke sana gak?” bukannya menjawab pertanyaan Nada, Sena malah balik bertanya. Namun, sejujurnya ini adalah masalah yang ingin ia bahas dengan Nada.

Si gadis kini menoleh pada Sena. “Maksudmu ke tempatnya?”
“Ya. Ke mana lagi kalau bukan ke sana”
“Aku mampir ke sana, toh, daripada aku dimarahin gak jelas sama nenek lampir”

Sena melepaskan tawanya. Matanya hingga berair dan tampaknya perutnya sakit karena terlalu lama tertawa. Nada tetap berjalan lurus tanpa mempedulikan Sena yang asik dalam dunia penuh tawanya. Nada bahkan sedikit mempercepat laju langkahnya, jaga-jaga supaya orang-orang tak menganggapnya berjalan di samping orang gila.

“Siang, Profesor!” Seru Sena begitu masuk dalam ruangan yang sebulan terakhir ia kunjungi bersama Nada. Sempit, gelap, kotor, bau, dan lembab, itulah ciri-ciri ruangan yang sekarang menampung tiga orang manusia ini. tak sampai sejorok itu, tempat dimana ruangan ini dibangun pun berada di antara semak belukar di dalam hutan.
“Oh, Siang Sena, bagaimana sekolahmu?” suara lelaki tua menjawab sapaan Sena. Dirinya yang memakai topeng las dan sarung tangan yang begitu tebal membuatnya terlihat seperti robot sampah. Rambut berubannya pun hanya tinggal beberapa di bagian belakang kepalanya. Benar-benar seorang profesor. Lantas mengapa seorang bergelar profesor bisa hidup di tempat tak terawat seperti ini?
“Bagaimana perkembangannya?” tanya Nada mendekati si lelaki tua. Menyela penjelasan membosankan dari Sena merupakan keputusan terbaik. Jika tidak, bisa-bisa si profesor akan menyetrum dirinya sendiri.
“Sudah jadi lo,” jawab si profesor bangga. “Aku sudah mengujinya pada sebuah apel dan burung pipit, hasilnya bisa terpindah secara sempurna” selama beberapa detik si profesor menjelaskan penemuannya dengan logat Jawanya yang kental. Nada berdecak kagum terhadap seseorang di depannya.
“Bagaimana dengan manusia?” tanya Sena begitu sadar dirinya tadi tak dihiraukan oleh profesor maupun Nada. Jika tadi nada bicaranya tak enak didengar, kini ia terdengar lebih serius.
“Aku nggak tau, tapi nanti juga bakalan berhasil, kamu mau nyoba?”
Sena mengangguk mantap. “Ya mau—“
“Tidak boleh,” ucap Nada dingin memotong pernyataan setuju dari Sena. “Mesinnya belum sempurna, jika terjadi kerusakan, kamu bisa ngilang ke dimensi lain.”

Saat ini, si profesor tengah mengerjakan proyek yang dapat memindahkan seseorang ke tempat lain dengan bantuan alatnya, bahkan dapat memindahkan kita ke masa lalu maupun masa depan. Jika disamakan dengan film-film, mungkin bisa disebut alat teleportasi. Si profesor memang melakukan proyeknya secara sembunyi-sembunyi karena takutnya, pemerintah menggunakan alatnya dengan semena-mena.

“Benar kata Nada, kita gak boleh gegabah dulu. Sekarang, kalian pulang saja, aku mau menyempurnakan mesinnya dulu, kemungkinan besok bakal jadi.”

Terpaksa, Nada dan Sena pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tak nyaman itu. walaupun sejujurnya mereka sungguh enggan untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka memiliki kasus yang sama; orangtua tiri masing-masing memperlakukan mereka layaknya budak.

“Lo, hari ini Nada mana?” tanya profesor begitu Sena kembali ke tempatnya. Sena memiringkan kepalanya. Jujur saja hari ini memang ada yang janggal dengan Nada. Pagi tadi ketika Sena menghampiri rumah Nada, kata ayahnya Nada sudah berangkat. Ketika di sekolahan, tertulis di papan absesi bahwa Nada izin tidak masuk karena urusan keluarga. Selama ini, walau Nada anaknya kurang bersosialisasi, dia tidak pernah bolos sekalipun. Dikira Sena, Nada ke tempatnya profesor, tapi dianya juga enggak ada.
“Aku juga gak tau,” jawab Sena jujur. Ia duduk di kursi bambu di ruangan sempit itu.

Si profesor menggelengkan kepalanya, gusar. “Tadi pagi Nada ke sini, dia tanya tentang mesin ini, udah jadi apa belum,” cerita si profesor pelan-pelan. “Aku jawab sudah, terus katanya dia mau jadi yang pertama nyoba mesin ini, aku ke belakang sebentar, tau-tau dia udah gak ada, mikirku sih dia udah berangkat sekolah,”
Sena gak paham dengan alur cerita si profesor. “Terus?”
“Tapi, pintu mesinku kok tiba-tiba berasap, padahal tadinya baik-baik aja. Disitulah aku nyadar ternyata ada beberapa baut yang belum kupasang”

Cerpen Karangan: Wiji Alvivira
Facebook: Wiji Alvivira

Cerpen Teleportasi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


New World

Oleh:
“Liany. Perkataanmu betul. Ricky bukan orang baik. Hiks….” ucap Fika sambil menangis. “Udah, Fi. Jangan nangis lagi. Malam ini, nginap di rumahku, ya. Aku mau tunjukkan sesuatu kepadamu,” kataku

The Dark Fire 2 (Nightmare Part 1)

Oleh:
“Lalu Penguasa Api Hijaupun hilang tak berbekas di sana. Setelah goncangan itu terjadi, semua yang ada di sanapun tak sadarkan diri. Dan setelah Sang Pemata-mata siuman, dia langsung membangunkan

Mushroom Town

Oleh:
Di suatu kota, hiduplah jamur-jamur mulai dari yang masih bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan ada juga jamur yang sudah tua. Kota itu dinamakan Mushroom Town yang artinya kota jamur.

Taman Magis

Oleh:
Gadis itu masih di sana. Duduk di sudut kamar sambil memeluk lututnya, air mata masih setia membasahi wajah cantiknya, meski berkali-kali diseka dengan kasar, cairan bening itu tetap tak

Pangeran Maut (Part 1)

Oleh:
“Kerja bagus Sai!” seru Mega, kakak perempuanku. “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati sekarang” ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya. “Kau benar Meg. Sai seperti penguasa rantai makanan teratas ketika bertarung”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *