Teman Teman Karla

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 29 November 2018

Karla tidak punya teman. Itulah yang selalu Karla khawatirkan. Sebenarnya, Karla punya banyak sekali teman. Sayangnya, ia tidak menyadarinya.

“Karla, ayo kita bermain,” ajak Maggie pada Karla. Karla berpikir sejenak, “Tidak, ah,” tolaknya kemudian. “Udara sedang panas.” Maggie mengerutkan dahinya, lalu tersenyum lebar, “Tidak apa. Kita bisa duduk di bawah pohon sambil bermain boneka.”

“Tidak,” tolak Karla lagi dengan lebih enggan. “Aku tidak suka bermain boneka.” “Bagaimana dengan masak-masakan?” tanya Maggie lagi. “Aku tidak memilliki kompor ataupun panci mainan,” Karla lagi-lagi beralasan.

“Huh, ya sudahlah. Aku tinggal, ya!” Maggie menyerah, lalu meninggalkan Karla yang tengah duduk di kursi taman sambil tercenung. Tidak seharusnya aku menolak Maggie begitu saja, batinnya. Ah, tapi kan, dia juga memaksa, pikirnya lagi.

Dari kejauhan, terlihat lagi Tiffany berlari riang mendekati Karla. “Karla, apakah kau mau membuat kue bersama di rumahku?” tawar Tiffany dengan senyuman manisnya.

“Aku tidak pandai membuat kue,” jawab Karla halus. “Tenang, di sana ada ibuku, dia pasti bisa mengajarimu,” kata Tiffany lagi. “Oh… Tapi, maaf. Aku tidak ingin merepotkan ibumu jika kueku gagal,” tolak Karla lagi.

“Ibu tidak akan kerepotan. Dia adalah orang yang baik hati,” kata Tiffany meyakinkan. “Tapi, yah… Jika kau memang benar-benar tidak ingin merepotkan ibuku, tidak apa-apa.”

Karla mengangguk perlahan. Kemudian, setelah berpamitan, Tiffany langsung melenggang pergi begitu saja. Hufft, syukurlah dia sudah pergi, batin Karla lega.

Tiba-tiba, terdapat bunyi daun berjatuhan di belakang Karla. Karla berbalik dan menatap sekitarnya was-was. Hei, apa itu?, pikir Karla ketika melihat sebuah benda mungil di sela ranting pohon.

Karla berjingkat-jingkat, berusaha meraih benda mungil tersebut. Akhirnya, ia berhasil juga. Karla tersentak, benda yang ditangkapnya tadi, rupanya adalah seorang peri!

“Halo, kau Karla kan? Namaku Flo,” ujarnya, terdengar riang. “Aku ditugaskan untuk menemanimu sebagai sahabatmu. Boleh kan?” tanyanya, berharap.

“A-apa?” Karla menatap Flo tidak percaya. “M-menemaniku?” Flo mengangguk. Dalam hati, Karla bersorak gembira.

Sebulan pun berlalu. Flo harus meninggalkan Karla kembali ke negeri asalnya. “Tapi…” isak Karla, belum siap melepaskan Flo pergi begitu saja. “Ini sudah genap sebulan, Karla. Tugas para peri masing-masing hanya berlangsung selama sebulan. Tidak terkecuali aku,” ujar Flo berusaha menenangkan.

“Pesanku hanyalah, kau harus bersikap ramah. Aku jamin, pasti kau akan mendapat banyak teman,” Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Flo pada Karla sebelum ia mengepakkan sayapnya. Tak butuh waktu lama, Flo telah menghilang dari pandangan Karla.

Karla merenung. Apa yang kulakukan selama ini salah?, pikirnya frustasi. Kau harus bersikap ramah… Kata-kata Flo masih terngiang di telinganya.

Aku jamin, pasti kau akan mendapat banyak teman…

Karla teringat sesuatu. Dia langsung berlari menuju taman. Sampai di taman, dia langsung mencari-cari seseorang. Tampak Maggie dan Tiffany sedang bermain boneka sembari memakan kue Tiffany.

Karla mendekati mereka. “Bolehkah aku ikut bergabung dengan kalian?” tanyanya malu-malu. “Tentu saja!” sahut Maggie dan Tiffany senang. Siang itu pun menjadi siang yang terindah bagi Karla.

Cerpen Karangan: Naysha Alifa
Blog / Facebook: Naysha Putri Alifa

Cerpen Teman Teman Karla merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sachioko

Oleh:
Hai aku adalah ikan Sachioko yang diagungi oleh kerajaan Nagoya, Jepang. kami adalah ikan emas peninggalan Nobunaga Oda yang dipercayai untuk mengusir kebakaran dan keberuntungan seperti “lucky charm”. Apa

Tragedi Mencekam Rumah Berdarah

Oleh:
Sinar matahari mulai tenggelam, angin malam mulai menusuk, dan suasana angker mulai menyelimuti rumah misterius ini. Tak sadar diriku telah berada di pekarangan rumah ini, rumah kuno yang berarsitektur

Lucinda dan Jonathan

Oleh:
Pada saat pergi ke Louiseville, Lucinda mengajak Jonathan untuk melakukan pertandingan bowling. Dengan wajah yang licik, Lucinda melakukan gerakan mematikan untuk menjatuhkan beberapa sasaran hingga jatuh semua. Jonathan yang

Gara Gara Game Sih

Oleh:
“Bu, aku mau main.” Pepno melempar tasnya ke kamar dan segera keluar. “Eh, makan dulu.” Ingat ibunya. “Aku nggak laper.” Balas Pepno sembari berlari keluar. Sejak sebuah warnet dibuka

Pelangi Dan Keluarga Ku

Oleh:
Aku melihat laki-laki seperti tidak ada apa-apanya. “kamu tahu saya sibuk nyari uang buat kamu, buat anak ini, terus kamu minta pengertian, sudahlah aku gak akan pulang malam ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *