Tenggelamnya Sekoci Yin Galama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 30 May 2012

Langit merah mulai memenuhi ufuk Barat, kicau burung-pun mulai tak terdengar lagi. Gemuruh ombak kian teratur. Angin bertiup sepoi-sepoi. Seisi alam mulai mengakhiri aktivitasnya.

Dari kejauhan terlihat bayangan samara-samar sebuah sekoci akan memasuki kuala. Perlahan tetapi pasti ia kian mendekat. Seketika itu pula meriam pertanda datangnya kapal memasuki kuala dibunyikan. Tummmm… dentuman meriam telah dibunyikan. Sekoci-pun mulai menelusuri aliran sungai, berjalan perlahan karena sungainya tidak begitu luas.

Suasana kian mengelitik telinga, serangga-serangga sungai berbunyi saling bergantian, sahut-menyahut. Bagaikan berada dalam sebuah keramaian, yang memecahkan kesunyian. Sang nahkoda terus memusatkan pandangan ke depan. Tak menghiraukan keramaian serangga-serangga sungai tengah bergembira, karena seharian menahan diri.

Tiba-tiba dari bilik tirai pondokan sekoci terdengar suara merdu memecah kebisingan suara serangga-serangga sungai yang sedari tadi terus berbunyi. Dialah Yin Galama, putri Kho Ho. Yin Galama ini bukan Yin Galema dalam novel karya Ian Sancin. Dia hanyalah putri seorang pedagang Tiongkok yang membawa barang-barang seperti; keramik, mangkok Cina dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut ia datangkan lansung dari negerinya. Pelayaran sekoci Kho Ho melintasi Laut Natuna diperairan Muntok hingga masuk ke wilayah laut Metibak Peradong.

Suara merdu dari putri Kho Ho kian memukau. Sang nahkoda jadi semangat memainkan baling-baling setir sekoci, meski gelap malam kian mencekam. Sejenak suara merdu itu terhenti, dan terdengar sebuah sebuah pertanyaan dari Yin (panggilan Yin Galama).

“Pa, kita di mana sekarang?”

Kho Ho pun menjawab pertanyaan putrinya.

“Kita sekarang ada di aliran Sungai Peradong.”

Kemudian Yin kembali bertanya pada Papanya.

“Sungai Peradong ini masuk wilayah kawasan mana Pa?”

“Sungai ini masuk wilayah kawasan bagian Muntok.”

Setelah mengerti, Yin pun terdiam. Batinnya bertanya-tanya mengapa Papnya membawa barang-barang tersebut ke Peradong.

Malam semakin gelap, serangga-serangga sungai satu persatu mulai menghentikan suaranya. Yin pun masuk ke dalam bilik pondokan sekoci. Dalam bilik ia merenung, ada apa gerangan di kampong Peradong, sampai-sampai Papanya membawa barang-barang demikian ke sana.

Di tengah redupnya suara bising serangga-serangga sungai, nahkoda menyuarakan pada seisi sekoci bahwa sebentar lagi akan tiba di pelabuhan pekal Peradong. Pelabuhan ini tidak sama halnya dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya, karena pelabuhan pekal Peradong hanyalah pelabuhan yang kecil, yang lebih cocok dinamai dengan tambatan perahu. Namun, demikianlah adanya pelabuhan pekal Peradong.

Sedikit bahagia dihati Yin, walaupun perasaan dihantui dengan rasa penasaran terhadap kampong yang dituju.

Tiba-tiba, nahkoda berteriak kaget, seisi sekoci menjadi terkejut, ada apa gerangan nahkoda berteriak…?? Ternyata seekor buaya besar lewat di depan muka sekoci. Kini, keterkejutan itu telah sirna. Tapi, tiba-tiba… gradakkkk…. seperti ada sesuatu yang menabrak, sekoci jadi bergoyang ke kriri dan ke kanan. Nahkoda jadi panik, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda pada sekoci yang dinahkodainya. Ternyata, buntut belakang sekoci mengalami kebocoran. Seisi sekoci jadi berhamburan, rasa ketakutan menghantui hati mereka.

Air telah masuk ke dalam sekoci setengah mata kaki orang dewasa, sekoci tetap berjalan hingga tiba di tikungan sungai. Sesampai di tikungan sungai, air telah setengah badan sekoci. Seisi sekoci meloncat ke luar.

Perlahan tapi pasti, sekoci mulai tenggelam. Harapan Kho Ho pun ikut tenggelam, karena barang-barangnya ikut tenggelam bersama sekoci. Mereka pun berenang menuju tepian sungai, termasuk Yin. Sesampai di tepi sungai, mereka memanjat pohon-pohon yang ada. Dengan tubuh kedinginan mereka mendekap di pohon-pohon menanti malam berganti siang dengan harapan yang pupus.

Kampong Peradong yang dituju belum kesampaian, siang yang dinanti pun masih lama. Sunguh malang nasib Yin Galama, karena sekoci Kho Ho tengelam seiring dengan larutnya malam.

Sekoci : kapal kecil
Kuala : muara (pertemuan antara air laut dengan air sungai)
Pekal : pangkal

Riding Panjang, 01 Februari 2010
Pukul 20:09 WIB

Cerpen Tenggelamnya Sekoci Yin Galama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kubah Besi

Oleh:
Dua ribu? Sepuluh ribu? Entah berapa banyak liter yang sudah aku habiskan hanya untuk bernapas, atau hanya untuk membelai rambut jagungku saja. Waktu itu layaknya seorang penguasa Eurasia, aku

Putri Prully dan Regio

Oleh:
Dahulu kala hiduplah seorang putri bernama putri Prully. Dia tinggal di negeri jamur. Negeri yang dipenuhi dengan jamur, tidak ada tumbuhan yang hidup selain jamur. Meskipun dia tinggal di

Tidaaak!

Oleh:
New York, USA “Kau siap?” tanya seseorang dengan jas putihnya “Siap prof” “Tapi resikonya tinggi. Keluargamu tak akan mengenalimu lagi” “Tak apa, demi misi ini aku rela mempertaruhkan nyawa

Kamu dan Duniamu

Oleh:
Merekakah sahabat-sahabatmu? Tahu apa mereka? Apakah mereka selalu menemanimu setiap saat? Aku yang tahu kamu! Aku yang selalu menemani kamu ke manapun! Aku juga yang selalu merasakan apa yang

Strawberry City

Oleh:
Pagi itu, Chika menggendong ranselnya melintasi rel kereta api dan berjalan menuju jembatan penyebrangan. Sinar kegembiraan terpancar jelas pada raut wajahnya. Pagi itu, ia sangat gembira sekali. Strawberry city

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *