Thank You Mesin Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 7 December 2017

Hai, Guys!
Namaku Vannila, dipanggil Vanny. Aku tinggal di tahun 2595. Di dunia sekarang, terjadi perang di mana-mana. Semuanya terpecah belah. Tapi, perangnya ada jadwal, sih. Tiap bulan, ada 2x perang antar negara. Menyedihkan bukan?

Kata Nenek, dulu dunia tidak seperti sekarang. Dulu jarang ada perang. Kecuali konflik. Itu pun juga jarang. Juga, dulu dunia itu masih hijau. Sekarang? Hutan palsu ada! Asli nggak ada! Sepertinya, sebentar lagi kiamat. Bodo amat, sih gue. Okay, to the point aja! Langsung lets go to my story!

“Vanny! Apa kamu sudah siap? Kita harus membeli oksigen di kota”, ucap Mama. Oh, ya! Sekarang, oksigen pun harus dibeli. Mahal lagi.
“Udah kok, Ma. Bentar, ya. Vanny mau ke toilet dulu, kebelet”, aku pun langsung berlari masuk toilet.
“Okay! Airnya jangan dihamburkan, ya! Kita sekarang udah kekurangan air”, pesan Mama. Sekarang, air bersih pun susah banget didapat, air kotor aja susah, apalagi air bersih.

Selesai buang air kecil, aku langsung keluar dan memasuki Cartor, gabungan motor dan mobil. Aneh? Maybe!

Karena dari rumahku ke kota sangat jauh, kuputuskan untuk tidur. Dalam tidurku, aku bermimpi berada di dunia yang sangat indah. Tapi, makin lama menjadi rusak.

Bruukkk…
Suara benturan membuatku terbangun dari tidurku. Oh, tidakk!!

“Vanny! Kamu nggak apa-apa?”, aku terbangun melihat Mama.
“Iya, Ma. Nggak apa-apa kok!”, jawabku. Dan aku teringat. Tadi, Cartor kami terlempar jauh.
“Kita di mana, Ma? Kok ada hutan?”, ucapku yang tidak pernah melihat hutan asli. Setahuku, sudah tidak ada hutan asli lagi.

Aku dan Mama pun berjalan menelusuri hutan itu. OMG! Apa itu? Tampak sebuah benda terjatuh di hadapanku.

Aku dan Mama pun mencoba memasukinya. Terdapat berbagai tombol seperti lift. Ternyata, ini ada mesin waktu. Mama pun mengusulkan untuk pergi ke dunia dulu. Mama memencet beberapa angka hingga terbentuk angka 2000. Dan, tampak mesin itu berputar-putar. Berbagai kejadian tampak seperti dimundurkan.

Setelah beberapa saat, mesin itu berhenti dan membuka pintu. Kami tampak berada di sebuah hutan. Mesin waktu itu pun mengecil. Aku langsung mengambilnya dan memasukkan ke sakuku.

Berjalan kesana kemari, akhirnya kami berhasil keluar dari hutan. Oh God! Kuhirup udara sepuasnya. Tampak berbagai pohon di pinggir jalan. Rumah-rumah sederhana berjajar rapi. Dan, ada supermarket, toko kue, rumah makan, and anymore. Walaupun nggak selengkap waktu aku masih di tahun 2595, aku tetap happy.

Karena tidak memiliki uang sedikit pun, Mama pun langsung mencari perkerjaan. Aku hanya mengikutinya. Dan, Mama pergi ke toko kue. Oh, ya! Mama pandai buat kue, loh. Setelah berbincang-bincang, Bosnya pun setuju.

“Sebenarnya nggak sopan, Pak. Tapi, bolehkah saya meminjam uang. Nanti bisa dipotong di gaji saya, Pak”, ucap Mama.
“Maaf, Bu. Saya nggak bisa. Tapi, kalau anda bersedia bernyanyi di panggung, nanti bakal saya bayar kok”, tawar Bos itu yang bernama Anton.
“Baik, Pak! Saya akan menyanyi bersama anak saya”, jawab Mama.

Mama pun merapikan pakaianku dan pakaiannya. Kami maju ke panggung. Pertama, kami menyapa para tamu. Lalu, kami pun memilih lagu. Untungnya ada beberapa lagu yang Mama ketahui. Kami pun menyanyikannya.

Saat selesai dan toko tutup, Bos pun memberi Mama uang 5 lembar 100 ribu. Mama berterima kasih dan pergi. Untungnya, di dekat toko kue itu, terdapat kost. Namanya Melati Kost.

Kami pun masuk. Di sana, Mama bertanya harganya. OMG! Harganya murah banget. Mama pun memilih kamar yang pas buat aku dan Mama. Lalu, Mama pun langsung memmbayar untuk 1 bulan.

Di kamarnya, sudah terdapat ranjang, lemari, dan kamar mandi. Karena masih tersisa uang, Mama mengajakku untuk membeli baju dan makanan. Aku langsung setuju.

Kami langsung menuju toko baju yang masih buka. Pas ada promo lagi, sehingga murah meriah. Aku memilih baju biru muda dan celana levis. Mama memilih baju hitam dengan celana panjang putih. Tentunya tidak lupa membeli pakaian dalam. Totalnya cuma 95 ribu. Muraahhh…

“Ma, udah jam 8 lewat, nih!Masih mau beli makanan nggak?”, tanyaku.
“Maulah, kita beli nasgor aja, ya!Ama ntar maauk supermarket beli air putih”, jawab Mama.

Kami pun langsung menuju pedagang kaki lima yang menjual nasgor. Selesai membeli nasgor, kami beli air. Dan, kita pulang.

Keesokan Harinya…
Aku terbangun dan Mama sudah selesai mandi. Mama memakai bajunya dan keluar beli makanan. Aku pun lekas mandi dan memakai baju baruku.

“Sayang! Bukain pintu”, ucap seseorang dari luar.
“Okay, Mom!”, jawabku.

Saat kubuka, tampak sebuah kantong. Di dalamnya terdapat makanan. Kami pun makan dengan lahap. Setelah itu, Mama langsung pergi kerja dan aku di kost.

Begitulah yang terjadi selama berhari-hari. Hingga, Mama mendapat banyak uang dan membeli rumah. Kehidupan kami semakin menyenangkan saat Mama membuka usaha toko kue dan sukses. Mama pun dikenal hampir di setiap sudut kota. Toko kue Mama tiap hari ramai.

Aku senang sekali tinggal di sini. Dan, aku tahu. Semua ini berawal mula dari si mesin waktu. Thank You, Mesin Waktu.

Cerpen Karangan: Cindy Flowencya
Facebook: Cindy Flowencya
Namaku Cindy Flowencya, seorang dancer di kota kecil Singkawang. Penyuka buku dan ketagihan main instragam. Kalau pengen kenal dekat, follow instragam aku @cindy_f05

Cerpen Thank You Mesin Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Handphone Ajaib Tata

Oleh:
Hai! namaku Tita. Aku kakaknya Tata. Tata adalah saudara kembarku. Kami berdua selalu bersama. Tata anak yang pandai. Sayang, sifatnya yang membuat dirinya jelek. Ya.. benar. Tata anak yang

Semut yang Sombong

Oleh:
Di sebuah hutan tinggallah seekor semut. Semut itu dijuluki si Mungil karena ia berbeda dengan semut yang lainnya. Karena di usia remajanya ini semut itu belum mengalami perubahan tinggi

Malam Natal Jane

Oleh:
Hari ini malam natal. Jane dan teman-temannya sedang berkumpul di halaman gereja. Mereka membicarakan tradisi natal di keluarga masing-masing. “Setiap malam natal, aku dan keluargaku memasang pohon natal lalu

Cake A Lemon Syrup Gove

Oleh:
Citra membuka matanya, ia meraba dinding untuk menemukan saklar listrik. Aha! Ini dia, ia berhasil mendapatkannya. Citra segera melihat ke arah jam wekernya. Dan ternyata masih jam 06.00. Lalu

Veteran

Oleh:
Lala yanng ditemani ibunya sedang berziarah ke makam nenek dari ibunya. Selesai berdoa, Lala sedang melihat seorang laki-laki tua yang juga sedang berdoa di sebuah makam. Kakek itu tampak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *