The Crown of Avalor

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 20 June 2017

“Bagaimana rasanya jika kau hidup di dalam kesendirian, kelam, tanpa adanya secercah cahaya apapapun. Ketika ketakutan datang menghampiri dan mengambil alih seluruh jiwamu, apakah para penakluk hati akan bangkit dan memperoleh kemenangan?”

Di awal musim semi pertamanya, di bawah pepohonan rindang, seorang bayi ditemukan tergeletak di dalam keranjang bunga, dibalik semak-semak belukar. Bayi itulah satu-satunya makhluk hidup yang ada, setelah badai salju dan udara dingin melanda. Bayi itu terbungkus kain hangat berwarna merah yang terlapisi batu rubi di pinggiran kanan dan kirinya. Berbalut komposisi musik beethoven yang berpadu dengan bau harum bunga azalea.

Seorang wanita separuh baya mengangkat bayi itu dengan perlahan. Ia perhatikan, seorang bayi perempuan berambut perak, bermata biru, dan memiliki bibir semerah mawar menatapnya dengan senyum malu-malu. “Bayi manis nan cantik sepertimu seharusnya memiliki nama yang cantik juga bukan?” Ujar wanita tersebut “Kau bisa memilih sebuah nama. Mungkin kau cocok dengan nama Viona, Rossalia, Bella, atau Viviane?” Wanita tersebut terus menerus bertanya, meskipun ia tahu bahwa bayi itu tidak akan bisa merespon pertanyaannya. Ia memutuskan untuk memilih Viviane sebagai nama untuknya, karena setiap kali ia menyebut nama tersebut, bayi itu selalu tertawa dan secercah kebahagiaan muncul begitu saja. “Panggil aku Claire.” Bisiknya lembut. “Aku berjanji akan merawat dan melindungimu, bunga musim semiku…”

Bayangkan malam bersuara, bayangkan cahaya bulan memandang lembut sentuhan nirwana. Gugusan bintang yang menghiasi langit malam beradu dengan awan lembut laksana kapas. Viviane kecil masih tetap terjaga, meskipun Dewi Malam perlahan-lahan pergi dan berganti dengan sang Raja Pagi.

Terdengar suara musik di ruang makan. Gesekan biola mengalun dengan sangat indah dan begitu cepat! Ratu kerajaan Zevania, Claire, memainkannya dengan nada tak beraturan. Meskipun begitu, ia mampu membuat semua orang terpana, sampai-sampai tak ada satu pun yang terlewatkan. Ratu menawan itu hidup sebatang kara di dalam sebuah istana, hingga bunga musim semi hadir menerangi seluruh kerajaan.

Tahun demi tahun berlalu, musim demi musim telah berganti, di hari ulang tahun ke 16-nya, Viviane tumbuh menjadi seorang gadis yang amat cantik, cerdas namun juga pemarah dan keras kepala. Menjadi seorang putri kerajaan Zevania kini telah mengawali hari-harinya. Bersama takdir, ia akan menentukan sebuah pilihan…

“Tuan putri, bangun! Bangun! Ratu Claire memanggilmu…” Kata Agia, pelayan istana sekaligus teman baik Viviane. Seumur hidupnya, ia tak pernah bertemu seseorang seperti Gia. Sifatnya yang ramah, baik hati, dan menyenangkan, telah membuat putri kerajaan itu nyaman dengan keberadaannya. Viviane mengolet sambil memeluk selimut sutra hijau miliknya. Sutra hijau berhias bulu merak dan juga renda-renda putih, terlihat begitu cantik nan elegan. “5 menit lagi.” Jawabnya singkat. Dengan sigap, pelayan istana itu membuka tirai jendela lalu menarik selimut sutra yang terbalut di sekujur tubuhnya. Sinar matahari mulai mengusik mata. Begitu juga dengan kicauan merdu sekelompok burung kenari yang seolah-olah mereka ikut serta dan berpihak dengan pelayan istana tersebut. “Oke, oke aku bangun! Lalu apa sekarang?? Ratu tidak pernah memanggilku seperti ini.”
“Sudah… Kau harus mandi dan segera bersiap. Cepat!” Agia menarik lengan Viviane, menyuruhnya untuk bergegas merapikan diri.

Para pelayan lainnya menata rambut peraknya agar tampak anggun dan juga menawan. Mahkota tinggi dengan batu berlian, telah menghiasi kepalanya. Putri Zevania itu berjalan menuju ruang pertemuan. “Apa yang harus aku katakan jika bertemu dengannya,” pikirnya gugup “Yang mulia? Tuan Ratu? Ah… tak seperti biasanya.” Rasa resah tiba-tiba menghantui pikirannya. Lampu-lampu di sepanjang lorong mulai redup, membuat suasana semakin mencekam. Di depan ruang pertemuan, Ia membuka pintu besar dengan perlahan-lahan. Tampak samar-samar, segeromboloan prajurit berjubah hitam melirik ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian. Viviane tetap berjalan di atas karpet merah sambil menggigit bibirnya. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Dingin dan juga hampa. Jantung gadis itu berdegup kencang, ketika sosok Ratu Claire muncul dengan anak panah yang menancap di sekitar punggungnya. ”Apa yang telah terjadi?” Gumamnya di dalam hati. Prajurit berjubah hitam berjalan mendekati Viviane dengan pedang panjang di tangan kirinya. Semakin mendekat, hingga Viviane lari meninggalkan ruangan dengan rasa takut tiada kira. “Tadi itu… pasti hanya mimpi! Ratu Claire… TIDAK MUNGKIN ia mati!” Pasukan itu berlari mengejar Viviane. Sorakan mereka terdengar begitu tidak bersahabat. Viviane berteriak mencari keberadaan Agia dan juga pelayan lainnya. Berusaha meminta bantuan, namun tak pernah ada yang datang untuk menolongnya. Ia berlari dan terus berlari hingga masuk ke dalam ruang kamarnya dengan nafas tersengal-sengal.

Viviane tertegun ketika melihat lantai kamar yang awalnya jernih laksana kristal kini berubah menjadi merah darah! Semua pelayan kerajaan tergeletak tak berdaya dengan bekas luka tebasan pedang panjang. “Apa-apaan ini! Kenapa semua orang terluka?” Diperiksanya satu persatu pelayan. Dengan rasa jijik ia mencoba untuk melakukannya. “Semua pelayan ini mati!” Pikir Viviane keheranan. “Hmm… Tunggu! tidak semua….”

Dari balik jendela kamar, tampak 1.000 pasukan berjubah hitam memblokir jalan masuk istana. Mereka membakar jembatan dan juga pepohonan di sekitarnya. Kepulan asap yang semakin pekat telah menguasai udara, hingga secercah cahaya perlahan pergi meninggalkan lautan angkasa. “Hancurkan kerajaan! Rebut singgasananya!” Suasana hiruk piruk. Langkah tegap pasukan itu membuat bumi terguncang. “Aku harus pergi…” ujarnya pelan. “Tapi… Agia… ah lupakan.” Viviane berjalan ke arah pintu gerbang kedua dengan langkah lebar, lalu mengeluarkan Josephine dari balik kandangnya. Josephine, kuda iblis Viviane yang bertubuh besar, hitam, dan memiliki bulu tebal di sekitar kaki-kakinya. Berlari sekencang kilat dan mampu menumbangkan para prajurit lainnya.

“Viviane!” Teriak seseorang dengan sedikit samar-samar. Josephine menghentikan langkahnya, Viviane berusaha mencari sumber suara. “Viviane, di sini! Tolong… Tolong aku…” Tampak seorang gadis berambut hitam pekat melambaikan kedua tangannya. “Agia!” sorak Viviane kegirangan. Ia berbalik ke arah gerbang pintu utama, memasuki halaman lalu turun dari punggung kuda iblisnya. “Kau dari mana saja? Aku mencarimu ke mana-mana tahu! Ayo pergi…” Ajak Viviane kepada Gia.
“KAU TERJEBAK!” Bisik Agia. “Kau akan MATI, putri Viviane…” Dengan cepat Agia menyerang putri kerajaan itu dengan belati kecilnya. Viviane mencoba menghindar lalu menepis tangan pelayan itu dengan sangat kasar. “Berani-beraninya kau! Kupikir kau adalah teman baikku, pelayan yang selalu ada untukku. Namun, ternyata kau adalah dalang dari balik semua ini kan? Pengkhianat!”

Viviane meneteskan air matanya. Tatapan damai Agia perlahan-lahan berubah menjadi rasa iri dan dengki. “Aku melakukan ini… untuk mewujudkan impianku. Aku ingin mengambil alih kerajaan ini, dan kau bukanlah putri Zevania. Tetapi kau hanyalah anak buangan!” Suasana hening seketika. Rahasia itu telah terbongkar. Viviane terjatuh ke tanah lalu menatap mata Agia dalam-dalam. “Selamat tinggal Yang mulia…” Ujar Agia pelan. Mantan pelayan itu membidik jantung Viviane lalu mulai mengayunkannya.
“TIDAK!!!” Teriak seseorang yang terdengar samar lalu mendekat semakin jelas dan jelas. Dari balik kabut, terlihat sesosok pemuda bertopeng yang menunggangi seekor kuda putih keabu-abuan. Ayunan itu terhenti, ketika kuda tersebut berlari tanpa henti. “Raih tanganku…” Kata pemuda itu sambil mengulurkan tangannya kepada Viviane. Dalam hitungan detik, mereka berhasil terbebas dari kegelapan. Kuda putih itu melaju tanpa memandang ke arah sekitar. Melewati gerbang istana yang dipenuhi tumbangan pepohonan.
“Berhenti kau!” Agia berlari mengejar mereka berdua sambil berusaha melempar belati kecilnya. Tanpa berpikir panjang, pemuda tersebut mulai memanah Agia dari kejauhan. Anak panah itu melesat, menancap tepat di dada kirinya. “Apa yang kau lakukan!” Teriak Viviane. Ia memberontak lalu membuang pemanah tersebut ke dalam jurang. Meskipun begitu, Teriakan dari rintihan mantan pelayan tersebut masih terdengar bekilo-kilometer jauhnya.

“Kau siapa? Kenapa kau membantuku? Bagaimana bisa kau ada di sana?” Banyak sekali pertanyaan Viviane yang perlu dijawab oleh pemuda itu.
“Jasen, Kesatria Avalor,” jawabnya singkat. Viviane melongo kebingungan.
“Kau tidak menjawab semua pertanyaanku,” balasnya sinis. Jasen mengabaikannya. Matanya tetap fokus ke arah depan. “Hmm…” gumam Viviane.“Aku merasa ada sesuatu hal yang sedikit ganjil.” Ia terdiam sejenak, lalu memandang kuda yang ditungganginya. “Josephine! Josephineku… kau melupakannya!” Jasen menarik kekangnya, langkah kuda itu terhenti. Dengan santai ia menoleh ke arah belakang. “Dia di sana, mengikuti kita. Jadi… Diamlah!” Viviane mengerenyitkan dahi lalu membuang muka. “Baik… Baiklah…”

“Selamat datang di rumah”
Istana Avalor, bangunan putih yang menjulang tinggi di atas bukit-bukit kecil, dengan menara-menara yang tertancap melambangkan simbol perdamaian. Terlihat begitu indah dan bersinar. “Rumah?” Ujar Viviane keherananan. “Bagaimana bisa?”

Kuda itu berhenti tepat di depan halaman istana. Tampak keluarga bangsawan menyambutnya dengan tangan terbuka. Mereka berjalan, menaiki anak tangga yang mungkin berpuluhan jumlahnya. Para prajurit istana memberikan penghormatan kepada Viviane. Meskipun ia tahu, bahwa ia bukanlah anggota dari kerajaan tersebut.

“Hai, Viviane.” Sapa ratu Avalor dengan penuh suka cita.
“Mm…. Halo, Yang mulia” Balas Viviane sambil menundukkan kepalanya.
“Sudah lama tak jumpa ya…” Ujar Ratu itu tiba-tiba. Viviane terkesiap. “Apa?”
“Dulu aku memiliki seorang putri. Ia berambut perak, bermata biru, dan memiliki bibir semerah mawar. Namun, peperangan telah memisahkan aku dari dirinya. Dan kini, ia muncul di hadapanku.” Kata Ratu itu sambil menyentuh pipi Viviane dengan sangat lembut.
“Aku… Aku…”
“Ya! Itu kau, Viviane” Seketika, air mata kebahagiaan membasahi pipi keduanya. Tak pernah disangka, Mahkota dari kerajaan Avalor itu kembali ke dalam pelukannya. Mahkota Avalor yang hilang bertahun-tahun lamanya, kini telah kembali ke tempat asalnya. Seluruh kerajaan bersorak ria. Pesta mulai terselenggara dengan meriah. Viviane yang muncul dari balik singgasana terlihat begitu berbeda. Dengan gaun putih dan mahkota silvernya, ia berjalan menelusuri ruangan..

“Hidup adalah pilihan… Dan apakah kau tahu, harta paling berharga di dalam kehidupan? KELUARGA… Ya, itu adalah jawabannya. Claire… Terima kasih atas segalanya.” Gumam Viviane di dalam hati. Semua orang bersorak. Hingga pada akhirnya, mahkota Avalor kembali bersinar.

SELESAI

Cerpen Karangan: Shabrina Naa
Facebook: rinranstory.wordpress.com

Cerpen The Crown of Avalor merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Mawar Dan Rumput Liar

Oleh:
“Hai, Mawar selamat pagi? Ceria sekali kamu hari ini?” sapa merpati yang hinggap di salah satu batang daun pohon jambu dekat bunga Mawar. “Kau rupanya Merpati, tentu saja aku

Cinderella Merpati

Oleh:
Amel dan Imel. Sepasang burung merpati yang selama ini mengharapkan diri mereka menjadi manusia. Mereka berdua selalu saja bermimpi diri mereka menjadi manusia yang seutuhnya, padahal, diri mereka hanya

Her Name is Naomi

Oleh:
Game, tidak ada yang menyenangkan selain bermain game. Apapun bakal gue lakuin buat memicu semangat gue dalam bermain game. Karena gue seorang gamers sejati. Kini gue duduk di antara

Atas Nama Cinta

Oleh:
“Aku cinta padamu Emma.” Ucap Sebastian lirih. “Aku juga cinta padamu, Ian. Tetapi, aku tidak bisa bersamamu. Aku adalah peri Musim Dingin. Sedangkan kamu adalah peri Musim Panas. Kamu

Tragedi Roy

Oleh:
“Maafkan aku ayah, aku tidak akan mengulanginya lagi!” jerit Roy sambil meratap kesakitan. Melihat hal tersebut, Sang Ayah bukannya berhenti, dia malah semakin menjadi menyiksa Roy tanpa ampun. Roy

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *