The Forest

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 8 July 2018

Berlarilah jika itu diperlukan. Berjalan hanya menghambat langkahmu untuk hidup. Jika sekali saja, kau menoleh belakang. Tamat riwayatmu!

Gia menatap lurus pemandangan rumah kakeknya, yang terletak di Cincinnati. Kakeknya adalah seorang Petani biasa di desanya. Tidak lebih.
Kebetulan, di dekat rumah kakeknya tersebut. Terdapat danau yang jernih, udara nya pun terasa sangat sejuk di pagi hari.

Gia refleks memejamkan matanya, menikmati suasana alam yang jarang ia temui di tempat tinggalnya. Ia kembali membuka matanya, menatap jauh di seberang danau. Terdapat sebuah hutan yang jarang dijamah oleh penduduk sekitar.

Gia memandangi hutan itu lama. Memandangi hijaunya daun dan asrinya hutan tersebut. Tetapi, mengapa tidak ada yang menjamah hutan tersebut?

Matanya masih saja menatap lurus hutan itu, tanpa sengaja, Gia melihat seorang berjubah hitam yang berlari dengan tergesa di dalam hutan itu. Refleks, ia berdiri ingin melihat lebih jauh tentang hutan itu. Dan ingin melihat orang berjubah di dalam hutan tersebut.

“Gia?” Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Membuatnya terkejut dan menoleh belakang. Ia mengelus dadanya pelan karena keterkejutannya. “Ada apa nek?” tanya Gia mengernyit kan dahinya.
“Jangan menoleh ke arah hutan itu, terdapat banyak ilusi di sana. Bisa-bisa kau terjebak dalam ilusi yang terbentuk dalam hutan itu. Bahaya,” ucap sang Nenek. Ia khawatir akan terjebaknya cucu kesayangannya itu dalam ilusi hutan di seberang rumahnya.
“Tapi, Nek. Aku melihat seorang berjubah, ia berlari ketakutan. Di sana.” Gia mengarahkan telunjuknya, ke arah yang ia lihat tadi.
Sang nenek menghela napas panjang. “Gia, sudah kubilang. Itu hanyalah ilusi, jika kau ke sana. Mungkin, kau tidak akan kembali untuk selama-lamanya,” ucap Nenek menebak isi pikiran dalam otak Gia.
“Sudahlah, makan siangmu sudah siap. Kakek juga menunggumu. Ayo!”

Gia mengekori arah gerak neneknya. Sambil masih memikirkan hutan seberang danau rumah kakeknya. Lantas apa yang ia lihat tadi? Khayalan?

“Darah dalam tubuhmu, menyeru agar kembali dalam lingkungan sejatimu. Kembalilah!”

Gia terbangun dari tidurnya, bulir-bulir keringat menetes dari dahinya. Napas nya tersenggal-senggal. Mimpi buruk.

“Just a dream, Gia. Mimpi hanya bunga tidur.” Gia membatin juga memberi semangat pada dirinya sendiri. Ia menggeleng kan kepalanya. Lalu menyalakan lampu kamarnya. Ia mengambil air putih di nakas samping ranjangnya.

Tok… Tok…Tok…
Suara ketukan pintu membuat jantung nya berdebar kencang. Bibirnya serasa kelu, matanya melotot tajam. Segala pikiran negatif merasuki otaknya. Ia memejamkan matanya.

Tanpa disuruh oleh sang pemilik kamar, yang mengetuk pintu pun langsung memasuki kamar Gia. Lantas, Gia menjerit kencang.

“Hei, Gia. Ada apa denganmu?” tanya orang itu khawatir. “Ah, Jake. Kukira kau siapa.” Gia menghela napas lega. Ia menetralkan degup jantungnya. Ia sangat takut, setakut-takutnya dirinya.

Jake menuntun Gia ke arah kasurnya, menduduki sepupunya tersebut di ranjang miliknya. “Ada apa sebenarnya?”
“Hanya mimpi,” jawabnya singkat. “Lalu, apa yang membuatmu sangat takut?”
“Tidak ada. Hanya mimpiku sangat buruk.” Gia menatap Jake lurus. “Benarkah?” Gia mengangguk agar Jake mempercayainya.

“Omong-omong, ada apa kau kemari?” Gia mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Ah, betul. Tadi ayahmu menelepon, menanyakan kabarmu. Dan ia bilang, kau harus meneleponnya esok hari.”
“Peduli apa dirinya?” ucap Gia dengan nada sinis. Jake yang mengerti dengan keadaan Gia langsung terdiam.
“Aku ke kamar, selamat beristirahat.” Jake mengacak rambut Gia pelan. Gia hanya tersenyum kecil.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Gia berani. “Darahmu.” Makhluk bertubuh kerdil yang berwarna biru pun mendekati Gia perlahan. Gia semakin berjalan membelakang, menginjak ranting dan dedaunan hutan ini. Sementara, makhluk itu kini menyeringai lebar.

Srettt….

Kepala makhluk itu terpisah dari tubuhnya. Sontak, Gia menjerit. Ia terkejut, seraya membelalakan matanya lebar. Saat ia benar-benar melihat makhluk itu sudah terpisah kepala dan tubuhnya.

Ia menutup mulutnya menggunakan satu tangan. Seorang berjubah hitam menghampirinya, tunggu…
Ia pernah melihatnya!

Ia mengingatnya, dua hari yang lalu, ia melihat orang ini. Ia berlari layaknya orang ketakutan di tengah hutan.

Gia memundurkan langkahnya, seraya memegang balok kayu yang entah kapan telah ada di bawahnya. Dan ia langsung memungutnya di tangan.

“Hei, jangan takut. Aku tidak menyakitimu.”

“Siapa kau?” suara Gia lantang, tetapi tertangkap nada gemetar pada dirinya. Orang itu membuka jubah hitamnya, memunculkan sosok lelaki tampan. Ia mempunyai mata berwarna biru terang, rahang yang kokoh, alisnya hitam tebal, bibirnya pun sedikit tebal berwarna merah muda, serta hidungnya yang mancung. Sejenak Gia terperangah akan ketampanan lelaki di hadapannya, setelah sadar akan lamunannya sendiri. Ia memincingkan matanya ke sembarang arah.

“Apa yang kau lihat?” tanya lelaki itu dengan datar. “Tidak ada,” balasnya tak kalah datar.
“Aku Liam, dan kau?” tanya nya. “Gia.”
“Baik Gia. Kau jangan terpengaruh oleh makhluk di sini, kau akan mati jika tidak menyerang. Bodoh.” Secara tak langsung, Lia sedang menyindir dirinya.

Sebenarnya Gia bisa berada di sini, saat ini adalah karena rasa penasarannya yang memuncak. Ia sangat ingin memasuki hutan ini. Hingga, ia benar-benar terjebak dalam hutan ini.

“Tahukah kau?” Liam mulai duduk di batu yang berada dekat dari tempatnya. “Apa?”
“Tempat ini, banyak digunakan untuk tempat pemusnahan penyihir kala itu.” Liam bercerita. “Dan ada beberapa penyihir yang masih hidup. Dan makhluk tadi adalah. Salah satu dari antek antek penyihir,” lanjutnya.
“Lalu, apa tujuanmu kemari?” tanya Gia bingung. “Menemui ibuku.”
Gia mengernyit bingung. “I… Ibumu penyihir?”
“Bisa dikatakan ya dan tidak,” jawabnya santai.
“Sudahlah, terima ini.” Liam melempar pisau lipat ke arah Gia. Tangannya gemetar memegang pisau yang saat ini terdapat di tangannya. “Kita harus bertahan hidup.”

Sudah sekitar dua minggu Gia berada di hutan ini bersama Liam. Ada perasaan menyesal di dalam hatinya, mengapa juga ia tidak menuruti neneknya? Bodoh sekali dirinya itu, juga ceroboh!

Srettt.
Darah mengucur deras dari siku Gia. Ia terkena sebuah pisau. Rasanya sudah pasti sakit. Tetapi ia menahannya, Liam membersihkan luka yang berada pada Gia.

“Ceroboh! Arwah para penyihir pun bisa membunuhmu di sini!”
“Maafkan aku.” Gia menatap tanah hampa di bawahnya. “Tidak apa.”

Mereka berdua kembali berjalan menelusuri hutan. Hingga mata Gia menatap sebuah bangunan tua yang sudah bobrok termakan usia.

“Liam, lihat itu.” Gia mengarahkan telunjuk nya ke arah bangunan tersebut. “Bangunan apa itu? apa pernah kau ke sana?”
“Belum. Dan aku tidak tahu bangunan apa itu. Tapi bagaimana kalau kita mencoba. Tidak ada salahnya bukan?” Liam menautkan alisnya. Walaupun Gia sedikit ragu, tapi akhirnya ia menyetujui perkataan Liam.

Mereka berjalan menuju bangunan tersebut, melihat lebih jelas bangunan tersebut. Setelah sampai di gerbang utama bangunan tersebut. Liam membuka pintunya. Pintu tersebut berdecit nyaring, terdengar seperti dalam film horror.

Mereka mulai memasuki bangunan tersebut. Di dalamnya sangat gelap dan juga pengap. Tidak ada penerangan.

Tiba-tiba. Pintu tertutup dengan sendirinya, lilin mulai menyala di sudut-sudut ruangan dalam bangunan tersebut.

Terdengar suara tawa nyaring dari atas bangunan tersebut. Ia menarik tangan Gia ke arah atas bangunan ini.

Semakin lama, langkahnya semakin pendek. Liam berjalan santai menuju atas, seraya menunjukkan seringai menyeramkan dari wajah tampannya.

“Ini, Ratu. Kuserahkan seorang jiwa manusia padamu.” Liam menyerahkan Gia ke arah wanita yang sudah cukup usia. Tetapi, wajahnya masih sangat cantik.

Ratu itu pun, langsung mendekat ke arah Gia beberapa langkah. Refleks, Gia pun memundurkan langkahnya. Tapi, langkahnya tertahan oleh pegangan tangan Liam yang erat pada dirinya.

Seringai jahat muncul dalam bibir Liam. Ratu pun sudah tertawa dengan nyaringnya.

Ratu kemudian menghisap jiwa Gia dari raganya. Hingga jiwa Gia tak tersisa. Raga Gia tergeletak tak berdaya di bawah kaki sang Ratu.

Kemudian, semuanya menggelap….

“Hei, Gia. Bangun, hari ini kau masuk sekolah bukan?”

Gia mengerjap beberapa kali, apa tadi mimpi? tapi begitu nyata dirasa. Ia mengingat tentang mimpinya tadi, lalu mencoba melupakan segalanya.

Ia beranjak dari ranjangnya, menuju kamar mandi. Ia ingin berendam air hangat pagi ini.

Seusai mandi dan bersiap. Ia langsung menuju sekolahnya. Di sekolah hari ini, ia telah menjadi senior di angkatannya.

Di kelas, hanya perkenalan guru, dan murid baru laki-laki…

Hum, tunggu. Itu sangat mirip Liam! Ya, ia yakin itu adalah Liam. Tidak salah lagi.

Uh-oh. Bangku yang tersisa hanya di sebelahnya, Liam berjalan menuju bangku sebelahnya, dengan senyum yang tak dapat diartikan.

Setelah menduduki bangkunya, ia berkata, “hei, Gia.”

Cerpen Karangan: Fifi Alifya
Blog / Facebook: Fifi Alifya
Hanya seorang yang mempunyai banyak imajinasi dalam pikiran nya.

Cerpen The Forest merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sejarah Dunia yang Berbohong

Oleh:
Apa yang terngiang dalam benak kita jika bumi datar..? Itulah yang kupikirkan sembari duduk dengan secangkir kopi di depanku. Baru-baru ini kabar tentang bumi datar sudah beredar di seluruh

Melawan Harimau

Oleh:
Aku berjalan, berjalan dengan cepat. Kemudian berlari, berlari, terus berlari, lebih cepat, lebih cepat. Kemudian berhenti, seperti ada yang mengikutiku. Aku tahu, tapi aku hanya melihat bayangan hitam berlalu

Liontin Ungu Mila

Oleh:
“Hey Mila! Cepat kamu bersihkan rumah ini!” Teriak Mama. “I.. iya ma” jawab Mila. “Mila! Kalau kamu sudah selesai, cuci mobil Papa!” “Iya pa” jawab Mila. Ketika Mila sudah

MyCerpen 4: Hantu Sepatu Baru

Oleh:
Hanya duduk sendiri dan tenggelam dalam buku Sastra, yang membuatku semakin ngantuk. Malam minggu yang cukup membosankan, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Karena malam ini Aku tidak datang mengapeli Devi

Feel Like I Have a Pair of Wings

Oleh:
Kini mendung telah menghiasi langit biruku. Kututup buku, kututup mata, kusudahi cerita untuk hari ini. Kumulai memasuki alam mimpiku. Kulihat temanku, Mars, telah menungguku di depan gerbang Surga; tempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *