The Grim-visaged Man, Behind Mask (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 18 December 2018

Feandir terperanjat bangun dari tidurnya setelah mendengar suara lolongan serigala di kejauhan. Ia segera bangkit duduk dari alas tidur dan melingkarkan jari-jarinya di gagang pedang yang tak pernah jauh darinya. Feandir tak pernah menyukai serigala. Terlalu banyak pengalaman buruk tentang mereka. Di sebelah kanannya; Trot, kuda hitam miliknya, meringkik pelan dan mendengus seakan tahu bahwa tuannya butuh dukungan moril. Si Rover muda tersenyum samar, membuat wajahnya yang muram sedikit lebih cerah diantara cahaya lembut bulan yang masih dikelilingi mendung tipis.
“Jangan khawatir, kawan. Aku hanya terkejut saja.” Kata Feandir pelan.

Ia tahu bahwa ketakutannya pada serigala agak berlebihan karena ia sekarang masih berada di batas desa Haudh, di bawah pohon elm tua yang rindang dan tanah yang tidak terlalu basah untuk berbaring. Juga Trot yang kekangnya terikat aman di sampingnya. Namun terkadang kenangan tentang taring-taring panjang yang berlumuran darah dan daging yang terkoyak juga jeritan pilu akan muncul dengan sangat nyata saat ia mendengar lolongan serigala di malam hari. Meski kejadian naas itu sudah berlalu dua belas musim dingin yang lalu. Feandir menarik napas panjang dan mengeluarkannya, membuat kumpulan uap putih mengambang di depan mulutnya. Dia tak akan bisa kembali tidur. Tidak ketika hati dan pikirannya terlalu gelisah, dan cerita buruk masa lalu menghantuinya. Namun sesuatu mengusik renungannya.
Suara ranting yang patah.
Tak salah lagi sesuatu- atau seseorang telah menginjaknya.

Si Rover tak lantas berdiri dan menghunus pedangnya, namun ia duduk lebih tegak, punggung masih bersandar pada batang pohon elm dan pegangannya pada gagang pedangnya semakin erat. Ia menunggu.
Selama beberapa saat tak terdengar suara lain selain suara burung hantu dan serangga malam atau sesekali lolongan serigala di kejauhan. Namun Feandir sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya. Lalu ia mendengarnya lagi, kali ini lebih dekat dan bisa diduga berasal dari sebelah kirinya. Dan benar saja, diantara pepohonan dan di belakang semak boysenberry liar berdiri sosok bermantel panjang dan bertudung. Feandir tak bisa melihat wajahnya namun dalam cahaya bulan ia bisa mengira bahwa sosok itu adalah seorang pria. Dan jika dilihat dari posisi tangan orang misterius tersebut, Rover muda itu yakin dia bersenjata.

“Mencari jalan di bawah sinar bintang dan bulan, Tuan?” Tanya Feandir santai. Masih duduk bersandar di batang pohon.
Si pria pendatang baru tampak tidak terkejut dengan pertanyaan itu, kalau pun ia terkejut ia tak menunjukkannya. Alih-alih, ia menjawab dengan tak kalah santai;
“Aye. Aku mencari jalan setapak menuju kerajaan yang dulu gemilang, dinding perkasa yang menjulang, pedang ksatrianya yang berkilat tajam, dan mahkota rajanya yang berkilau bak bintang utara.”
Feandir berdiri dan si orang asing pun melangkah dari balik semak-semak dan mendekati si Rover. Setelah hanya beberapa langkah dari posisi Feandir berdiri, pria itu berhenti dan membuka tudungnya.
“Salam, Feandir Blackwood.” Sapa pria itu.

Setelah orang asing itu membuka tudungnya, maka tampaklah wajah yang sama sekali tidak asing. Rambut berwarna kelabu sebatas dagu, alis tebal dan mata gelap, hidung bengkok dan dagu berjenggot pendek. Feandir tersenyum lebar, kegelisahannya yang dari tadi menggerogotinya kini terlupakan untuk sementara.
“Salam, Master Frost.” Jawab Feandir sambil menganggukkan kepalanya.
Pria setengah baya yang dipanggil Frost itu melambaikan tangannya dengan santai.
“Panggil aku Alder, nak.”
Feandir mengangguk, “Alder.”
Dan kedua pria itu saling menjabat bahu. Alder Frost adalah salah satu Rover berpengalaman yang bisa dibilang menjadi guru Feandir saat ia pertama bertugas. Dialah yang mengajarinya beberapa trik bertarung dengan pedang maupun dengan tangan kosong, dia jugalah yang mengajari Feandir muda melacak jejak, memasang jebakan dan berburu di hutan.

“Ada kabar apa dari Great Gate?” Tanya Feandir, saat ia dan rekannya sudah duduk dan dia mulai membuat api untuk memanggang kelinci liar yang di dapat Alder di jalan.
“Tak ada yang istimewa. Tak ada perampok atau pun serangan Goblin, semuanya tampak tenang di sana.” Pria berambut kelabu itu menjawab dengan nada ringan. Namun kerutan diantara alisnya berkata lain.
“Kau tampak khawatir, Alder,”
Rover tua itu tak langsung menjawab. Ia meneruskan pekerjaannya menguliti hasil buruannya dan lalu menusuknya dengan ranting untuk dipanggang.
“Sudah empat bulan lebih tak ada kabar dari Roan,”
Feandir mengerutkan alisnya.
“Keponakanmu yang bertugas di Ford?”
Feandir tak begitu dekat dengan Roan, namun ia cukup mengenalnya. Putra sulung kakak perempuan Alder tersebut usianya terpaut satu dekade lebih tua dari Feandir dan mereka tak pernah mendapat tugas bersama. Saat ia berangkat menjelajah musim semi lalu, Feandir mendengar bahwa Roan dan seseorang bernama Norvin (atau mungkin namanya Mervyn) memperoleh tugas berpatroli di Ford.

Redwater Ford atau yang sering disingkat Ford, adalah dangkalan sungai lebar yang berada di tengah sungai Redwater. Karena jembatan jaraknya sangat jauh, maka dangkalan ini dimanfaatkan oleh para pelancong dari arah timur Pegunungan Lupine untuk menyebrang ke Jalur Bleak Forest dan sebaliknya. Biasanya ada dua atau tiga Rover yang ditugaskan untuk berpatroli di daerah itu dan juga area lereng selatan Pegunungan Lupine.
“Ya. Dia biasanya selalu mengirim kabar.” Alder terdiam sejenak lalu menengok ke arah Rover yang lebih muda itu. Mata gelapnya berkilat-kilat dalam cahaya api. “Kau tak mendengar kabar apa pun dari Ford? Atau Bleak Forest?”
Feandir berpikir sejenak, lalu menjawab perlahan.
“Aku juga tak mendengar kabar apa pun dari Ford beberapa bulan terakhir ini,” katanya “Namun aku mendengar rumor adanya penyerangan karavan pedagang yang melintasi Jalur Bleak Forest dari Pegunungan Lupine.”
Mendengar kabar itu wajah Alder tampak semakin muram. Buku-buku jarinya yang mengepal tampak tegang. Feandir lalu menambahkan dengan nada menenangkan;
“Mungkin, Roan sedang sibuk mengatasi gerombolan perampok itu dengan mereka yang bertugas di Bleak Forest. Karena itu mungkin dia belum sempat mengirim kabar.“ Feandir berusaha tersenyum namun gagal. Kata-katanya terdengar lebih meyakinkan dari apa yang dirasakannya sendiri.

Bukan hal yang aneh untuk seorang Rover menghilang dan tak kembali. Mereka semua yang menjadi Rover telah mengetahui resikonya. Sumpah setia mereka untuk raja dan rakyatnya akan membawa mereka dalam perjalanan panjang menyusuri belantara, mencari tanda-tanda bahaya dan membantu mereka yang membutuhkan. Itulah mengapa orang-orang menyebut mereka ‘Rover’, mereka adalah prajurit pengelana, bersenjatakkan pedang dan busur. Mereka tahu ditengah tugas mereka berpatroli, mereka akan bertemu bahaya. Entah dari Goblin, Troll, Bandit atau bahkan dari hewan buas. Kematian selalu dekat, sedekat Rover dengan pedangnya. Feandir tahu itu. Dan ia yakin Alder pun tahu pasti.
“Mungkin,” desah Alder lirih. Lalu ia menambahkan, “Aku harus memulai perjalanan pulang ke Haven besok. Chieftain ingin mengadakan pertemuan penting sebelum musim dingin tiba.”
Musim dingin. Musim yang seringkali membawa masalah kepada rakyat mereka. Entah itu kurangnya pasokan makanan, meningkatnya kejahatan dan juga serangan binatang buas yang kelaparan, atau mungkin badai salju ganas. Akan dibutuhkan banyak persiapan dan rencana untuk menyongsong musim ini.

“Jarak antara Haudh ke Haven sekitar dua bulan perjalanan jika ditempuh dengan berjalan kaki,” kata Feandir, “Kau tak akan sampai ke Haven tepat waktu tanpa kuda.”
Temannya itu tertawa pahit sambil membalik kelinci panggang yang dijerangnya di atas api.
“Beruntungnya aku karena kuda yang kubawa dari Great Gate terluka parah dan akhirnya mati ketika aku diserang segerombolan Goblin di dekat Creek Hollow,” Alder menggeram dan meludahkan kata Goblin seperti kutukan, “Aku sangat beruntung berhasil membantai sebagian besar dari mereka tanpa terluka. Mata panah mereka dilumuri racun.”
Wajah Feandir menjadi semakin suram setelah mendengar cerita rekannya itu. Goblin memang suka membuat onar dan menyerang para pelancong yang melintas di dekat sarang mereka. Namun seingat Feandir jalan besar di Creek Hollow berjarak puluhan league dari Pegunungan Berbatu, dimana gua-gua Goblin berada.

“Bawalah Trot bersamamu,”
Alder memandang Rover yang lebih muda itu lekat-lekat kemudian mengangguk singkat. Ia tidak punya pilihan lain.
“Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. “ kata pria berambut kelabu itu. “Akan kujaga kudamu baik-baik.” Tambahnya dengan sungguh-sungguh seraya memberi Feandir separuh bagian dari kelinci yang dipanggangnya tadi.
Feandir tersenyum kecil sambil menerima bagian kelinci tersebut.
“Jangan dipikirkan, kau lebih membutuhkannya daripada aku.”

Suasana kembali sunyi. Hanya terdengar suara kedua pria itu menikmati makan malam sederhana mereka dan suara-suara hewan malam di sekitar. Sesekali angin berhembus cukup kencang membuat daun-daun pohon Elm tempat mereka berteduh berguguran dan api unggun kecil mereka bergerak-gerak mengikuti arah angin.

“Feandir,”
“Ya?”
“Bisakah kau… mencari tahu tentang keadaan di Ford? Aku tahu ini terdengar bodoh,” Alder menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya lalu kembali menatap Feandir. “Aku tahu ini bukan pertama kalinya Roan tak mengirim kabar dalam waktu lama, namun aku merasa tidak tenang dengan kekosongan berita ini. Aku khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi di Ford.”
Feandir terdiam. Mata abu-abunya masih terpaku ke api dan kedua alisnya berpagut. Berbagai pikiran dan emosi sekilas terlihat di raut wajahnya yang hampir selalu muram, namun pada akhirnya ia mengangguk singkat.
“Aku mengerti.”

Esok harinya ketika fajar menyingsing Alder telah bersiap untuk melakukan perjalanan panjang ke Haven. Feandir telah mengambil perbekalan dan busur serta sekantong anak panah dari pelana Trot lalu membantu Alder berkemas.
Setelah semua barang dan bekal pria yang lebih tua itu tersimpan rapi di tas pelana Trot, barulah kedua sahabat dan rekan ini saling mengucapkan salam perpisahan.
“Berhati-hatilah saat melewati sisi barat Bleak Forest,” Alder memperingatkan, “Tak salah lagi kau telah mendengar cerita tentang Rawa Menangis,”
Feandir mengangguk. Meski jauh di Haven sana orang-orang berbisik-bisik tentang tempat mengerikan itu. Rawa-rawa yang dipenuhi dengan teratai serta semak berbunga yang tampak damai dan tak berbahaya. Dia belum pernah melewati tempat itu secara langsung namun telah banyak cerita tentang suara tangisan wanita yang sangat sedih dan pilu dari rawa itu, dan para pelancong yang mencarinya tak pernah terlihat lagi. Beberapa orang bahkan menyebutnya Man-eater Marsh –Rawa pemakan manusia. Nama yang sesuai jika yang diceritakan oleh rekan-rekannya itu memang benar.

“Dari yang pernah kudengar, semua cerita itu benar.” Wajah Alder sangat serius, “Hindari rawa itu. Dan jika kau sangat terpaksa harus melewatinya, pastikan hanya saat matahari sedang tinggi.”
“Yes, sir.”
Alder mengangguk puas lalu menepuk bahu Rover muda itu dengan mantap.

“Aku mendengar ‘Grouch’ akan tiba di Haudh sekitar dua hari lagi.” Lalu ia berbalik dan dengan satu gerakan mulus Rover tua itu telah menuggangi Trot. “Sampai jumpa lagi, nak. Jaga dirimu baik-baik dan sampaikan salamku pada Roan.”
Dan dengan itu dia pergi.
Feandir memandang punggung Alder sampai yang terlihat hanya bercak hitam dan abu-abu di kejauhan yang pada akhirnya menghilang di balik bukit.

Ini bukan pertama kalinya Feandir melakukan perjalanan ke Ford. Dia bahkan pernah bepergian sejauh Oxen-dale, jauh di sisi utara Pegunungan Lupine. Namun perjalanan menuju Ford tidak semudah dugaan semula. Akibat hujan deras dan badai dalam beberapa hari terakhir, jalan utama menuju Ford menjadi kubangan lumpur panjang yang membentang dan berkelok-kelok menembus barisan pepohonan dan bukit-bukit. Meski dengan berkuda, orang akan kesulitan melaluinya. Apalagi bagi mereka yang berjalan kaki.

Feandir yang sepatu botnya berkali-kali terjebak lumpur akhirnya memutuskan untuk menghindari jalan utama dan memilih rute menembus hutan dan padang rumput. Meski akar kayu dan batu-batu tak kasat mata sering menghalau jalannya, pilihan ini jauh lebih baik daripada berkubang lumpur di jalan utama. Lagi pula, melintasi hutan sudah menjadi rutinitasnya dan dengan memilih melewati hutan jejaknya akan semakin sulit dilacak oleh pihak-pihak yang kurang bersahabat.

Tak banyak yang terjadi di sepanjang perjalanan si Rover. Kecuali hujan deras yang disertai guntur yang mengguyur pada malam ke delapan dan Feandir yang tak menemukan gua atau tempat berlindung yang lebih rapat hanya bisa pasrah dan duduk merapatkan mantel usangnya ke tubuhnya di bawah naungan pohon willow yang tak benar-benar menghindarkannya dari serbuan hujan. Setelah semalaman basah kuyup dan menggigil kedinginan, betapa legannya ia karena esok paginya hujan tidak hanya berhenti, tetapi juga langit cerah yang menjanjikan hari yang dikaruniai cahaya matahari. Meski ia tak bisa membuat api untuk menghangatkan diri karena tak ada satu pun ranting kering yang ditemuinya, setidaknya pakaiannya akan mengering dengan sendirinya. Setitik kebahagiaan di tengah lautan derita, pikir Feandir dengan wajah masam.

Beruntungnya cuaca tetap bersahabat sampai beberapa hari kedepan. Tak ada lagi badai guntur atau lebih buruk lagi; badai salju dini, karena Feandir tak yakin dimana ia akan berlindung jika hal itu benar-benar terjadi di tengah hutan yang sebagian besar hanya ditumbuhi pohon birch yang batangnya pucat dan kurus serta semak belukar gundul.
“Menggali lubang dan mengubur diri sampai musim semi tiba mungkin,” gumam Feandir sedikit geli dan sedikit merasa bodoh.

Setelah seharian melewati pohon-pohon birch dan mendaki beberapa bukit terjal si Rover muda itu akhirnya memasuki hutan yang lebih gelap dan lebat. Bleak Forest sudah terlewati namun ia tak bertemu satu pun rekannya disana. Dia bahkan sampai menjelajah ke sisi barat, namun sebisa mungkin tetap menghindari Rawa Menangis, untuk mencari tanda-tanda keberadaan mereka. Dan tak ada apa pun. Jejak-jejak yang ditemuinya sudah beberapa minggu lamanya dan hal itu membuatnya sedikit khawatir. Menurut Barth atau yang lebih dikenal dengan alias Grouch –si penggerutu, yang ditemuinya di depan gerbang desa Haudh sebelum ia berangkat, Edgar dan Brandir sempat mengirim pesan ke Haven tentang adanya aktifitas mencurigakan di Bleak Forest tiga bulan yang lalu. Kapten Hall dan dua orang lainnya dikirim untuk menyelidiki lebih lanjut sekaligus sebagai bala bantuan jika diperlukan. Namun sampai hari itu, Barth belum mendengar kabar apa-apa lagi kecuali tentang rumor penyerangan karavan di jalur Bleak Forest yang didengarnya empat hari sebelum ia sampai di Haudh dari segerombolan pemburu.

Feandir mencoba mengobati kekhawatirannya dengan menggumamkan beberapa bait lagu tentang musim panen sambil berjalan diantara pohon-pohon ek yang besar dan berlumut. Matahari sudah terbenam sekitar satu jam yang lalu, kegelapan total mulai turun dan bulan muda belum terbit. Feandir melihat sekelilingnya, memasang telinga untuk gerakan atau suara apapun yang tampak berbahaya. Ia tak mendengar apapun selain suara burung hantu dan jangkrik, ia juga tak melihat apapun selain deretan pepohonan dan semak belukar di sekitarnya. Ia kembali menggumamkan lagu sampai telinganya mendengar suara kemeresak tepat di belakangnya.

Secepat kilat ia berbalik, mencabut busur dan sedetik kemudian sebuah anak panah sudah terpasang. Matanya mengarah tajam kearah belukar dibelakangnya, darahnya mengalir lebih cepat dalam nadinya, suara degup jantungnya terdengar bertalu-talu ditelinganya sendiri. Perlahan ia mendekati sumber suara dan tiba-tiba belukar itu bergoyang. Feandir terlonjak, menahan nafas dan membidikkan panahnya. Ia berdiri diam di tempatnya, bersiap untuk apapun yang akan muncul dari sana dan…
Seekor kelinci melompat keluar dari dalam belukar. Telinganya bergerak-gerak lalu ia melompat pergi setelah menyadari si Rover di sana.
“Oh.” Feandir mendesah lega, “kelinci sialan.”
Ia mengira akan berhadapan dengan serigala atau mungkin malah bandit bersenjata, mungkin juga Goblin. Dia mendengus lalu tertawa kecil. Ketakutan yang bodoh tapi bukan tanpa alasan, pikirnya sambil memasukan anak panah ke tempatnya semula namun ia tetap membawa busurnya, untuk berjaga-jaga. Tak ada salahnya selalu waspada, apalagi di tengah hutan saat gelap dimana gerombolan penjahat atau hewan buas mungkin berada.

“Sebaiknya aku mulai mencari tempat yang nyaman untuk tidur,.” Feandir berkata pada dirinya sendiri. Tak banyak tempat nyaman di hutan, tentu saja, tapi setidaknya ia mencari tempat yang kering dan aman untuk melepas lelah. Memang ada banyak tempat kering, berhubung malam itu dan malam-malam sebelumnya langit tidak menurunkan hujan, namun tempat yang aman? itu lain cerita. Feandir sudah cukup berpengalaman dalam urusan bermalam di tengah hutan baik sendirian ataupun dengan beberapa orang. Bermalam dengan beberapa orang akan lebih aman, ia bisa bergantian berjaga saat waktunya tidur tiba namun jika sendiri, kau harus bisa mengurus keselamatanmu sendiri.

Bulan sudah bersinar terang diatas puncak-puncak pepohonan saat Feandir masuk lebih dalam kedalam hutan. Ia menenggadah dan melayangkan pandangannya ke pohon-pohon yang dilewatinya, berharap akan menemukan pohon yang cukup besar dan cukup tinggi juga nyaman untuk dijadikan tempat tidurnya malam ini. Rover itu belajar bahwa tidur di atas pohon akan membuatnya relatif lebih aman. Setelah memilih dan memilah selama beberapa waktu, akhirnya ia menentukan pilihannya.

Sebuah pohon ek yang besar dan tua menjadi pilihannya. Pohon itu cukup tinggi, memiliki banyak cabang dan sebuah tempat yang cukup lebar untuk berbaring diujung batang utamanya. Mungkin tak akan senyaman berbaring di atas tanah yang cukup empuk karena banyaknya daun yang berguguran tapi yang penting fungsinya. Dengan cekatan Feandir segera meraih dahan terendah dan mulai memanjat. Sebentar saja ia sudah sampai diujung batang utama, dan dengan sedikit mengerang ia mengangkat tubuhnya dan menghempaskannya di sana. Setelah mengatur nafas, Feandir segera menggelar alas tidurnya , meletakkan barang-barangnya yang lain disisinya, dan segera membuka bekal makanannya. Ia makan dan minum dengan cepat lalu dengan mendesah keras ia berbaring di sana, merenggangkan otot-ototnya yang kaku setelah seharian ini, menarik mantel dan tudungnya menutupi tubuhnya dan menggunakan kantongnya sebagai bantal. Tak berapa lama, ia tertidur.

Feandir terperanjat bangun dari tidurnya. Suara serigala terdengar tak terlalu jauh dari pohon tempatnya tidur. Dia segera bangkit dan bersiap dengan pedang dan panahnya. Rover itu memasang telinga, lalu ia mendengar suara lain diantara suara gonggongan dan lolongan itu; suara teriakkan. Seseorang sedang dalam bahaya.

Cerpen Karangan: R. Safir
Blog / Facebook: Not All Who Wander Are Lost

Cerpen The Grim-visaged Man, Behind Mask (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hampa

Oleh:
Senja semakin mendekati klimaksnya, semburat awan yang semula putih kini menjadi kuning oranye sempurna. Suara uap air dalam ketel yang terus berhembus dan mendesak keluar, meramaikan suasana sore itu.

Time Twister

Oleh:
“Dasar kalian tak berguna!” bentakan itu terdengar menggema sepanjang lapangan saat jeda istirahat latihan berlangsung. Seorang pemuda berdiri berkacak pinggang dengan kaki dihentakkan keras ke tanah. “jace, setidaknya maklumilah

Keris Pembawa Bencana

Oleh:
Faishal. seorang pemuda berusia 20 tahun ini adalah seorang yang berkepribadian mulia. Hari-harinya senantiasa dipenuhi dengan aktifitas yang bermanfaat. Tidak terdapat sesuatupun baik itu menyenangkan maupun menyedihkan, melainkan dihadapinya

The Forest

Oleh:
Berlarilah jika itu diperlukan. Berjalan hanya menghambat langkahmu untuk hidup. Jika sekali saja, kau menoleh belakang. Tamat riwayatmu! — Gia menatap lurus pemandangan rumah kakeknya, yang terletak di Cincinnati.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “The Grim-visaged Man, Behind Mask (Part 1)”

  1. Risna says:

    Lanjutannya itu si rover tidak ditemukan ya?

  2. Aldino says:

    Ditunggu kelanjutannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *