The Last Blood (Guardian Sword)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 28 February 2017

Tok… tok… tok…!! terdengar suara orang mengetuk pintu, Clark beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah pintu depan. Ketika ia membuka pintu, ia sedikit terkejut dengan kedatangan Therra adiknya, karena ia tidak memberi kabar terlebih dahulu. Clark berkata, “Therra masuklah kebetulan kami sedang makan malam”. Mereka pun berjalan ke meja makan, ketika Betty melihat Therra, ia pun berdiri, menghampirinya dan bercium pipi sambil berkata, “senang melihatmu”. Lalu Therra mengalihkan pandangannya kepada keponakannya dan menyapanya dengan bercanda, “hei Khorin, kau tampak sudah dewasa sekarang, apakah kamu sudah punya kekasih?”, “Aku baru lima tahun, aku belum memikirkannya”, jawab Khorin dengan diiringi tawa kecil kedua orangtuanya. Mereka pun makan bersama sambil berbincang penuh canda, suasana begitu cair, kebahagiaan tampak di wajah mereka.

Setelah makan malam usai, mereka masih berada di ruang makan, melanjutkan perbincangan yang sangat menyenangkan. Tiba-tiba terdengar suara “braaakk…”, pintu depan rumah itu terhempas beberapa kaki, terlepas dari tuas penahannya, “Therra bawa Khorin ke tempat Noland”, ujar Clark, lalu Therra berkata “aku bisa membantumu”, tapi Clark membentaknya, “sekarang..!!”. “Khorin peluk aku seerat mungkin”, kata Therra dengan panik, sambil menangis Khorin mengatakan, “tidak aku harus bersama ayah dan ibu”. Tidak ada pilihan lain selain membawa Khorin dengan paksa, ia menggendongnya dan berlari ke pintu belakang.

Setelah keluar dari rumah, Therra menentukan tempat tujuannya dalam pikirannya, ia berkonsentrasi penuh hingga keringat di wajahnya mengucur deras, dan kemudian ia membuat suatu lingkaran teleportasi dan masuk ke dalamnya. Khorin tidak menyadari hal itu sebab ia terus menangis dan memandang ke dalam rumah, namun pintu semakin tertutup hingga akhirnya ia tidak dapat melihat orangtuannya, lalu ia berteriak penuh kesedihan “tidaaak, ayaaaah… ibuuu…!!!”.

Sementara itu, Clark dan Betty menunggu kemunculan seseorang yang menghempaskan pintu rumah mereka, lalu seseorang dengan jubah hitam yang panjangnya sampai ke kaki, dengan tudung yang terangkai menjadi satu bagian dengan jubahnya, berjalan masuk ke dalam rumah. Tudung yang menutup kepala hingga ke wajahnya tidak lantas membuat Clark bertanya tentang siapa dia, sebab Clark tahu siapa yang dihadapinya. “Lexon, mengapa kau kemari?”, Tanya Clark kepada pria berjubah hitam itu. Namun pria itu diam saja dan tetap berjalan menuju ke arah Clark selangkah-demi selangkah, ketika pria itu berjarak kira-kira 5 langkah dari Clark, tiba-tiba ia terhenti dan tersentak selangkah ke belakang. Clark membuat sebuah perisai yang tak nampak mata, lalu pria itu berjalan perlahan mengelilingi mereka. Clark dan Betty sedikitpun tidak mengalihkan pandangannya dari pria itu, ruangan terasa semakin panas akibat aura yang berasal dari pria berjubah hitam itu. Sambil tetap berjalan perlahan, Lexon berkata, “begitukah sambutanmu untuk kakak kandungmu?”. “Kakakku sudah mati”, sahut Clark. Lalu pria itu mengangkat sedikit tudungnya, menatap Clark dengan tajam, pupilnya membesar memenuhi matanya, ia tersenyum kecil seakan bersiap menyerang. Lalu sebuah lingkaran hitam dikelilingi cahaya seperti aurora berwarna biru muncul di belakang Clark, Therra muncul dari lubang itu berdiri di samping Clark. “Bagus… bagus… bagus, kalian sudah berkumpul di sini, ini akan menyenangkan”.

Ruangan itu mulai berguncang, benda-benda di ruangan itu ikut bergetar hingga menimbulkan suara yang menakutkan, foto keluarga, jam dinding dan bahkan lampu yang tergantung kuat di atas meja makan bergetar hingga terjatuh dan pecah berhamburan, piring-piring dan gelas-gelas yang tadinya berada di meja makan berjatuhan. Kegelapan menelan mereka, lalu pria itu menengadahkan tangan kanannya dengan telapak tangan menghadap ke atas, kulit tangannya memerah dan berasap seperti besi yang dipanaskan, lalu ia menaruh tangannya ke atas meja yang terus bergetar seakan menunjukkan kekuatannya. Meja itu pun terbakar pada bagian yang tersentuh olehnya, membuat api itu menjadi satu-satunya sumber cahaya dalam ruangan itu. Ia pun melompat ke arah mereka, perisai pelindung Clark tak mampu menahannya dan pertarungan pun tidak dapat dihindarkan.

Tangan Clark dan Betty juga memerah panas, tangan mereka seperti pedang yang diayunkan saling menyerang, percikan api bermunculan ketika tangan mereka berbenturan, beberapa benda di ruangan itu terbakar karena terpukul oleh tangan mereka. Therra tidak dapat mendekati Lexon, ia berlari dan melompat kian kemari dengan sangat cepat, melemparkan kursi-kursi dan barang lain yang dapat dilemparkannya ke arah Lexon, dan sesekali ia menendang punggung Lexon, sementara Clark dan Betty bertarung berhadapan. Lalu Betty terpukul di bagian perutnya dan terpental ke tembok. “Betty…!!, Teriak Clark mengkhawatirkan keadaan Betty, lalu dengan penuh amarah Therra menghempaskan meja ke arah Lexon dan menendang meja itu hingga hancur, tendangannya mengarah ke wajah Lexon, namun Lexon menahannya dengan menyilangkan tangannya, namun karena tendangan Therra begitu kuat, akhirnya Lexon terpelanting dan terjatuh menghadap ke arah yang berlawanan dengan ketiga orang itu, secepat mungkin Therra membuat sebuah lingkaran teleportasi dan membawa Clark beserta istrinya yang terluka masuk ke dalamnya.
Ketika Lexon bangun, ia menoleh dan tidak melihat Clark dan keluarganya. Dengan suara lirih ia berkata “sampai ke ujung bumi pun akan kutemukan kalian”.

Di tempat kediaman Noland, Therra muncul melalui lubang trleportasi yang ia buat, sambil berjalan tertatih karena luka bakar pada telapak kakinya akibat panas tangan Lexon. Begitu juga Clark, ia muncul dengan menggendong istrinya yang terluka akibat pertarungan itu. Ia berlari dan merebahkan Betty ke sofa. Wajah Betty begitu pucat dan hampir tak sadarkan diri, Clark sangat panik melihat keadaan istrinya, lalu Betty menggumam memanggil nama anaknya, lalu Khorin menghampirinya dan sambil menangis ia memeluknya dan berkata “Ibu, jangan tinggalkan aku”. “Tidak Khorin, ibu akan selalu bersamamu, di sini”, ia mengatakan itu sambil menaruh telapak tangannya di dada Khorin, air matanya berlinang menetes membasahi bantal yang menahan kepalanya. Darah mengalir keluar dari mulut Betty, dan dengan hembusan nafas terakhirnya ia mengatakan “aku mencintai kalian”. Deru tangisan Khorin terdengar sangat mengharukan, Clark memandangi istrinya, ia terdiam seakan tak percaya istrinya meninggal. Noland ayah Clark memang tidak menitihkan air mata, namun tatapan matanya menjelaskan kesedihannya yang begitu mendalam. Therra tidak mengatakan apa-apa, ia hanya terdiam di sudut ruangan sambil mengusap tetes air mata yang membasahi pipinya. Mereka terhanyut dalam kesedihan, tenggelam di lautan duka yang begitu dalam.

Dengan tetap memandang istrinya yang terbaring tak bernyawa di sofa, ia berkata “Therra, bawa aku ke sana”, “jangan lakukan itu Clark, mereka terlalu banyak”, sahut Therra. Dengan kabut dendam yang menguasai hatinya Clark mengatakan, “kita tidak bisa terus lari dari mereka”, lalu dengan bijaksana Noland mengatakan, “pikirkan anakmu”. Clark terdiam sejenak memikirkan nasihat ayahnya, lalu ia berjalan ke luar rumah dan ia berteriak lantang dan panjang, seluruh tubuhnya memerah panas, pakaian dan celananya terbakar, begitu juga rumput di tempat ia berpijak, “Kheeeeeel…!!, kau akan membayar semua ini”. Burung-burung yang tertidur di pepohonan berterbangan menjauhi teriakan duka yang mengerikan itu. Dari jauh keadaannya terlihat seperti tumpukan semak kering yang terbakar, lalu ia tertunduk dan menangis. Tidak ada satupun yang berani mendekatinya, bahkan untuk menenangkannya.

Di ambang pintu, Khorin melihat ayahnya sembari berkata dalam hatinya, “Orang apakah dia ini?”. Sebab itu adalah pertama kalinya ia melihat ayahnya seperti itu. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 7 Juni, tepat dihari ulang tahun Khorin.

Cerpen Karangan: D. Agung S.

Cerpen The Last Blood (Guardian Sword) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kota Kelam

Oleh:
Aku duduk di teras depan rumahku sambil memandangi langit gelap yang tak ada bulan. Kemarin, hari ini, hingga esok mungkin aku akan melakukan ini. Karena di rumah sederhana ini

Mantera Buku Tua Noc Smuggle

Oleh:
Krekk… Suara derit pintu terdengar diikuti oleh langkah kaki. Suasana sangat sunyi di pagi buta yang masih gelap itu. Saat lampu dinyalakan, terlihatlah sesosok gadis yang memakai sweater merah

Gliese 581g (Part 2)

Oleh:
Tanpa menyelesaikan surat Raffles, aku segera berlari keluar. Kulihat makhluk Gliese 581g tengah dikurung dan dipaksa masuk ke dalam sebuah jeruji besar di sana. Tanganku yang masih menggenggam surat

Tragedi Di Perkemahan

Oleh: ,
Pada suatu hari, Nico mengajak teman-temannya untuk pergi berjelajah ke hutan perkemahan untuk mengungkap misteri yang sering terjadi di sana. Ada banyak teman-temannya yang setuju dengan rencananya dan mau

Matahari Dan Bulan (Part 1)

Oleh:
Aku percaya tiap kehidupan -baik yang dulu, sekarang, maupun di masa depan kelak- memiliki tujuannya masing-masing. Tapi aku tidak menemukannya -atau mungkin belum. Sudah hampir satu jam berlalu, dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *