The Last Memory of Kei (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 23 June 2016

Aku manusia Android.
Aku diciptakan karena permohonan seorang Ayah yang anak gadis semata wayangnya tengah dirundung duka yang amat teramat dalam.

Serra, gadis (18 thn) yang 1 tahun lalu ditinggal tunangannya, Kei (20 thn) untuk selama-lamanya.

Sebelum Kei meninggal Serra adalah remaja ceria, pandai dan disukai banyak teman dan para tetangga. Tapi semenjak Kei mendapat kecelakaan dan meninggal di tempat tepat di hari ulang tahunnya, Serra berubah menjadi gadis pendiam dan pemurung. Ia telah putus sekolah. Tak lagi berminat bersosialisasi. Setiap hari waktunya dihabiskan di dalam kamar, di rumah sederhana peninggalan almarhum Neneknya. Bila ada yang datang berkunjung, Serra enggan menampakkan diri. Seolah telah lenyap dari muka bumi. Namun nyatanya aku dapat merasakan napasnya dari balik pintu ini. Dan kini aku akan menarik paksa gadis suram itu dari kamar gelap itu. Aku manusia Android. Robot khusus yang diciptakan persis menyerupai Kei, tunangan Serra.

Kemarin aku terbangun dan mendapati diriku di dalam peti mewah terbuka. Seorang laki-laki paruh baya berseragam khas pelayan di hadapan.
Ia melangkah mendekat, “apa kau bisa mendengarku?”

Aku menatapnya sejenak lantas mengangguk pelan.

“Baiklah, ikut aku.”

Aku bangkit dan berusaha menyamai langkahnya.

Mereka telah menanamkan ingaan Kei ke dalam memoriku, sehingga data tentang Kei, Serra dan kenangan-kenangan selama Kei hidup terekam jelas di balik retina buatan ini. Termasuk kilasan samar yang kadang berputar dengan sendirinya yang membuat kepala terasa pening. Kenapa manusia harus mati? Pertanyaan itu sering menyelubungi benakku.

“Apa kau sudah mengerti dengan situasimu, Kei?” ucap lelaki tua di atas kursi roda itu.
Aku mengangguk.
Dia tersenyum dan turut mengangguk puas.

“Bolehkah saya bertanya?”

Meski tubuhku dibentuk sedemikian sempurna menyerupai objek asli (Kei) tapi aku tetap punya poin-poin yang membedakan aku dengannya. Seperti Aku yang tak punya emosi, sehingga tak mampu mengeluarkan air mata dan tubuhku yang dirancang hanya bertahan 6 bulan dan setelah itu aku hanya akan menjadi rongsokan ruang bawah tanah.

“Oh, ya, tentu. Kau bebas bertanya apapun yang ingin kau tahu.”

“Kenapa Anda memanggilku Kei?” aku tahu ini pertanyaan konyol. Tapi sesuatu dalam diriku berkata lain.
“aku hanya… aku hanya merasa agak tak nyaman dengan sebutan… emm.. Kei.”
Lelaki tua dan Pelayannya saling pandang tampak bimbang, lalu menatapku penuh tanya.

“maksudku, aku hanya seorang Android, tak pantas menyandang nama dari almarhum putramu, Kei.”

“Hmm…” aku tahu dia menyembunyikan senyum tipis di balik bibirnya itu.
Ia berdeham, “Soal itu kau tak usah hiraukan. Sekarang yang penting kau pikirkan bagaimana cara mendekati Serra.”

“Serra…,” bibir keriputnya menghembuskan napas lelah.
“… gadis malang itu sungguh menyedihkan.”

BAMM!!!

Sepuluh kali aku telah megetuk pintu kayu ini, dan selama itu pula aku mendapat hentakan -seperti benda keras dilempar- ke pintu, yang mengisyaratkan usiran.
Aku menghirup napas dalam-dalam.
“Serra, kau tahu, sekarang sudah siang?”
“Apa kau tak lapar?”
Hening. Tak ada jawaban. Sudah kuduga.
“Kau mau kumasakan sesuatu untukmu?”
“…”
“Baiklah, tunggu sebentar. Aku segera kembali.”

Hari itu makanan yang susah payah kumasak tak sedikitpun Serra tengok. Tapi tak apa. Aku tak akan menyerah.

Aku tak mengerti kenapa manusia kaleng itu terus-menerus menggangguku. Baru datang, dia bilang ingin menjadi sahabatku. Tapi sedetik kemudian dia seolah menamparku keras dengan wajahnya yang mirip Kei. Tapi dia bukan Kei. Apa maksudnya! Dia pikir dia siapa?! Seenaknya saja mengolok-olok perasaanku.

Sudah kubilang, aku tak sudi melihatnya apalagi memakan masakannya. Eh, bukan itu masalahnya. Sudah kau apakan dapurku?!

Dapurku seperti kapal pecah.

Hari ini satu minggu penuh aku berusaha mendekati Serra. Mereka benar. Serra adalah gadis pertama yang paling keras kepala yang pernah kutemui seumur hidup. Well, aku tak pernah bertemu gadis selain dia. Tapi aku tetap tak menyerah. Duduk menunggunya di balik pintu ini.

“Serra, kau tahu… dalam ingatan Kei saat kau menunggunya di bawah payung di tengah hujan lebat sepulang sekolah….”
“aku… kenangan itu. Akhir-akhir ini sering berputar,”
“sebenarnya aku tak begitu mengerti, tapi kurasa Kei suka kenangan itu.”
“…”
“atau saat kau memberinya ciu-”
“Berisik. Diam kau kaleng!”

BRAKK!

“Kau tahu apa, ha?!!”
Daun pintu terbuka. Berdiri, rambutnya panjang hitam kecoklatan. Pakaiannya tebal berlapis-lapis, syal merah melilit lehernya, menatapku sinis. Matanya bengkak dan berair, seperti tak pernah habis air mata dari bola mata hitamnya.

“Kau tak tahu apa-apa! Kau tak berhak bicara seperti itu! Kau tak seharusnya bergerak seperti dia! Kau bahkan tak berhak di sini. Sama sekali terlarang untuk hadir kembali, karena kalau tidak… kalau tidak, aku…”
kakinya lemahnya tak mampu menopang tubuhnya yang bergetar itu. Ia terduduk di lantai. Menangis.

Aku melangkah maju, makin mendekat, kedua lutut menempel di lantai, tubuhku bergerak meraup tubuhnya dalam pelukan. Entah mengapa dalam dadaku terasa seperti ada sesuatu tajam yang menusuk. Begitu perih. Begitu sesak.

Mungkin inikah yang dinamakan sakit hati?

To be continued…

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: https://mobile.facebook.com/mella.amelia2

Cerpen The Last Memory of Kei (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi Tanpa Nama

Oleh:
Cinta telah membawa sebuah penantian panjang dalam hidup Rahma. Penantian yang tiada ujungnya. Penantian yang tiada titik temu dalam perjalanan mencari sebuah petunjuk. Kebimbangan dan kegalauan menggelayuti dirinya. Mengusik

Four Super Power Girly

Oleh:
Namaku Jennifer Theresia Maureen, sapa saja aku Jenni, aku bersekolah di Bridge University di Amerika. Aku berasal dari keturunan Cina-Indonesia dan tentu saja dong aku mengerti bahasa China, Indonesia,

Tentang Aku dan Ketetapan Hati

Oleh:
Rio masih terdiam kaku menyadari kenyataan baru yang harus diterimanya. Perpisahan itu benar-benar harus menjadi sebuah saksi akhir dari kebersamaannya bersama seseorang yang selama ini lebih-lebih disayanginya, dan sampai

Dinda Dia Cinta

Oleh:
“pagi dinda!” sapaku kepada sahabat tercintaku itu. “haduh pagi-pagi udah bikin orang pusing sama teriakan kamu”, sahut dinda. Aku dan dinda adalah sahabat karib, kami bersahabat mulai dari kelas

Gadis Pasar Malam

Oleh:
Hidupku selalu tertawa, ceria berubah temtram ketika melewati pasar malam sejak kecil gue doyan ke pasar malam tapi gue selalu menanti datangnya teman kecil gue… yang punya janji ngejagain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “The Last Memory of Kei (Part 1)”

  1. sheriyu says:

    waiting for the next part of your story

  2. wiwit says:

    Sumpah kak aku nge-fans sama kakak..
    Nama instagram kka apa(?)
    Sering update dong kakkk..

  3. Aya says:

    Lanjut dong, please?!

  4. Wiwit ay says:

    Kak, ini ceritannya mirip anime Hal ya?

Leave a Reply to wiwit Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *