The Orphanage House

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 March 2018

“Elena, lakukan dengan benar!”

Uh, ya ampun. Suara menggelegar Bibi Clara benar-benar seperti musik orkestra gratis yang berdesing di telingaku. Tidak elite sekali menyuruh seorang gadis untuk membersihkan seluruh ruangan dalam panti asuhan hanya berbekal sebatang sapu. Sungguh, ini menyusahkan!

Walaupun sudah menjadi kebiasaan, kalian juga tahu kalau yang bekerja itu tanganku, mulut Bibi Clara hanya bertugas meneriaki namaku jika seberkas debu melayang di depan kacamata berframe cokelat tuanya yang melorot. Tulang-tulangku bisa saja rontok saat Bibi Clara memintaku mengepel seluruh permukaan lantai bangunan bertingkat tiga ini. Sekadar informasi, yang berstatus sebagai perempuan bukan hanya aku. Lucyfer —kalau saja dia tidak segendut itu— sebenarnya juga bisa dan Freya, jika saja dia tidak secerdas Einstein, pasti Bibi Clara juga menyuruhnya melakukan pekerjaan sialan ini.

Yeah, aku memang gadis yang tak punya kemampuan selain memindahkan barang hanya dengan kendali jarak jauh menggunakan tangan. Jangan tanya reaksi macam apa yang kemudian tercipta akibat tindakan nekatku itu —seluruh penghuni panti menganggapku keturunan penyihir yang dapat memanipulasi pikiran mereka atau menghentikan waktu semauku. Sebenarnya itu memang masuk dalam kategori ‘kelebihan’ yang sepantasnya aku syukuri. Tetapi jika kulakukan hanya untuk menguras tenaga, aku tak tertarik menggunakan sihir dalam kehidupan sehari-hari. Sudahkah Elena Van Cornwell ini mengaku bahwa dirinya memang keturunan penyihir?

Aku bersumpah, suatu saat ketika perayaan Halloween nanti … aku akan berdandan layaknya Frankenstein dan berlagak menakuti Bibi Clara hingga wanita itu lari terbirit-birit. Tidak adil rasanya jika hanya nasibku yang malang di sini, semua harus punya status yang sama —menderita. Seringkali dongeng yang dibacakan Nathalie Fortunel tidak berefek pada mimpiku. Kata pendahulu, ketika seseorang mengisahkan sebuah cerita fantasi yang mengagumkan, biasanya yang menyambangi alam bawah sadar kita adalah mimpi-mimpi yang manis. Tapi siapa sangka itu tidak berlaku padaku. Yang terjadi justru sebaliknya, aku bermimpi bahwa Tuan Michael Greenwood telah kehilangan kepalanya dan bergentayangan di seluruh penjuru panti asuhan. Memang sempat akan kusinggung mengenai kepala plontosnya yang mulus tanpa sehelai rambut, tetapi setelah mengingat hilangnya benda itu dalam mimpi membuatku urung membeberkan kekurangannya yang mungkin akan membuat siapapun berpikir ratusan kali demi mencaci maki petugas keamanan panti tersebut. Memang tidak salah lagi, definisi ‘menderita’ sangat cocok disandingkan untuk anak-anak yang kurang kasih sayang, sepertiku.

Kembali pada pekerjaanku. Aku terpaksa harus menuruti perintah Bibi Clara asal wanita itu tidak mengurangi jatah makan malam atau uang sakuku ketika berkah bernama hari libur ini usai. Beberapa kali aku terdistraksi dalam pikiran-pikiran kotor mengenai kemungkinan Bibi Clara akan menyakiti anak asuhnya. Namun, segera kuenyahkan firasat buruk itu, aku percaya pada panti ini walau beberapa kali bokongku menjadi korban mendaratnya telapak tangan Bibi Clara yang kasar dengan cepat, keras dan akurat.

Aku menuju lantai teratas untuk memulai kegiatanku —kamar para laki-laki pemalas yang tidak segan melontar bungkus snack keluar kamar demi kebersihan kamar mereka sendiri. Ingin kutumpahkan serapahan yang seharusnya memang sudah berhamburan dari mulutku sejak tadi, tetapi bukan saat yang tepat untuk membalas kelakukan mereka. Mungkin, membakar habis rambut seluruh anak laki-laki bukan ide yang buruk. Aku bisa melakukannya hanya dengan sepenggal mantra.

“SELURUH ANAK LAKI-LAKI, KELUAR! AKU INGIN MENGGILAS HABIS DEBU DI KAMAR KALIAN!” teriakku selantang-lantangnya. Walau kecepatan rambat bunyi di udara tidak sebaik di medium perantara zat padat, setidaknya mereka segera sadar setelah merasakan kaca jendela bergetar akibat suaraku yang sebanding dengan lolongan petir memecah langit.

Benar saja, Tom dan teman-temannya yang terkenal dengan ketulian tingkat dewa —atau tunarungu mendadak dan sesaat—apabila disuruh ini- itu oleh Bibi Clara segera turun ke lantai dasar. Mereka bungkam selama menuruni anak tangga, khawatir aku akan menyemprotkan mantra padanya, bisa jadi. Setelah itu aku langsung menata kamar mereka. Barang-barang yang menurutku tak berguna segera kusingkirkan, seperti botol parfum yang berisi campuran detergen dan air hasil eksperimen mereka minggu lalu, atau sebongkah nasi basi yang disimpan di atas lemari sebagai bentuk uji nyali ketahanan hidung. Demi Tuhan, aku hampir memuntahkan seluruh isi perutku begitu merasakan lambung ini seperti dipelintir kuat-kuat.

Setelah kamar pertama selesai kubersihkan, aku berpindah ke kamar laki-laki yang tingkat kewarasannya di atas rata-rata —karena mereka adalah para pembaca budiman yang dijuluki kutubuku dengan kepintaran selangit. Tidak banyak yang harus kubenahi di sana, hanya sebatas merapikan bantal dan guling yang berserakan, kemudian menyapu dan keluar dengan tenang. Untuk kamar-kamar berikutnya, tak dapat kuceritakan lagi bagaimana ekspresi wajah seseorang yang paling rajin sekalipun untuk sekadar menyapu ruangan tersebut. Masalahnya, kau tak pernah tahu ‘aksesoris’ apa yang disimpan para lelaki demi menunjukkan jati diri mereka.

Lalu aku melanjutkan pekerjaanku ke lantai kedua dan lantai dasar. Peluh yang terjun dari dahi tidak serta merta membuatku lelah, itu hanya keringat imitasi, omong-omong. Bibi Clara akan menyuruhku mengulang pekerjaan jika aku tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh. Salah satu bukti aku melakukannya dengan keseriusan hanyalah dengan keringat ini.

Seluruh penghuni panti sudah berkumpul di ruang makan. Mereka pasti menikmati sajian yang dimasak oleh koki andalan kami —Bibi Grace— yang mengaku telah menjalani hidup tanpa kedua tangannya. Kemampuan Bibi Grace berkembang setiap kali meletakkan piring-piring berisi santapan lezat tiap harinya. Walaupun tidak selalu dengan menu berbeda, setidaknya lauk itu terasa enak jika dia yang membuatnya. Dan jangan tanya bagaimana cara Bibi Grace memasak.

Ketika aku mulai duduk menghadap meja makan, Olivier yang terkenal dengan seringai tajamnya langsung menusukkan aura perdebatan ke arah netra keemasan yang kumiliki. Oh, ya … aku pun tak akan lupa insiden dua hari yang lalu mengenai boneka teru-teru bozu yang bergerak sendirinya di dalam kamar Olivier. Dan yang pasti, aku menjadi pihak tertuduh melakukan itu. Secara teknis, akulah spesies manusia yang memiliki kemampuan menyihir di panti ini. Namun sekali lagi, untuk apa aku melakukan hal yang justru membuang waktuku?

Apa kalian juga berpikir demikian? Menjadikan Elena Van Cornwell sebagai gadis penyihir yang disudutkan seluruh penghuni panti. Well, dijauhi itu tidak menyenangkan sama sekali. Tapi, mengapa kalian tidak menduga bahwa ada makhluk tak kasatmata dengan beraninya menyentuh teru-teru bozu Olivier? Barangkali ucapanku benar, kan?

Oh, sial. Seseorang yang kumaksud itu … telah berjalan ke arahku tanpa ragu—aku tidak yakin kalau dia benar-benar berjalan, pasalnya sepasang kaki yang tertutup gaun kusam yang dikenakannya tidak menapak lantai sama sekali.

Cerpen Karangan: Ghina Syakila
Facebook: Ghina Syakila

Cerpen The Orphanage House merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dusun Maling

Oleh:
Gemericik suara air tak henti-henti mengisi kolam. Mengalir deras melalui pancuran yang terbuat dari bambu. Di kanan kiri kolam itu dipenuhi dengan pagar bambu yang masih hijau. Rerimbunan pohon

Sendu Menyayat Luka (Part 1)

Oleh:
Ini kisah sepasang anak yang berada di persimpangan jalan hidupnya.. Ini kisah sepasang hati yang baru merekahkan kuncupnya.. Ini kisah yang berakhir sebelum semuanya dimulai.. Langit kota Palembang hari

Memento

Oleh:
Ini pagi yang biasa. Hari yang biasa. Melakukan rutinitas selama 5 hari di tempat yang bernama sekolah. Ya, apalagi kalau bukan belajar. Aku hanya seorang remaja biasa, yang duduk

Dan Hanya Bebas

Oleh:
Atas perintah Mamanya, di pagi yang cerah, seorang gadis cantik nan baik hati bernama Nury pergi ke pasar untuk belanja sayur-mayur dan beberapa keperluan lainnya. Tubuhnya yang mungil begitu

Mimpi Indahku (Part 1)

Oleh:
Suatu hari, Tania menghadiri acara pernikahan temannya, Yogi. Acara pernikahan itu sangat meriah. Tania sempat membayangkan, acara pernikahannya dengan Sandy nanti akan lebih meriah dan megah dari pernikahannya Yogi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *