The Pencil (The Andromeda Girl, Lotus)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 8 September 2018

Seperti biasa, setiap pagi Vauxhall selalu duduk di kursi yang ada di teras depan rumahnya sambil ditemani secangkir kopi. Kegiatan itu sudah seperti kewajibannya sebelum berangkat ke sekolah. Walaupun ia baru kelas 3 smp, kelakuannya tersebut sudah seperti bapak-bapak kantoran yang sedang bersiap pergi ngantor.
“Hari ini aku akan semangat pergi ke sekolah.” Vauxhall berujar dengan semangat.

Vauxhall berjalan dengan semangat sambil membawa secarik kertas bergambar panda kecil berbaju kaos dengan senyuman lucu di wajah panda tersebut. Senyum terkembang dengan lebar di bibir Vauxhall, ia berkali-kali memandangi gambar panda buatannya tersebut dengan tatapan bahagia. Hidungnya kembang kempis saat menatap gambar panda tersebut.
“Sepulang sekolah aku akan segera menjenguk Rena. Renault, aku sangat merindukanmu.” Vauxhall cekikikan sendiri di tengah jalan sambil memeluk gambar itu.

Segera setelah bel pulang dibunyikan, Vauxhall berlari menuju terminal dan menaiki sebuah angkot berwarna biru. Ia sudah tidak sabar untuk menjenguk kawannya yang sekarang sedang meringkuk di rumah sakit.

“Sepertinya masih ada yang kurang.” Vauxhall melihat kembali gambar panda miliknya. “Lebih baik begini.”
Vauxhall mengambil penghapusnya dan mengutak atik gambar panda lucu itu sekalian menunggu angkot sampai di tujuan. Ujung pensilnya seolah menari di atas kertas HVS putih tanpa garis itu. Di tangannya, sebatang pensil biasa dapat menghasilkan sebuah karya yang menakjubkan.

Setelah 5 menit berlalu, angkot berwarna biru tersebut berhenti di depan sebuah rumah sakit yang cukup besar. Vauxhall turun dari angkot dan membayarkan sejumlah uang kepada sopir angkot tersebut. Ia segera berlari kecil ke depan pintu masuk rumah sakit itu.

Tanpa perlu bertanya, Vauxhall segera melewati beberapa lorong dan sampai di depan sebuah kamar. Vauxhall berdiam dari balik pintu dan mengintip melalui jendela kecil di pintu kamar tersebut. Terlihat seorang gadis tengah berbaring seraya menggenggam beberapa buah kertas yang terlihat sudah menguning.

“Rena.” Vauxhall mengetuk pintu lalu membukanya. Ia mendapati Rena buru-buru menyembunyikan kertas-kertas yang sudah menguning itu.
“Vaux, kamu tidak pulang dulu?” Rena menjawab seraya membetulkan rambutnya yang panjang tergerai.
“Tidak, aku ingin segera memberikan hadiah spesial untukmu. Kebetulan hari ini adalah hari ulang tahunmu bukan? aku telah selesai membuat Pandaman.” Vauxhall memberikan secarik kertas bergambar panda memegang pedang dengan jubah di punggungnya. Lengannya gemetar saat menyerahkan gambar tersebut.
“Astaga, setelah 13 tahun kamu selalu bercerita tentang Pandaman, baru sekarang kamu selesai membuatnya? Ini pasti gambar terbaik yang pernah kamu buat.” Rena menerima gambar itu dengan bahagia.
“Semoga kamu dapat terhibur dengan gambar sederhanaku.”
Senyuman terkembang dari bibir manis Rena, ia segera memeluk gambar panda itu dengan bahagia. “Ini bagus sekali, haruskah aku membayar gambar ini?”
“Memangnya aku tukang jualan gambar atau apa?” Vauxhall dan Renault tertawa. Tanpa disadari beberapa carik kertas tadi jatuh dari balik bantal Rena.

Vauxhall membungkuk hendak mengambil kertas-kertas itu. Namun, Rena segera mencegahnya dan berusaha mengambil sendiri kertas-kertas itu.
“Jangan diambil! biar aku saja yang mengambilnya!” Rena berseru dengan panik.
“Tidak apa-apa, kaki kamu masih belum bisa jalan bukan?”
“Jangan! atau aku tidak mau dijenguk olehmu lagi!”
Dengan tersenyum Vauxhall menutupi mulutnya. “Jangan-jangan itu gambar yang aneh-aneh ya?” Vauxhall bertanya dengan nada menggoda.
“Kamu ini! keluar!” Rena melempari Vauxhall menggunakan piring plastik bersih di sampingnya.
“Ha… ha… ha…!” Vauxhall berlari keluar dari kamar Rena sambil tertawa lebar. Saking semangatnya, tanpa sengaja ia menabrak seorang suster yang berusia kira-kira 20 tahunan.

“Maaf, aku tidak sengaja menabrak Anda.” Vauxhall meminta maaf.
“Tidak apa-apa, oh ya. Kamu temannya Renault bukan?” Suster itu malah menyapa ramah Vauxhall.
“Iya, memangnya kenapa?”
“Saya sarankan agar kamu sedikit menjauh dari Rena, dia sekarang sedang dekat dengan seorang anak lelaki pemilik perusahaan ternama di kota ini. Dia selalu dibawakan puisi oleh lelaki itu. Coba saja sekarang lihat dia, dia pasti sedang tertawa sendirian melihat puisi itu.”
Vauxhall merasakan suatu perasaan yang belum pernah ia rasakan selama ini. Perasaan yang mengganggu hatinya.
“Apa yang Suster… Lotus bicarakan. Saya hanya teman baiknya. Tidak lebih.” Vauxhall cengengesan seraya membaca name tag suster itu.
“Oh iya, saya punya satu pensil bagus. Pensil RG 11. Pensil ini punya satu kehebatan.” Suster Lotus memberikan sebuah pensil kayu berwarna hijau dengan ukiran RG 11 di bagian ujung pensil.
“Terima kasih. Tapi, mengapa Anda memberikan pensil ini pada saya?” Baru saja pandangannya beralih ke pensil, ia sudah mendapati suster di hadapannya audah lenyap entah ke mana.
“Suster Lotus?” Vauxhall berseru memanggil suster yang baru saja memberikannya sebuah pensil.

Setelah beberapa kali mencari, ia baru sadar bahwa tasnya ketinggalan di kamar Rena. Ia segera berlari menuju kamar Rena kembali dengan lari kecil.
Baru sampai di depan kamar Rena, Vauxhall mendapati Rena sedang tertawa sendiri melihat kertas-kertas yang sudah menguning itu. Yang lebih membuatnya sakit hati adalah Rena bersin, dan menggunakan gambar pemberian Vauxhall untuk mengelap hidungnya.
Hati Vauxhall sudah tidak karuan, ia berlari meninggalkan rumah sakit itu dengan menahan tangis. Ia segera menaiki sebuah angkot dan duduk di bagian paling belakang. Pikirannya sudah campur aduk melihat Rena tadi.

Pintu kamar dibuka oleh Vauxhall dengan keras. Ia meraih secarik kertas dan menggambar sebuah naga bertangan besi dengan semburan api di mulutnya. Hatinya saat itu begitu sakit dan perih. Ia tidak dapat berpikir jernih sehingga niat yang tidak diinginkan terpikir di otaknya.

Selesai sudah gambar naganya. Matanya mengabur dan seketika itu menghitam. Sesaar sebelum benar-benar tertidur, ia samar-samar melihat sesuatu bergerak di balik jendela kamarnya.

7 menit kemudian Vauxhall terbangun dari tidurnya akibat suara bising di luar. Ia melihat jalanan di halaman rumahnya sudah hancur oleh sesuatu yang amat besar. Segera Vauxhall melihat kertas gambarnya dan mendapati gambar naganya sudah menghilang.

“Renault.” wajah Vauxhall berubah pucat.
Suster Lotus tersenyum seraya menelepon seseorang. Tangannya menggenggam sebuah pensil berwarna merah muda dan menggambar pakaian guru di dinding toilet tempatnya berdiri sekarang. Gambarnya seketika itu berubah menjadi pakaian guru sungguhan lengkap dengan badgenya.
“Ya Tuan, saya sudah menemukan calon Fedora yang tepat bagi Pensil RG 11. Jika di tangan anak itu, pensil hebat itu mungkin tidak ada apa-apanya… Ya Tuan… ya… baiklah. Pensil Andromeda milikku akan segera menghancurkan pensil RG 11. Ya…” Suster Lotus selesai berganti baju dan sudah mengenakan seragam guru. Matanya sekarang dilapisi oleh kacamata sehingga meyakinkan penampilannya.
“Andromeda, ayo kita beraksi.”

Bersambung

Cerpen Karangan: Rey Goodman
Blog / Facebook: D-Flying Dutchman

Cerpen The Pencil (The Andromeda Girl, Lotus) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Last Wish (Part 1)

Oleh:
Dor dor! Terdengar suara tembakan revolver yang menggema memecahkan keheningan malam. Asap putih mengepul dari lubang tempat keluarnya peluru yang kini telah bersarang di jantung sang pria paruh baya

RPG

Oleh:
leplay Game yang sedang naik daun itu menarik perhatianku, entah kenapa aku merasa Permainan ini familiar dengan sesuatu, ah, mungkin hanya perasaanku saja, mana mungkin? Ini kan permainan baru.

On Your Side

Oleh:
Jantungku berdegup begitu kencang saat aku melewati sebuah lorong di sekolah baruku. Aku kembali melihat tangan kiriku, di mana sebuah jam tangan hitam melingkar. Jarum pendeknya menunjuk angka 7

Saat Terakhir di Stasiun

Oleh:
Ismail Irawan, cowok berusia tujuh belas tahun yang suka nongkrong di stasiun itu, lagi-lagi melihat seorang gadis cantik berbaju putih di seberang rel kereta. Sambil menunggu kereta yang mengantarnya

Mati Dalam Angan (Part 1)

Oleh:
Aku berjalan di antara bebatuan ini. Bebatuan yang berfungsi menahan deburan ganasnya ombak yang bisa mengikis pantai. Angin laut berteriak ribut di telingaku seolah tidak menginginkanku datang ke wilayah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *