The Salvation (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 20 January 2015

“Seikat bunga ini berapa harganya, nek?” sambil ku tunjuk bunga yang aku maksud.
“bunga mawar merah, mawar merah, semerah darah, darah yang tertumpah basahi bunga berhiaskan duri di tangkainya karena sebuah pengorbanan. Pengorbanan kasih sayang. Semoga Tuhan selalu mengasihi dan mencintai nona manis nan rupawan ini sebagai simbol atas cinta kasihNya. Ini, terimalah.” Lalu tersenyum memamerkan kerutan di wajahnya sambil menyodorkan seikat mawar merah itu kepadaku. Aku pun menerimanya.
“Kata-kata yang sangat indah, nek. Bunga cantik ini nenek jual berapa?” tanyaku lagi.
“Mawar merah itu tidak dijual bagi mereka yang memiliki hati yang penuh kasih. Nona manis, bawalah dan simpanlah mawar merah itu tanpa kau harus membayarnya.” Wanita baya bertubuh bulat berbalut gaun hijau tua beserta mantel hitamnya itu kembali tersenyum kepadaku.
“Terimakasih, nek.”
“Sama-sama.”

Setelah mendengar sahutnya itu, aku kembali berjalan di sepanjang kawasan pasar ini. Bukan bermaksud untuk berbelanja kebutuhan pokok, hanya ingin menikmati suasananya di pagi hari ini, langit masih berkabut, embun pagi tampak pada dedaunan pohon nan hijau di sepanjang pinggiran jalan ini disertai hawa dingin menyelimuti kawasan ini tak menyurutkan semangat beraktivitas masyarakat menengah ke bawah ini. Selain menikmati suasananya, aku selalu mendapatkan sesuatu, entah itu benda maupun pengetahuan baru ketika bersosialisasi dengan mereka.

Ku langkahkan kedua kakiku dengan riang sambil mencium wangi seikat bunga mawar merah yang diberikan nenek penjual bunga tadi kepadaku. Wanginya sanggup membuat senyumku mengembang. Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang membahagiakan, maksudku, semua hari sama baiknya, tapi mungkin hari ini akan menjadi hari paling baik. Buktinya, belum matahari terbit, aku sudah mendapat berkat dari seorang nenek penjual bunga yang baik hati itu, seikat bunga mawar merah. Bunga ini adalah awal dari kebahagiaan yang akan aku terima pada hari ini. Lamunanku terpecah, saat suara tangisan seorang anak perempuan memekik telingaku.

“Cup… cup…” aku melipat kakiku, dan mengelus-elus lembut punggung anak itu.
“Dimana ibumu, nak?” tanyaku sambil mengelap air mata di bibi nan kemerah-merahan itu.
“Ibu… ibu… ibu….” teriakan anak itu memanggil wanita yang sepertinya terlepas dari pandangannya. Aku sempat kebingungan apa yang harus aku lakukan. Aku melihat seikat bunga yang ku genggam, ku berikan setangkai bunga itu kepadanya. Awalnya, aku tidak yakin anak ini akan berhenti menangis, dan sedikit tenang, tapi ternyata, ia berhenti menangis ketika ia raih setangkai bunga yang kuberikan padanya. Ia anak yang pintar, tak ia capit tangkai bunga berduri itu dengan sembarang oleh jemari mungilnya itu, ia rupanya tahu benar bahwa bunga yang diberikan kepadanya itu memiliki duri-duri di tangkainya.

Ketika anak itu sudah tampak tenang, aku mulai kembali bertanya kepadanya.
“Bagaimana kamu bisa terpisah dari ibumu, nak?” tanyaku dengan lembut, ia mengalihkan pandangannya dari bunga yang sedari tadi ia tatap kepadaku.
“Ibu lagi berbicara dengan bibi itu, tangan ibu melepas tanganku, ibu mau pengang buah apel. Aku melihat ada kupu-kupu hijau terbang kesana-kemari, aku ingin menangkapnya, tapi tidak bisa. Kupu-kupu itu cepat menghilangnya.” Tuturnya terbata-bata dengan wajah yang serius.

“Hm… kau mau bantu bibi mencari ibumu?” anak itu menyetujuinya dengan anggukan kepalanya. Aku pun lantas menegakkan kedua kakiku, lalu menggenggam tangan kirinya dengan tangan kananku.
“Kau masih ingat kupu-kupu itu mengajakmu ke arah mana?” sambil menatap anak itu yang masih menggenggam bunga di tangan yang satunya lagi.
“Sedikit.” sambil menatapku yang mengharuskannya menanggahkan kepalanya.
“Baik, kau bantu bibi, ya, kemana bibi harus melangkah mencari ibumu. Oke?” anak itu melepas bunga pemberianku itu lalu menegakkan ibu jarinya kearahku.
“Oke.”

Sedikit kecewa, tapi aku tetap berusaha tersenyum kepadanya karena anak itu sepertinya masih dibawah umur lima tahun. Kami pun terus menelusuri arah jalanan yang cukup ramai berdasarkan komando anak itu. Agar perjalanan yang kami tempuh tidak membosankan, aku menawarkan diri untuk berdongeng tentang Mr. Rabbit and The Smart Squirrel kepada anak perempuan itu, dengan semangat ia mengiakan tawaranku. Aku pun menceritakan kisah itu, tapi tak lupa tetap bertanya arah jalan yang harus kami lewati kepada anak itu, walaupun ia terkadang ragu ketika tak ada landmark di pinggiran jalanan itu yang ia ingat, jadi rupanya keputusanku ikut andil juga.

Aku bukan asal memilih arah jalan, tapi kupikirkan baik-baik dimana letak bibi penjual buah yang anak itu maksudkan, memang sih tidak hanya bibi yang dimaksud anak itu yang menjual buah-buahan, masih banyak bibi-bibi lain yang menjual berbagai macam buah-buahan. Tapi ku pusatkan pikiranku pada penjual buah yang paling banyak diburu dagangannya oleh pembeli.

“Anna!” suara panggilan itu, spontan membuat anak ini menoleh ke sumber suara itu, sehingga kalimatku terpotong saat menceritakan dongeng ini padanya.
“ibuu….” ia melepas tanganku, lalu berlari memeluk ibunya. Kemudian aku menghampiri ibu dan anak yang sedang berbahagia itu sambil tersenyum karena kebahagian yang mereka tularkan itu.
“maaf sudah merepotkanmu.” Mengakhiri kalimatnya dengan senyuman sambil menggendong anaknya itu di atas pinggang sebelah kirinya.
“tak masalah, saya pamit, bu.” “sampai jumpa, anak manis.” Lanjutku sambil mengacak-acak rambut anak itu, ia pun hanya menampilkan deretan rapi gigi putihnya itu kepadaku.

“bibi…” belum jauh aku meninggalkan mereka, anak itu memanggil dan berlari menghampiriku. Sontak tubuhku berbalik.
“ada apa, anak manis?” sambil melipat kakiku agar sejajar dengannya.
“bibi, apakah bibi mau memberikan satu bunga itu lagi kepadaku?” aku melirik sebentar pada seikat bunga yang masih ku pegang.
“ya, aku mau.” Memberikan seikat bunga ini kepada anak kecil bernama Anna itu. ia menatapku heran.
“aku memberimu satu, yang lainnya aku berikan untuk ibu, ayah, saudara, kakek, dan nenekmu.”

“mengapa bibi tidak memberikan bunga itu kepada mereka?” tanyanya polos. Aku kembali tersenyum sambil terus menatapnya.
“aku percaya padamu. Kamu akan memberikan kepada mereka masing-masing satu bunga ini.” lantas ia meraih seikat bunga ini dari tanganku.
“terima kasih.”
“sama-sama.”
“siapa nama bibi?”
“Ruth.”
“kalau bibi bertemu aku lagi, apakah bibi akan berjanji melanjutkan cerita tentang Mr. Rabbit lagi?” katanya yang masih terbata-bata.
“aku berjanji.” Lagi-lagi aku tersenyum.
“sampai jumpa, bibi Ruth!” melambai-lambaikan tangan kirinya, lalu berlari menghampiri ibunya.

Dari jauh, aku melambai-lambaikan tanganku juga kepada Anna yang sudah lagi berada di pangkuan pinggang ibunya dan juga kepada ibunya. Ku kembali membalikan tubuhku dan berjalan pulang. Aku berjalan menelusuri gang-gang sempit yang dibatasi rumah-rumah penduduk yang rata-rata belum siap huni salah satunya, terlihat dengan kasatmata, batu bata yang menghitam tersusun rapi membentengi tempat perlindungan penduduk. Jalanan berbecek, kucing-kucing liar berseliweran dimana-mana, jalanan disini sepi barang hanya satu, dua orang melewati kawasan ini. Sungguh pemandangan yang memprihatinkan, pagi hari saja sudah sepi apalagi bila malam tiba, sangat riskan untuk dilalui.

Bunyi merdu saxophone melantunkan nada-nada indah berkumandang di rongga kedua belah telingaku, ku layangkan pandangan ke arah sumber bunyi nan merdu itu. Seorang pria paruhbaya mengenakan pakaian hangat tampak lusuh, menyilakan kedua kakinya di atas kain kirmizi tepat di perbatasan gang yang kulalui.

Ia tampak sangat menikmati nada-nada yang ia lantunkan pada saxophone yang ia tiup sambil memejamkan matanya, saking menikmatinya kepalanya ikut bergerak mengikuti irama. Sepertinya, aku orang pertama yang melipatkan kaki, menikmati permainan saxophonenya juga perfomanya. Bibirku tak surut-surutnya untuk melebar selama menyaksikannya. Tak kurang dua puluh menit mulutnya beradu dengan pangkal alat musik tiup itu, kemudian melepas alat musiknya tersebut dari mulutnya lalu membuka matanya. Kusambut pria itu dengan senyumanku yang mengembang.

“aku akan melantunkan sebuah lagu karya Kenny G untukmu, senyorita.”
“baiklah.” Aku sungguh menikmati instrumental tersebut, menentramkan jiwa dan batin. Lantunan nada terakhir, ia mainkan dengan sungguh amazing! Sukses membuat berpuluh-puluh orang bertepuk tangan, aku tak menyangka orang-orang akan berkumpul sedemikian banyaknya di samping maupun di belakangku.
“terimakasih.” Kataku kepada pria itu. Pria itu membalasnya dengan senyuman.
aku semakin bangga dan juga senang dengan pria bertalenta itu, lantas ku menepuk kedua tanganku ternyata instumental lagu karya Kenny G versinya mampu merebut perhatian banyak orang. Pria itu tersenyum bahagia sambil menundukan kepalanya berulang kali.

Aku merogoh saku mantelku, ku berikan dua dolar langsung kepadanya tepatnya di atas telapak tangan kanannya. Orang-orang itu juga secara bergantian meleparkan uangnya ke dalam wadah sedekah yang berada di depan kaki pria itu yang menyila. Satu per satu orang pun beranjak dari tempat ini, kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Aku pun sama, melanjutkan perjalananku menuju rumah. Dorrr…. dorr…. dorr…. salvo ke udara sebanyak tiga kali, membuat kerusuhan terjadi di kawasan ini, dipadati orang banyak yang berkeliaran kesana kemari tanpa arah tujuan, riuh suara teriakan dimana-mana.

Mereka semua panik, tak terkendali, seolah sibuk mencari-cari perlindungan demi sebuah nyawa. Indra penglihatan dan pendengaranku berkoalisi juga rasa simpati ketika salah satu dari serdadu-serdadu begis itu menarik paksa seorang gadis kira-kira berusia duabelas tahun dan seorang wanita dewasa yang sepertinya ibunya itu dari rangkulan tangan yang sepertinya -dilihat dari situasinya- ayah juga suami dari mereka lalu mereka dimasukan ke dalam kereta kuda yang dirancang sedemikian rupa berbentuk sel yang rupanya telah dipadati oleh puluhan wanita yang tertawan jua. Laki-laki itu berontak meminta putri dan istrinya segera mereka lepaskan, tetapi naas, pria itu tewas di tangan dingin serdadu itu setelah melepaskan peluru tepat di area jantungnya menimbulkan jeritan-jeritan memekik kerongkongan telinga. Gadis itu dan ibunya hanya bisa menangis pilu tak tertahankan. Peristiwa ini mengejutkanku, jantungku semakin berpacu, tak dapat ku berperkara.

Aku memeluk erat-erat anak-anak nan kemerah-merahan yang berada di dekatku itu, melindungi mata mereka dari paparan peristiwa sadis di hadapan mereka, menyaksikannya seolah-olah membiarkan belati menggores di hati.

“tarik dia!” suara datar namun menggetarkan jiwa raga sambil mengarahkan tongkatnya tepat di depan indra penciumanku. Sang captain menyuruh anak buahnya. Dengan kasarnya, lengan kananku ditarik, tubuhku ikut terbawa. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba melepaskan diri. Anak-anak itu dengan ketulusan juga kepolosannya menarik-narik ujung seragam serdadu-serdadu yang menawanku sambil tak henti-hentinya meneriaki mereka. Tak tanggung-tanggung, mereka mendorong kejam anak-anak itu hingga tersungkur ke tanah.
“heiii…! Lihatlah dirimu begitu kejam.” Teriakanku sambil menitihkan air mataku. Mereka tak menghiraukan teriakanku, mereka terus menyeretku sampai menghadap sel kereta itu. Kemudian, mereka mendorong tubuhku -tentu dengan kasarnya- masuk ke dalam sel itu.

Aku heran, mengapa mereka membiarkan aku sendirian dalam sel mengerikan ini ketika ku layangkan pandanganku ke depan, tepat sel lain di seberang itu terisi penuh sesak oleh para wanita.

“hei, mengapa kau membiarkan aku sendiri di sel ini?” tanyaku dengan mata yang terkaca-kaca sambil kedua tanganku menggenggam masing-masing jeruji besi itu.
“diam kau nona cantik!” perintahnya sambil melirik kepada kawannya itu lalu hahahaaa… tawa berat mereka beradu seraya jemarinya masih bergelut pada rantai gemuk yang ia lilit-lilitkan pada jeruji besi. Sebelum gembok berukuran jumbo itu ia kunci sekaligus mengunci rantai tersebut.

“sampaikan salamku pada ayahmu! (memasukan kunci) jika kau bisa. (krekk.. gembok itu telah terkunci)” katanya dengan nada suara yang berbisik menyeringai. Lalu mereka meninggalkanku sembari tertawa lepas, seraya kereta ini perlahan menggelindingkan keempat buah rodanya. Aku hanya diam membisu, sesekali mengerjapkan kelopak mataku yang penuh oleh cairan bening. Aku tidak tahu nasibku akan dibawa kemana dan seperti apa. Dan bagaimana dengan keluargaku?

kereta ini melaju lebih lambat dari semula melintasi benteng kokoh, dua orang pengawal bertengah berdiri tegap di setiap sisinya. Aku tidak mengenali kawasan ini, kawasan ini begitu suram, tak ada seorang pun yang mendirikan bangunan di sekitar kastil yang tampak seperti menara ini. Kawasan ini persis seperti kota perasingan. Bangunan kastil yang menjulang tinggi ini tampak dekil, tak terurus. Tumbuhan menjalar pada temboknya menimbulkan kesan mistis. Aku menyadari, begitu jauh mereka membawaku dari ingar-bingar kota Boston.

“berapa yang kau angkut?” tanyanya sambil matanya terus berhadapan dengan buku tebal berwarna coklat yang ia pegang, tangan lainnya memegang pena yang ujungnya ia dekatkan pada halaman kosong buku tersebut.
“satu.” Kata si pengemudi itu datar. Kini arah matanya beralih ke arah wajah pria itu sambil alis sebelah kanannya ia naikan sedikit. Kemudian ia langkahkan kakinya, melihat kondisi tahanan sel. Ia mendekatkan wajahnya hingga kulitnya bersanding dengan jeruji besi. Matanya tajam ketika menatap mataku, kemudian ia tersenyum layaknya senyum penjilat -cih, muak melihatnya!-
“jalan!” perintahnya seraya menjauhkan wajahnya.

Cerpen Karangan: Gloria Santosa Putri
Facebook: Gloria Putri

Cerpen The Salvation (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Angel

Oleh:
3 Juli 2014, pukul 23.30 di taman kota, terlihat seorang gadis dengan kuncir kuda yang rapi sedang berlari mengejar anak anjing yang sedang berlari di depannya. Gadis itu berusaha

Pena Dari Bulu Angsa Ajaib

Oleh:
Karmela, seorang anak yang sangat senang menulis. Ia begitu riang tiap kali ia guratkan ujung penanya yang runcing itu ke permukaan kertas. Tiap guratannya ia bentuk menjadi huruf per

Bunga Miracle

Oleh:
Dahulu kala, ada satu kerajaan yang memiliki berbagai jenis bunga, Kerajaan Florafia. Namun, ada satu jenis bunga yang sangat unik dan berbeda dari yang lainnya, dan hanya dapat tumbuh

Sampah di Masa Depan

Oleh:
Aku Clara, remaja absurd yang hidup penuh kebebasan. Tak ada yang istimewa, kecuali rasa bebas. Tak seperti gadis-gadis lain yang selalu diatur jam pulang dan jam tidurnya. Hidup terpisah

5 Bulan Menghilang Aku Sendiri

Oleh:
Ku pandangi sebuah rumah yang tak berpenghuni itu dengan tatapan hampa, seharian aku menunggu. Di depan rumah itu, berharap ada seseorang yang membukakan pintu, terkadang aku tertidur di depan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *