The Salvation (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 20 January 2015

Kedua tanganku disatukan dan diikat oleh seuntas tali tambang membelakangiku. Aku dikawal setiap sisinya oleh para pengawal bersenjatakan, benar-benar dianggap bak seorang buronan kelas kakap. Mendadak pengawal di belakangku menendang kejam bokongku, hinggaku jatuh tersungkur.
“apa yang kau lakukan?!” maki salah satu pengawal kepada pengawal tersebut.
“dia berjalan sangat lambat.” Membela diri. Tubuhku dibantu berdiri oleh para pengawal yang lain.
“tidak pahamkah kau perintah Yang Mulia kepada kami?!”
“paham, komandan.” Sahutnya sambil menunduk.
“paham apa??! Bodoh!” “lanjutkan pengawalan!” lanjutnya, memberi perintah kepada bawahannya.

Aku berjalan dengan langkah terseret-seret bukan merupakan suatu kesengajaan. Ragaku lemah, belum menerima sumber energi. Tapi aku tak boleh melemah, jika ingin melepaskan diri. Kukumpulkan segenap tenaga yang kumiliki, terlebih keberanian ekstra. Tak peduli jika nanti gagal, dan siap menjadi napi (narapidana) dengan hukuman gantung, penggal dan sebagainya yang terpenting kini adalah mencoba.

Setelah kurasa semua terkumpul, kukerahkan tenaga otot-otot kaki, kutendang pengawal di belakangku dengan punggung kaki kananku cukup keras.
“aahrg…..” teriakannya. Aku bergegas berbalik lalu melaksanakan langkah seribu yang telah ku pelajari ilmunya dari Ayah juga pada seorang ahlinya ketika aku masih berumur sebelas tahun. Tak menyangka bahwa ternyata aku sangat membutuhkannya dan sepertinya aku terlihat lebih lincah mempraktikannya ketimbang masa uji coba delapan tahun yang lalu. Aku pun sempat lolos.

Suara riuh orang banyak bak radio butut yang diaktifkan merasuk ke dalam rongga telingaku memaksa membuka kelopak mata ini. Aku melihat samar-samar banyak wanita memadati ruangan ini yang tengah duduk di atas ubin-ubin, tangan dan kaki mereka dililit oleh rantai. Mereka menanggahkan kepalanya, mengeluarkan suara memohon yang terdengar keras yang sepertinya tak mau kalah dengan seruan sesamanya ketika serdadu-serdadu itu melewati mereka dengan menjijing sebuah kantung berukuran besar, lalu dari dalamnya serdadu itu mengeluarkan roti panggang yang kemudian diberikan kepada masing-masing mereka seroti.

Perlahan penglihatanku semakin jelas berbanding lurus dengan tingkat kesadaranku. Tanganku masih dililit oleh rantai, tapi posisinya tidak lagi sama. Ia digantung oleh pengait yang menepel pada tembok berjarak satu setengah jengkal tangan orang dewasa dari puncak kepala sedangkan kakiku dibiarkan merentang tanpa dililit. Mengapa aku selalu dibedakan? Ku harap jawabannya, bukan itu. Aku berusaha menarik-narik tanganku dari si pengait walau sulit.

“mau sampai kapan kau akan begitu? Usaha seperti itu tidak akan membantumu terlepas dari sini. Menyerahlah dan buka mulutmu!” perintah serdadu berkumis melengkung nan tebal itu sembari menenteng roti di tangan kanannya. Tentunya, aku menutup telinga, aku sengaja menatapnya tajam, penuh emosi yang berkobar di dalamnya.
“mengapa matamu berapi-api menatapku?!” gertaknya. Aku menutup telingaku lagi. Serdadu berkumis dan berwajah garang itu, membuka paksa mulutku lebar-lebar lalu memasukan roti sekepal tangan ke dalamnya. Belum sampai seluruhnya, aku sudah memuntahkannya. Cih, malas aku memakan makanan dari tangan haram.
“dasar tak tahu diuntung!” ia mengebaskan kain ke arahku yang menjuntai panjang dari bahu hingga pertengahan betisnya lalu beranjak pergi menuruni tangga.

Sisi kanan kepalaku bersandar lemas pada lengan kanan yang teracung. Kelopak mataku setengah mengatup. Aku merasa otakku tidak berfungsi dengan baik, sel-sel organ dalam tubuhpun sepertinya tidak berproses dengan sempurna, buktinya otakku hanya mengirim sinyal dari organ dalam badaniku bahwa ada rasa sakit yang mendera dalam tubuh nan rapuh ini, hanya itu yang kurasakan saat ini. Tiba-tiba aku melihat ada bayangan menyerupai roti. Oh Tuhan, sampai separah inikah? Sampai-sampai aku membayangkan sebuah roti ada di hadapan mataku. Aku tak tahu seberapa lama entah itu dalam hitungan jam atau bahkan hari aku tidak memasukan makanan apapun kedalam ususku, yang kutahu sepertinya itu sangat lama. Sekarang, bola mataku ke kanan dan ke kiri mengikuti bayangan roti itu yang bergoyang. Ternyata tingkat kelaparanku sudah kronis.

“makanlah!” perintah seseorang kepadaku yang berada tetap di sampingku. Aku pun segera melirik ke arah wanita itu, dengan senyuman ia menyambutku. Tapi aku masih diam menatapnya, aku juga tak mengerti mengapa aku tak dapat membalas senyumannya, terlalu kaku bibir ini.
“wajahmu terlihat pucat. Aku tahu kamu bersih keras menolak roti-roti yang mereka berikan kepadamu. Pasti hal ini kamu lakukan sebagai bentuk penolakanmu diperlakukan seperti ini, benar begitu?” aku meresponsnya dengan anggukan kepala tanda setuju.

“apa kamu mau hidupmu dan juga perjuanganmu berakhir di dalam kastil beraroma nafas naga ini hanya karena perut yang tak kau isi? Ku harap kamu tidak menolak roti pemberianku ini. Anggap saja roti ini roti yang kubeli.” Aku mengangguk lagi lalu membuka mulutku perlahan lantas wanita senasib denganku itu, memasukan rotinya yang telah ia sobek dengan ukuran yang pas di mulutku untuk ku kunyah.

“ini” menyodorkan cawan berisikan air dengan kedua tangannya yang terikat.
“terima kasih” meraih cawan kecil itu.
“aku punya firasat. Saat orang kejam itu akan menumpahkan air ke dalam cawan yang mereka berikan kepada masing-masin kami, mendadak aku tidak haus lagi, tidak ingin minum rasanya. Tetapi aku tetap mengangkat cawan itu agar diisikan. Karena aku merasa sangat membutuhkannya, padahal kalau tidak ingin minum pada saat itu, barang tiga-empat jam kemudian orang-orang kejam itu kembali menawarkan air. Dan ternyata, mereka tidak kunjung datang sudah selama ini, sampai kau kini telah menghabiskan air yang ku pinta. Dan hebatnya, aku masih belum haus. Kurasa Tuhan sedang berpihak padamu. Ia melindungimu agar kau tetap terjaga.” Tuturnya dengan tenang.

“kurasa juga begitu.” Jawabku seraya pikiranku masih melayang-layang, percaya tak percaya apa yang dikatakan wanita berumur tiga tahun di atasku itu-sepertinya.
“dan kurasa kau adalah wanita yang kuat.” Dahiku mengernyit.
“ya. kau tidak mudah terserang penyakit walau sudah sekian hari tidak makan dan minum.”
“sekian hari? Bagaimana kau tahu hari telah berganti sedangkan kita tidak dapat melihat dan merasakan yang namanya siang dan malam di tempat ini?”
“aku hanya perlu memperkirakannya. Tentu, dengan faktanya. Pertama, apa kau merasa sangat lama sekali dikurung disini -tempat-penuh-ngengat?”
“ya, sangat lama.”
“kedua, berapa kali mereka memberi kita makanan?”
“tidak, aku tidak tahu.”

“oh, maaf, aku lupa. Kau kan menolak makanan dari tangan mereka. Hahaha… (tertawa kecil) sudah dua belas kali, dengan spasi waktu tak kurang dari enam jam -kira-kira mereka memberi kita makanan.” Aku menerawang.
“jadi, sekarang sudah hari ke—empat kita dikurung disini?”
“yap, tepat sekali. Dan kau begitu kuat, tidak seperti aku, seharian penuh saja tidak makan, rasanya besok adalah hari kematianku.”
“aku pun baru menyadarinya.”
“hm, apa kau memperkirakannya juga, alasan mengapa kaum hawa berstrata paling rendah ini disekap dan diperlakukan seperti tawanan bangsa asing?”
Dia diam sejenak, menundukan kepalanya dalam-dalam.
“Entahlah. Aku pun hingga kini masih mempertanyakannya.” Lirihnya.

Obor-obor tergantung di setiap dinding sudut, sumbu memudar cahayanya seiring terkikisnya waktu. Hawa kian mendingin menembus pori-pori kulit, walau kelopak mata mengatup, aku dapat rasakan kegelapan yang semakin pekatnya menguasaiku, ia membias selaput kelopak mata. Suasana nan senyap, telinga hanya menangkap suara seperti dengkuran serangga malam dan cecak yang berkumandang. Ini pertanda, bahwa malam sudah tiba, namun kali ini penyakit malam sulit menyerangku yang lain mungkin sudah pulas -sepertinya. Rupanya, aku masih bergelut dalam pikiranku.

Sesosok pria berambut putih dan berjanggut panjang dengan warna senada yang melindungi bibir tipisnya itu tengah tertawa bahagia semakin memamerkan kerutan-kerutan hampir di tiap bagian wajanya. Sosok pria baya itu rupanya menertawai seorang gadis kecil yang tengah menari-nari diiringi oleh lantunan musik, mereka tampak bahagia. Mendadak musik itu lenyap berbarengan dengan bayangan itu, berganti dengan suara hentakan langkah kaki beralas, langkahnya sibuk kesana-kemari, namun hanya berlangsung sebentar, makin lama makin mengecil intensitasnya dan lenyap, gelap yang tertinggal hawa hangat yang berembus, merasuk dalam pori-pori.

Cahaya keemas-emasan menembus selaput meniadakan gelap itu, cahayanya mengantar ke dalam ruang dimensi semu. Putih, hampa, luas sejauh mata memandang. Ada pergerakan yang berdesir deras di rongga telinga, ia melaju sangat cepat dan lurus namun tak terlihat apapun. Menghimpit secara perlahan, ada insting yang meluap-luap untuk menahan dan menghentikannya, namun segalanya terasa kaku, mati rasa semua otot-otot seperti lumpuh tetapi tegap bak maneken berarwah. Dada dan punggung ditekan secara berlawanan, sesak, pengap, peluh biru kental bercucuran di sekujur tubuh, jantung seakan mau meledak sampai ke ubun-ubun. Seketika tangan bergerak dengan sendirinya.

Terlihat bayang-bayang samar sesosok wajah manusia, ia mengeluarkan suaranya namun tak jelas, tubuh ini rapuh dan melayang di bawah yang terlihat seperti bagian dagu. Ada yang besar berwarna merah yang mendengkur, aku melayang lemah tak berdaya perlahan-lahan mengitarinya. Sekelilingku sekonyong-konyong gelap, aku terduduk di atas pelana, punggungku terasa sangat berat untuk menahan beban, tanpa sadar punggungku hampir ambruk seraya wajah buram itu muncul lagi sepertinya ia menyelamatkanku.

Tanganku melingkar di atas pinggangnya begitu kuat seperti diikat, tubuhku berayun tak terkendali. Aku merasakan angin sejuk nan dingin menimpa sebagian wajahku, helai-helai rambut pirangku ikut berterbangan bersama hembusan angin tetapi tubuhku sebaliknya, ada kenyamanan yang melegakan, walau tak kukenali wajah itu dan tak kutahu arah tujuan ia membawaku, bersandar di punggungnya, ada kedamaian melingkup hati yang ditawarkan. Aku tak mau lepas, tak mau terbangun, kuharap mimpi ini terus berkelanjutan sampai sesuatu menyelimutiku yang terus meredup, gelap, gelap.

“Ruth? Putriku?”
“benar, Tuanku Raja.”
“Ruth?”
Percakapan dalam keramaian itu mengganggu, menghalau kedamaian itu. Kelopak mataku bangkit perlahan-lahan.
“Ruth?”
Wajah sesosok pria menyambut mata yang masih berkabut ini, sosok buramnya itu aku yakini pernah kubayangkan dan kuhadirkan dalam pikiranku. Semakin jelas.

“ayah!” teriakanku menyambut pria baya itu seraya menghantam tubuhnya dengan sangat erat hingga air mata menetes, membanjiri pipiku.
“Putriku, Ruth.” katanya sambil mengelus-elus lembut rambutku. Tetesan air matanya menembus baju di bagian bahu kananku. Riuh tepuk tangan orang banyak menggemakan ballroom ini mengiringi kebahagiaan yang aku dan ayah rasakan saat ini. Terlintas sebuah pertanyaan di benakku.
“Ayah, apakah aku sedang bermimpi? Mimpi indah ini seperti nyata bagiku.” Bisikku sambil tersengal-sengal.
“tidak, sayangku. Kebahagiaan ini nyata.”
“tapi, bagaimana aku bisa berada di istana, ayah? Mustahil bagiku berada disini, keluar kastil pun aku tak berdaya.”

“ayah menyelamatkanmu tetap waktu. Kau nyaris dibawa ke negeri mereka yang terkutuk, disana para wanita negeri kami akan dijadikan budak seumur hidup sedangkan kau, mereka akan menghancurkanmu secara perlahan, karena kau keturunan ayah satu-satunya!” Aku melepas pelukan.
“bagaimana mereka bisa mengetahuinya?!”
“dengan mata-mata.” Aku menerawangi hal itu.

“ayah, bagaimana dengan rakyat kita-para wanita itu? Apa ayah akan membiarkan mereka dirampas dan diperbudak begitu saja oleh mereka (musuh)?”
“itu semua sudah terencana. Besok, kau siapkan perlengkapan perang untuk ayah. Perintahkan enam ratus pasukan panglima perang untuk bersiap.”
“besok? bukankah ayah tadi mengatakan, bahwa ayah menyelamatkanku tepat waktu? Jika kita menyerang mereka sesudah fajar menyingsing, mereka pasti sudah bertolak ke negerinya, tentu membawa serta para wanita negeri kami!” tuturku dengan tegas.

“hanya kau, putriku. Mereka akan membawamu lebih cepat dari yang lainnya. Beruntunglah, panglima itu jauh lebih cerdik dari mereka.”
“panglima?”
“ya, seluruh panglima dikerahkan untuk mencari dan menyelamatkanmu. Dalam kurun waktu empat hari penuh pencarian sebelum hari dimana mereka (musuh) membawamu, hanya panglima itu yang menyanggupinya, walau kau tahu? sebenarnya sangat sulit terbebas dari penjagaan peliharaan mereka, seekor naga merah, tetapi itu tidak menjadi masalah baginya. ia menolak upeti yang ayah sudah sediakan dengan alasan sukarela, bahwa ini pengabdiannya.” Tutur ayah, ada kekecewaan di raut wajah keriputnya.

Aku menundukkan kepala mengingat-ingat sesuatu. Mantelku? Aku tidak mengenakan mantel ini dan tidak pernah mempunyainya, ini seperti model mantel pria. Seketika memori otakku menerawang pada peristiwa yang kualami beberapa jam yang lalu.
“itu bukan mimpi, itu bukan mimpi, dia nyata.” Lirihku, tak terasa gumpalan air membendung pelupukku sehingga ia berjatuhan basahi pipi. Sambil mata dan kakiku sibuk mencari sosok itu dalam keramaian.

Cerpen Karangan: Gloria Santosa Putri
Facebook: Gloria Putri

Cerpen The Salvation (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Chip 7 Juta Dolar

Oleh:
Aku dikejar oleh seorang yang tidak aku kenal. Dia seorang pria bertubuh besar dengan penutup wajah dan membawa sebilah pisau besar. Dia mengejarku hingga ke tengah hutan yang berada

Cerminan Dirimu

Oleh:
Aku memiliki cermin ajaib di kamarku. Seperti mimpi saja. Apakah aku berada di dimensi lain, sedangkan ragaku masih terlelap di tempat tidur? Nyatanya tidak. Cahaya mentari pagi masuk melewati

Operasi Outlone (Part 3)

Oleh:
“Badan Inteligen Negara membentuk program pelatihan sipil yang bernama ‘Outlone’. Program ini dijalankan oleh para dokter yang ahli di bidangnya dan diawasi oleh tentara dan polisi terpercaya, tujuan program

Waveboard dan Peri Angin

Oleh:
“JADI IKUT LATIHAN, kan?” Sebuah pesan singkat nongol di layar ponsel. Dari Raldo, teman karibku. Otak langsung ingat janji yang terucap sore kemarin. Secepat kilat langsung loncat, mencampakkan selimut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “The Salvation (Part 2)”

  1. angeli putriani says:

    ini ada kelanjutannya nggak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *