The Secret Garden

Judul Cerpen The Secret Garden
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 January 2017

Aku kembali memandangi pohon jati itu. Aku masih heran dengan pemandangan ini. Aku terus memandanginya di teras rumah. Di sekitar rumahku banyak pohon jati.
“Kak Fia!” panggilku dari luar kamarnya.
“Masuk aja. Pintunya gak dikunci,” kata Kak Fia dari dalam kamar.

Kubuka pintu kamar Kak Fia, “Kak Fia, aku mau tanya,”
Kak Fia menoleh, “Tanya apa?”
“Pohon jati itu,” tunjukku keluar.
“Cari aja dulu di buku. Aku lagi sibuk,” ujarnya masih menatap bukunya.
Aku melihat rak buku yang ada di kamar Kak Fia. Aku memcari-cari bukunya. Ada enam buku yang terkait. Huft, aku harus membaca sebanyak ini.

Berjam-jam aku membaca buku itu. Tapi, belum kutemukan jawaban dari pertanyaanku. Ini buku kelima. Semoga saja ada di dalam buku ini.
Ternyata tidak ada. Pasti ada di buku keenam. Tapi, aku terlalu malas untuk membaca lagi. Lagi pula, ini sudah sore.
Aku bergegas ke kamarku dan mengambil handuk berwarana biru langit. Setelah itu aku pun bergegas mandi. Setelah mandi aku kembali ke kamar Kak Fia. Sepertinya Kak Fia ada di luar. Huft, aku terlalu malas untuk membaca.

“Ada apa, Li?” tanya Kak Fia yang tiba-tiba muncul.
“Ah, bikin kaget saja.” Jawabku mengelus dada.
“Masih baca-baca ya?” tanyanya setengah mengejek.
Aku hanya melihat kakakku dengan jengkel, “Au ah gelap!” ujarku ketus.
“Ya… ya… ya. Mau tanya apa, adikku sayang?” tanya kakakku sembari duduk di sampingku.
“Pohon jati yang di luar itu.” tunjukku keluar.
“Masih sama pertanyaannya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
“Di musim kemarau seperti ini pohon jati menggugurkan daunnya untuk mengurangi penguapan, yang disebut meranggas,”
“Ehmm.. gitu,” jawabku sambil mangut-manggut.

Beberapa bulan kemudian…
Kenapa daun jati masih meranggas ya? Ini kan musim hujan, gumamku. Gejala alam apalagi ini? Aku berlari ke kamar kakakku.
“Kak Fi… kok kamarnya kosong? Astaga, aku lupa!” jeritku, Kak Fia sedang Study Tour ke Bandung, “Huft.. aku harus menunggu seminggu lagi,”

Aku keluar dari kamar kakakku, mencari mamaku. Saat aku sedang mencari mama terdengar teriakan dari teras depan.
“Aaaaaaa…” teriak seseorang dari teras luar rumah.
“Seperti suara mama,” pikirku, “mama!” teriakku seketika.
Aku berlari keluar menghampiri mama. Tak lupa aku membawa sapu untuk jaga-jaga.

“Mana orang jahatnya, ma?” tanyaku sembari menyodorkan sapu.
“Kamu ini ngapain? Lebih baik kamu sapu ulat pohon jati ini!” perintah mama.
“Mama aja, aku takut,” ujarku sambil menyodorkan sapu.
“Ya sudah,” mana mengambil sapu dari tanganku. Akhirnya ulatnya sudah pergi.
“Ulat apa itu, ma?” tanyaku.
“Ulat pohon jati,” jawab mama singkat. Lega, akhirnya pertanyaan kecilku terjawab sudah.

Kak Fia sudah pulang dari Bandung, dia memberikanku kaos berwarna putih. Tak lupa Kak Fia bercerita kepadaku. Wah, aku jadi ingin ke Bandung. Kak Fia mengajakku ke teras rumah. Aku menolak karena banyak ulat pohon jati.
“Ada ulat pohon jati? Sejak kapan?” tanya Kak Fia.
“Entah, aku gak tau,” jawabku singkat.
Kak Fia terdiam, lalu beranjak dari kasur dan menengok ke luar jendela. Lalu menarik tanganku keluar.
“Mau kemana?” tanyaku
“Jangan banyak tanya. Ikut aja!” Kak Fia masih terus menggandengku.

Entah mengapa Kak Fia malah mengajakku ke sini. Ke tempat yang banyak ulat jatinya. Kami melewati banyak pohon jati. Kami sampai di semak-semak yang tinggi. Ada pintu kayu yang sangat kecil, aku harus membungkuk jika masuk. Kak Fia membuka pintu itu sembari mengamit tanganku. Wow, pemandangan di dalam sini indah banget.
“Wah, keren banget!” pujiku.
“Iya, wow banget deh,” decak Kak Lia kagum.

Aku dan Kak Fia bagaikan ada di surga. Saat kami sedang mengagumi indahnya tempat ini. Ada seseorang mengenakan gaun berwarna kuning, rambutnya hitam legam terurai, kulitnya berwarna sawo matang selaras dengan wajahnya yang ayu. Dan satu lagi, dia punya sayap.
“Si.. si.. siapa kamu?” Kak Fia memberanikan diri untuk bertanya.
“Aku Amanita dari negeri para peri. Siapa kalian? Kenapa kalian bias masuk ke sini?” tanya Amanita.
“Aku Fia dan ini adikku Lia. Aku mengetahui ini dari buku harian ibuku. Aku tak sengaja menemukan buku itu di kamarku. Dan sekilas aku membaca tentang pengalaman ibuku ketika ada di negeri para peri,” jelas Kak Fia panjang lebar.
“Tapi, saat ini negeri para peri sedang hancur berantakan. Ratu terkurung di dalam Gua Safir dan tidak ada yang bisa membukanya selain kalian,” ucapnya sedih
“Kami?!” aku dan kakakku tercengang, “bagaimana mungkin kami? Kami hanya manusia biasa,” aku angkat bicara.
“Itu yang berada dalam mimpiku,” timpal Amanita.
“Baiklah jika itu maumu. Apa yang bisa kami bantu?” tanyaku
“Mari ikut denganku! Aku akan memberikan kalian sayap terlebih dahulu,” Amanita mengajak kami ke rumahnya.

Rumah Amanita bersih dan tertata dengan rapi. Amanita membuka lemari yang isinya sayap yang cantik. Kami sekarang sudah punya sayap pemberian Amanita.
“Di mana letak Gua Safir?” kami akan menolong ratu,” ujarku bersemangat.
“Ikuti aku!” Amanita lalu terbang.

Aku dan Kak Fia saling tatap karena bingung bagaimana cara memakai sayap ini.
“Ringankan badanmu dan mulailah terbang dengan rileks,” Amanita berteriak dari atas.
Aku dan Kak Fia mulai mempraktekkannya. Wah, aku terbang. Awalnya terbangku dan Kak Fia agak aneh, karena kami kan tidak biasa memakai sayap. Lama-lama juga terbiasa.

Aku, Kak Fia dan Amanita sampai di Gua Safir.
“Sekarang mantra apa yang harus diucapkan?” tanya Amanita.
“Di buku harian ibu ada tulisan, sparkle, spairkle the diamonds this is a amazing world,” perlahan-lahan pintu Gua Safir terbuka. Keluarlah seorang ratu yang amat sangat amat cantik dengan gaun berwarna putih yang saaangaaat cantik.
“Terimakasih Fia dan Lia kalian telah menyelamatkan negeri para peri,” jawab ratu.
“Terimakasih kembali,” jawab aku dan Kakakku.
Ternyata di balik pohon jati yang daunnya sedang dimakan ulat ada negeri yang indah sekali.

Cerpen Karangan: Adinda Tyas Lumintang
Facebook: Adinda Tyas Lumintang

Cerita The Secret Garden merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rangga Revina

Oleh:
Dinginnya malam ini menusuk hingga ke dalam tubuh. Ini adalah malam Minggu, dimana aku duduk terdiam memandangi sebuah taman yang penuh dengan pasangan romantis tengah merasakan cinta di malam

Kutu Buku

Oleh:
Chesa mahaerani putri atau biasa di panggil Chesa duduk di kelas 4 sd, yaa aku memang kutu buku, banyak sekali buku-buku. buku-buku itu dulu dibelikan oleh bunda ketika aku

Koki Cilik

Oleh:
Franita Siskya Ayuningtyas, itulah namanya. Dia biasa dipanggil Tyas. Tyas hobi memasak. Tyas juga mempunyai toko kecil-kecilan di gazebo rumahnya. Pagi itu, Tyas jogging-jogging di dekat taman kota bersama

If I Have Magic (Part 1)

Oleh:
– Author POV Seorang gadis berumur 15 tahun terlihat sedang mengendarai sepedanya dengan laju yang lumayan cepat, ia terlihat sangat panik karena di hari pertamanya sekolah ia sudah mengalami

Five Islands

Oleh:
Jaka menyeka bulir-bulir keringat di keningnya sambil duduk di bawah salah satu Rock Mushroom yang menjulang di sekitar puncak Brahma. Rock Mushroom adalah bebatuan vulkanis yang tercipta dari lava

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *