The Silver Light Legend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 28 January 2016

Mata Ane mengerjap, rembesan matahari memantul menusuk-nusuk iris cokelatnya.
“Kamu sudah sadar, An?” suara gadis yang memunggungi Ane berbisik.
“Tifa? Kita di mana? Kok, buminya terbalik, yah?”
“Entahlah, waktu aku sadar kita sudah begini. Entah siapa orang yang tega-teganya menggantung kita terbalik begini. Memangnya kita kelelawar apa? Dasar sial! Awas saja jika ketemu nanti, akan ku patahkan lehernya!” Tifa mendesis.

“Mereka di sini Pangeran,” kata seorang sipir wanita, membuka gembok penjara mempersilahkan seorang lelaki tampan masuk. “Turunkan mereka!” perintah Erik, sang pangeran. Sang sipir hanya mengangguk mantap melaksanakan perintah junjungannya. “Siapa dia, An?” Tifa kembali berbisik, mencoba melihat pangeran tampan itu.
“Mana ku tahu. Yang jelas tadi sipir memanggilnya pangeran, kemungkinan dia pemilik penjara ini,” jawab Ane menerka. Mata Ane kini beradu dengan iris biru sang pangeran. Kedua gadis itu duduk di sebuah bangku panjang, berhadapan dengan pria berambut cokelat itu. Jeratan mereka telah dilepas oleh sang sipir.

“Kau boleh pergi,” ucap Erik. Sang sipir membungkuk memberi hormat, lalu pergi setelah memandang sekilas kedua tahanan wanitanya. “Shaneva, kau tumbuh menjadi gadis yang cantik,” ucap Erik tetap cool, sambil memegangi dagunya memandang wajah Ane. “Dari mana kau tahu namaku? Dan, apa alasanmu memenjarakan kami?”
“Bukan aku yang memenjarakanmu nona. Aku juga tak sengaja mendengar ada dua gadis aneh tak sadarkan diri di depan Balai Pusaka Agung. Mereka ditangkap karena diduga berencana mencuri busur Gasparo. Aku penasaran, makanya ku periksa. Tak ku duga, ternyata mereka gadis Carver dan temannya,”

“Siapa kau sebenarnya? Gadis Carver?”
“Ya gadis Carver, kau Keyla Shaneva. Kau berasal dari desa Carver kan? Kau tinggal bersama Kakekmu si tukang kayu, Pak tua Saige. Kau juga punya seorang Adik bernama Nick yang hilang ketika kau berusia 12 tahun. Waktu usia 10 tahun kau menjadi satu-satunya orang yang selamat dari bencana di desamu secara misterius. Untung saja Kakek dan Adikmu sedang pergi ya waktu itu, kalau tidak pasti… ah ya sudahlah. Apa aku salah?” cerocos Erik panjang lebar. “A, dari mana kau tahu semua itu!?” Ane melongo, tak menyangka.
“Ah, rupanya kau serius ya telah melupakanku?”
“Memangnya kapan aku pernah mengenalmu?”

“Hah… ya baiklah. Apa kau ingat ketika mencari Adikmu, kau dan Kakekmu menemukan seorang pemuda tengah sekarat di hutan Greenleaft?” tanya Erik, Ane hanya mengerutkan dahi mendengar penuturan pemuda itu. “Yah, aku sangat berterima kasih pada kalian. Berkat kalian berdua, aku bisa menggunakan paru-paruku lagi. Terima kasih banyak,” lanjut sang pangeran. “Ah, kau!? Tak mungkin. Itu sudah 5 tahun lalu. Seharusnya jika kau memang Paman itu, sekarang setidaknya kau sudah terlihat lebih tua. Tapi, kau… kau bahkan terlihat seumuranku sekarang. Heh, mengerikan!”

“Bagaimana jika aku bilang 5 tahun lalu yang kau bilang itu belum terjadi? Mungkin masa ini sekitar 300 tahun sebelum 5 tahun yang kau maksud itu, lebih mengerikan bukan?”
“Hah!? Jangan bercanda! Jadi… ah baiklah, kalau memang begitu apa yang Paman lakukan waktu itu?”
“Akan butuh waktu lebih dari sehari untuk menceritakannya, yang lebih penting kenapa kau berada di Balai Pusaka Agung?”

“Entahlah, terakhir yang ku ingat Aku dan Tifa berada di reruntuhan tua di atas bukit. Kami datang memang untuk mengambil busur Gasparo itu untuk menyelamatkan Nick,”
“Kau menemukan anak itu? Di mana? Apa di…” Erik tertunduk sejenak. Ada rasa bersalah dalam mata dan hatinya.
“Ah, maafkan aku memotong pembicaraan penting kalian. Tapi, apa kalian tak merasa aneh dengan suasana ini? Tiba-tiba saja gelap seperti malam.” Sela Tifa yang dari tadi hanya menjadi pandengar setia.

“Ada apa ini?” guman Erik, memeriksa ke luar jendela penjara berteralis itu.
“Pangeran, kita diserang! Dan penyerangnya… para Eviliant,” kata seorang prajurit buru-buru masuk ruang penjara, melapor pada Erik dengan wajah panik.
“Apa!? Segera siapkan para Folkvar -pelindung manusia! Beritahu panglima Urdha, lindungi kastil ini!” perintah Erik, ia bergegas hingga ada yang menahan lengannya.

“Eviliant?” tanya Ane dengan sorot mata mendesak sebuah jawaban.
“Bayangan kutukan di hutan Greenleaft, ingat? Seharusnya mereka sudah punah sekarang. Mereka akan bangkit, tapi itu masih beberapa ratus tahun lagi. Mereka mungkin mengikutimu saat tak sengaja lubang waktu yang terbuka membawamu ke sini,” Erik melirik kedua gadis itu sejenak, kemudian hendak melenggang pergi.

“Ah, Pangeran, Paman atau apalah. Tolong izinkan kami ikut! Kalau mereka ke sini mengikuti kami, berarti secara tak langsung kami yang telah membawa mereka ke mari. Izinkan kami membantu,” ucap Tifa menghentikan langkah Erik sejenak. “Tifa benar Paman, kami akan membantu. Meski belum terlalu berpengalaman, tapi kami adalah siswi Arcer School. Kami bisa sedikit membantu,” tambah Ane. “Baiklah. Pertama, namaku Erik. Jangan panggil aku Paman, usiaku masih 18 tahun sekarang. Kedua, mohon bantuannya nona-nona. Tapi ku harap kalian bisa melindungi diri kalian sendiri,”

Tifa dan Ane menyanggupi ucapan Erik. Kedua gadis itu mengikuti langkah sang pangeran ke gudang senjata untuk mempersiapkan diri. Namun, tiba-tiba lantai pijakan mereka bergetar. “Apa ini? Sepertinya lantainya akan runtuh,” seperti dugaan Erik, lantai kastil itu pun runtuh akibat serangan para Eviliant. Mereka bertiga terjatuh. Tifa beruntung berhasil meraih bagian lantai yang utuh, sedangkan Erik dan Ane tak sempat memegang apa pun. Untuk terakhir kalinya Erik berusaha meraih tangan Ane, namun malang, itu pun tak terlaksana.

“Di mana ini?” Ane tersadar ada di sebuah ruangan, sepertinya ia terselamatkan oleh beberapa lembar kain di langit-langit ruangan kastil itu. “Ah, Erik!? Tifa!? Di mana kalian?” Ane mencari kedua insan itu, tetapi di sana tak ada orang lain selain dirinya. Ane menyibak helai kain besar yang memenuhi tubuhnya. Mencoba ke luar ruangan itu. Menelusuri lorong dan ruangan asing kastil yang bagai labirin. Kemudian, netranya menemukan sesuatu yang menarik di salah satu bagian ruang kastil. “Hah, ini bukannya busur legenda itu? Busur sang pelindung, busur Gasparo?”

Di tempat lain, Erik yang berhasil meraih sebuah tali juga selamat. Ia berpijak pada dinding kastil, berusaha memanjatnya dengan bantuan tali itu. Hingga ia sampai pada lubang besar di dinding yang tak lain jendela kastil. “Ane!! Kau mendengarku!!? Ane!” pekik Erik mengamati dasar kastil. Namun, tak ada respon. Sejenak ia tampak berpikir. Kemudian ia sadar tempatnya sekarang berdekatan dengan benteng bagian atas kastil. ia mencoba memanjat. Meski berulang kali ia hampir terjatuh ke dasar curam kastil, akhirnya ia berhasil sampai ke atas benteng.
“Pangeran Erik, pasukan kita kalah jumlah. Eviliant hampir berhasil meraih jantung kastil. Banyak pejuang Folkvar yang menjadi korban. Panglima juga…. dia terluka,” jelas salah seorang Folkvar.

“Cah! Sial! Kita tak boleh menyerah, aku yang akan memimpin langsung pasukan kita. Perintahkan mereka untuk merapat ke kastil utama! Kita harus melindungi busur itu,” Prajurit itu bergegas melaksanakan perintah tuannya. Dalam sekejap seluruh pasukan telah berkumpul, membentuk pagar, membentengi kastil utama. Masing-masing dari mereka memandang tajam dan fokus, menggenggam erat senjata yang terhunus, bersiap akan segala kemungkinan yang menghadang mereka. “Seraaaang!” kata seorang di barisan terdepan yang tak lain Pangeran Erik. Aba-aba itu membuat suara riuh para Folkvar yang telah siap mati bersamaan maju, menantang para iblis Eviliant.

“Heaaah!!” Erik menebas Eviliant. Namun, tubuh yang mirip asap itu membuat serangan Erik meleset. Terlihat seringai mengejek dari tampang tengkorak Eviliant, ia hendak menghempas sang pangeran dengan cakarnya. Tetapi, kemudian rambut cokelat Erik berubah menjadi silver tak beda dengan matanya yang awalnya biru. Pedangnya bercahaya memendarkan energi yang memusnahkan Eviliant di sekitarnya. “Pangeran Erik di mana Ane? Apa ia selamat?” tanya gadis pemanah yang kini memunggungi Erik, yang tak lain adalah Tifa.

“Entahlah, aku belum melihatnya,” jawab Erik tetap waspada.
“Ah, sial! Kenapa mereka tak habis-habis!?” umpat Tifa, terus memanah.
“Aku akan mencarinya,” Erik bergegas.
“Aku ikut!” pinta Tifa, sambil tetap membidik Eviliant sebanyak yang bisa ia panah.
“Hah, apa itu?” kata Tifa, memandang ke arah puncak benteng kastil utama.

Erik pun ikut memeriksa. Seorang gadis berambut panjang bercahaya silver sedang membidik dari sana. Panah bercahayanya memusnahkan tiap Eviliant yang dilewatinya. “Alix?” gumam Erik bergegas menuju gadis itu, diikuti Tifa. Tak disangka gadis bercahaya itu membidik ke arah Tifa dan Erik, yang membuat mereka panik. Anak panah itu dilepaskannya, menembak lurus Eviliant di belakang Tifa dan Erik, yang telah bersiap mencabik kedua orang di hadapannya. Sejenak Erik dan Tifa saling berpandangan lega.

“Ayo cepat!” perintah Erik pada Tifa, segera bergegas ke tempat gadis bercahaya itu. Gadis bercahaya itu lantas membidik ke langit cukup lama. Rambut peraknya mengembang, berkibar dengan cahaya makin terang. Pendaran sinar di ujung panahnya makin lama makin terang dan besar. Memusnahkan para Eviliant yang hendak mendekat, menyilaukan mata siapa pun yang berusaha melihatnya.

Gadis itu melepaskan bidikannya, menembus awan gelap di angkasa. Segaris cahaya muncul dari lubang yang diciptakan anak panah itu. Menerangi sang gadis, kemudian melebar membentuk bulatan di sekelilingnya. Menyibak awan hitam di angkasa. Memusnahkan tiap Eviliant yang dilewatinya. Menghidupkan kembali para Folkvar yang telah mati. Para Folkvar itu terlihat kebingungan, beberapa di antara mereka hanya duduk mengamati tiap bagian tubuhnya, ada pula yang berdiri diiringi rangkulan dan isak tangis keluarga dan teman serta para Folkvar seperjuangan mereka. Sang gadis memejamkan mata, perlahan cahaya miliknya mulai pudar. Ia terjatuh ke dasar kastil. Erik yang menyadarinya seketika berlari dan menangkap gadis itu tepat waktu.

“Kakak… senang berjumpa lagi denganmu,” ucap gadis di pangkuan Erik tersenyum.
“Alix…” sang Pangeran tanpa sadar menitikan air matanya.
“Kakak, aku punya permintaan untukmu. Tolong bantu gadis ini! Latihlah dia menjadi Light Warrior. Buat dia kuat agar bisa mengalahkan para Eviliant, menyelamatkan adiknya dan melindungi masa depan. Jangan biarkan dia menanggung rasa sakit yang sama sepertimu Kak….” Alix tersenyum hingga seluruh cahaya itu hilang, naik ke angkasa. Rambut panjang perak perlahan memendek dan kembali hitam. Wajah Alix yang seputih kapas itu berubah menjadi wajah merona Ane. Perlahan Ane sadar dan membuka matanya.

“Pangeran Erik? Tifa?” Ane buru-buru bangun dari pangkuan Erik.
“Apa yang baru saja terjadi? Ke mana para Eviliant?” lanjut Ane masih sibuk menafsirkan keadaan di sekitarnya.
“Mereka telah musnah An, kau yang sudah mengalahkan mereka,” jawab Tifa.
“Apa maksudmu? Aku, mengalahkan Eviliant? Kau jangan bercanda,”
“Memang sang Silver Light Legend-lah yang telah mengalahkan mereka dengan meminjam tubuhmu Shaneva. Tapi walau bagaimana pun dia juga tak akan bisa membantu jika kau tak berjodoh dengan busur Gasparo di tanganmu itu,” timpal Erik. “Silver Light… Legend?” Ane semakin tak paham.

“Kau akan segera mengerti Shaneva. Oh ya, kau masih ingin agar aku melatihmu?”
“Hah? Ada apa denganmu? Aku pernah memintamu berulang kali ketika usiaku 12 tahun, dan kau dengan tegas menolak. Lalu, sekarang?”
“Waktu bisa mengubah manusia An. Lagi pula aku bukan paman Erik, pria berusia 26 tahun itu, kita hanya terpaut 1 tahun sekarang. Yah, bisa dibilang kita seumuran jadi aku bisa mengerti perasaanmu,” kata Erik agak malu-malu. “Hahaha, benarkah?”
“Terima saja An! Kau mau menolak pangeran tampan sepertinya?” kata Tifa, sesekali menyikut Ane.
“Hah, baiklah. Mohon bimbingannya Guru!” Ane, Tifa, dan Erik tertawa bersama.

The End

Cerpen Karangan: Aprilia Krizna

Cerpen The Silver Light Legend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Devil (Part 1)

Oleh:
Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah yang telah gelap itu, mataku tak henti-hentinya mengedarkan pandangan ke setiap jengkal tempat yang kulewati. Aku harus menemukan pria itu, tekatku dalam hati. Tepat

The Mysterious Girl, Grudge

Oleh:
Bang.. Bang.. Bang.. Terdengar suara tembakan yang membuat riuh dan gaduh. Orang orang berlari menyelamatkan diri. Bang.. Bang.. Bang.. Suara tembakan itu kembali terdengar. “Kalian akan merasakan apa yang

Jacob Lucifer (Pemakan Roh)

Oleh:
Angin berhembus kencang menyapu helaian rambut yang menutupi mataku. Kilatan cahaya membelah gumpalan awan yang hitam pekat tanpa disertai dengan bunyi gemuruh. Kawanan gagak api berterbangan ke mana-mana. Sebenarnya

Teman Dalam Mimpi

Oleh:
Averila Vrovia itulah namaku, aku akrab disapa Vera, aku merupakan seorang anak tunggal, aku kelas V bersekolah di SD Pelita Harapan, sudah cukup perkenalannya, simak ke cerita yuk! Esoknya…

Bola Bola Lucu

Oleh:
Peri-peri kecil sedang bermain bola. Noni peri juga ada bersama mereka. “Lili penyihir baik, ya. Kita masing-masing dikasih bola,” kata salah-satu peri kecil. Tiba-tiba, datanglah gerombolan peri kecil nakal.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *