The True Magical Eyes (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 22 April 2021

Akhirnya Louve mengajak Kasya dan Kakek Oshan ke rumahnya untuk beristirahat dan mengucapkan terima kasih. Saat perjalanan ke rumah Louve, Arkasya dan Louve tidak berhenti bertengkar. Dan berakhir terkena pukulan Kakek Oshan yang ketiga kalinya untuk hari ini. Saat sampai rumah Louve dan membuka pintu, Kakek Oshan terkejut melihat Lobelia masih hidup. Lobelia merupakan cinta pertama Kakek Oshan, tetapi Lobelia memilih dijodohkan dengan alasan tidak mau menentang orangtuanya.

“Lobelia.” ucap Kakek Oshan lirih.
“Oshan.” ucap Obelia tak kalah lirih.
“Nenek! Aku kembali, kedua lelaki ini menyelamatkanku dari death hunter. Jadi lelaki yang di sini bernama Arkasya nek, Louve pikir dia pemuda yang diceritakan nenek.” ucap Louve.
“Terus Kakek ini bernama…” ucap Louve terpotong.
“Oshan.” jawab Nenek Obelia.
“Wah, nenek sekarang jadi cenayang.” canda Louve.
“Jadi tolong izinkan mereka tinggal di sini beberapa hari saja nek.” lanjut Louve
“Iya tidak apa-apa Louve, tolong bersihkan kamar belakang terlebih dahulu.” jawab Nenek Obelia.
Setelah kamar belakang bersih, Kasya dan Kakek Oshan beristirahat dikarenakan sudah sangat malam.

Keesokan paginya mereka berempat berada di sebuah meja makan yang sederhana. Ada perbincangan sedikit di sana. Arkasya dan Louve masih saja bertengkar padahal mereka baru saja bertemu. Sarapan tersebut sudah dilalui dengan kecanggungan antara Kakek Oshan dan Nenek Obelia.

Setelah sarapan Kakek Oshan, Arkasya, dan Louve berunding tentang bagaimana mereka bisa mengambil alih Feygical.
“Eumm, aku mau tanya Louve di mana orangtuamu?” tanya Arkasya.
“Orangtuaku meninggal saat ada perang besar 16 tahun lalu.” jawab Louve dengan nada sedih menahan tangis.
“Maaf Louve, tapi kita bernasib sama.” ucap Arkasya dengan nada riang.
“Apa maksudmu Kasya?” tanya Louve.
“Orangtuaku dan Kakekku meninggal saat melawan para death hunter.” jawab Arkasya santai.
“Wow, berarti kita sama.” balas Louve tak kalah riang.
“Yey, yey, yey. Mari kita berteman.” ucap Kasya dengan tepuk tangan.
“Ayo, hahahahaha.” tawa Louve.

Kakek Oshan menepuk jidat mendengar percakapan itu.
“Sebenarnya kalian ini mau berunding tentang cara menyelamatkan Feygical atau mengadu nasib?” tanya Kakek Oshan.
“Maaf Kek, tapi Kek Louve mau Tanya Kakek Oshan ini bukan Kakek asli Kasya?” tanya Louve.
“Bukan…” ucap Kakek Oshan tersela.
“Jelas bukanlah, aku kan terlalu tampan untuk jadi Cucu Kakek Oshan.” sela Arkasya dengan nada bercanda.
“Oh, yaudah ya…” ucap Kakek Oshan tercela lagi.

Nenek Obelia datang untuk ikut berunding tentang masalah Feygical. Tetapi malah mendengar percakapan absurd ini.
“Sudah-sudah, bagaimana caranya agar kita bisa mengalahkan para death hunter?” sela Nenek Obelia.
“Aku sudah memikirkannya nek, jadi kita akan mengajak seluruh rakyat Feygical yang menentang pemerintahan death hunter untuk mengepung wilayah mereka, karena kita tidak mungkin menang sendiri tanpa ada bantuan dari rakyat Feygical.” jelas Kasya.
“Bagaimana kau bisa membujuk mereka?” tanya Nenek Obelia.
“Kalau itu serahkan saja padaku.” jawab Louve tenang.
“Setelah kita mendapatkan kepercayaan para rakyat Feygical, kita akan menyerang mereka secara serentak dan para rakyat Feygical akan berpura-pura mengalami kekalahan. Lalu aku akan memusnahkan mereka semua. Hahahaha ” canda Kasya.

Setelah mendiskusikan berbagai rencana akhirnya Arkasya mendapatkan 3 rencana yang sebelumnya sudah dipikirkan matang-matang. Hari ke 2 Arkasya di Feygical, ia hendak mengunjungi tempat-tempat yang diperkirakan menjadi tempat penindasan terbesar di Feygical dan menyelamatkannya dari death hunter. Jam 8 Arkasya, Kakek Oshan, dan Louve mulai berangkat untuk pergi ke daerah barat Feygical yang sedang terjadi penindasan besar-besaran di sana.

Telah terjadi diskriminasi, pencabutan hak-hak kepemilikan, dan kurangnya bahan pangan yang menjadikan bagian barat Feygical seperti desa yang kumuh. Arkasya yang melihat pun tidak tega, dan malah bertindak gegabah. Kasya tertangkap oleh death hunter, Kakek Oshan dan Louve tidak bertindak gegabah dan malah berjalan santai melewati Arkasya dengan tersenyum mengejek.
“Terima kasih Kasya, kami tidak usah repot repot menggunakan senjata untuk lewat dari sini.” ucap Louve dalam hati.
Kasya yang melihat senyum Louve hanya bisa menahan emosi.
“Jadi ini aku hanya dijadikan umpan.” batin Kasya.

Setelah Louve dan Kakek Oshan sudah pergi jauh, ia mulai mengeluarkan kekuatan yang sudah ia latih selama 1 bulan. Arkasya merupakan pengguna elemen angin dan air. Ia mulai mengeluarkan jaring yang kuat yang merupakan gabungan dari 2 elemen yang ia punya. Akhirnya 3 death hunter itu tidak bisa bergerak.

Arkasya langsung menyusul Louve dan Kakek Oshan yang sudah diberi tanda agar Kasya mengikutinya. Setelah tanda yang diberi Kakek Oshan habis, ia terkejut melihat pemukiman yang sempit lalu para anak-anak di sana terpaksa memakai pakaian yang sudah sobek atau tidak muat. Ia bersyukur walaupun ia dititipkan di panti asuhan ia tetap mendapatkan baju dan makanan yang layak. Kasya teringat pada keluarganya yang ada di sana.

Louve yang menyadari Kasya yang tidak bergerak dari tempatnya selama beberapa menit, ia berencana menyusulnya.
“Hey! Hey! Hey! Kamu sehat kan?” tanya Louve.
“Aku tidak apa-apa kok.” jawab Kasya.
“Yaudah ayo! Aku sudah menjelaskan tentang keadaan kita dan mereka semua berniat membantu rencana kita.” jelas Louve.

Pemimpin daerah barat Feygical bernama Ellgar, ia baru saja menerima jabatan itu karena orangtuanya meninggal. Ellgar baru berusia 18 tahun dan harus menerima jabatan itu.
“Hey bro!” sapa Arkasya.
“CTAK!” sentil Louve pada Kasya.
“Dia pemimpin di sini.” bisik Louve pada Kasya.

Dengan ekspresi terkejutnya Kasya sampai tidak sadar bila Ellgar sudah berada di sampingnya. Kasya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Sabar…” tenangnya dalam hati.
“Sejak kapan, kau ada di situ?” tanya Arkasya dengan wajah sok angkuhnya.
“Eh aku tidak bermaksud kok, namaku Arkasya hehehe.” sela Kasya.
“Namaku Ellgar.” jawab Ellgar singkat.
“Kau sudah tahu kan apa tujuanku ke mari?” tanya Kasya tegas.
“Aku sudah tahu, jadi bagaimana kau menyatukan seluruh rakyat Feygical?” tanya Ellgar.
“Karena waktuku terbatas, jadi…” jawab Kasya terhenti.
“Jadi… bagaimana?” tanya Ellgar.
“Hehehe kami mau minta tolong agar kau menyampaikan informasi ini ke seluruh bagian di Feygical.” minta Kasya.

Ellgar tampak menautkan alisnya dan berpikir.
“Kalau aku menyampaikan keinginanmu ke seluruh bagian Feygical apa kau yakin akan mendapatkan kemenangan?’ tanya ragu Ellgar.
“Bahkan aku rela mengorbankan hidupku demi Feygical.” jawab tegas Arkasya.
“Kalau begitu aku pegang ucapanmu, dan aku segera menghubungi pemimpin daerah lain.” jelas Ellgar.

Arkasya, Louve, dan Kakek Oshan berencana menginap di daerah itu. Keesokan harinya Ellgar mendapatkan kabar agar seluruh pemimpin daerah bertemu dan berdiskusi. Tempat mereka akan berdiskusi ada di bagian utara Feygical yang merupakan daerah teraman. Ia juga diminta untuk mengajak Arkasya, Louve, dan Kakek Oshan juga.

Dalam perjalanan ke bagian timur Feygical, mereka menerima banyak hambatan. Tapi mereka bisa melewati itu semua. Ellgar dan Arkasya mulai tidak canggung lagi.
“Aku lelah.” ucap Arkasya.
“Sama.” balas Louve.
“Kalian tidak malu melihat Kakek Oshan yang dari tadi tidak mengeluh.” sahut Ellgar.
“Aku lelaaaaaah…” ucap Arkasya tidak peduli.
“Makaaaaaaaan..” Louve menanggapi.
Ellgar pun lelah menasihati Arkasya dan Louve dan berakhir tidak menghiraukannya.

Sesampainya di daerah timur Feygical, terdapat banyak penjaga. Berbeda sekali dengan daerah barat Feygical di mana di daerah itu didominasi oleh death hunter. Mereka langsung disambut baik oleh orang-orang di sana.
“Akhirnya sampai juga.” ucap Arkasya.
“Aku mau makan.” balas Louve.
“Cape juga ya.” kata Kakek Oshan.

Mereka pun beristirahat terlebih dahulu sebelum melakukan rapat dengan para petinggi di sana. Tak lupa Louve yang dari tadi menahan lapar, akhirnya perutnya sudah penuh dengan makanan. Arkasya tak mau kalah dengan Louve hingga akhirnya ia hampir memuntahkannya. Kakek Oshan yang tak kuat menahan malu, akhirnya memilih berkeliling.

Cerpen Karangan: Intania Aziza
Blog / Facebook: Intania Azizaf

Cerpen The True Magical Eyes (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mermaid itu Ada? (Part 2)

Oleh:
Kami mulai menyelam. Sepanjang berenang sama sekali tak ada obrolan yang berlangsung. Aku jadi bingung, tapi terlalu malas untuk bertanya. Semkain dalam kami menyelam, semakin jarang kutemukan tanda-tanda kehidupan

Fate Of Two Sorcerer (Part 3)

Oleh:
Seorang Prajurit kerajaan berjalan sambil membawa nampan yang berisi makanan menuju sel milik Dareen. Ia meletakan nampan itu di hadapan Dareen lalu pergi begitu saja meninggalkannya yang sedang duduk

Bangku Cadangan

Oleh:
Suara suporter bergemuruh. Sayup-sayup terdengar hingga ke luar stadion. Papan skor masih menunjukkan angka sama kuat, yakni 0-0. Wajah kedua pelatih tampak mengisyaratkan ketegangan. Dari bangku cadangan, pemain yang

Gadis Itu

Oleh:
Akulah wanita penjelajah waktu, wanita yang melihat kejadian-kejadian dari masa lalu hingga masa depan. Akulah pengawas kejadian dari masa lalu hingga masa depan, aku berusaha untuk mengetahui apa yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *