Tidaaak!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 February 2015

New York, USA
“Kau siap?” tanya seseorang dengan jas putihnya
“Siap prof”
“Tapi resikonya tinggi. Keluargamu tak akan mengenalimu lagi”
“Tak apa, demi misi ini aku rela mempertaruhkan nyawa sekalipun”
“Baiklah, ini barangnya”
“Glek..”
Seketika kapsul yang telah diminum tersebut menunjukkan efek yang nantinya akan merubah segalanya. Bahkan dunia sekalipun.

Batam, Indonesia
Seluruh keluarga, kerabat dan teman silih berganti datang, hiruk-pikuk suasana rumah membuat dukaku semakin dalam.
“mama.. bangun ma! jangan tinggalin aira sendiri.. ma banguun!” ku coba untuk membuka peti jenazah yang kini ada di hadapanku. Namun tiba-tiba tangan kekar seseorang mencegah ku untuk membukanya
“maaf, tak seorang pun yang diperkenankan untuk membuka peti” ujar sang polisi
“tapi saya anaknya pak! Izinkan saya melihat jasadnya untuk terakhir kali” setengah berteriak aku memintanya dan semakin deraslah air mataku
“maaf nona kami hanya melaksanakan perintah” jelas pak polisi. Setelah mendengar pak polisi tersebut aku langsung memeluk erat papa yang sedak duduk di samping peti tanpa linangan air mata. Aku terisak di pelukannya. Sejak 2 jam yang lalu air mata ini telah berlinang. Tak sanggup menerima kenyataan bahwa mama menjadi korban ledakan bom bunuh diri. Tak lama aku merasa pusing yang amat hebat lalu jatuh pingsan. Aku tak ingat apa-apa kecuali papa yang menggumam lirih di samping peti,
“tidak.. ini hanya kamuflase”
CTARR!!
Aku tersentak kaget bangun dari tidurku. Peluh keringat kini bersimbah di tubuhku. ‘Rupanya aku hanya mimpi’. Ku lihat ke arah jendela, derasnya air hujan yang mengguyur bumi serta halilintar yang menggelegar belum juga reda. Ku tutup wajahku dengan bantal setiap sang petir memancarkan kilatnya yang disusul dengan amukan gemuruh. Mungkin hal ini tak menjadi masalah bagi orang lain. Namun tidak menurutku. Aku fobia akan fenomena alam yang kerap hadir di kala hujan mengguyur, dan dapat membuat air mataku mengalir.
Biasanya, jika sedang hujan deras seperti ini mama selalu ada menemaniku. Tapi aku tak pernah merasakannya lagi. Ku tatap foto indah yang terbingkai frame silver dengan lekat. Itu foto liburan terakhir sebelum mama tiada. Dimana papa, mendiang mama, aku dan kakak tengah berpose dengan latar belakang menara indah di kota paris, eiffel. Tak terasa air mata menetes dari kedua kelopak mata,
“mama..” lirihku. Aku rindu mama, sangat rindu.

5 hari setelah kepergian mama aku mencoba untuk bangkit. Tak ada gunanya jika aku hanya terus menangis dan mengurung diri di kamar. Ku tatap pantulan wajahku di cermin, tampak lebih tua. Ya mungkin karena mataku yang kini lebih mirip panda, wajah yang pucat dan rambut yang kusut. Aku tersenyum simpul melihat kondisiku kini. ‘Tak ada gunanya jika hanya melakukan hal sia-sia seperti ini. Aku tak ingin membuat mama sedih di alam sana’ tekadku dalam hati. Kemudian bergegas mandi untuk menyegarkan tubuh.

Sorenya, ku buka lemari pakaian mama. Baju-baju yang layak pakai ku niatkan untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan dan sisanya untukku. Arsip-arsip kerja mama ku simpan dalam satu lemari. Begitupun dengan perhiasan, koleksi tas, dompet dan sepatu. Setelah selesai merapikan barang-barang, ku buka koleksi album foto mama. Mataku tertuju pada salah satu foto dimana mama dan temannya sedang berpose ketika masih bekerja di New york dulu. Ada tulisan mama di bawahnya, aku merindukanmu yang dulu. Apa maksud mama? Entahlah mungkin mama pernah terlibat perkelahian kecil dengan temannya itu, pikirku. Lalu ku tutup album tersebut dan menyimpannya kembali dengan rapi.

2 jam kemudian aku selesai merapikan barang-barang peninggalan tersebut. Sebagian ku masukkan ke dalam kardus dan sebagian lagi ku simpan di kamar agar aku merasa bahwa mama tetap di sisiku. Ku singkap gordyn yang menghiasi jendela. Cahaya kendaraan dan bangunan pada malam hari tampak memukau. Namun tiba-tiba ku lihat seberkas sinar yang memancar dari ruang kesenian sekolah. Memang, letak rumahku tidaklah jauh dari sekolah, Bahkan berhadapan. ‘Ruang kesenian kan sudah lama tak berfungsi, lantas darimana sinar itu datang? Dan mengapa pada malam hari?’. Seribu pertanyaan berkecamuk dalam benakku.

Pagi ini aku memutuskan untuk masuk sekolah. Aku tak ingin menambah daftar pelajaran yang tertinggal. Dengan seragam hitam, dasi dan rompi kotak-kotak merah serta rambut yang tergerai aku berangkat, tentunya setelah pamit kepada papa dan kak vian.

Suasana masih sepi ketika aku sampai di sekolah. Hanya ada penjaga sekolah, cleaning service dan ibu penjaga kantin. Aku datang terlalu pagi, tapi tak apalah. Kemudian aku memutuskan untuk melangkah masuk ke gedung sekolah.
Aku bergegas menuju lantai 2 tepat dimana kelasku berada. Tiba-tiba aku terperangah melihat sesuatu yang kini ada di hadapanku. Genangan air bewarna merah layaknya darah yang seolah-olah muncul dari dasar lantai. Tak ada tanda-tanda darimana air itu datang.
“Hey, ada sesuatu di tengah genangan tersebut!” pekikku. Ternyata secarik kertas bertuliskan -EVA-. Seketika aku merasa seluruh tubuhku merinding. ‘Tapi tidak, aku tak boleh takut’ tekadku. Ku coba untuk menaklukan rasa takut.
“Eva? Rasanya aku tak asing dengan nama ini” dugaku. Ku bolak-balik kertas berukuran 9×12 cm tersebut yang ditulis dengan tetesan darah. Entah siapa pemiliknya. Tapi menurutku tetesan darah tersebut agak berbeda dengan sampel darah manusia yang pernah ku amati di laboratorium biologi.
“Hey, siapa itu? Keluar kau, jangan bersembunyi!” teriakku. Aku baru sadar jika seseorang tengah mengawasiku sedari tadi.
“Hey kembali! Atau aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu keluar!” gertakku. Hening, tak ada jawaban. Orang tersebut telah melarikan diri rupanya.
“Arrgghh… kenapa aku tidak mengejarnya saja? Bodoh, bodoh, bodoh!” rutukku. Aku tak dapat mengenali ciri-ciri orang tersebut. Yang ku lihat, dia hanya mengenakan kupluk dan dari balik jaketnya ku lihat ia mengenakan baju seragam sekolahku. Entah laki-laki atau perempuan tapi ku yakin orang tersebut ada sangkut pautnya dengan kejadian yang ternyata tengah menjadi trending topik di sekolah saat ini.

Di pihak lain..
“Sial! Gadis itu sempat melihatku! Tapi tak apa, kurasa permainan ini akan menjadi lebih menegangkan” ujar seseorang seraya berlari.
“Sreg..”. Ia menggeser pintu sebuah ruangan yang sudah lama tak berfungsi
“Kring.. kring.. kring..”
“Klik” Telepon diangkat
“Ya, halo prof”
“Tidak, tubuhku tidak menunjukkan respon negatif hingga saat ini”
“Baik, akan ku kabarkan secepatnya jika ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku”
“Gadis itu? Sudah, dia sudah kembali bersekolah”
“Ya, saya paham. Saya akan mencoba menjadi teman dekatnya”
“Klik” Telepon ditutup. Orang misterius tersebut telah usai melakukan pembincaraan lewat jalur komunikasi dengan orang lain yang ia panggil prof.
Orang tersebut menyibakkan kain yang menutupi suatu benda, jasad seseorang yang tengah berdiri tegak dan disangga oleh besi panjang.
“Maafkan aku, tapi aku telah memperingatkanmu sebelumnya” ujarnya kepada jasad tersebut.
Kemudian dia menutup kembali jasad tersebut dengan kain lalu keluar dari ruangan tersebut.

Pelajaran kali ini, Mr. Axel -guru bahasa inggris di sekolah- mengajakku dan teman sekelas pergi ke laboratorium bahasa karena memang hari ini adalah jadwal untuk praktek. Mr. Axel memberi tugas untuk bercakap-cakap dengan para pelajar di luar negeri yang memiliki koneksi dengan sekolahku melalui fasilitas 3G dalam aplikasi Skype. Seketika aku tersenyum bahagia mendengar tugas Mr. Axel tersebut. Aku sangat suka dengan jadwal praktek karena menurutku hal itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa asing dan tentunya memperluas jaringan teman. Seperti pada kesempatan ini, lawan bicaraku seorang perempuan sebaya yang ternyata memiliki selera yang hampir sama denganku. Namanya Vyn.
Vyn banyak bercerita tentang negaranya, USA. Ia mulai bercerita mulai dari sejarah patung liberty, kota-kota metropolitan disana hingga misteri gedung putih. Aku mendengarkan penuturannya dengan seksama. Diam-diam aku mengagumi pengetahuannya yang tidak diketahui semua orang. Seperti ketika ia menceritakan bahwa terdapat sekelompok orang di negaranya yang memiliki misi licik tersembunyi. Kelompok tersebut menamakan misi mereka ‘DEPOPULATION PROGRAM’, yang bertujuan untuk mengurangi kepadatan penduduk bumi hingga 5.500.000.000 jiwa. Mereka memiliki banyak metode guna membuat misi mereka berjalan lancar. Diantaranya melalui penyedap makanan dengan dosis berlebihan yang telah mereka kamuflase sedemikian rupa, gas beracun yang mereka sebar melalui knalpot pesawat bahkan program KB adalah salah satunya. Tetapi semua itu belum seberapa menurutku dibandingkan dengan misi unggulan mereka, menciptakan robot yang telah dimodifikasi dengan sempurna sehingga memiliki kekuatan super yang tak terkalahkan layaknya robot. Aku bergidik ngeri membayangkannya. Apalagi ketika vyn mengatakan negara yang menjadi salah satu target mereka adalah Indonesia. Apakah misi unggulan mereka akan berhasil? Jika iya, lantas apa yang akan mereka perbuat di negeri ini? Teka-teki belum terpecahakan.

“Teet.. Teet.. Teet”. Bel berbunyi bersamaan dengan jingga yang menghiasi angkasa, waktunya pulang. Ku sudahi percakapanku dengan Vyn dan berharap komunikasiku dengannya akan tetap terjalin erat. Kini hanya tersisa aku, nina, rey, xian dan lyn di laboratorium karena hari ini adalah jadwal piket kami. Ku betulkan letak meja dan kursi, headphone digantungkan pada masing-masing meja dan tak lupa membersihkan ruangan.

30 menit kemudian kami selesai membersihkan lab. Setelah semua teman piketku keluar, ku kunci pintu lab bahasa dengan gembok. Rencananya aku dan kelima akan pergi ke cafe yang bersebelahan dengan gedung sekolah terlebih dahulu sebelum pulang. Sembari menunggu nia yang sedang pergi ke toilet, kami berbincang-bincang di lorong sekolah. Kami membicarakan tentang hal-hal ganjil yang terjadi di sekolah belakangan ini. Namun tiba-tiba,
“Aaaaaaaaa!” teriak seseorang dengan kencang. Arahnya dari taman belakang sekolah
“Hey, siapa itu?”
“Seperti suara Nia. Ya, itu memang dia!”
“Apa yang terjadi dengannya?”
“Ntahlah, tapi kurasa bukan sesuatu yang baik”
“Mari kita temui dia!”

Kami berlari menuju asal suara. Perasaan panik, khawatir dan takut beradu satu. Mudah-mudahan tak terjadi sesuatu yang membahayakan pada nia, doaku dalam hati.
Sesampainya disana, ku lihat nia yang sedang duduk bersimpuh di tanah basah akibat hujan yang mengguyur tadi siang. Kedua telapak tangannya tertungkup pada wajahnya disertai dengan isakan. Ia menangis ketakutan. Ku dekati nia lalu ku peluk untuk memberikan sedikit ketenangan.
“Apa yang terjadi nia?” tanyaku hati-hati
“Hiks.. hiks..” nia masih larut dalam tangisnya
“Apa yang membuatmu berteriak histeris seperti tadi?” ku usap rambut indahnya
“I.. itu..” tangannya menunjuk ke arah benda yang kini terletak di tengah taman. Serempak kami menoleh ke arah yang ditunjuk nia.
“Meja itu? Oh come on nia, itu hanyalah benda mati” hibur rey
“Tapi lihat, banyak kejanggalan!” bantah nia
“Maksudmu?” xian tak mengerti
“Apakah kalian melihat ada jejak kaki di tengah taman? Logikanya, jika ada seseorang yang meletakkan benda itu disana pasti ada jejaknya, tapi ini tak ada. Lagipula kurasa ada sesuatu yang teletak di atasnya” jelasnya
Mau tak mau rey berjalan mendekati meja tersebut. Seketika ekspresinya berubah. Ia mengangkat benda yang nia maksud, secarik kertas di atas meja. “Enyahlah kalian..” rey mengeja tulisan yang tertera di kertas tersebut. Kami saling berpandangan.
“Siapa yang menulisnya rey?” tanyaku penasaran
“Disini tertulis, Eva” ujarnya
“EVA?!” aku terperanjat mendengarnya
“Ada apa ra? Kau kenal dengannya?” tanya xian
“Jangan tanya itu sekarang. Apakah perpustakaan sekolah masih buka?”
“Sudah tutup, tapi aku memegang kuncinya. Ada apa?” lyn menjawab ragu.
“Lekas kita kesana! Aku telah menemukan sedikit tititk terang” ujarku kembali seraya berlari menuju perpustakaan. Keempat temanku pun mengikuti walau dengan tanda tanya besar di kepala mereka. Ada apa?

Ku nyalakan CPU dan monitor komputer perpustakaan sekolah. Setelah muncul dekstop di layar, jemariku mulai mengetik.
“E..V..A..” seketika kursor di monitor menunjukkan tanda loading, sedang mencari data. Tak lama muncul 5 data mengenai eva
“Yap, eureka! Data yang ku butuhkan ketemu!” senyumku mengembang
“Akan ku jelaskan nanti, jika semua bukti telah akurat” ujarku menanggapi tatapan heran keempat temanku.
Ku klik data yang tertera paling atas dan terbukalah dokumen tersebut. Ku baca seluruh data tersebut dengan sangat teliti. Setelah usai membacanya, ku tutup data tersebut lalu mematikan komputer.
“Bagaimana? Apa yang kau temukan?” Tanya xian tak sabar
“Jadi begini..” ku ubah posisi dudukku dengan tangan bertumpu di dagu.
Ku jelaskan pada mereka mengenai seluruh kejadian aneh yang terjadi di sekolah akhir-akhir ini. Genangan air merah yang muncul entah darimana, meja yang terletak di tengah taman, serta seberkas sinar yang kerap ku lihat jika malam datang dan berasal dari gedung sekolah tepatnya ruang kesenian. Mereka mendengarkan dengan seksama. Namun belum selesai aku menjelaskan, lyn memotong pembicaraan
“Emh, bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan ini di ruang kesenian saja?” ajaknya
“What?! Gila kamu lyn! Ruang kesenian itu kan pokok dari permasalahan kali ini” rey membantah
“Memang kenapa? Justru ini ide yang cemerlang. Siapa tahu kita dapat menemukan jawabannya disana. Lagipula apakah kalian tidak takut jika pelaku mendengar pembicaraan ini? ” ujar lyn dengan santai
‘Tidak, kurasa dia bukan lyn. Bukankah lyn itu penakut? Lagipula sedari tadi aku agak sangsi melihat kelakuan lyn yang tak biasa’ batinku
“Baiklah aku setuju” ku ambil keputusan seraya berdiri dari kursi
“Hey ra! Apa kamu yakin?” nia meragukan keputusanku
“Jika lyn yakin mengapa kita tidak?” imbuhku
“Oke, ayo kita pergi!” tersungging senyum di wajah lyn seraya berjalan menuju keluar. Xian, nia dan rey mengikuti dengan langkah ragu. Ku beri kode pada mereka bertiga untuk tetap mengikuti lyn. Kita ikuti saja permainannya!

“Klik..” lyn menyalakan lampu ruang kesenian. Terlihat peralatan kesenian yang tertata rapi. Tak ada sedikitpun debu yang menempel
“Bukankah ruang ini telah lama tak terpakai? Tapi mengapa ruangan ini bersih sekali?” rey berbisik padaku seraya mengerenyitkan dahinya. Sedangkan nina dan xian sibuk melihat karya-karya murid beserta piala yang terpampang dalam etalase besar di sudut ruangan. Ya, aku setuju dengan pendapat rey. Aku memperhatikan keadaan sekeliling ruang kesenian.
“Kemana lyn?” aku baru sadar jika sedari tadi lyn tak terlihat
“Mungkin ke toilet” ujar nina sekenanya. Aku mengangguk.
Seketika mataku tertuju pada lemari besar yang terletak di samping jendela. Seingatku lemari itu baru dibeli oleh kepala sekolah dua hari sebelum ruang kesenian ini ditutup, tapi mengapa kondisinya sekarang tak bagus?. Tampak rapuh, seolah-olah lemari tersebut sering dibuka oleh seseorang. Ku hampiri lemari besar tersebut lalu ku buka pintunya. Terdapat model tubuh manusia yang berdiri tegap jika dilihat dari lekukan yang timbul karena kain putih panjang yang menutupi. Sejak kapan ruang kesenian memiliki model tubuh manusia? Bahkan lengkap seluruh tubuh, aku membantin. Untuk menghilangi rasa penasaranku, ku coba untuk menyingkap kain putih tersebut. Namun tiba-tiba,
“Hahaha, akhirnya kau sadar juga nona aira yang terhormat” Lyn berseru dari belakang
“Siapa kau sesungguhnya?!” bentakku
“Haha, sabar anak manis. Apa kau ingat dengan foto ini?” Lyn memegang foto yang tak asing bagiku. Foto mama dan temannya ketika masih bekerja di New York, serupa dengan foto yang aku temukan di kamar mama.
“Ja.. jangan bilang..”
“Haha, ternyata kau mewarisi kepintaran Lyana” Lyn menyebut mamaku
“Ta.. tapi bagaimana bisa? Bukankah kau seharusnya tua?” aku masih tak percaya
“S-E-C-R-E-T” ia menyunggingkan senyum misteriusnya
“Terserah apa yang kau bicarakan, intinya kau bukan orang baik!” Seketika xian mendorong tubuh lyn hingga terjengkang ke belakang. Melihat xian marah, maka tersulut pula emosi nina dan rey. Mereka melempar lyn dengan benda-benda yang ada di sekitar, sekalipun kanvas. Lyn tak berdaya melawan 3 orang sendiri. Kemudian ia berlari menuju rak penyimpanan kaleng cat dan mengambil salah satu dari deretan kaleng cat tersebut. ‘Apa yang akan dia lakukan?’ gumamku.
Ternyata kaleng yang lyn ambil bukanlah kaleng cat melainkan kaleng yang berisi beberapa butir kapsul. Kemudian ia menenggak 2 butir pil yang ada di tangannya. Seketika muncul reaksi yang aneh pada tubuhnya, mengeluarkan gumpalan asap kecil dan tak lama ia tersungkur di lantai.
Aku dan ketiga temanku berlari menghampiri lyn untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Namun kami terkejut, karena kini yang ada di hadapan kami bukanlah lyn melainkan wanita dewasa yang seumur dengan mendiang mama. Kami tercengang.
“Ada apa anak-anak pintar? Kalian kaget?” ujarnya
“Kau, kau bukan lyn! Dimana lyn?” rey berteriak marah
“Ini aku, Lyn amorette. Ada apa? Kalian kaget bukan?” jawabnya
“Wujudku kembali ke masa kanak-kanak karena aku telah meminum racun AIFL29512 ciptaanku dan Lyana. Tadinya obat ini akan kami suntikkan ke beberapa hewan langka agar menjaga populasinya dari kepunahan. Namun ditengah riset, si bodoh Lyana mundur karena ia merasa hal ini sama dengan melawan takdir. Padahal obat ini akan mendatangkan untung yang tidaklah sedikit. Dan aku tetap dalam pendirianku, mengembangkan obat tersebut dan membuat penawarnya. Ketika aku akan menjual obat tersebut ke salah satu sindikat penjahat terbesar, Lyana mengancam akan melaporkanku ke pihak yang berwenang dan akhirnya aku membunuhnya untuk menjaga rahasia tentang ini semua. Bagaimana? Ide yang brilian bukan?” tuturnya kembali
“Damn!! Jadi kau pembunuh mama? Dasar kau phsyco!! Aargghhh” umpatku
“Sekarang katakan dimana tante lyana!” bentak nina
“Eits, aku tak ada urusan kecuali dengan Aira, nona dan tuan-tuan terhormat” Lyn menghampiri xian, rey dan nina dan dengan gerakan yang sangat cepat lyn berhasil membuat ketiga temanku itu pingsan. Melihat kejadian tersebut, emosiku pun memuncak.
“Sekarang katakan apa maumu!”
“Aku? aku hanya ingin melihat ekspresimu melihat mama tercinta menjadi robot penghancur dunia”
“Maksudmu?” aku tak mengerti dengan perkataannya
“Kurasa teman mayamu yang berasal dari USA telah menceritakan semuanya”
“Kau menyadap pembicaraan kami? Bagaimana bisa?”
“Tak ada yang mustahil bagiku, haha” ia mengejekku
“Baiklah, aku sudah terlalu lama mengulur waktu. It’s time to play, Watch it baby!” Lyn berlari menuju lemari besar yang menyimpan model tubuh manusia dan menyingkap kain putih yang menutupi benda tersebut.
“MAMAA!!” pekikku. Ternyata model manusia tersebut adalah jasad mama yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Air mataku mengalir. Bagaimana bisa lyn setega itu memperlakukan mama? batinku.
Belum habis kekagetanku, tiba-tiba lyn mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya yaitu sebuah micro chip kemudian berjalan menghampiri robot mama. Seketika aku teringat akan ucapan vyn tempo lalu, di dalam micro chip itu pasti tersimpan data-data untuk mengoperasikan robot tersebut. Tidak, ini tidak boleh terjadi! Jika hal ini terjadi, maka dunia dalam bahaya. Aku berlari menuju lyn dan mendorongnya. Sukses, micro chip tersebut jatuh dari tangannya.
“A.. apa yang kau lakukan anak kecil?!” ia kaget mendapat serangan dariku. Lalu mengambil micro chip yang kini tergeletak di lantai.
“Jangaan!” aku mengejarnya dan ku pukul tangannya dengan gagang sapu yang tadi ku temukan. Lyn meringis lalu micro chip itu kini terlempar jauh dari posisi kami berdua. Namun malangnya, jatuh tepat di depan robot mama berada. Gawat! Kulihat Lyn berlari menuju posisi tersebut, ku kejar ia. Namun terlambat, micro chip itu kini telah berada dalam tubuh mama. Lyn tersenyum puas.
“TIDAAAAAKK!!”. Dan ku lihat robot mama mengerjapkan kedua matanya.

THE END

Cerpen Karangan: Aira Lavigne
Facebook: Amatullah-v’kaze RaaZiF’

Cerpen Tidaaak! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ria

Oleh:
“Setidaknya jika dia tak bicara janganlah kau berbicara duluan padanya”. Lagi lagi mimpi itu hadir, 10 menit ku menunggu di depan toko ini. Berharap seseorang keluar tapi tak ada

Monster di Sisiku (Part 1)

Oleh:
Chapter1, kamisama (tuhan), apa yang telah kau kirimkan padaku? Di okara gakuen, terlihat seorang gadis yang duduk termenung di kelasnya. Matanya melirik ke luar jendela dengan pandangan kosong. Lalu

Sang Naga Dan Pemuda Yang Cerdik

Oleh:
Alkisah ada seorang petani yang mempunyai dua anak-anak laki. Keduanya tidak memiliki hubungan yang baik layaknya kakak dan adik saling menyayangi. Sang kakak sangat benci kepada adiknya karena ketampanannya.

Gagak Hitam

Oleh:
“Kalian tidak tahu sisi lain dari diriku. Sisi lain dari diriku sangat tertutup. Sisi lain diriku gelap. Kalian tidak akan pernah tahu diriku yang sebenarnya,” — Pagi ini terlihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Tidaaak!”

  1. Amin says:

    Waduh, kok sudah tamat.
    Padahal seru serunya.
    Lanjutin dong.

  2. Vani says:

    Betul tuh Amin! Ceritanya seru kok tamatnya sampain situ coba aja baru part 1 pasti bikin penasaran deh. Lanjutin dong

  3. Nela Naila says:

    wah! padahal bagus banget! knp tamat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *