Time Twister

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 14 May 2013

“Dasar kalian tak berguna!” bentakan itu terdengar menggema sepanjang lapangan saat jeda istirahat latihan berlangsung. Seorang pemuda berdiri berkacak pinggang dengan kaki dihentakkan keras ke tanah.
“jace, setidaknya maklumilah kami sedikit, kami sudah berusaha semenjak pagi seperti yang kau sarankan, jangan selalu menyamakan kemampuan kami denganmu.” seorang pemuda menyela dengan hati-hati, berusaha ia mengeluarkan tampang senormal-normalnya, menahan perasaan emosi yang tertumpuk di pikirannya.
“Aku yang terlalu hebat, atau IQ kalian yang dongkok sih? sudah seharian berlatih tak membuahkan hasil, sama saja dengan tak punya otak!” Suara Jace menyela tinggi memekik, dibalikkan badannya menghadap gawang yang berada 10m di depannya. Di putar-putar bola yang terletak di kakinya, angin siang berhembus seiring dengan ayunan kakinya yang ia ayun ke belakang.
“Kalian mau contoh? biar kuberikan sedikit pertunjukan kepada kalian!” bola pun melambung memantul dari sepatu Nike Jace yang mulus putih, tak lebih dari 5 detik, gawang pun terhempas ke belakang oleh tendangannya. Ayunan bolanya membuat gawang itu terbalik menghadap rumput yang sudah mulai memanjang.
Tak ada yang berani berkata apapun, nafas para pemain klub bola SMA Bina Bangsa itu pun tercekat. mereka tau tak ada yang dapat menandingi kemampuan jace dalam hal bermain bola, seegois-egoisnya ia, tak ada yang bisa meragukan kemampuan kapten bernomor punggung 10 itu.

Hari itu adalah hari yang terik, para pemain klub sepakbola SMA Bina Bangsa sedang berkumpul di lapangan sepakbola yang terletak di tengan halaman sekolah mereka. Mereka sedang mengadakan latihan dan bertanding dengan sekolah tetangga mereka, yaitu SMA Tri Nusantara yang memiliki kemampuan sepakbola yang cukup megesankan. 2 minggu lagi kan diadakan pertandingan sepakbola antar provinsi, ajang itu merupakan kesempatan emas bagi SMA Bina Bangsa yang menjadi juara 4 kali berturut-turut di setiap generasinya.

Sudah sedari subuh tadi mereka latihan bersama, dalam segi kekuatan, SMA Bina Bangsa mereka sudah dapat dikatakan unggul beberapa poin, tetapi kapten mereka, jace, merupakan nominasi pemain sepakbola junior terbaik di kotanya, hal itulah yang membuatnya menjadi orang yang menginginkan keperfeksionisan dalam teknik bermain sepakbola.
“Aku mohon dengan kalian, tolonglah serius sedikit dalam menghadapi pertandingan ini, mentang saja tak ada pelatih, kalian dapat berleha-leha seperti ini begitu?“ jace melanjutkan dengan nada datar yang mengejek, ia masih membalikkan badannya menghadap gawang. menatap puas pada hasil tendangan yang ia lakukan.

Mereka pun mulai bermain kembali, baju seragam mereka telah membasah terbasuh oleh keringat. Manfred menggiring bola dari belakang dan mengopernya kepada Jace, Jace maju menyerbu, tertahan oleh Will dan Billy, melihat kaptennya terkepung, manfred mengayunkan tangannya meminta Jace untuk mengoper ke arahnya. Jace tidak mempedulikan manfred, ia memaksakan dirinya untuk terus maju, ditendangnya bola serong ke kanan dan kiri, tak sadar dengan pancingan Will, Jace pun terperangan ketika bolanya di rebut oleh Billy, dan gol pun tercetak oleh Billy dengan tendangan sejauh 30 meter dari gawang. Membisu, Jace menghentakkan kakinya ke tanah, di genggam tangannya keras-keras, dan ia pun berjalan menghentak hentak ke arah gawang timnya.
“Kenapa kau tidak mengoper bola padaku tadi? Kau tahu kan bahwa tadi kau sudah terkepung?!” tanya Manfred kepada Jace
“Terkepung? Kau tahu tadi aku berniat mengoper bola kepadamu tapi kaki kananku sedang sakit, yahh, dan aku salah menendang sehingga mereka mendapatkan gol, meskipun dengan cara yang licik!” kata Jace dengan nada yang merendahkan.
“Apa? Cara yang licik, aku tidak salah dengar kan, bukankah itu hanya alasanmu saja agar kau tidak kelihatan memalukan,” kata Will ketus.
“Apa? Jadi maksudmu aku ini pembohong, begitu dan satu lagi keberuntunganmu sudah musnah kau tahu?” kata Jace dengan nada yang membenci.
“Kau harus tahu Jace keegoisanmu itu membuat kami semua kesal, dan jika kakimu itu memang benar-benar sakit kau tak perlu menghentakkan kakimu itu ke tanah, asal kau tahu itu membuatnya terasa lebih sakit,” kata Billy kesal.
“Asal kalian tahu ya, aku ini tak seperti kalian yang dilahirkan dikalangan rakyat jelata aku ini keturunan bangsawan dan itu berarti darah bangsawan mengalir dalam tubuhku,” kata Jace menghina.
“Apakah kau bisa berhenti untuk menghina kami tuan yang egois?” kata Manfred dengan nada yang seperti ingin membunuh Jace.
“Apa kau tidak salah Manfred? Aku hanya bicara apa adanya, itu adalah perkataan yang jujur, bersih, dan tanpa ada kebohongan didalamnya.” kata Jace dengan nada yang datar.
“Sudah cukup aku muak dengan tingkah lakumu Jace, kau terlalu egois, dan satu lagi kau sok mengatur, kami semua tahu itu, aku keluar!” kata Manfred tegas.
“Apa? Kau tidak bisa melakukannya Manfred kau adalah wakil dari tim ini, kau tidak bisa seenaknya keluar begitu saja!” seru Jace kepada manfred sambil mengangkat alis sebelah.
“Baiklah kalau begitu aku menunjuk Billy sebagai wakil tim ini, aku tak mau ambil pusing lagi yang jelas aku keluar.” seru Manfred sambil berjalan keluar lapangan tanpa menoleh.
“Apa kau tak bisa begitu, aku kaptennya dan akulah yang berhak memutuskannya!” teriak Jace kepada Manfred meskipun dia melihat Billy yang mukanya datar tanpa ekspresi.
“Kurasa aku akan keluar juga, aku bosan di sini kaptennya tukang ngatur!” kata Will sambil berjalan tanpa menatap seorang pun.
“Aku juga.” kata Billy sambil berlari kecil untuk menyusul Will.
Akhirnya satu persatu orang-orang dari tim itu keluar dan hanya tinggal kaptennya seorang diri yaitu Jace.
“Terserah kalian!!” teriak Jace penuh amarah.

Setelah sore Jace pun berlatih seorang diri di rumahnya yang besar dan dikelilingi oleh hutan yang cukup lebat, dengan penuh emosi dia menendang bola sekuat kuatnya sampai gawang besinya bengkok dan bolanya melanting ke dalam hutan.
“Sial!!!” katanya kesal.
Jace pun pergi mencari bola, ternyata di luar perkiraanya, hutan yang dimilikinya ternyata terdapat gua, tepat di samping gua itu ada bola yang di tendang oleh Jace, dengan penuh rasa penasaran Jace pun memasuki gua itu dengan ranting dan bola yang siap di tendang jika ada binatang buas di dalamnya, di dalam gua Jace menemukan batu yang berwarna biru keungu-uguan batu itu berada tepat di bawah celah dari batu-batu gua Jace melihat batu itu jace pun mengambil batu itu dan bergegas pergi dari gua itu karena hari mulai malam dan mulai turun hujan.

Jace terpaksa berlari agar tidak basah, ternyata hujan telah membasahi sepatu dan pakaiannnya, di depan pintu rumahnya seluruh tubuh Jace telah basah terkena air hujan, termasuk batu yang baru di ambil olehnya, dia akhirnya masuk ke dalam rumahnya dalam keadaan basah, dan dia langsung melempar batunya ke atas meja.

Entah kenapa, Jace yang tadinya ada di dalam rumah sekarang berada di suatu tempat yang dia tidak tahu tempat apa itu, Jace tanpa pikir panjang pergi mencari tempat berteduh karena di tempat itu juga turun hujan yang tak kalah derasnya dengan yang tadi Jace rasakan, karena tidak tahu tempat apa itu Jace bermaksud untuk bertanya tempat apa ini? Setelah mencari orang untuk bertanya Jace menemukan seorang gelandangan, gelandangan itu memakai selembar baju dan celana yang sudah tak layak untuk di pakai lagi, karena tak tahu lagi orang yang bisa di ajak untuk bicara, dengan terpaksa Jace harus bertanya kepada gelandangan itu.
“Hei, apakah kau tahu ini di mana?” kata jace tak niat, sambil melihat pemuda itu yang pakaiannya compang-camping.
“Tolong, berikanlah aku uang, Rp 100,- saja,” ucap gelandangan itu.
“Hei, ayolah aku ingin tahu tempat apa ini?” sebut Jace.
Gelandangan itu melihat Jace, terheran, terkejut, dan kemudian berdiri, Jace mendorongnya, Jace pun terkejut karena gelandangan itu tiba-tiba berdiri.
“Aku, itu aku, muda sekali, muda sekali,” kata gelandangan itu sambil berjalan pelan.
“Jangan mendekat, kau sangat kotor!” kata Jace sambil berjalan mundur.
“Kumohon, aku mohon jangan sombong, jangan tinggi hati, jangan egois, jangan, jangan, melakukan hal yang membuat orang lain kesal,” ucap glandangan itu dengan suara yang terisak.
“Apa maksudmu?” kata Jace heran.
“Aku, aku, aku adalah kau, dan kau adalah aku, ku mohon jangan egois,” kata gelandangan itu
“Jangan mencoba menipuku untuk mendapatkan uang dariku, dan yang kau katakan sama sekali tak masuk akal!” kata Jace sambil membuang muka.
Hujan semakin deras, Jace semakin kebasahan, terpaksa dia harus berdiri di samping gelandangan itu, karena hanya tempat berdiri gelandangan itulah yang terdekat, meskipun Jace enggan untuk berdiri di sana karena gelandangan itu masih berdiri menatap Jace dengan mata berkaca-kaca.
“Bisa kau berhenti menatapku, kau membuatku jijik,” ucap Jace.
“Ah, iya maaf, tapi jangan pernah membuat orang kesal, aku adalah kau, dan kau adalah aku,” kata gelandangan itu serius.
“Maafkan aku tuan pemaksa, tapi kau sama sekali tidak memiliki bukti!” kata Jace mulai kesal.
“Aku, aku punya!” kata gelandangan itu serius, lalu gelandangan itupun menunjukkan sebuah tanda lahir, yang berada, berada di pundak.
“Oh, ya memang aku memiliki tanda lahir di pundak, tapi bisa saja itu sebuah kebetulan,” kata Jace.
“Aku masih punya yang lain,” kata gelandangan itu, lalu menunjukkan kalung yang berada di dalam sakunya.
“Itu, itu tak mungkin, kalung itu hadiah dari ayahku, katanya itu di pesan khusus, dan hanya ada satu di dunia!” kata Jace terkejut, tapi mulai percaya omongan dari gelandangan itu.
“Aku masih punya, kau bernama Jace William, lahir tanggal 22 maret tahun 2000, alamatmu jalan noble no, 123, kakakmu bernama Ana, kakakmu dia orangnya cerewet, tapi dia sukses dalam bidang bisnis, sedangkan kau bercita-cita menjadi atlet bola profesional, tapi lihat kenyataan, kau terlalu egois, kau ditinggalkan oleh teman setimmu, dan jangan pikir kau dapat bermain bola sendirian!” bentak gelandangan itu dengan nada penuh emosi.
“Baiklah aku percaya, yang kau sebutkan semuanya benar, seluruhnya tanpa terkecuali! aku tahu aku tidak bisa bermain sepak bola sendirian, aku tahu itu, tapi mau bagaimana lagi mereka membuatku kesal, Billy, dia menunjukkan bahwa dia lebih hebat dariku 30 m, siapa yang tidak akan terkejut?!” katanya dengan nada yang penuh dengan emosi, yang tak kalah dengan gelandangan itu.
“Jadi berhentilah bersikap sombong, kau terlalu egois, dan satu lagi, berhentilah membuat orang kesal!!” katanya.
“Aku tahu, aku tahu!” kata Jace menahan tangis.
Hening, perdebatan antara 2 orang yang sama kini berhenti, sepertinya tak ada di antara salah satu dari kedua orang itu yang ingin melanjutkan pembicaraan itu, terutama Jace, dia mulai meneteskan air mata, wajahnya memerah, bagaimana tidak, dia merasakan bentakan dari dirinya sendiri, hujan sudah reda, gelandangan itu pun pergi meninggalkan Jace seorang diri.

Tanpa sadar Jace sudah berada di sekolahnya, di lapangan yang dia sewa, melihat lagi, mendengar lagi kata-kata yang teman-teman setimnya ucapkan sewaktu meninggalkannya.
“Sudah cukup aku muak dengan tingkah lakumu Jace, kau terlalu egois, dan satu lagi kau sok mengatur, kami semua tahu itu, aku keluar!” kata Manfred tegas.

Hening, Jace terpaku dia menyaksikan dan mendengar hal yang sama dengan yang terjadi tadi pagi, padahal mestinya sekarang sudah malam.
“Tunggu Manfred, maafkan aku aku mohon jangan keluar dari tim ini,” kata Jace yang sudah memahami situasi.
Hening, semua terdiam, bahkan Manfred yang sudah ingin berjalan keluar pun berhenti dengan keadaan mulut terbuka, seakan 10 orang di situ sehabis melihat hantu.
“Mohon” kata Billy terkejut.
“Jace bilang mohon” ulang Will.
Tiba-tiba Jace kembali ke kamarnya, hujan sudah reda, langit kembali menjadi malam, Jace terkejut, mencubit dirinya sendiri, menganggap dirinya mimpi, dia melihat ke arah tempat dia meninggalkan batu itu, tetapi batu itu sudah menghilang, lalu dia melihat ke arah ponselnya, ada SMS dari Manfred, “Hei, Jace bagaimana besok kalau kita latihan lagi, pukul 08:00” dengan tersenyum Jace membalas pesan itu dan menuliskan, “ok, aku akan sangat bersemangat.”

Cerpen Karangan: Nyimas Anabella Khairunninsa
Facebook: Nyimas AnaBella Khairunnisa
Nyimas Anabella Khairunnisa ; Palembang

Cerpen Time Twister merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadiah Untuk Ikoh

Oleh:
Namaku Miiko, tapi kalian bisa memanggilku Ikoh. Aku sangat menyesal atas kejadian saat itu. “Ikoh! Ayo segera sarapan, nanti kamu terlambat!” “Iya Mama… Mama bawel banget sih!” “Ya udah

Proklamator

Oleh:
Pulau Buru. Tempat penuh dengan aura kejahatan dan kekejaman, tempat di mana ratusan wajah-wajah kotor tahanan politik atau pembunuhan. Tempat di mana setiap detik terhembus napas terakhir sisa kehidupan

Tinggalah Lebih Lama

Oleh:
Tempat ini, aku selalu merindukannya sepanjang tahun, setiap liburan seperti ini aku menyempatkan singgah di rumah nenek karena menariknya di belakang Desa ada Hutan pinus yang selalu membius mataku.

Pelangi Sederhana

Oleh:
Elsia adalah namaku Pagi buta.. bunyi kericikan air wudlu membangunankanku. Seperti biasa ibuku bangun lebih awal. Bahkan dia bangun sebelum suara adzan subuh berkumandang. rumah kecil ini hanya ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *