Tjemara Cafe

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 May 2017

“Tik tok tik tok”, jarum jam menunjuk pukul 14.00, sebentar lagi dosen pengawas akan mengakhiri UAS, “ya anak-anak waktunya habis, silakan kumpulkan lembar jawaban kalian, dan karena ini hari terakhir UAS, Ibu ucapkan selamat berlibur dan sampai jumpa di smester selanjutnya.” Para mahasiswa bersorak bahagia, akhirnya mereka bisa pulang ke kampung halaman masing-masing, mungkin mereka akan berlibur ke luar kota atau bahkan ke luar negeri bersama keluarganya. Teman-temanku memang beruntung, mereka dilahirkan di keluarga yang berkecukupan.

Aku tak kalah beruntung, kebahagiaan selalu menghiasi hidupku, bahagia melihat teman-temanku bahagia. Teman-temanku adalah segerombolan orang kaya yang tak sombong, aku sangat beruntung berkuliah di tempat ini dengan teman-teman sebaik ini.

Namaku Salim, aku satu-satunya mahasiswa bidikmisi di kelasku. Lagi-lagi libur smester ini aku harus menetap di Kota Kembang, sebagaimana libur smester yang lalu, libur kali ini pun aku tidak bisa pulang kampung. Uangku tak cukup untuk ongkos pulang ke Tulungagung, Jawa Timur. Jangankan untuk pulang, untuk makan sehari-hari saja aku harus benar-benar mengirit dan hanya bergantung pada uang bidik misi yang diberikan pemerintah untuk membantu mahasisa-mahasiswa yang kurang mampu sepertiku. Lebih baik aku mengisi libur ini dengan bekerja, lagi pula jika aku pulang, aku tetap harus mencari kerja di kampung, tidak mungkin aku hanya berdiam diri di rumah selama dua bulan dan pekerjaan yang bisa didapat di kampung hanyalah pekerjaan serabutan, semacam bertani dan beternak. Sedangkan, jika aku mencari kerja di kota Bandung, bisa saja aku bekerja di pasar swalayan, rumah makan atau semacamnya.

Usai bersalaman dan berpamitan dengan teman-temanku, aku langsung beranjak ke pusat kota dengan niat mencari kerja bermodalkan ijazah SMA. Dengan berjalan kaki kususuri trotoar di salah satu sudut kota Bandung. Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun tidak terlalu cerah, awan kelabu menutupi sinar matahari dan udara terasa lebih dingin. Beberapa lubang jalan terisi air hujan, sekarang memang musim pancaroba, hujan atau panas bisa datang kapan saja. Untuk jaga-jaga aku membawa payung kemana pun ku pergi, tentu saja untuk melindungi tubuhku dan yang terpenting untuk melindungi ijazahku yang belum sempat dilaminating.

Suasana begitu normal, suara bising kendaraan, asap knalpot, anak SD yang menyeberang, pak polisi yang meniup peluit sambil mengibaskan tangannya, pedagang kaki lima yang sibuk melayani pelanggan, sampah plastik yang tertiup angin, dan hiruk pikuk kehidupan kota lainnya. Tiba-tiba Tuhan menyiram bumi untuk mendinginkan suasana, tetesannya mengenai dahiku, segera kukembangkan payung yang kubekal. Seketika suasana menjadi lebih damai, suara bising kendaraan dikalahan oleh derasnya air langit, asap knalpot terguyur dan hilang, anak SD sampai di rumah masing-masing, pak polisi berteduh di posnya, pedagang menggelar terpal, sampah plastik tak berkutik.

Di tengah derasnya hujan samar-samar aku melihat kakek tua tak berpayung, ia basah kuyup kehujanan, sebagai manusia tentu saja hatiku ingin menolong walau dengan beberapa pertimbangan, “jika payung ini kuberikan padanya, bagaimana dengan ijazahku?, pasti akan kebasahan, tapi aku tidak boleh egois, kasihan kakek itu.” Sisi malaikatku menang dan kuberikan payungku pada si kakek, ia menyambut uluran payungku dengan senyuman. “Terima kasih nak!” Kakek itu berterima kasih dengan sedikit berteriak karena takut ucapannya tak terdengar olehku. Hujan memang sangat deras sehingga membisukan suara-suara yang tak cukup keras. Tiba-tiba ia menarik pergelangan tanganku, memaksaku untuk mengikutinya. “Mau kemana kek?” tanyaku. Ia hanya menoleh dan tersenyum, setelah beberapa belokan ia mengajakku masuk ke dalam sebuah cafe.

Cafe ini terlihat mewah, aku yakin semua menu makanan dan minumannya mahal. Aku dan kakek misterius ini duduk di salah satu sudut cafe, di sebelah jendela besar bertuliskan Magnum Cafe, di luar hujan deras namun di dalam cafe ini tak sedikit pun terdengar gemuruhnya, hanya suasana hangat dengan alunan musik jazz. “Pesanlah apapun yang kau mau.” Kakek itu menawariku. “Tidak kek terima kasih” jawabku. Aku tahu makanan dan minuman di sini mahal tapi apa daya, aku tak bisa menahan suara perutku yang keluar begitu saja. “Brukbuk” Si kakek langsung memanggil salah satu pelayan dan memesankan secangkir kopi hangat dan beberapa buah donat. Tak lama pesanan pun datang dan tanpa lupa berterima kasih aku langsung melahap donat-donat itu. “Mimpi apa aku semalam, bisa memakan donat mahal ini dengan gratis” Ucapku dalam hati.

“Nama saya Subagja, panggil saja Bagja.” Kakek itu mulai membuka perbincangan. “Saya di sini sedang mencari seorang pekerja untuk bekerja di cafe saya, tapi dari tadi gak nemu-nemu.. hmmm” Mendengar itu sontak kusemburkan kopi yang tengah kuseruput karena kaget, untung semburan itu tak mengenai kek Bagja. Dengan antusias kutawarkan diriku untuk bekerja di cafenya. “Kebetulan sekali saya sedang mencari kerja kek, saya punya ijazah SMA kek!” Langsung kurogoh tas yang sedari tadi kugendong namun ijazahku sudah tak berbentuk lagi, basah kuyup dan tintanya luntur. “Selamat kau diterima!!!” Untuk kedua kalinya kakek itu mengagetkanku, ia menyodorkan secarik kertas berisi alamat cafenya, tak lupa beberapa lembar uang untuk membayar makananku. “Mulai besok kau sudah bisa bekerja.” Ia angkat kaki dari cafe sambil melempar senyum khasnya. Aku masih terpaku di tempat, seolah tak percaya apa yang baru saja terjadi, ini seperti keajaiban. Sampai aku sadar kakek Bagja pergi tanpa membawa payungku, aku berusaha mengejar untuk meminjamkan payungku namun kek Bagja tak bisa kutemukan padahal ia baru saja keluar cafe beberapa detik yang lalu.

Pekerjaan telah kudapatkan, perut telah terisi, hujan perlahan reda, waktunya pulang ke asrama. Seperti yang pernah kukatakan, kebahagiaan selalu menghiasi hidupku.
Aku tiba di asrama, selepas mengganti pakaian yang basah aku mencoba mengeluarkan semua buku dan alat tulis dari dalam tas yang basah akibat kehujanan tadi. Namun, sangat mengejutkan ketika aku melihat seisi tas tidak basah sama sekali dan ijazahku yang mulanya hancur luntur tak berbentuk, kini telah kembali seperti semula, bersih, rapih tanpa sobekan atau noda sedikit pun. Sungguh keajaiban Tuhan, tak habis pikir aku dibuatnya. Setelah beberapa lama tertegun, aku mulai ingat pada secarik kertas yang diberikan kek Bagja padaku, dengan wajah berseri-seri aku coba membuka kertas itu, di dalamnya tertulis “Tjemara Cafe” disertai alamat lengkapnya.

Esoknya, kakiku mengayun mengikuti alamat yang diberikan kek Bagja. Seperti biasa hari begitu kelabu dan berangin. Alamatnya masih sekitar Bandung namun sepertinya agak asing, aku harus melewati jalan raya, taman kota, beberapa gang kecil, dan akhirnya sampai di sebuah pabrik tua yang sudah tidak aktif dan benar-benar usang tidak terawat. Di kertas itu tertulis “Ikuti jalan kecil di belakang pabrik!” Aku mencoba menuruti perintah, rasanya seperti sedang bermain game pencarian harta karun. Ternyata di belakang pabrik itu ada hutan cemara, aku kira di kota seperti ini sulit untuk menemukan hutan. “Ketemu!!” Jalan kecil dari tanah, seolah membelah hutan cemara dengan semak belukar di kanan kirinya. Pohon-pohon cemara tinggi menjulang, aroma segar cemara mulai tercium. Suasana begitu sepi, semakin aku melangkah ke dalam, suasananya semakin gelap. Langkahku terhenti setelah melihat keadaan lokasi yang sepertinya tak ada tanda-tanda kehidupan. “Apakah benar di tempat seperti ini ada cafe?, apa aku dikerjai?, tapi tidak ada salahnya mencoba, tapi kalau kakek itu orang jahat bagaimana?, ah sudahlah berfikir positif saja” Beberapa kekhawatiran mulai menggangguku namun akhirnya ku bulatkan tekad dan melanjutkan perjalanan.

Menit demi menit aku berjalan menyusuri jalan setapak itu, lama-kelamaan suasana menjadi lebih cerah, sinar matahari menerobos rimbunnya dedaunan, dan di ujung pandanganku aku ternganga karena melihat sebuah bangunan yang sangat indah, 90 % material yang digunakan adalah kayu pohon cemara tepatnya pada dindingnya, jendela-jendelanya terbuat dari kaca berwarna-warni, pintunya diapit oleh dua buah patung kayu berbentuk serigala, atap bangunan dihiasi lumut hijau dan tanaman-tanaman bersulur yang bunga-bunga kuningnya sedang mekar, yang lebih mengagumkan adalah, bangunan ini berdiri di sebuah tanah semacam pulau kecil yang dikelilingi aliran air sungai yang amat jernih sehingga untuk menyeberang aku harus melewati jembatan mungil yang sama-sama terbuat dari kayu cemara. Ratusan kupu-kupu kecil dengan sayap indah berwarna kebiruan beterbangan kesana kemari, tepat di pinggir bangunan itu ada papan yang bertuliskan “Tjemara Cafe”. Antara percaya dan tak percaya, apa mungkin ada tempat seperti ini di tengah modernnya Kota Bandung? tapi memang ini kenyataannya.

Masih terkurung dalam kekaguman, ku mencoba membunyikan bel yang tergantung di pintu masuk, tak lama kek Bagja membuka pintu dan menyambut kehadiranku, ia mempersilakanku masuk dan “Woww” Interiornya sungguh artistik dan ternyata lebih luas dari yang kukira. Meja dan kursi tamu lagi-lagi terbuat dari kayu cemara, tempatnya sungguh mengagumkan namun apakah banyak calon pengunjung yang mengetahui keberadaan tempat ini?. Di dalam sudah ada beberapa pekerja lain, kek Bagja memperkenalkannya satu per satu. Flora, seorang gadis manis dengan rambut panjang namun dicat warna hijau terang, di sini ia sebagai kasir. Kemudian Root, pria berbadan kekar dengan kulit gelap dan penuh semangat, posisinya sebagai juru masak, dan yang terakhir namanya Fly, ia adalah seorang anak laki-laki yang masih sangat muda usianya sekitar 13 tahun dan ia sebagai penerima tamu. Ketiganya sungguh ramah padaku, mereka menyambutku dengan senyuman. “Baik Salim, tugasmu adalah sebagai pelayan” kek Bagja menobatkanku. “Dan karena ini hari pertamamu, siapkanlah lidahmu untuk mencicipi semua menu di cafe ini!” lagi-lagi kabar gembira “Dengan senag hati kek!” ucapku semangat.

Namun, kebahagiaan itu seketika sirna ketika aku melihat semua makanan yang dihidangkan di hadapanku, kegilaan apa ini? Semua makanan terbuat dari pohon cemara. “Steak batang cemara, salad daun cemara, roti selai cemara, jus akar cemara, permen karet getah cemara, dan menu utamanya adalah kopi tjemara yang tebuat dari batang-batang cemara pilihan yang diproses secara alami sehingga menghasilkan aroma dan rasa yang khas” Ujar Root si juru masak, tak heran cafe ini dinamai Tjemara “Tunggu apa lagi? silakan dicicipi, makanan-makanan ini sangat lezat lho, sekali kau memakannya pasti kau ketagihan.” Ucap Fly. Ini gila, tapi mana mungkin aku menolak, untuk menujukkan rasa hormatku pada mereka, kuberanikan diri untuk mencicipi salah satu makanannya. Steak batang cemara menjadi pilihan pertamaku. Aku mulai memotong, ternyata batang ini empuk, aku masukan sebagian kecil potongan batang itu ke dalam mulutku dan “Luar biasaa!!!” rasanya begitu nikmat, seperti daging yang dimasak oleh koki handal dan ditaburi aroma cemara, benar-benar tak dapat dipercaya. Apa aku sudah gila?, atau lidahku bermasalah?, hidangan ini benar-benar enak, apa lagi kopi tjemara betul-betul memiliki aroma dan rasa yang khas sedikit pahit namun menyegarkan.

Setelah icip-icip aku diperbolehkan pulang lebih awal karena cafe belum benar-benar aktif. Aku rasa semenjak bertemu kek Bagja hidupku menjadi agak aneh, banyak hal-hal diluar nalar yang kualami dan aku yakin bahwa kek Bagja, Flora, Root, dan Fly bukan manusia biasa. Walau demikian, tak sedikit pun terlintas di benakku untuk mundur dari pekerjaan ini, entah mengapa aku sangat merasa nyaman. Hari masih cerah saja tak ada sedikit pun tanda-tanda akan turun hujan sampai akhirnya aku melewati jalan setapak dengan hutan ribunnya, semakin jauh dari wilayah Tjemara Cafe, suasana semakin gelap dan ternyata setelah tiba di belakang pabrik, hujan telah turun dengan deras. Sepertinya hujan telah turun sedari tadi padahal beberapa menit lalu di wilayah Tjemara Cafe cuacanya sangat cerah, hal ini semakin meyakinkanku bahwa Tjemara Cafe bukan tempat biasa, dan para penghuninya bukan manusia biasa.

Hari kedua, bukan hanya fisik dan mental yang harus kusiapkan tapi juga otak dan akal sehat, aku harus mulai membiasakan diri dengan jalan setapak yang kulalui diikuti perubahan cuacanya. Tjemara Cafe selalu cerah dengan berjuta pesonanya, ini hari pertamaku melayani tamu, aku harus menunjukkan kinerja terbaikku. Root, Flora, dan Fly telah tiba lebih dulu, tak lupa mereka memberi salam dan menyemangatiku sedangkan Kek Bagja sedang sibuk di ruangannya. Pukul 08.00, bel pintu mulai berbunyi, pelanggan pertamaku. Fly menyambut dengan hangat namun aku tersentak kaget ketika melihat pelanggan itu, bentuknya sangat aneh, tubuhnya betul-betul seperti tanaman, kakinya berakar, tangannya bersulur, rambutnya berupa dedaunan dan seluruh tubuhnya berwarna hijau, namun ia dapat berbicara normal, seperti yang telah kutekadkan, aku harus mulai terbiasa dengan semua ini.

Hari-hari berikutnya aku sangat sibuk dengan pekerjaanku, Tjemara Cafe selalu penuh pengunjung, tentu saja pengunjung yang aneh-aneh. Ada yang seperti tanaman, ada yang seperti buah-buahan, ada yang seperti serangga, ada pula yang cantik seperti kupu-kupu namun mereka sungguh baik hati. Sejauh ini tidak ada satu pun dari mereka yang komplain dan marah karena pelayanan atau makanan yang kami sajikan. Bahkan pernah suatu waktu, ketika aku menyajikan jus akar cemara, tanpa sengaja aku tersandung dan jusnya tumpah membasahi baju salah satu pengunjung namun pengunjung tersebut sama sekali tak marah, jika saja hal itu terjadi pada manusia pasti akan lain ceritanya.

Di tengah kesibukan, Kek Bagja menghampiriku. “Kami adalah roh alam, kami pengurus dan penjaga alam, kami lahir dari cahaya klorofil yang keluar melalui stomata daun dibantu sinar matahari dan air namun tanpa karbon dioksida.” Aku sama sekali tak mengerti apa yang ia katakan, yang pasti mereka bukan manusia, seolah sudah biasa dan tak terlalu mempermasalahkan hal itu aku hanya mendengar ceritanya dengan senyuman sehangat mungkin.

“Duarrrrrr” tiba-tiba ada suara keras seperti bom yang mengagetkan seisi cafe. Awan hitam menyelimuti wilayah cafe, untuk pertama kalinya aku melihat wilayah Tjemara Cafe segelap ini. Ledakan bom diikuti dengan suara tawa terbahak-bahak. Perlahan mulai nampak sesosok mahluk menyeramkan seperti ulat besar yang berlendir dengan duri di beberapa bagian tubuhnya. Ia menyemburkan lendir kental berwarna hijau kehitaman ke beberapa tempat dan setiap benda yang terkena lendir itu meledak dan akhirnya terbakar. Seluruh penghuni cafe langsung berlarian ke serambi cafe, mereka seakan siap melawan. Dua patung serigala tiba-tiba mengaum dan dapat bergerak kemudian menyemburkan cahaya ke monster itu. Para pengunjung pun ternyata memiliki kekuatan masing-masing, tapi tetap saja monster ulat itu bisa melawan dan kali ini ia berhasil menghancurkan jembatan indah milik Tjemara Cafe. Aku yang posisinya sebagai manusia biasa hanya bisa menonton. Root, Flora, dan Fly mulai memperlihatkan kekuatan mereka, Root menumbuhkan akar disekitar kaki-kaki monster dan mengikatnya. Kemudian disusul oleh Flora, rambutnya bercahaya memanjang kemudian menembakkan ribuan jarum pada monster tersebut. Fly ternyata memiliki sayap, ia mengembangkan sayapnya dan terbang di atas monster tersebut kemudian menusukan tombak tepat di kepala si monster. Akhirnya monster itu meledak dan berubah menjadi ribuan kupu-kupu hitam. Kek Bagja yang sedari tadi diam kini mulai merentangkan tangannya, kedua telapak tangannya bercahaya kehijauan seketika angin besar datang kami semua tak dapat melihat apa yang terjadi dan saat kami membuka mata, keadaan sudah kembali seperti semula, langit cerah dan jembatan tetap pada posisinya seakan tak terjadi apa-apa.

Kejadian-kejadian luar biasa seperti itu makin membuatku nyaman bekerja di tempat ini samapai tak terasa dua bulan telah berlalu, begitu cepat, ini adalah hari terakhirku bekerja di sini. Besok aku mulai kuliah lagi, Kek Bagja memberiku gaji hasil kerjaku selama dua bulan. Bukan dalam bentuk rupiah namun sekeping koin berwarna emas, koin ini cukup berat dan amat mengilap. Aku mulai berpamitan dengan rekan-rekan kerjaku, bahkan dengan pelanggan-pelanggan yang sudah akrab denganku beberapa di antaranya menangis melepas kepergianku, mereka mengantarkanku sampai di jembatan, aku mulai beranjak. Memang sedih meninggalkan hal yang benar benar telah kucintai.

Esok harinya, sepulang kuliah aku mampir ke toko emas untuk menjual koin yang kudapat. Sang penjaga toko terkejut melihat emas yang kubawa, anehnya ia memeriksa kadar emas dengan waktu yang cukup lama, dan dengan wajah yang berbinar-binar ia memberitahukan sesuatu padaku. “Ini bukan sekedar emas, di dalam emas ini terkandung uranium yang amat langka, harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah!” aku terperanjat kaget, apa benar?!!.

Uang seratus juta sudah di tasku, tapi aku tak pantas menerima gaji sebanyak ini, aku hanya bekerja selama dua bulan. Akhirnya aku putuskan untuk mengembalikan sebagian besar uang yang kudapat. Menyusuri jalan raya, melewati taman kota dan beberapa gang, akhirnya aku sampai di pabrik tua, pergi ke belakang pabrik dan mengikuti jalan setapak. Namun kali ini, semakin jauh ke dalam hutan semakin kucium bau busuk yang menyengat, aku sampai namun bukan di Tjemara Cafe melainkan di tempat pembuangan akhir. Aku tidak percaya ini, meraka telah menutup dunia mereka dariku, aku sedih ternyata kemarin benar-benar hari terakhirku bertemu mereka. Uang ini tak mungkin lagi ku kembalikan dan aku berjanji akan memanfaatkannya sebaik mungkin, terima kasih kek Bagja dan kawan-kawan, seperti selalu kukatakan, kebahagiaan selalu menghiasi hidupku.

Cerpen Karangan: Adena Sihudin
Facebook: Ade Nasihudin Al Ansori
Ig @adenuansa
Twitter @adenasy
Line adena11

Cerpen Tjemara Cafe merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


KGLSHSS

Oleh:
Di suatu kerajaan yang modern yang mengikuti alur dari waktu ke waktu sama halnya dengan kehidupan manusia zaman ini, seorang raja bernama Stefin Wiliem, bersama seorang istri bernama Cellina

Takdir Akan Berkata

Oleh:
Saat itu hari cerah, namun Orin tidak begitu enak badan hari itu, sampai-sampai mukanya pucat pasi. namun dia menguatkan tekadnya mengikuti pelajaran Olahraga kala itu. saat itu Keni menatapi

Delapan April

Oleh:
Hari ini aku berjalan lagi tanpa arah, kesana kemari mencari makanan untuk mengisi perut yang keroncongan ini. Di taman itu aku lihat dia duduk sendirian disana. Aku mulai menghampirinya,

Produser Bom

Oleh:
Tsar, merupakan seorang remaja laki-laki berumur 14 Tahun yang luar biasa. Apa Keluarbiasaannya? Yang paling hebat adalah ia mampu Menciptakan Bom Bulat dengan menjentikkan jari-jarinya, dan bom pun akan

Batang Singkong

Oleh:
Aku adalah sepotong batang yang telah berkayu berdiameter kurang lebih 2,5 cm, tubuhku lurus dan belum ditumbuhi oleh tunas-tunas baru. Aku sangat berterimakasih pada Allah SWT karena telah memberiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *