Tokoh Amfibi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 22 March 2016

Mataku terbuka sempurna ketika jarum lebih besar mengarah ke angka 6 sedang yang lain pada angka 5. Senandung panggilan salat baru singgah di indera pendengarku. Ku rasakan basah di sekitar gumpalan spons berselimut kain senada dengan sprei kasur. Sekitar kelopak mataku mengembang dan lengket, lem alami ini seolah merekatkan keduanya. Memaksaku kembali menuju alam yang selalu ingin aku abadi di sana. Menetap bersama makhluk fana lain. Meski tak selalu bahagia, setidaknya ada keindahan yang tidak diberi Tuhan di kehidupan nyata. Seandainya dapat, lebih baik Dia mengurungku di alam itu daripada menentukan takdir asal di dunia yang rumit. Dia menciptakanku dan makhluk-makhluk lain semau-Nya. Kami hanya atlet yang dipersiapkan untuk turun ke arena yang disebut ‘dunia’. Entah dunia macam apa, setiapnya pasti berbeda-beda.

Tuhan memberiku banyak kebahagiaan kecil dan aku sangat berterima kasih. Buktinya aku bersujud 34 kali dalam sehari. Belum ditambah yang bukan wajib. Sebenarnya ada satu kebahagiaan besar tapi Tuhan sudah mengajaknya pergi. Ya, itu hak-Nya. Menciptakan kami, menurunkan ujian, mengambil kembali yang dirasa sudah waktunya, dan menguji kesabaran yang tak jarang menyebalkan. Aku hanya berperilaku layaknya orang bodoh ketika takdir-Nya menerpaku. Memungut kembali sesuatu yang jelas-jelas Dia berikan untukku. Aku hanya bisa menerima. Tentu, apalagi yang bisa ku lakukan. Dia pemilik segala rasa dan kekuatan dalam diri setiap umat.

Dia mengambilnya di saat aku memejamkan mata dalam damai, ketika lagu ballad iKON yang baru rilis hari itu menjadi penghantar terlelapku. Saat sang surya mulai terjaga, mengusik tidur para burung dan ayam hingga memekikkan suara khas. Aku tidak akan melupakan setiap detail Tuhan memberiku cerita tidak klise itu. Cerita yang tak henti-hentinya aku bagikan pada kerabat yang sebenarnya tidak butuh kisahku. Air mata pertamaku leleh. Setiap orang yang kenal baik -kenal saja -atau bahkan yang hanya tahu- memasang foto yang tidak asing di mataku. Aku seperti melihat diriku di dalam salah satu scene video klip Apology yang diperankan anggota paling tua. Lirik yang diciptakan oleh idola favoritku seperti menyindir diriku. Dia menorehkan emosi yang tepat di dalamnya.

Pas juga dengan pengalamanku kali ini. Semua takdir Tuhan menghujamku berkali-kali hari itu. Bertubi-tubi seolah Dia ingin menyadarkanku dari mimpi yang panjang. Hari ketujuh belas di bulan kedua sebelum tahun baru, cerita yang tidak akan mudah diterima setiap orang. Bukan hari itu tepatnya, tapi malam sebelumnya. Aku pasti seperti pengigau yang larut dalam kesedihan. Kesedihan yang entah apa sebabnya. Aku sangat hancur waktu itu. Puing kenanganku larut bersama tanah gembur yang menimbun tubuhmu. Syarafku terasa mati dan jika bisa aku ingin ragaku menyusul. Ada satu kebenaran tanpa sempat aku mengutarakan. Ketika dia telah menentukan seseorang lalu aku tetap menjadi pilihannya, saat itulah aku akan kembali. Bahkan baru pagi harinya aku tahu, Tuhan menjemputnya sebelum aku sempat bertanya. Seperti Takdir. Ya, Kau hebat Tuhan, dengan kejadian itu kini aku percaya takdir-Mu ada.

“Kenapa?” Tanya seorang gadis itu. Dia tidak percaya takdir sama seperti diriku di masa lalu. Tuhan ada dalam hati dan pikirannya namun bukan seperti memercayai ilusi yang disebut takdir. “Kau satu-satunya orang yang ingin ku lindungi sekarang.” Jawab pria di depannya. Jarak mereka hanya beberapa meter namun si gadis memandang ada batas lain. Mereka tidak akan bisa dekat meski setulus apa pun perasaan keduanya. “Kenapa?” Tanya kembali si gadis. Si pria mengerutkan alisnya.

Dia tahu gadis yang hanya cinta dan takut pada Tuhan tidak akan dengan mudah memercayai orang lain. Apalagi orang sepertinya. “Karena aku ingin menjagamu.” Si gadis diam. Dalam otaknya bertebaran banyak tanda tanya. Apa yang kali ini coba Tuhan tunjukkan padanya? Setelah kehilangan satu orang berarti, mungkinkah rencana-Nya memberi dia pengganti? Tuhan telah memberinya dua hadiah baru di tengah kekalutannya. Seorang yang menyediakan cerita bagi setiap tulisannya dan seorang lain sebagai pengisi buku harian.

“Kau tidak bisa terus hidup dalam penyesalan.” Ucapan kesekian pria itu memanaskan telinganya. Bukan hanya pria yang berikrar akan menjadi penyelamatnya itu tapi hampir setiap orang. “Memang lebih mudah dikatakan.” Jawabnya mudah dan seolah tak acuh. Namun dalam hatinya bergemuruh tak karuan. Dia geram dengan dirinya sendiri yang sulit menerima takdir. Tidak percaya akan pertunjukan Sang Pemberi Ruh. “Kau masih tidak mengerti.”

Pria yang kini berdiri di sampingnya mengusap puncak kepalanya. Menyalurkan energi positif ke tubuh yang masih dipenuhi prasangka buruk. Tidak ada hal yang lebih buruk daripada mencurigai Tuhan-nya sendiri. Gadis itu terus memikirkan sengatan yang baru menjalari tubuh hingga hatinya. Dia tetap tidak bisa menerima perasaannya. Dia sangat keras kepala bahkan dengan pertentangan dalam dirinya sendiri. Dia berusaha mencari jawaban sepanjang jarak 7 kilometer sekolah dan rumahnya. Tiba-tiba terbesit sebuah bayangan.

BRAAK!!

Kilatan itu menutup kisahnya. Seketika tubuhnya membeku. Matanya masih terbuka mungkin menyaksikan rohnya terbang menuju nirwana. Bersamaan dia menelisik di antara kerumunan orang asing di matanya. Di mana dia? Masih lekat ketika dia menyampaikan akan menjaga dan melindunginya. Dia hampir mati rasa tapi masih tak ada orang itu datang. Dia takut kehilangannya dan kenangannya. Memori bersama mereka. Ketika dia memikirkan orang lain dia dihadapkan dengan kesakitan. Tuhan takdir apa lagi ini? Aku masih ingat betul rasa sakitnya. Setiap inchi tragedi di alam yang ku rindukan.

Mungkinkah sesakit itu? Ketika dia meninggalkanku dalam dunia penuh ambigu. Berat meninggalkan orang-orang itu namun Tuhan memaksa membawamu. Andai Tuhan tidak menyihirku untuk tetap terlelap dan memimpikan kebahagiaan semu, aku akan melepaskan takdir itu darimu. Sekarang dari mana mimpi ini? Apa Tuhan sengaja memberitahuku lukamu? Atau kau menyelinap saat Tuhan lengah untuk masuk ke mimpiku? Menunjukkan seberapa kau tidak ingin meninggalkanku. Kau mencariku, orang yang tidak pernah mempedulikanmu. Apa yang ingin kau sampaikan? Apa karena pria itu? Pria yang mengikrarkan diri sebagai penjagaku. Kau ingin menyampaikan sesuatu tentangnya?

Dia kembali berdiri di hadapanku, memancarkan sorot nanar yang membelalakkanku. Aku sungguh tidak sanggup. Ada sesuatu yang ingin melompat dari dalam diriku. Perasaan aneh. Katanya kami selalu bertemu dalam kebetulan. Kebetulan yang diciptakan Tuhan. Seperti takdir. Ku pikir kebetulan ini hanya buatannya. Aku takut seiring perubahan tingkahnya. Seperti kupu-kupu, aku takut dia terbang tinggi ketika aku menyentuhnya. Menyentuh hatinya meski aku tidak ingin. “Di mataku kau bukan seorang gadis.” Aku tersenyum. Entah lega atau sekedar menutupi kegusaran karena kecewa. Dia membuatku percaya namun tanpa tunggu lama menggoyahkan kepercayaan yang dia bangun.

“Baguslah.” Dia berhenti sejenak. Langkahnya tertegun karena jawabanku?
“Kau gadis aneh.” Nada bicaranya datar seperti ekspresi yang selalu dia tunjukkan. “Harus jadi orang aneh juga untuk berada di dekatmu.” Dia selalu berada di sekelilingku, tiba-tiba muncul ketika waktu tak ku duga. Kadang seperti benar ini takdir dari Tuhan. Tapi, aku percaya ini hanya kebetulan yang dia atur.
“Aku tidak menyukaimu, tapi aku ingin hidup bersamamu.”

Mataku membulat. Itu ocehan terakhirnya sebelum berangkat menuju kota dingin di provinsi paling timur Pulau Jawa. Aku mengingat senyum rupawan yang sering menyihirku di tengah kegelisahan panjang meratapi secuil kebahagiaan yang direnggut Tuhan. Kata-kata yang kadang membuat pertengkaran antara kami. Ucapan yang memaksaku melakukan hal aneh dan bertingkah salah di depannya. Dia menjebakku dalam suasana yang menyedihkan dan melarutkanku ke dalamnya. Dalam ruangan dipenuhi aroma menyengat. Tubuhku lemas. Mataku terbuka perlahan tanpa komando. Ku rasakan hangat di tanganku. Ada seseorang yang menggenggamnya. Ya, itu seorang wanita paruh baya berambut gelombang. Ibuku. Mataku mengeriyip. Rasa pening masih melandaku. Aku menangkap tubuh samar seorang pria seusia denganku. Masih dengan seragam batik merah muda -seragam khas sekolahku- dia berjalan menghampiriku. Wajahnya semakin jelas seiring mataku yang terbuka lebar.

Dia orang yang ku kenal. Terakhir pertemuan kami ketika dia memaksaku mengantarnya ke stasiun kereta api hanya untuk membuatku terenyuh dan bersedia tetap menunggunya. Tunggu. Apa dia tidak benar-benar pergi? Mimpiku yang berulang-ulang. Aku hampir gila dengan dunia fantasi buatan-Nya. Kehidupan nyata, mimpi, dan imajinasi. Tak ada sekat antara mereka. Aku frustasi dengan kisahku sendiri. Dia berada di mana pun. Di semua kisahku di dunia yang mana saja. Namun selalu sama dia memerankan tokoh protagonis.

“Kau tidak jadi berangkat?” Dia semakin mendekat. Suaraku masih terlalu lirih. Dia mungkin sulit mendengarku.
“Aku sudah kembali sejak kau tidak sadar dua hari lalu.”

Tidak sadar? Ah. Aku ingat. Jadi kecelakaan waktu itu benar-benar terjadi? Saat ku pikir Tuhan akan mempertemukanku dengan seseorang yang ku rindukan. Saat rasanya arwahku akan lepas dan terbang menuju surga atau neraka. Lalu, ini apa? Pertemuanku dengannya tadi apa hanya mimpi karena terlampau merindukannya? Dia karakter amfibi dalam cerita kompleks pemberian Tuhan untukku. Bisa menjadi tokoh di dunia nyata bahkan mimpi sekali pun. Menjagaku sesuai sumpahnya. Dia semangat berkoar yang tidak ingin ku lepas. Namun kami hanya terikat dalam imajinasiku. Dia cerita dalam khayalanku yang berbeda dari dunia nyata. Dia tokoh fiksi kegemaranku ketika aku penat menceritakan makhluk sempurna ciptaan Tuhan. Tidak semua yang nyata itu melegakan karena ternyata memilikinya dalam fantasi adalah bahagia yang luar biasa.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ennofira
Blog: https://ceritanologi.wordpress.com

Cerpen Tokoh Amfibi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Devil (Part 1)

Oleh:
Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah yang telah gelap itu, mataku tak henti-hentinya mengedarkan pandangan ke setiap jengkal tempat yang kulewati. Aku harus menemukan pria itu, tekatku dalam hati. Tepat

Planet Cokelat

Oleh:
Pagi ini aku terbangun dengan mimpi aneh, mimpi yang menyenangkan dan seru jika itu adalah kenyataan. Aku bermimpi jika aku berada di planet cokelat yang sangat menggiurkan, di sana

Cerita Lo Nggak Lucu

Oleh:
Kenta berlari menembus pepohonan, di sampingnya ada Eka yang membawa tas yang cukup besar, membuat gadis itu cukup kewalahan. “Sepertinya, kita harus mencari tempat untuk sembunyi,” kata Eka sambil

Pemberian Kakek

Oleh:
Angin berhembus sangat kencang, menerpa dedaunan. Terlihat beberapa temanku yang asik bersendau gurau dengan teman-teman sebaya mereka. Aku duduk seraya memandang teman-temaku yang tengah memperhatikanku, dari kejauhan terlihat ada

7 Pengguna Gelang

Oleh:
“Hahaha. Bocah-bocah ini yang dikirim untuk mengalahkanku. Graahhh!!! Jangan bercanda Aku adalah Rantai Makanan yang berada paling puncak” Monster Itu Berkata. “Sekarang Saatnya Ayo Semuanya” Dengan penuh semangat aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *