Tora

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 8 December 2017

Malam purnama di Niabara, lahirlah seorang anak laki-laki. Kelahiran yang dipenuhi oleh kematian. Akibat kebencian yang mencari wadah untuk berkembang. Wadah yang terpilih bernama Tora, anak sang Purnama.

Tora tumbuh dan berkembang dibawah pengawasan Matahari dan Bulan. Dia tidak dianggap manusia oleh penduduk Niabara, karena insiden pada malam kelahirannya. “Dasar monster!” ucap penduduk kota. Mata yang menatap seakan menusuk hatinya, dan memunculkan benci di hatinya. Setiap dia membenci, ada bagian tubuhnya yang merasakan kesenangan dan tumbuh berkembang.

Waktu demi waktu berlalu, ia sekarang menjadi remaja yang sangat diasingkan. Demi makan dia mencuri, karena tidak ada yang mau membantunya. “Dasar kau, monster pencuri!” “Pembunh berantai!,” kata teman-temannya sambil menyiksa dirinya. Setiap disiksa, Tora semakin membenci mereka dan juga senang pada waktu bersamaan. Setiap dia senang akan kebenciannya, bahu sebelah kanannya sakit tidak karuan. “Aku akan membunuh mereka semua!,” ucap Tora dalam hati. Kata itu yang terus dia ucapkan hingga dewasa.

Ketika Niabara dilanda peperangan, Tora menjadi pejuang yang sangat ditakuti. Tidak punya rasa takut, ragu dan kasihan kepada siapapun. Setiap melihat musuh, Tora langsung membunuh tanpa ragu. Sehingga dia punya julukan baru yaitu “Mesin Pembunuh”. Tora sangat cinta kepada Niabara tapi masih memendam benci terhadap penduduknya. Penduduk Niabara masih memandang Tora sebagai pembunuh berantai walaupun dia sudah membawa Niabara ke masa kejayaan.

Tora menjadi pejuang yang sangat ditakuti, dia terkenal dikalangan anak laki-laki. Tora mempunyai seorang murid bernama Haiba. Haiba tau asal usul Tora, tapi dia tetap menjadi murid setianya. Walaupun dia membenci penduduk kota, tapi dia tetap ramah kepada murid setianya itu. Ketika pulang dari latihan, haiba mengajak Tora untuk ke rumahnya.
“Master, Ayo mampir ke rumah,” ajak Haiba.
“Tidak, aku masih ada urusan,” jawab Tora
“Ayolah Master, aku ingin mengenalkanmu dengan kakakku”
“Tidak, aku masih ada urusan”
“Kali ini saja, aku mohon…” ucap Haiba dengan raut wajah sedih.
“sudah, jangan pasang wajah seperti itu. Sebagai lelaki kamu tidak boleh memasang wajah seperti itu”
“Jadi, Master mau ke rumahku?”
“iya, tapi untuk kali ini saja ya”, ucap Tora dengan wajah tersenyum.

Sesampainya di rumah Haiba, dia langsung mengajak Tora masuk ke dalam. Di dalam rumah, telah menunggu seorang wanita remaja yang lumayan cantik. Wanita itu bernama Ruby, kakak satu-satunya Haiba.

“Anda pasti Tora ya?” tanya Ruby.
“iya” ucap Tora.
“Kak, Master itu orang yang sangat hebat. Dia bisa membunuh 5 prajurit musuh dengan 1 tebasan tombaknya,” ucap Haiba dengan gembira.
“iya, kakak sudah tau, kamu kan udah bercerita ribuan kali tentang tuan Tora”
“Cukup panggil Tora saja, sebutan tuan kurang pantas untukku”
“Master, ayo ikut makan malam”
“Tidak, aku masih kenyang”
“Ayolah master, kakakku sudah masak tuh”
“iya, ayo tu.. ehh maksudku Tora, kita makan bersama”
“tidak usah, aku masih kenyang,” “Grukgrukgrukgruk,” bunyi perut Tora
“Apanya yang masih kenyang, ituu barusan ada bunyi aneh dari perut master”
“Hehehehe, ketahuan ya..”

Mereka bertiga makan bersama sambil mengobrol di dalam rumah yang kecil tersebut. Ketika malam tiba, Tora pergi keluar tanpa pamit karena mereka berdua sudah tertidur lelap. Dia kembali ke rumahnya untuk beristirahat.

Pagi hari, ketika sang fajar masih terlelap. Tora pergi ke rumah Haiba untuk menjemputnya berlatih. Di kebun sebelah rumah Haiba, Tora melihat Ruby sedang menanam beberapa bibit sayuran. Tora menghampiri dan menyapa Ruby.
“Pagi,” ucap Tora
“ehh, pagi juga Tora,” balas Ruby
“Haiba sudah bangun?”, tanya Tora
“Sudah, dia sedang mandi di sungai”
“Tora, aku mau bertanya sesuatu,” ucap Ruby
“Silahkan, mau tanya soal apa?”
“Apakah kamu masih membenci penduduk kota?”
“Terus terang, aku masih membenci mereka”
“Walaupun kamu sudah menjadi pejuang yang hebat?”
“ya, karena mereka tetap menganggapku sebagai monster”
“bukannya lebih baik mencoba menghilangkan kebencian itu?”
“Aku tidak bisa menghilangkannya”
“Sebuah pohon mangga tidak akan tumbuh bila kamu menanam biji jeruk, begitu pula dengan kehidupan. Menanam kebencian hanya akan berbuah kebencian, sedangkan menanam kebaikan pasti akan berbuah kebaikan”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan,” ujar Tora
“Master! Ayo berangkat!” teriak Haiba dari kejauhan
“Ayo!” jawab Tora sambil pergi meninggalkan Ruby

Setelah selesai melatih Haiba, Tora pergi menghadap atasannya. Dia diberitahu kalau besok akan ada pasukan Aingeri menyerang Niabara saat fajar dari arah Barat. Setelah mendengar itu, Tora bergegas mengajak pergi Ruby dan Haiba untuk mengungsi terlebuh dahulu. Saat sampai di rumah Haiba, Tora hanya bertemu dengan Ruby.

“Ruby!!” teriak Tora
“Ada apa Tora?” tanya Ruby terheran-heran
“Ayo kita segera pergi dari sini!, dan dimana Haiba?”
“Haiba sedang pergi ke kota untuk mengambil pesanan. Memang ada apa? Kenapa kita harus pergi?”
“SIAL!, akan aku ceritakan nanti, sekarang kamu ikut aku pergi ke arah Timur.” Ucap Tora sambil menarik tangan Ruby.
Mereka pegi meninggalkan Rumah ke arah Timur.

“Tora! Memang ada apa sih, aku sudah lelah berlari dari tadi” tanya Ruby
“Niabara akan diserang ketika fajar oleh Aingeri, maka dari itu aku akan mengungsikanmu dan Haiba terlebih dahulu” jawab Tora
“Kenapa kamu tidak memberitahu penduduk yang lain? Apa karena kamu masih membenci mereka?” tanya Ruby dengan cemas
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan.”
“Tapi kenapa Tora? Kenapa hanya aku dan Haiba?” tanya Ruby dengan nada tinggi
“KARENA HANYA KALIAN YANG AKU ANGGAP SEPERTI KELUARGA!!”
Ruby pun terdiam dan terus berlari bersama Tora ke arah Timur.

Sesampainya di Timur, ternyata musuh menyerang dari dua arah yaitu Barat dan Timur. Tora dan Ruby bertemu dengan tentara musuh yang sangat banyak. Tora berusaha melawan mereka dan berhasil membunuh setengahnya. Tapi pada pertengahan pertandingan, musuh menembakan panah secara masal. Tora berusaha melindung Ruby, walaupun dia sudah berhasil menghalau beberapa panah dengan mengorbankan dirinya, tapi ada beberapa anak panah yang mampu tembuh hingga mengenai Ruby. Ruby berpesan supaya Tora bisa menghilangkan rasa bencinya itu kepada para penduduk. Karena kematian Ruby, kebencian Tora kepada manusia semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba bahu kanan Tora sangat sakit, tidak seperti sebelumnya. Rasa sakit ini melebihi batas ketahanan manusia biasa.

Tiba-tiba dari bahu kanan Tora muncul sesuatu yang keluar begitu cepat sehingga menyebabkan bahu kanan Tora berlubang. Ternyata makhluk itu adalah “Kebencian” yang selama ini tumbuh dan berkembang di dalam tubuh Tora. Karena kebencian yang didapat sudah sangat banyak, menyebabkan makhluk ini tumbuh dengan cepat dan akhirnya keluar dari wadahnya. Makhluk itu bernama Lev dan dia diberi julukan “Kebencian Abadi”.

Lev menceritakan tentang asal usulnya, dimana pada suatu malam dia masuk ke tubuh seorang anak laki-laki dan menyebabkan ledakan dahsyat sehingga orang-orang di sekitarnya meninggal dunia. Setelah mendegar semua cerita Lev, Tora sangat marah kepadanya dan menghiraukan luka yang ada di bahu kanannya. “Aku akan menyebarkan kehancuran, keputusasaan, kebencian di seluruh dunia,” ucap Lev sambil tertawa lepas. Lev mulai beraksi dengan membunuh semua orang yang ada disana kecuali Tora, karena Tora telah menjadi wadahnya dan diberi kesempatan hidup.

Lev langsung terbang ke arah kota dengan kecepatan yang menakjubkan, Tora baru teringat kalau Haiba masih ada di kota. Tora segera berlari dengan sisa tenaga yang ada menuju kota untuk menyelamatkan Haiba.

Sesampainya di kota, kota sudah menjadi tempat yang tidak karuan, kebakaran di mana-mana, bangunan banyak yang runtuh, mayat berserakan di mana-mana. Tora tidak berhenti mencari Haiba. Tora melihat seorang anak laki-laki di dekat bangunan tua yang sudah terbakar. Dia mendekatinya dan ternyata anak laki-laki tersebut adalah Haiba. Haiba sudah sangat mengnaskan, tubuhnya penuh luka dan lubang, darah muncul dari lubang-lubang di tubuhnya. Tapi Haiba masih sempat mengucapkan sesuatu kepada Tora, “Tolong, jaga kakakku,” ucap Haiba sebelum pergi ke alam damai. Tora menangis tidak karuan saat itu, perasaan sedih dan benci bercampur menjadi satu.

Tiba-tiba Lev muncul di depan Tora. “Itulah akibat dari yang namanya Cinta, kasih sayang, dan harapan. Orang kuat adalah orang yang punya kebencian besar didalam hatinya. HAHAHAHAHA!!!!” ucap Lev sambil tertawa. Mendengar itu Tora langsung berlari ke arah Lev dengan membawa sebilah pedang yang tergeletak di tanah. Belum sampai di kaki Lev, Lev sudah menyerang dengan mencakar tubuh Tora dengan kuku beracunnya. Tora perlahan berubah menjadi Batu. “Apakah ini akhir dariku?” “apakah tidak ada kesempatan untukku?” ucap Tora sesaat sebelum dia berubah sepenuhnya menjadi batu. Lev pergi dengan perasaan gembira dan menghancurkan apapun yang menghalanginya. Dunia pun jatuh ke tangan kegelapan dan kebencian abadi.

Cerpen Karangan: R. Omnivora
Facebook: facebook.com/yusrin.reza.7

Cerpen Tora merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Saudara Kembar Sara

Oleh:
SARA HUSSEIN, anak yang selalu bahagia dan ceria. Anak yang berumur 10 tahun. Selidik warga di sekitar, Sara harusnya dilahirkan kembar, karena hasil USG 10 tahun yang lalu harusnya

Dikejar Maut

Oleh:
Malam itu sangat sepi, sekitar pukul 20:45 malam. Semua orang kelihatannya sudah tidur, buktinya semua pintu dan jendela terkunci rapat. Sunyi tanpa suara, begitupun malam, tak ada angin, ataupun

Jejak Terakhir

Oleh:
Desember 1979, aku lupa tanggal dan hari tersebut. Yang kutahu hari itu menjadi hari yang cukup tenang untuk menikmati rumah baru keluargaku sebelum sisa-sisa kolonial Belanda menghabiskan segalanya yang

Masihkah Ku Hidup Hari Ini?

Oleh:
Entah sebuah pengalaman atau pernyataan aku tak seberapa paham akan hal itu. Namun pada dasarnya aku sendiri merasakan kejadian aneh dalam hidupku. “Dejavu” istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *