Tree House

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 23 March 2015

Seorang penjahit yang sangat terampil, tinggal pada sebuah rumah yang berhalaman luas di desa. Di dekat rumah terdapat sebuah danau dan pohon yang terdapat rumah pohonnya, tempat ia mencari nafkah. Ia berambut pendek nan hitam, sehingga terlihat rapi dan bersih. Ia berbadan dan berkulit seperti pria Amerika Latin pada umumnya. Ia memiliki mata sebiru laut, lengkap dengan wajah datarnya. Jika kau beruntung, mungkin kau bisa menemui senyum menawannya pada saat-saat tertentu.

Setiap hari ia mencari nafkah dengan membuat pesanan serta memperbaiki sesuatu yang berkaitan dengan menjahit. Ia bukanlah orang yang senang keluyuran, bukan karena dia sakit-sakitan, namun karena ia tak gemar dengan kehidupan di luar sana.

Ia tak punya banyak teman, tapi tak apalah karena memang ia tak butuh satu pun. Ia juga tak gemar bergaul. Bukan karena egois atau individual segala macamnya, namun ia merasa masih banyak hal-hal lainnya yang lebih penting. Ia juga tak perlu khawatir, selama tak ada yang protes atau membencinya. Lagi pula, ia sudah bisa menghidupi dirinya sendiri dari dalam rumah pohon ini, untuk apa ia khawatir? Ia bernama Harris Regan

Salah satu hal yang paling membuatnya joylessness adalah perawat, karena merekalah yang telah merampas kekasihnya 5 tahun yang lalu. Maka, ketika suatu hari suster bersama bruder ini datang ke tempatnya, ia jelas merasa kesal.
Maybe, tak semua perawat dapat membuatnya senyum, atau semua perawat. Tetap saja ia sudah telanjur tak suka dengan yang namanya perawat. Karena persepsi itulah, perjumpaan pertamanya dengan Melati bukanlah suatu pengalaman yang bisa dikatakan menyenangkan.

Suster dari sebuah rumah sakit swasta itu datang pada suatu pagi ke rumah pohon milik Harris bersama dengan bruder, meminta sang pemuda dengan mata sebiru laut itu untuk menjahit beberapa selimut rumah sakit yang robek. Dan sungguh, ketika bruder itu menunggu di bawah, suster itu datang ke tempatnya dengan topi khasnya dan senyuman ramah itu, Harris sudah sangat menahan nafsu amarahnya untuk mengusir wanita bermata warna brown itu. Tetapi ia juga tak bisa berlaku demikian, karena bagaimana pun suster ini adalah tamu. Walaupun ia bersungut-sungut, namun dengan terampil Harris berhasil menjahit semua selimut tersebut. Ia berharap sang tamu itu lekas pergi dan berharap tak kembali lagi agar tak menimbulkan jejak sepatu dari suster itu.

“Terima kasih,” ucap wanita itu. “Jadi, berapa yang harus ku…”
“Pergi! Cepat Pergi! Kau sudah ditunggu sama orang” bentak Harris menyela ucapan sang tamu.
“Halo?”
“Kubilang, pergi dari sini, Kalau perlu tak usah kembali kesini, cari penjahit lain yang lebih ulet jika kau butuh memperbaiki selimut semacamnya. Aku sibuk.” Harris yang sangat ketus ke wanita itu.
Kemudian suster itu turun dari rumah pohon itu dan kembali menuju rumah sakit dengan bruder tersebut.

Esoknya, wanita itu kembali lagi pagi sekali dengan satu kantung plastik besar yang penuh dengan pakaian. Mau tak mau pun, Harris semakin kesal pada perlakuan wanita ini.
“Tok-tok-tok” Suara ketukkan pintu itu.
“Apa ini?” Harris membuka pintu rumahnya sambil melototkan matanya.
“Hah? Apa ini? Tidakkah kau bisa lihat ini kantung plastik besar yang semuannya berisi pakaian kusam yang robek!!!” Wanita itu menghela napas. “Aku minta semua pakaian ini dibenarkan sekaligus membayar untuk selimut kemarin. Apakah seratus ribu cukup untuk semuanya?” sambil ia mengambil lembaran seratus ribu dari kantungnya dan meletakkannya di meja teras itu.
“Kau ambil semuanya besok sore. Lewat dari itu, toko akan tutup.”
Tak ada respons yang terucap, dan Harris menyangka bahwa wanita itu sudah pergi keluar seiring dengan dirinya berjalan dulu yang tengah membawa kantung plastik yang berat itu sambil menaiki tangga rumah pohon yang terbuat dari kayu kokoh. Yossh, akhirnya ia pergi juga, pikirnya. Ia tak merasa terganggu dengan wanita menjengkelkan itu.
Ternyata pikirannya salah. Ketika Harris tengah memasukkan benang ke lubang kecil jarum di mesin jahit, pria bermata sebiru laut itu kesal karena kehadiran wanita yang seenaknya memasuki rumah pohon yang sejuk itu. Spontan saja, pemuda itu segera mengusir sang suster,
“Pergi sana. Aku mau menyelesaikan pesanan pelanggan terlebih dulu. Kamu gak mandi dan berangkat kerja apa? Banyak pasien yang menunggu jasa suster disana.”
Wanita itu tidak beranjak pergi, malahan menarik sebuah kursi yang tak berada jauh darinya, lalu duduk di sisi sang terampil jahit yang masih dengan ekspresi kesal membenahi benang di mesin jahit.
“Ada masalah? Tenang saja aku sudah mandi, bau harum kok” hanya itulah yang keluar dari mulut sang perawat.
“Karena kau benar-benar menggangguku,” jawab Harris singkat dan penuh sarkasme, “Sudah kubilang besok sore, kau mau menginap disini?”
“Aku tak punya satu hal pun yang bisa kulakukan, hari ini aku juga lagi libur. Jadi, kupikir lebih baik di sini saja. Keren juga pastinya kalau kau mau menawariku menginap di rumah pohon ini.” Mata coklat milik sang perawat wanita itu masih menatap mata Harris lalu mengalihkan tatapan matanya ke tangan Harris yang memulai menjahit baju dengan lihai. “Lagi pula, menyenangkan juga melihatmu menjahit pesanan pelangganmu, Boy…”
“Harris.”
Wanita itu kebingungan, “Maaf? Maksud anda apa??”
“Namaku Harris. Harris Regan,” ucapnya ketus yang serius mengerjakan projectnya.
Wanita itu pun mengulurkan tangannya sembari berkata, “Melati Ivanousky, Suster cantik yang masih berumur 24 tahun.” Senyum manis yang menghiasi wajah lancapnya.

Entah sejak kapan, kedatangan wanita bernama Melati Ivanousky itu menjadi sebuah rutinitas yang tidak mengherankan bagi Harris. Setiap hari, wanita itu ada saja yang dibawa untuk perlu diperbaiki. Seperti seragam dinasnya, sprei tempat tidurnya, korden rumahnya, juga ia memesan gaun untuk menghadiri pesta pernikahan teman sepermainannya. Dan setiap pulang kerja ia selalu mampir ke rumah pohon itu sambil membawa camilan sedap yang dinikmati bersama dengan Harris.
Entah mengapa, semuanya itu saja sudah cukup untuk menghibur seorang perawat itu, Melati Ivanousky
“Aku lahir di Melbourne, orangtuaku asli Indonesia. Orang tuaku merantau dan menetap disana. Mereka bekerja menjadi pengusaha restoran. Ketika aku lahir, ibuku meninggal. Menurut ayah, mungkin ibuku meninggal karena perawat di rumah bersalin itu tidak tangkas dalam menangani pasiennya. Ia bernama Ivanousky. Sehingga ayah memberikan ku nama seperti itu agar cita-citanya memiliki seorang anak yang menjadi perawat seperti dia, namun lebih tangkas dan cerdas darinya. Agar ketika ayahku sakit, anaknya lah yang merawatnya. Cukup di rumah, tak perlu ke rumah sakit. Mengingat biaya keperluan kesehatan yang mahal. Dan akhirnya tercapailah cita-cita ayahku.” Suatu hari Melati yang bercerita sembari menitikkan air mata dan tersenyum
“Berarti kau sekarang menjadi perawat yang handal, tapi di hati kecilmu apakah kau bercita-cita menjadi seorang perawat?” Tanya Harris.
“Ya, entah mengapa mungkin aku memiliki ketertarikan menjadi seorang perawat. Aku bukan perawat yang handal, namun aku perawat yang cukup handal. Agar pasienku tidak ragu ketika aku menanganinya.” Celetuknya.
“Mengapa kau sekarang tinggal di Indonesia?” Tanya Harris lagi.
“Ibuku meninggal membuat ayah merasa kesepian untuk tinggal di negeri orang. Lalu ayah menutup restorannya dan membuka kembali restoran tersebut di negeri sendiri. Jadi sejak kecil aku sudah menetap di Indonesia.” Jawabnya. “Lalu bagaimana cerita masa lalumu?”
Harris menghela nafasnya. Tipikal cerita menyedihkan yang rasanya tak perlu ia beri simpati. “Aku sama sekali tak berminat untuk menceritakan tentang diriku. Jadi, bisakah kau diam dan tutup mulutmu? Sebentar lagi 75 buah mitela ini akan selesai.”
Dan, tentu saja, seperti biasanya wanita itu tak akan mau menurut dan tetap berceloteh.

Harris tak pernah mau menjawab pertanyaan Melati tentang keberadaan keluarganya. Karena itulah, menjadi sebuah keanehan bagi Melati bahwa lelaki introvert itu mau menceritakan masa lalunya tanpa harus meminta di hari ini.
“Aku lahir di sini. Di desa kecil ini. Pergi ke sekolah, dan menjalani hidup sebagaimana anak desa Indonesia biasa yang sama sepertimu.” Harris memulai kisahnya, sementara fokusnya masih tertuju membuat mitela pesanan Melati, “Atau setidaknya, sebelum kedua orangtuaku pergi dan mereka tak pernah kembali lagi.”
Melati sungguh tak bisa menahan rasa kepo-nya. “Pergi kemana mereka?”
“Mereka itu egois, sejak aku kecil kehidupan mereka dipenuhi pertengkaran oleh hal yang sepele. Ayah yang asli orang Amerika membuat ia pulang kampung ke negerinya. Sedangkan ibu yang asli Indonesia merasa terpukul atas kepergian ayah yang membuat ia sakit dan mati. Dan sekarang aku tak tahu kondisi ayah sekarang. Entah masih hidup lalu menikah lagi atau mati di negerinya sendiri. Pada masa-masa itu aku merasa kesepian. Lalu pada saat lima tahun yang lalu, tepat aku berumur 25 tahun, rasa kesepian itu memudar ketika aku menjalin kasih dengan seseorang. Namun jalinan kasih itu ditakdirkan dengan Tuhan yang berakhir ketika seseorang itu mati. Saat itu, ia tengah berjalan menuju ke rumah pohon ini. Namun ketika ia menyeberangi sebuah jalan, ia tertabrak sebuah mobil berkecepatan tinggi dan ia jatuh mengalami pendarahan. Sang penabrak itu bertanggung jawab dan membawanya ke rumah sakit. Tragisnya, pada saat masuk UGD, tidak ada satu pun perawat yang mau menanganinya. Perawat-perawat itu hanya berpikir, bahwa ia tidak ada harapan lagi untuk hidup. Mereka tidak mau berusaha, bagaimana caranya agar pasiennya selamat. Dan mereka berbuat sebaliknya, membuat ia terlantar. Itu membuat rasa kesepianku semakin parah. Sehingga sekarang ini aku juga tak tertarik apa yang terjadi di luar sana.” Harris yang mengalihkan pandangan bosan ke pohon-pohon sekitar “Karena itulah, aku tak pernah menyukai perawat,” lelaki itu melanjutkan, “Terutama mereka yang cerewet dan selalu ingin tahu sepertimu.”
Wanita itu tertawa, walau kini ia mengeluarkan ekspresi sedih dari wajahnya yang baby face itu. “Itu bukan alasan yang masuk akal untuk menjelaskan mengapa kau tak pernah mau keluar. Tidakkah kau penasaran dengan ada apa di luar sana?”
Harris mengalihkan matanya ke wanita itu dan kini benar-benar menatap wanita di depannya ini dengan sebuah senyum kecil yang lembut,
“Ya, kadang aku merasa penasaran.” Ia menutup matanya sesaat, menikmati rintik-rintik hujan yang meninggalkan bekas di tanah. “Tapi, aku masih belum memiliki ketertarikan di luar sana. Tak ada yang menarik dan tak perlu memaksa aku untuk mencari ketertarikan itu! Lagi pula aku harus menjaga rumah dan rumah pohon ini. Ini warisan berharga dari mereka.”
Melati benar-benar sudah tak bisa menahan senyumnya, dan menepuk bahu lelaki itu.

Sudah beberapa hari terakhir ini wanita cerewet itu tidak datang ke kediaman Harris Regan sehingga membuat lelaki itu tercenung. Walau memang benar bahwa karena wanita itu tak datang ke tempatnya membuatnya kesal karena tak ada yang bisa ia ajak bicara. Tapi, bukan hal itu yang ia permasalahkan. Ia tahu bahwa wanita itu tengah akan menjalankan tugasnya ke Filipina untuk membantu korban bencana angin topan Haiyan. Dan itu pantas karena ia seorang perawat yang cukup handal.
“Mulai besok, aku ditugaskan ke Filipina. Kata teman-teman mitela buatanmu rapi nan cantik. Mereka suka!” Wanita itu berucap seraya melambungkan senyum kecilnya, yang tentu mengundang pertanyaan dalam benak Harris, melihat bahwa sang suster tampak tenang dan damai.
“Kau tampak terlalu tenang untuk seorang yang berkesempatan menyembuhkan korban bencana disana. Dan kau juga mendapat kesempatan mati di lokasi bencana alam itu,” Ucapan khas seorang Harris yang tidak pernah sudi mengucapkan kata-kata manis dari mulutnya itu. “Dan, kau menyia-nyiakan waktumu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temanmu dengan duduk di sini. Dirumah pohon ini.”
Melati tertawa getir sambil menaiki tangga ke rumah pohon itu, yang kemudian digantikan dengan sendu yang terpancar dari mata coklat tersebut, “Tak ada siapa pun yang bisa kupeluk, lalu ku ucapkan selamat tinggal. Tak ada…”
Harris pun memotong kata-kata suster satu itu dengan sebuah pelukan, “Well…, setidaknya masih ada aku yang tak mau pelanggan setiaku ceroboh dalam menangani pasien di lokasi bencana topan itu. Dan jangan lupa untuk terus berdo’a supaya selamat dari bencana susulan topan itu. Aku tak mau kehilangan pelanggan setiaku, agar aku tak merasakan kesepian lagi”
Ucapan yang berakhir mengundang tawa dari wanita yang kini menitikkan air matanya.

Lelaki itu menyerahkan sebuah jaket rajut buatannya dan memakaikannya ke tubuh sang wanita yang tengah menyeka air matanya itu, “Ini untukmu.” Harris memakaikan jaket rajut tebal nan indah tersebut sambil merapikan mitela yang dikenakannya, “Anggap saja sebagai souvenir karena sudah menjadi pengunjung setiaku.”
Perawat itu mengecup kening Harris dengan lembut, “Ya. Aku akan kembali.” Senyum wanita itu merekah. “Lalu kita akan tinggal bersama dan menjaga rumah pohon ini.” Melati pun pergi dengan menyandang ranselnya, pergi ke lokasi bencana super topan Haiyan, Filipina.

Ya. Ketiadaan suster berparas cantik itu membuat Harris Regan menjadi sangat tak tenang. Setidaknya, ia tak akan tenang sebelum suster itu menjalankan tugas yang tak ceroboh dan benar-benar dikatakan perawat yang handal. Dilakukan saat ini juga.

Cerpen Karangan: Herisa Eril Hidayat
Blog: erilhidayat.blogspot.com
Facebook: Eril Hidayat
Bersekolah di SMA Negeri 1 Pasuruan

Cerpen Tree House merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senandung Milyaran Semut

Oleh:
Bukan warna-warna kelabu yang mungkin menghadirkan diri dan solah-olah memberitahu bahwa hari-hari sendu akan datang. Sebagai pembanding yang nyata ada sebingkai senyum pelangi yang melebar simetris searah mentari di

Anyelir Pusaka

Oleh:
Waktu itu, di dunia peri, terjadi perang sengit antara penyihir Glawise atau penyihir jahat dari utara melawan Ratu Melia, ratu pemimpin dunia peri. Mereka berdua memperebutkan bunga Anyelir Pusaka.

Magic Sagitarius

Oleh:
Pagi pagi sekali, Shirakaba sedang di rumah. Mamanya pun memanggilnya, dan berkata “Shirakaba, ini kalung untukmu. Ini hadiah ultahmu minggu lalu”. Lalu, Shirakaba berkata “terima kasih Mama”. “Sama sama

400 Kaki (Part 1)

Oleh:
Kau bisa menerka bagaimana rasanya diantar menuju ketinggian empat ratus kaki itu. Lolita melangkah ke luar setelah pintu lift bergeser gesit dengan denting manisnya. Ia membuka pintu, sebelum melempar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *