Tristis Finis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 21 February 2018

Namanya Feliz Flor, umurnya 15. Dia memiliki keistimewaan yang membuatnya sangat spesial. Kebanyakan orang menganggap itu kekurangannya. Dia tak pernah menyukai sekolah dan pelajarannya, dua hal yang membuatnya nelangsa.

Pukul dua siang
Hujan masih membungkus kota, ditengah pelajaran yang membosankan Feliz hanya bisa mendengus. Pak Har di depan sedang membahas kerja sama antara pihak Komite Perhubungan dan Komunikasi dengan seluruh sekolah di kota. Di tahun 2030 kota Irish sudah sangat maju dengan berbagai perkembangan seperti sebuah kendaran kapsul yang bisa dipakai di darat, air, dan udara juga di kota ini mereka tidak lagi menggunakan handphone, atau laptop yang dibawa saat bepergian, mereka biasanya sudah memiliki sebuah alat proyeksi digital di lengannya. Cukup ditekan satu tombol alat itu bisa membaca pikiran pengguna lalu memunculkannya.

“Kalian sudah tau bukan pihak Komite ingin bekerja sama dengan seluruh sekolah di kota. Mereka ingin mengembangkan alat-alat canggih yang mutakhir, dan tentu saja juga mencari genius di setiap sekolah. Setidaknya ada satu dari sepuluh di sekolah ini yang bisa mewakili. Kalian bisa menulis ide tersebut dengan proses pengerjaannya di kertas, jika kalian bisa mengerjakan proyek itu akan ada hadiah tak terduga dari pihak komite. Silakan kerjakan lalu kumpul”. Feliz dikenal paling bodoh juga paling genius di sekolah siapa yang sangka dengan nilai ulangan paling tinggi angka 3 dari 10, dia pernah mengikuti lomba Perakit Android tingkat Internasional, mengikuti seleksi Olimpiade IT, Fisika, dan Matematika. Di zaman sekarang kota mereka sedang berlomba membuat Android manusia tercanggih untuk mempekerjakan hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia, atau membahayakan manusia. Kabar gembira bagi orangtua Feliz mengetahui anaknya sepintar itu. Tapi itu malah jadi bencana yang akan datang bagi Feliz.

‘Bukankah selama ini kota kita belum membuat pengganti teleskop, kita juga bisa menghemat energi dengan membuat rumah dimensi seperti yang ada di dongeng, Saya bisa menjelaskan dan membuat semua itu, tapi saya terlalu lelah. Bisakah kalian mengundang saya ke gedung Komite? Terimakasih~’

Disaat kawan kelasnya butuh sekitar 2 jam menulis ide, cara pengerjaan Feliz hanya memakan waktu 5 menit menulis semua idenya. “Feliz, saya suruh kamu membuat ide beserta pengerjaannya, bukan surat perintah seperti ini, memangnya kamu ketua Komite bisa seenaknya?!” Pak Har hampir saja meremukkan kertas itu “Bapak bahkan tidak tau bukan, siapa yang membuat ide dari semua alat yang kalian gunakan di zaman ini” Feliz berlalu dengan santai dan kelas dipenuhi tawa kecil di tengah derasnya hujan.

Bel pulang berbunyi pukul 5 sore
“Aku pulang” Feliz melangkah di depan gerbang, percaya atau tidak si genius ini orang super kaya. Mamanya bekerja sebagai sekretaris dewan komite, sekaligus prof. Pembuat mesin canggih yang mereka gunakan di kota. Papanya hanya pekerja pimpinan di perusahaan Android. Adik Feliz berlari-lari mendengar suara Feliz, namanya Analgesiques biasa dipanggil Lana sama seperti anak perempuan pada umumnya berumur 12 tahun hanya saja dia berkebalikan dari sang kakak. Dia memang tidak pintar tapi dia berusaha setiap hari bukan seperti Feliz yang genius tapi malas-malasan.

“Kakak, Lana punya rahasia, ayo kita ke basement” Belum sempat Feliz meletakkan tas, tangannya langsung ditarik Lana menuju halaman belakang rumah. Feliz hampir jatuh karena kaget, lihatlah di belakang rumahnya ada basement yang berisi laboratorium, dengan berbagai alat yang terlihat baru. “Dari mana kamu dapat semua ini La?” wajah Feliz tampak antusias dan bersemangat. Karena dari dulu ayahnya tidak pernah mengizinkan Feliz memiliki lab sendiri. “Ini sebenarnya punya kakak, tapi mama sengaja pura-pura diberikan kepada Lana, katanya agar ayah tidak memarahi kakak. Ini hadiah karena kakak sudah banyak membantu kota ini dengan berbagai proyeksi, dan peralatan canggih lainnya” Lana lantas memeluk sang kakak senang memiliki kakak yang genius, disamping itu Lana tidak pernah merasa iri sedikit pun pada kakaknya dia malah bangga dengan kakaknya.

“Apa maksudmu? Kakak hanya membuat ide dan bantu mengerjakan proyek ini sebagai hobi” Feliz masih bingung dengan hadiah luar biasa ini “Kakak yang membuat ide teleskop lalu meminta komite mengundang kakak bukan? Mama menyetujui mengundang kakak, lalu membantu kakak menyalurkan hobi kakak di lab ini, untuk membuktikan kepada ayah…” suara Lana tercekat menyebut ayahnya “Tidak apa-apa, kakak yakin kelak ayah akan bangga punya anak genius yang dia anggap bodoh tak berguna ini” tanpa sadar setetes air mata membasuh pipinya.

Pukul delapan malam
“Feliz, Lana turun! Kita makan malam” Mamanya selalu saja teriak-teriak padahal Feliz sudah membuat semacam bel alarm waktu makan, tapi sepertinya tak berpengaruh. Dia masih saja teriak-teriak.

Feliz dan keluarganya masih menikmati makan malam mereka. Lengang, membuat suasana menjadi canggung. Tak ada topik yang dibicarakan keluarga ini. “Papa dengar Dewan Komite membuat kerjasama dengan seluruh sekolah membuat teknologi baru” papa membuka topik baru sambil menyuapi makanan di sendok kemulutnya “Iya, mama yang menyarankan. Pekerja komite semakin berkurang, mama ingin mencari genius disetiap sekolah yang akan meneruskan Komite ini, jika mereka tidak ingin mengabdi kepada kota, setidaknya mereka mengeluarkan ide brilian mereka untuk menghemat sumber daya kita” mama tau dari topik ini pasti akan terjadi perdebatan antara Feliz dan papanya dia berusaha meringankan pembicaraan “Hah, buat apa? Itu tak berguna, toh semua makhluk akan mati nantinya, biarkan anak-anak belajar melanjutkan pekerjaan layak di tempat lain, bukan sebagai komite. Feliz, ide apa yang kamu buat? Apa meminta Komite membuat lab untuk mu bereksperimen? Atau mengadakan olimpiade lalu kamu akan melawan juri lagi?” sepertinya papa Feliz memang suka berdebat di meja makan, entah apa yang dia pikirkan terhadap Feliz, dia selalu saja menganggap genius ini sebagai anak bodoh yang tak mengerti apa-apa “Baiklah, sepertinya akan terjadi perang, mari kita selesaikan makan malam ini” Mamanya mencoba bergurau dengan senyuman hangat yang menatap ke Feliz seperti berkata ‘jangan pedulikan omongan papamu’.

Setelah menyelesaikan makan malam Feliz langsung ke kamar membawa semua koleksi-koleksinya untuk dipindahkan ke lab.
Bisa dibayangkan apa saja yang ada di kamar seorang genius seperti Feliz yang tak pernah kehabisan akal mencoba sesuatu. Feliz masih kesal dengan perkataan gurunya yang menganggap remeh dia. Tanpa basa-basi dia langsung membuat ide-idenya, bahkan lebih dari itu. Dia meminta mamanya membeli tanah di tempat yang jauh dari penduduk, dia ingin mencoba membuat rumah dimensinya. Mamanya tentu tidak akan menolak permintaan Feliz. Dengan cepat mamanya langsung membeli tanah di dekat lereng gunung yang jauh dari kota.

Feliz langsung beraksi mencoba membuat rumah dimensinya tak butuh satu hari, dalam 8 jam dia berhasil membuat rumah dimensi tetapi hanya separuh.
Mengejutkan!
Saat pinta dibuka begitu banyak pintu di dalamnya, dia baru berhasil membuat 3 dimensi di dalam rumah. Saat dibuka pintu satu terasa dingin menusuk, salju berguguran dengan segala kehidupan. Pintu kedua dibuka terasa hangat matahari siang menerpa wajah. Pintu ketiga dibuka terasa rintik-rintik hujan membasuh muka.

Dengan semua dimensi rumah itulah yang dimaksud Feliz dengan menghemat energi itu bisa menjadi pusat pekerjaan tanpa harus membuang banyak energi di muka bumi. Saat kembali ke lab dia berusaha membuat pengganti teleskop. Bukan pekerjaan susah baginya, membuat rumah dimensi saja hanya memakan waktu 8 jam, apalagi pengganti seperti ini. Mungkin hanya 2 jam. Kamera mikro berukuran kecil seperti pasir dengan kacamata yang dilapisi layar proyeksi yang terlihat jika dipakai. Itulah alat yang dibuat Feliz untuk mengganti teleskop pengganti bintang. Dia membuat kamera mikro itu terbang ke angkasa melewati atmosfer bumi dilapisi plastik transparan yang lebih kuat dibanding aluminium foil, agar saat melewati atmosfer kamera tidak terbakar.

Pukul sembilan pagi
Tanpa sadar Feliz tertidur di labnya. Terdengar suara desingan pintu. Papanya melangkah masuk dengan mata terbelalak, kaget melihat ada basement di rumahnya berisi laboratorium. Bukan itu yang dikagetkan tapi Feliz di dalamnya yang tertidur. Kalau Feliz yang di situ pastilah lab ini punya Feliz.

“Apa-apaan ini? Feliz bangun!” mendengar suara papanya Feliz langsung berdiri kaget dari kursi labnya. “Bukankah sudah papa katakan, tidak laboratorium untuk anak sepertimu, belajar saja yang rajin! Jangan pernah mau kerja di Komite itu! Papa sendiri menyesal tahu kalau mama mu kerja di sana!” Air muka papa Feliz langsung merah padam “Papa tidak pernah mau menghargai apa yang Feliz lakukan, biarkan sekali saja Feliz mempunyai apa yang Feliz inginkan, pa..” suara feliz terdengar serak parau menahan tangis.

Papa Feliz tidak pernah suka dengan Dewan Komite karena alasan sepele yang masuk akal. Saat semua orang memiliki ide dan pengerjaan bukankah semua akan bekerja di komite, lalu meninggalkan rumah dan sekolahnya. Karena dulu keluarga papa Feliz seperti itu berhari-hari bahkan bertahun-tahun di Komite dan tidak kembali ke rumah. Membuat dirinya seperti terlantar karena dia hanya bisa membuat ide tidak dengan pengerjaannya.

Tapi peraturan Komite sudah diubah sejak 10 tahun terakhir dengan dekrit ke 207 yang berisi setiap pekerja komite yang memiliki rumah dan keluarga tidak diperbolehkan tinggal di gedung komite. Dekrit selalu dikeluarkan jika banyak saran dan kritik dari warga, lalu akan dirundingkan oleh para dewan dan sekretaris komite. Tapi papa Feliz tak menghiraukan dekrit itu masih menganggap sama seperti dulu.

“Lagipula dekrit komite sudah dikeluarkan lama, peraturan tidak lagi seperti dulu saat mama tidak pulang, bahkan dekrit itu dibuat sendiri oleh mama. Itu tandanya mama peduli pada keluarga kita pa..” Feliz masih menahan tangis sekuat mungkin. “Terserah apa katamu. Papa tau kamu anak genius. Tapi papa tidak ingin kamu mengecewakan sebagian orang dengan bekerja ataupun memberi ide kepada Dewan Komite, itu tugas mereka biarkan mereka yang bertanggung jawab. Sekarang kamu belum mengerti tapi kelak kamu akan mengerti. Papa sudah mengakui kegeniusan kamu Feliz. Papa mohon ini terakhir kali kamu berkutat dengan segala urusan Dewan Komite dan Laboratorium” setelah itu papa Feliz pergi, tanpa sadar sedari tadi dipelupuk matanya sudah menggenang air dan mengalir halus di pipi kala papanya memohon.

Untuk kali Feliz tidak ingin egois, dia ingin papanya bangga dengannya. Untuk kali ini dia tidak akan bersangkutan dengan Dewan Komite. Tapi tidak dengan Laboratorium. Setidaknya rumah dimensi dan teleskopnya diterima baik dan itu kenangan terakhir juga hubungan terakhir antara Feliz Flor dengan Dewan Komite. Mulai dari sekarang dia akan menjadi anak remaja pada umumnya.

Cerpen Karangan: Lemonade
Facebook: facebook.com/nurjnaa

Cerpen Tristis Finis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Ears Feel You

Oleh:
Hantaman bom dan suara tembakan pistol dari kompeni seakan terbiasa terdengar di telinga gadis muda yang buta bernama sekar, perawat para tentara pribumi itu, dia dengan cekatanya menemukan luka

Takdir

Oleh:
Mengenalnya adalah sesuatu yang indah dalam hidup. Menjadi pendampingnya adalah impian dalam hidup. Lain keinginan lain pula penglihatan orang-orang sekitar. Kesedihan yang amat membuat diri seakan frustasi. Dalam dunia

Mereka yang Meninggalkan

Oleh:
Sepasang mata itu berkaca-kaca menatapku. Aku sudah menghancurkan satu lagi harapan dari orang-orang yang mengasihiku. Dia tidak menangis. Tatapan itu lebih seperti tatapan kecewa dan lelah. Mungkin ada sedikit

Peri Malam

Oleh:
Di malam hari yang dingin, dengan kabut yang lumayan tebal, aku menyusuri jalan ini sambil memeluk kedua lenganku. “Aku yakin mereka pasti ada di tempat itu!” Ucapku dalam hati.

Sentuhanmu

Oleh:
Bau semerbak dari parfumnya yang sangat kusukai dulu sekarang tak ada lagi. Ia sudah berubah. Bukan hanya sikap dan penampilannya, merk parfumnya pun sudah berubah. Entah apa dan siapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *