Tsuyoki Mono Yo (Jadilah Yang Terkuat)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 27 June 2015

“HOI!!! Teman teman kita akan ada pemilihan ekstrakulikuler!” seru Jurina sambil membawakan berbagai brosur ke dalam kelas.
“banyak amat ngak ada yang tentang militer apa?” Tanya Aki-chan
“kurasa ngak” jawab Yui
“ah kalau begitu ini membosankan…” kata Aki-chan sambil merebahkan dirinya ke kursi
“aku rasa aku harus milih mading aja lagi” lanjutnya sambil memandang jendela
“iya aku milih mading aja soalnya pesertanya paling banyak” kata Yui sambil melihat brosur tentang ekstra tersebut
“kita bisa bolos beberapa kali soalnya pesertanya banyak”
“hus! Kamu itu jangan gitu donk!” kata Oya sambil menjitak kening Aki-chan
“huh! Kalau saja aku kepala sekolah”
“ah jangan ngomong begitu Yui” kata Jurina sambil membagikan ke yang lain “tidak baik”
“kau itu Jurina, dulu kau kan dapet latihan militer tahun kemarin” sahut Yui sambil membereskan brosur brosur yang masih berantakan, Jurina celingkuan.

Bel pun berbunyi “nah anak anak kita akan belajar tentang data statistik, buka buku halaman 123” kata Sensei sambil menulis di papan,
“Rena nanti kamu milih ekstrakulikuler apa? Tulis Yuka dalam sebuah kertas lalu memberikannya kepada teman sebangkunya itu
“mungkin ekstrakulikuler mading”
“bukannya itu sudah penuh”
“aku tau daftar aja terus selesai juga gurunya yang membina ngak akan ngerungu”
“trus bagaimana dengan Fotografi?”
“aku ngak terlalu mikirin”
“apakah ini gara gara Kenji?”
“sudah kau diam saja” Yuka menatap kertas yang berisi tulisan tinta merah tersebut
“sejak kapan kau punya pulpen bertinta merah?”
“sejak aku ingin membunuhnya”
Yuka celingukan “kau masih sakit hati?”
“sudah diam saja kau”
“kamu jangan murung gitu kali”
“SUDAH KUBILANG JANGAN UNGKIT UNGKIT KEJADIAN ITU!” kata Rena setengah berteriak, semua anak memandangnya.
“ada apa itu Yuka? Rena?”
“tak ada apa-apa” mereka berdua tertunduk menahan malu
“sudah kubilang jangan berbicara cukup lewat kertas aja” bisik Yuka sambil menghela nafasnya
“baik” kata Rena.

“apa?! kau mau keluar?!” sekarang Rena berada di ruang guru dan berbicara dengan Sensei Taro
“benar pak ini sudah keputusan saya” Sensei Taro mulai gelisah
“kenapa kau ingin keluar? Bukankah kau sangat berbakat”
“tapi pak ini sudah menjadi keputusan saya”
“apakah kau tidak nyaman karena kita tak pernah mengambil gambar di luar sekolah? Apakah karena ruangan klubnya yang hanya bercat putih apakah…”
“sudah Sensei saya sudah memutuskannya dengan bulat untuk keluar dari klub ini karena saya ada masalah pribadi mohon permaklumannya” Rena pergi meninggalkan ruangan Guru

Di ruangan lain.. “pak saya mohon untuk diadakannya klub ini pak!” kata Jurina sambil sedikit mengretak Guru komitenya
“tapi tapi kan untuk apa latihan militer? Untuk apa ada klub itu? Bukankah kalian itu fokusnya lebih ke seni musik? Apa hubungannya dengan latihan militer?”
“dulu kenapa distrik AKBnya dapet latihan militer pak?” di luar ruangan Yui, Aki-chan dan Oya lagi melihat situasi di dalam ruangan itu dari balik pintu.
“wah Jurina kayaknya bisa meyakinkan Sensei Tomoya untuk hal ini” kata Yui tanpa berpaling dari acara depat senior junior tersebut,
“aku juga”
“ada apa anak anak kok ngintip?” Tanya Kepsek
“ah ohayo Sensei” kata mereka bertiga sambil berbaris dan memberikan hormat.
Kepsek pun masuk ke dalam ruangan.
“wah kayaknya ada klub baru” kata Yuka sambil menyeruput tehnya
“ya” kata Rena
“kurasa mereka akan sangat terkenal” kata Yuka
“aku sangat ingin tau ekskul apa itu” sahut Rena
“hai Yuka Rena mau ikut klub militer?” Tanya Yui sambil memberikan senyuman terbaiknya
“ya tentu aku sangat ingin” kata Rena, Yuka sedikit terkejut mengingat kata militer paling dihindari oleh Rena tapi mengapa sekarang berbalik arah?
“bagaimana denganmu?” Tanya Yui
“ah tentu saja”
“oke berarti kalian udah masuk ke klub ini em.. biar kucatat nama kalian”.

Di dalam kelas
“Rena kenapa kau memilih Ekskul itu bukannya?”
“ya aku tau itu Yuka, menghindarinya dengan cara ini menurutku cukup baik” Rena berusaa untuk menghilangkan ingatan buruknya tentang militer karena dulu kedua orangtuanya ditembak oleh salah satu tentara, tepat di hadapannya, bahkan darah dari kedua insan itu berbekas di baju Rena yang berwarna putih tersebut.

“baik siap! Mulai!” latihan pertama mereka menggunakan pistol kecil tapi pelurunya aman kok Rena gemetaran memegang benda yang menurutnya aneh tersebut, ketika latihan akan selesai dia menembak satu kali lalu membuang pistol tersebut ke tanah begitu saja. Beberapa anak yang melihat kejadian itu sudah maklum dengan hal itu.
Di belakang toilet Rena menghapus air matanya “ayolah Rena pistol itu tak akan melukai orang orang yang kamu cintai lagi”.

Seminggu kemudian Rena mulai bisa membiasakan dirinya. “eh kamu udah nonton tv belum?” Tanya Mizuki
“tentang teroris itu?” Tanya Tsukina
“yap tepat sekali” jawab Kanako
“kenapa harus ada begituan ya di jaman modern ini? Ngak asik”. Rena sayup sayup mendengar percakapan tersebut, teroris?.
“Nah ayo sekarang kita beli pop ice…”
Tiba tiba terdengar bunyi ledakan disusul beberapa teriakan. “wah apakah itu teroris?” Tanya Jurina, Yui berlari kearah jendela “wah benar!” beberapa anak pun berlari berhamburan ke luar gedung sekolah namun beberapa tetap tinggal di sekolah karna terjebak.
“angkat tangan kalian semua!” seru teroris tersebut.
“ayo kita pergi ke ruangan klub! Ambil senjata!” teriak Jurina sambil berlari disusul teman temannya.

Mereka mengambil senjata lalu mengalami baku tembak dengan para teroris, tentu saja yang mengikuti klub Militer yang melakukan baku tembak tersebut. Dari 15 orang yang masih bisa bertahan cuman 5 orang. Rena masih ragu ragu untuk menggunakan senjata tersebut karena melihat teman temannya yang terjatuh membuat dia kembali trauma dengan kejadian di masa kecilnya. Seorang dari teroris itu membidik Rena lalu “DER!” Rena bangun dari lamunannya dia melihat Jurina yang tersenyum di sampingnya, teroris itu juga jatuh karena Jurina sempat menembaknya sebelum dia juga kena tembak. “JURINA!!!” Rena menangkap tubuh temannya tersebut. “tsuyoki mono yo Rena..”

Rena lalu bangkit dan mengambil senjatanya yang lainnya tersenyum termasuk Jurina. Rena menembak para teroris hilang sudah traumanya “tsuyoki mono yo saigo no yuusha yo, kizu dareka ni natte, te ni ireta sono eikou no omosa. Tsuyoki mono yo kedakaki senshi yo nani wo ushinatta no ka? Daishou ni matte ita no wa kodoku” mendengar lagu yang terlantun dari teman temannya jantungnya terus terasa terpompa “aku harus jadi yang terkuat!” meski sendiri akhirnya ia bisa mengalahkan semua teroris tersebut dan akhirnya polisi datang. “wah kau hebat!” kata Yuka sambil memeluk temannya itu “tsuyoki mono yo!” seru Rena sambil melompat.

Cerpen Karangan: Shanti Savitri Ni Wayan
Facebook: Yan Shanti
terinspirasi oleh sebuah lirik lagu

Cerpen Tsuyoki Mono Yo (Jadilah Yang Terkuat) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Abby Encrusent Neint

Oleh:
Hai, aku Abby. Tahun lalu ketika mau tidur, ayah membacakan dongeng tentang Petualangan di negeri khayalan. Setelah selesai membacanya ayah ke luar dari kamarku dan aku pun sudah tertidur.

Semut yang Sombong

Oleh:
Di sebuah hutan tinggallah seekor semut. Semut itu dijuluki si Mungil karena ia berbeda dengan semut yang lainnya. Karena di usia remajanya ini semut itu belum mengalami perubahan tinggi

Kotak Ajaib

Oleh:
Di sebuah desa di Taiwan, hiduplah seorang petani miskin. Dia hidup bersama istrinya. Suatu hari, ketika petani itu sedang menggali sawahnya, dia menemukan sebuah kotak besar. “Apa ini?” tanyanya.

Ksatria Zaman Edan

Oleh:
Beratus-ratus tahun setelah perang batarayudha, kehidupan di bumi tidak juga lepas dari peperangan. Perang saudara masih berkecamuk dimana-mana, Afganistan, Israel-palestina, Poso. Perang Baratayudha, perang besar yang dewa harapkan dapat

Dimensi

Oleh:
“Tapi sekarang aku cinta sama kamu Na” Arfan berkata agak keras karena Runa berada agak jauh darinya. Runa hanya diam. Memandang Arfan sebentar. “Jangan pergi” Arfan lari, tapi tiba-tiba

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *