Tuhan, Kembalikan Cinta Pertama Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 14 February 2016

“Nah anak-anak, sekarang kita sudah sampai di tempat untuk latihan kepemimpinan. Kalian sudah siap untuk menjalani pelatihan ini?” begitu tutur seorang guru yang kini sedang membimbing kami.
“Siap Pak!” ucap kami serentak.
“Nanti, kalian akan dilatih cara disiplin dan kemandirian selama 3 hari 2 malam di sini. Selama kalian di sini, kalian harus mematuhi aturan yang sudah dijelaskan oleh wali kelas masing-masing. Mengerti?”
“Mengerti Pak.” jawab kami serentak.

Ini adalah pengalamanku mengikuti latihan kepemimpinan di sini. Aku masih ingat harinya tepat tanggal 18 Oktober 2011 yang jatuh pada hari selasa aku dan teman satu kelompokku pun dikumpulkan. Ini adalah hari yang ku tunggu karena aku bisa belajar lebih mandiri dan disiplin di sini. Namaku Kintan aku baru duduk di bangku kelas 1 SMP. Aku memang berbeda dengan teman-temanku yang lain. Selain karena kekurangan fisik yang aku punya sejak lahir, aku juga adalah seorang anak indigo.

Aku memiliki kemampuan dapat melihat makhluk dari dunia yang berbeda denganku. Orangtuaku sudah bercerai saat aku berusia 6 tahun. Aku tinggal bersama ibu dan kakak laki-lakiku yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku termasuk anak yang pendiam. Dari mulai TK sampai saat ini aku tidak mempunyai teman karena mereka selalu menganggapku aneh dan beda dengan gadis pada umumnya. Aku tidak peduli pada ocehan mereka tentang hidupku. Yang jelas, aku tidak pernah meminta makan pada mereka.

“Kin, ayo kita salat maghrib,” ajak Icha teman sekelasku yang juga teman satu kamar selama aku di sini.
“Iya ayo Cha,” ucapku sambil membawa alat salat di tanganku. Aku, Icha dan teman yang lain berjalan menuju tempat salat yang lumayan jauh dari kamar kami itu. Tak sengaja, aku berpapasan dengan Shifa temanku yang juga satu sekolah saat kami SD dulu.

“Kintan..” panggilnya.
“Eh Shif, mau salat?”
“Iya. Eh Kin kira-kira di sini ada hantunya nggak yah?” tanya Shifa sambil memperhatikan pohon besar di seberang sana. “Mana aku tahu Shif,”
“Kalau ada, aku pengen dong lihat,” mendengar ucapan Shifa, aku pun segera menepuk pundaknya dengan keras.
“Hus kalau ngomong tuh jangan sembarangan!” Shifa hanya tertawa dan melanjutkan perjalanannya menuju tempat Salat.

“Kintan… Kintan tolong!!” teriakan Rizkia tadi sontak membuatku kaget dan segera menghampirinya.
“Ada apa Ki?” tanyaku panik.
“Icha Kin, Icha kesurupan!!” sepertinya aku paham mengapa Rizkia memanggilku. Aku segera berlari ke kamar dan melihat Icha yang terus menangis.
dengan cepat aku menyembuhkan Icha.
“Siapa kamu?” tanyaku pada seseorang yang kini masuk ke tubuh Icha.
“Aku mau minta tanggung jawab,” ucapnya melalui kontak batin.

“Maksudmu apa?*
“Kau ingat? tadi sore salah satu temanmu berkata bahwa dia ingin melihatku? tapi karena dia tidak memiliki kemampuan untuk melihatku, maka aku memasuki raga temanmu yang satu ini untuk meninta pertanggung jawaban,”
“Tapi, dia tidak salah apa-apa. Tolong kamu ke luar dari raga ini sekarang,”
“Baiklah aku akan ke luar. Tapi bolehkanlah aku untuk ikut bersamamu?”

Jujur saja aku sangat bingung. Di satu sisi aku tak ingin Icha diikuti oleh makhluk ini. Tapi aku juga tidak bisa membawanya pulang. “Cepatlah putuskan sebelum aku betah dalam raga ini,” ucapnya lagi. “Baiklah, keluarlah dari raga ini dan ikutlah bersamaku.” ucapku dengan terpaksa. Tak sampai 2 menit, Icha mulai tak sadarkan diri. Aku melihat seorang anak kecil berbaju putih tersenyum ke arahku. Aku tahu, itu pasti sosok yang tadi berkomunikasi denganku lewat batin.

Satu tahun sudah Leon menjadi sahabatku. dia adalah sahabat pertama dalam hidupku. Walau terkesan aneh harus bersahabat dengan makhluk yang berbeda dunia denganku, namun hanya dia yang paling mengerti aku. Malam itu seperti biasa Leon datang dengan tiba-tiba.
“Kintan…” suaranya sedikit mengagetkanku. “Iya apa?” jawabku.
“Aku suka sama kamu,” aku tercengang saat aku mendengar ucapan Leon tadi.
“Aku tahu aku memang berbeda dunia denganmu. Tapi apa aku salah? apa aku salah jika aku menyukai wanita dan itu adalah seorang manusia?” Aku hanya bisa terdiam menatapi Leon yang tak bisa ku genggam tangannya.

“Aku nggak tahu,” itu yang tersimpan dalam pikiranku dan ku utarakan pada Leon.
“Aku mencintaimu, Kintan,” Aku tidak tahu apa yang dia maksud karena jujur saja, aku belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta itu seperti apa dan bagaimana.
“Leon, aku tidak tahu apa yang kau katakan,” jawabku gugup.
“Baiklah, anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa pun padamu. Lupakan saja.” ucapnya sambil tersenyum.

Keesokan paginya aku masuk sekolah. Aku dijahili oleh teman-teman satu kelasku. Mereka bilang bahwa aku ini aneh dan berbeda dengan yang lain. Aku berlari ke taman sekolah dan menangis. Mengapa Tuhan harus menciptakan aku berbeda dengan mereka? mengapa aku harus seperti ini? mengapa aku cacat? ribuan tanya mulai memasuki pikiranku. “Terkadang kamu harus menjadi tegar untuk sesuatu. Menjadi dewasa untuk sesuatu dan kamu harus kuat dalam segala hal.” suara itu? aku kenal betul suara itu dengan cepat aku menoleh ke arah belakangku. “Leon?” panggilku.

“Kau mengenali suaraku?” Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Andai saja aku masih diperbolehkan untuk berdoa, aku akan berdoa untuk kekuatanmu. Andai aku bisa menyentuhmu, aku akan mengusap air matamu itu. Dan andai saja aku bisa memelukmu, akan ku dekap erat tubuhmu sampai tangis dan sakitmu mereda,” ucap Leon yang terus memandangiku.
“Kau benar mencintaiku?” begitu tanyaku. “Ya, tentu saja.”
“Kamu adalah lelaki pertama yang menjadi sahabatku. Kamu adalah lelaki pertama yang melihatku tanpa mengejek mataku. Kamu adalah lelaki pertama yang membuat aku takut kehilangan. Leon, aku mengerti sekarang maksud ucapanmu malam itu. Dan aku juga mencintaimu.” kini air mata sudah membasahi pipiku dengan derasnya.

“Ku mohon jangan menangis. Kau tahu aku tak bisa menghapus air matamu. Tolong jangan buat aku merasa bersalah untuk itu,” Aku mencoba menghapus air mataku. “Aku baik-baik saja,” ucapku sambil melontarkan senyum padanya.
“Kintan!!” suara Kania sedikit mengagetkanku.
“Kania, kamu ngapain?”
“Dia di sini yah Kin?” tanya Kania sambil celingak-celinguk mencari sesuatu.
“Iya. Tapi itu tadi, sebelum kamu datang.” jawabku. Kania adakah orang pertama dan satu-satunya yang tahu tentang Leon. “Aku mencintainya dan dia pun mencintaiku,” ucapku pada Kania.
“Apa?! tapi kan kalian itu beda dunia. Mana mungkin kalian akan dipersatukan?” Kania nampak kaget dengan ucapanku. “Mungkin saja, kalau aku mati.” Kania hanya menghela napasnya.

Satu minggu sudah aku tidak bertemu dengan Leon. Jujur aku sangat merindukannya. Mungkin ini terkesan aneh, jatuh cinta kepada lelaki yang sudah beda alam denganku. Namun inilah yang terjadi saat ini dan aku tak bisa menepisnya. “Kintan..” suara itu membangunkan tidur pulasku. Aku segera bangkit dari tempat tidurku.
“Leon? kau ke mana saja?”
“Apa kau merindukanku?”
“Tentu saja Leon.”

“Aku harus pergi. Maafkan aku mulai besok aku tak bisa menemanimu lagi,” ucapnya dengan nada bersalah.
“Tapi kenapa? apa kau marah padaku?” tak terasa air mataku jatuh dengan sendirinya. Baru kali ini aku menangis untuk seorang pria.
“Aku harus pulang. Tempatku bukan di sini. Dan terimakasih kau sudan mencintaiku,”
“Bolehkah aku mati sekarang?” tanyaku dengan penuh kesedihan.
“Tidak! kau harus tetap hidup. Masih banyak orang yang sangat mencintaimu,”
“Tapi aku mencintaimu Leon. Aku tak mau kamu pergi, aku mohon.”

“Kintan, sampai kapan pun kita tidak akan bisa bersama. Aku melakukan ini juga untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin kamu dipandang aneh lagi oleh teman-temanmu karena kamu berkomunikasi denganku. Aku tidak ingin kamu diejek lagi karena aku sangat mencintaimu. Tolong biarkan aku pergi. Aku juga mencintaimu tapi aku harus pulang untuk duniaku.” Kini aku hanya bisa menangis deras. Mengapa aku harus jatuh cinta kepada orang yang sudah meninggal? dan akhirnya aku merelakan Leon pergi dan menbiarkan rasa ini hilang dengan sendirinya. Karena walaupun dia bukan untukku, namun dia sudah memilkki satu tempat istimewa di hatiku. Selamat jalan Leon semoga doaku bisa memelukmu di sana.

Cerpen Karangan: Andrea Silvana Vilim
Facebook: Andrea Silvana

Cerpen Tuhan, Kembalikan Cinta Pertama Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jingga

Oleh:
Lari.. lari.. mungkin ini yang hanya bisa dilakukannya saat ini. Terus berlari, tak ada yang dikejar, tak ada sesuatu di depan sana. Tapi… terus berlari. Saat itu dia sedang

Me And You

Oleh:
Tak disangka aku menangis tersedu-sedu saat ku tahu orang yang ku sayangi akan pindah sekolah dan kita tidak akan pernah bertemu lagi untuk selamanya. “Dion, apa kamu benar-benar akan

No Other Like You

Oleh:
Hai, perkenalkan Namaku Erika Loren Briliyan biasa dipanggil Rika. Umurku Sekarang 13 tahun dan aku duduk di SMP Negeri Jakarta aku punya pengalaman yang gak bakal aku lupain begini

I Am Strong

Oleh:
Tahun ajaran baru, dimana anak-anak kembali ke tempat yang membosankan dan menakutkan ya tentu saja Sekolah. Sekolah ini dikenal dengan siswa-siswanya yang berprestasi dalam bidang bela diri yaitu karate.

Andai Waktu Bisa Kuputar

Oleh:
Dan jika waktu dapat kuputar kembali mungkin aku akan kembali ke masa lalu. Masa lalu dimana aku dan dia masih bersatu, bersama menjalin sebuah persahabatan yang kini telah terhalang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *