Unseen World Series (SAGA)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

Matahari memancarkan sinar hangat siang itu, dengan hembusan angin lembut membelai pipi menambah kemanjaan para penikmat surga dunia. Tak terkecuali Amanda, di tengah padang rumput yang ditumbuhi oleh ilalang dengan capung-capung yang berterbangan di angkasa. Ia duduk dengan wajah berseri menatap langit cerah tak sebercak awan pun di atas sana. Hingga ilalang-ilalang bergerak dari arah barat, bukan angin ataupun binatang yang membuatnya bergoyang. Melainkan sang sahabat Rene, datang untuk menemani Amanda menikmati damainya suasana siang itu.

“Rene, sejak kapan ka..” Amanda tak bisa melanjutkan pertanyaannya sebab bukannya Rene berhenti di depannya. Ia hanya berlalu melewatinya tak melirik sedikit pun. Rene terus berjalan ke depannya. Hingga di depan sana, muncul seorang pria dari balik pohon akasia. “Pria terhormat?” Wajah pria itu tak asing bagi Amanda. Ia Damon, pria yang mengaku sebagai ‘calon suami Amanda’. Seiring munculnya Damon, suasana hangatnya siang tiba-riba berubah menjadi suramnya senja. Warna merah di langit barat menyerupai Saga segar. Sementara dari arah ufuk barat kegelapan menerkam gumpalan awan. Mengingat betapa mengerikannya Damon. Amanda memanggil.

“Rene. Jangan! Berbahaya!”

Saat Amanda hendak berlari menghentikan Rene berjalan ke arah kuasa gelap, seseorang menggenggam tangannya hingga tak bisa berpindah. Amanda menoleh ke belakangnya, dilihatnya seorang pria muda dengan matanya yang berkilauan. Di lengannya, sebuah tatto petir menyambar persis seperti milik Rene. Amanda sempat terbuai memandangnya. Kemudian ia tersadar akan sahabatnya terus berjalan ke arah yang salah. “Rene! Rene! Berhenti!” Amanda terus memanggil tapi Rene seakan tak mendengarnya. Hingga Rene tiba di batas antara kegelapan dan cahaya. Ia melewati batas itu dan menghancurkannya. Hancur! Amanda hanya menatapnya dengan hujan deras mengguyur pipinya. Rene hampir hilang di kegelapan, Damon membukakan pintu untuknya.

“Tidak! Rene… Rene!!” Hah!
“Ada apa tuan puteri? Terjebak dalam mimpi buruk?” ledek penjaga tahanan itu. Amanda hanya membalasnya dengan tatapan sinis. Sungguh! Mimpinya barusan terasa sangat nyata. Terasa menyiksa hingga ke dunia nyata. Ia merasakan lengket di tubuhnya sebab keringat. Hingga seorang penjaga lainnya lagi membuka pintu dan berlari tergesa-gesa.

“Gapura sebelah selatan diserang!”
“Apa?” para penjaga tahanan itu meninggalkan Amanda sendiri dalam ruang gelap.
“Pergilah kalian semua. Makhluk jelek!” gumam Amanda sambil bangun dari baringnya. Ia berjalan ke arah pintu, dipegang gagangnya dan ia hendak membukanya. Tapi tak bisa. Tentu saja, para penjaga tahanan itu tak akan meninggalkan tahanan dengan pintu terbuka begitu saja. Tak ada pilihan lain sepertinya, Amanda harus menunggu untuk diselamatkan. Dan jika memang ia akan diselamatkan. Pertanyaan masih terus bersemayam dalam benak Amanda. Terkhusus siapa Nira itu? Dan apa hubungan dengannya?

“Kau adalah keturunan dari putri Nira!” Amanda terbelalak kaget melihat seseorang muncul dari corong asap dan menjawab pertanyaannya secara tiba-tiba. Amanda mengenalnya, ia pria yang menahan gerakannya dalam mimpi. Pria bertatto sama dengan Rene. “Aku Dion, tuan Puteri,” ujarnya memperkenalkan diri.
“Aku tak akan berusaha kabur dari sini. Jadi tenanglah,” ujar Amanda kesal. Di pikirannya bahwa Dion adalah penjaga tahanan sama seperti yang berlalu tadi.
“Ya… kau tidak akan kabur dari sini tuan puteri. Tapi kau akan diculik lagi.” perkataan Dion mengagetkan Amanda, “olehku tentunya,” sambung Dion.

Amanda tak tahu harus berada di pihak mana. Sang pria terhormat, atau pria corong ini. Soalnya, kedua pihak ini sama-sama ingin menculiknya. Awalnya ia agak ragu. Tapi setidaknya, jika ia ikut dengan pria corong ini mungkin akan membawanya ke Rene. Mengingat mereka mempunyai tatto serupa. Mereka menyelinap di antara akar-akar pohon dan blok-blok ruangan yang berkilau seperti maze. Sesekali hambatan berubah Demit berkeliaran di setiap sudut dan tempat tergelap lainnya. Tapi, dengan kemampuan bela diri yang dimiliki oleh Dion tak membuatnya memiliki luka goresan, sayatan, ataupun gigitan dari para Demit itu. Begitu pun Amanda yang senantiasa bersembunyi di belakang Dion.

“Apa kau tak apa, puteri?” tanya Dion, akhirnya usai melewati daerah kegelapan.
Amanda hanya mengangguk, lalu akhirnya berkata, “Apa maksudmu keturunan Nira?”

Tak langsung menjawab, Dion tersenyum dan menarik tangan Amanda. Lalu dibawanya ke suatu tempat yang tersembunyi di balik pohon yang luar biasa besarnya.
“Tempat apa ini?” Amanda menerawang sekitarnya, dilihatnya banyak buah merah yang entah apa namanya.
“Makam Wentira,” jawab Dion sembari terus menarik tangan Amanda seakan ingin menunjukan sesuatu. Saat mereka berhenti, berdiri di depan kubur batu paling besar. Mereka berhadapan dengan sebuah patung yang terbuat dari emas. Berkerlap-kerlip bak bintang di angkasa lepas.

“Ya ampun!” Amanda seakan tak percaya memandang rupa patung itu. “Bagaimana ini bisa terjadi?”
“Dia adalah putri Nira. Putri pertama bangsa Wentira. Dan gennya mengalir padamu, sebagai keturunannya langsung.” jelas Dion.
“Apa yang terjadi padanya?” percaya atau tidak, sejarah di balik patung emas itu mengusik rasa penasaran Amanda.
“Peristiwa kelabu yang terjadi di masa lalu. Ia dibunuh oleh suaminya, kakek buyutmu. Sebab jatuh cinta pada pangeran bangsa Demit,”

“Pangeran kegelapan?” ujar Amanda.
“Ya. Tapi, tak ada yang tahu siapa pangeran itu. Identitasnya dihapus dari sejarah,”
“Aku tahu siapa dia!” Di tengah percakapan nostalgia antara Amanda dan penjaga Dion, terdengar suara bentrokan di depan pintu masuk aula gerbang. Para prajurit Wentira bersorak ketakutan. “Kita diserang!” Dion menyiapkan dirinya untuk melawan. Ia membawa serta Amanda dengannya. Saat hendak pergi, tiba-tiba suara Rene berdengung di telinga Amanda. Terdengar sahabatnya itu menjerit meminta pertolongan. “Rene?”

Dion menyadari kekhawatiran Amanda akan sahabatnya. Ia dapat merasakan ada yang tidak beres dengan Rene. Seakan ia tenggelam, terkunci dalam bola air kehampaan. Tak dapat terdengar jelas suaranya, wajahnya pun nampak buram di penglihatan mata batin. “Ada yang tidak beres,” ujar Dion. Amanda pun ikut mengangguk mengiyakan. Mereka akhirnya dapat ke luar dari makam Wentira, terlihat arwah-arwah berkeluyuran di atas awan-awan, mencari tempat bersemayam sebab tempatnya yang dulu dihancurkan. Di tengah perjalanan, nampak arwah sang puteri Nira. Sebelum ia menghilang ke alam setelah hidup, mulutnya sempat terbaca oleh Amanda. “Lihatlah ke dalamnya, maka kau temukan cahaya,” sang puteri ikut mengatakan kalimat itu hingga Dion mendengar.

“Apa?” sang penjaga memastikan.
“Ah. Tak apa,” Amanda tipe pembohong yang buruk.

Sama seperti puteri Nira. Karena tak dapat berbohong, ia dipercaya bangsa Wentira menjadi penguasa. Namun karena kekurangan itu jualah, ia tak meraih tahta itu. Aula istana Wentira. Semua terlihat porak-poranda, seakan badai topan baru saja berlalu usai menerjang dengan kejam tanpa ampun. Tak terlihat pergerakan makhluk hidup satu pun dalam ruangan besar yang sekarang terlihat kecil sebab puing bangunan. Tiba-tiba Amanda melihat pintu lemari kayu begadang as itu bergerak-gerak ingin terbuka. Dan saat terbuka menampakkan seseorang yang terlihat lusuh dan lemas.

“Apa yang terjadi?” tanya Dion pada wanita lemari itu.
“Penjaga. Dari mana saja kamu?” wanita itu menjawab tesendat-sendat dan gemetar. “Bangsa Demit melakukan penyerangan, mereka telah mengambil buku suci purnama”.
“Apa?” betapa terkejutnya penjaga. Dari gelagatnya, sepertinya buku itu teramat sangat penting.
Namun, hal itu tak dihiraukan oleh Amanda saat ini. Dalam pikirannya hanya diisi kekhawatiran akan sahabatnya.

“Di mana Rene?”
“Rene?” dengan wajah amarah wanita itu menjawab lantang.
“Jangan sebut nama pengkhianat itu. Ia sudah menjadi hitam, ia terbuai dengan kegelapan,”
“Apa?” ekspresi Amanda tak jauh beda dengan mimik sang penjaga tadi. Terlihat Dion sepertinya telah mengetahui hal itu. “Ia mencari anda, yang mulia. Tapi saat kembali, ia membawa serta para Demit dan dengan mudahnya mencuri buku suci purnama.” jelas wanita itu disertai dehem yang bertubi-tubi. Hingga akhirnya, napas terakhir berhembus. Wanita itu menutup usia di dalam lemari berdagang emas.

Amanda bingung. Ia merasa sangat sakit hati. Ia tak pernah menyangka akan Rene mempunyai pikiran unggul menggoreskan silet di hatinya, hingga meninggalkan luka sayatan dengan darah merah Saga yang terus ke luar. Bak disambar petir di siang bolong, kejutan pedih ini membuatnya sadar akan dunia.
“Semakin kau peduli, semakin dunia menyakitimu. Jangan ada penyesalan Rene,” ujar sang pangeran kegelapan, risau melihat Rene yang sepertinya dirundung rasa sesal.
“Hah? Tidak. Tak ada penyesalan dalam diriku setitik pun. Aku memilih jalan ini, berarti aku telah menentukan takdirku,”

Damon tersenyum melihat sifat konsisten Rene. Ia di balik senyum itu juga terdapat rasa puas mendapatkan sahabat sang puteri yang nantinya akan menghancurkan kehidupan wentira. Usai membaca buku suci purnama, di bab yang menjelaskan hidup sang penjaga. Kebencian menyelubungi hatinya. Ia merasa dirinya tak lebih seperti anjing yang menjaga rumah majikannya dari maling. Setelah puteri Amanda melanjutkan misi nenek buyutnya untuk menjadi penguasa. Sebagaimana takdir yang telah dituliskan bahwa penjaga akan menumpahkan darah saat kegelapan memakan cahaya untuk menghalangi hal buruk terjadi.

“Kecuali jika sebelum peristiwa itu terjadi. Jika seorang penjaga memilih menjadi hitam. Maka hidupnya akan berlangsung 1000 tahun atau lebih lagi,” jelas Dion. “Jadi itulah yang membuat Rene berkhianat.” Amanda mengklaim hal itu dan memang alasan itulah Rene berlari ke arah kegelapan.
“Setiap orang berhak memutuskan jalan hidupnya. Dan itulah yang dipilih Rene,” ujar Dion dan di luar kehendaknya. Sebulir air bening jatuh dari matanya. “Apakah itu air mata? Apa kau menangis?” Amanda membuat Dion sedikit merasakan malu. Tapi Dion pria itu mampu menutupinya.

Entah kenapa, Amanda sesak saat melihat air mata tadi. Tanpa dikatakan, dapat disimpulkan kalau Dion menaruh cintanya pada Rene. Itu bukan urusan Amanda. Tapi kenapa, hati sang puteri gelisah. Seakan dilemparkan jauh ke dalam remang senja dan hilang di kaki langit bersama dengan tenggelamnya sang mentari. Apa ini? Amanda merasakan pedih yang sangat. Cemburu. Benarkah? “Hari sudah malam Puteri. Istirahatlah. Besok hari yang melelahkan,” Amanda hanya menurut, ia menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Jika Dion tahu akan perasaannya. Tamatlah sudah riwayat hidupnya. Sambil terus memikirkan sebulir air yang terasa seperti tsunami itu, ia bersandar ke tembok. Menatap ke luar jendela. Terlihat bintang gemerlapan dia atas langit hitam.

“Cahaya masih berkuasa puteri,” suara mengagetkan berasal dari balik tirai jendela itu. Keluar seorang kerdil dengan wajah yang keriput dan mulut yang moncong. Suaranya terdengar seperti seorang anak yang dilanda flu. Kemudian disambungnya, “Tapi esok adalah kesempatan untuk kegelapan menguasai dunia,”
“Apa maksudmu?” Amanda terkejut.
“Kau lihat penguasa kegelapan di atas sana?”
“Maksudmu, bulan?”
“Ya, besok sang penguasa kegelapan akan terbit lebih cepat dari biasanya. Dan jika tak dihentikan dengan segera. Kekuatan cahaya akan selamanya pudar.”

Besok adalah peristiwa saat kegelapan memakan cahaya. Sementara. “Hidupmu akan menjadi gelap gulita Puteri. Pasukan Demit sekarang mencarimu. Dan penjaga Dion pergi untuk menjemput cintanya,” Mahluk kerdil itu membuat was-was hati Amanda. Sang puteri lantas berdiri. Ia menggenggam tangannya. Menatap sinis pada purnama di atas sana. Sendiri.

Cerpen Karangan: Hidayatullah
Facebook: Hidayatullah Darwis

Cerpen Unseen World Series (SAGA) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nana dan Si Nakal Sasa

Oleh:
Di negeri Lollywod tinggallah peri-peri yang hidup di rumah Lolipop. Salah satu dari mereka adalah Nana si anak baik, Sasa si anak nakal, Dadi Polly si hakim, dan mami

The Story Of Soul Eater

Oleh:
Pada suatu jaman hidup sebuah kerajaan dimana sang raja itu sangat rakus, ia berubah jadi rakus dan kejam karena ditinggal mati oleh ratu di dalam peperangan. Raja itu mempunyai

Semut yang Sombong

Oleh:
Di sebuah hutan tinggallah seekor semut. Semut itu dijuluki si Mungil karena ia berbeda dengan semut yang lainnya. Karena di usia remajanya ini semut itu belum mengalami perubahan tinggi

Dialog Dengan Lampu Merah

Oleh:
Pukul sebelas malam, kota yang biasa ramai kini sudah bisa dibilang sangat sepi. Hanya ada beberapa warung atau kios yang masih buka. Itu pun sudah tidak ada pelanggannya. Katanya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *